Aku segera pergi mandi dan berdiam diri di kamarku hingga malam hari. Sebelumnya Kakek Matheo mengatakan padaku bahwa pelajaran akan dimulai besok. Hari ini aku tidak ikut makan malam, entah kenapa aku hanya ingin melihat ke luar jendela kamarku. Bintang terlihat cerah di atas sana, indah sekali. Kemudian aku jatuh tertidur pulas.
Keesokan harinya pukul enam pagi aku sudah pergi mandi dan segera ke ruang makan. Sudah hampir sebulan aku terdampar di negeri ini. Hari ini aku akan berusaha membuka diriku agar bisa beradaptasi dengan baik.
“Selamat pagi.” ucapku menyapa empat kesatria yang sudah ada di ruang makan. Mereka balas menyapaku ramah. Kupikir mereka akan sangat dingin, ternyata aku tidak bisa menilai buku dari sampulnya. Salah satunya mengenalkan dirinya padaku, ia adalah orang yang berbicara pada Hazel kemarin, namanya adalah Einar. Ketiga kesatria lainnya hanya tersenyum dan kembali menatap meja mereka.
Aku duduk sendirian di kursi bagian tengah, namun kini ada cukup banyak orang yang ikut makan dalam ruangan. Nampaknya para kesatria sudah banyak yang kembali. Kami semua makan dengan santai dengan beberapa obrolan kecil. Beberapa kesatria lain juga sempat bertanya siapa aku karena tidak biasanya seorang siswa makan dengan para petinggi. Kakek Matheo sempat mengingatkanku untuk langsung menuju ruang latihan setelah makan.
Tanpa menunggu waktu lama, setelah keluar dari ruang makan aku pergi menyusuri lorong menuju ruang pelatihan. Aku mencoba mengingat jalan yang kulalui bersama Hazel kemarin. Namun langkahku terhenti tepat di depan pintu megah itu. Aku tidak tahu cara membukanya. Aku terus berdiri di depan pintu menoleh ke kanan dan kiri mencari petunjuk, namun nihil. Lima menit kemudian aku mencoba mengaktifkan jubah putihku, dan tiga detik kemudian terdengar suara klik dari pintu, kemudian terbuka. Tampaknya serpihan gladiolus ku sudah terdaftar di kota ini juga.
“Halo, selamat pagi.” sapaku ramah sambil menunduk pada orang-orang yang aku temui. Beberapa diantaranya membalasku dengan melambai, beberapa lagi tidak melihatku dan fokus pada latihan mereka. Aku berkeliling mengamati siswa yang tengah berlatih, kemampuan mereka semua sungguh luar biasa. Aku bahkan tidak yakin kalau mereka hanya seorang siswa.
“Halo, Rin. Kita bertemu lagi.” seseorang menyapaku ramah. Itu adalah Einar.
“Aku dipercaya untuk melatihmu, ayo berlatih dari teknik awal.” Ucapnya ramah, kemudian melangkah pergi. Sepertinya ia menyuruhku mengikutinya menuju tempat pelatihan yang tidak terlalu ramai. Aku lupa mengatakan bahwa di dalam ruang pelatihan ini juga dibagi menjadi beberapa sekat berdasarkan levelnya. Namun aku yakin tidak ada anak dengan level sekecil aku.
“Baiklah, langsung saja aktifkan pedangmu.” Katanya, ia berdiri beberapa langkah di sampingku sambil membaca catatan. Sepertinya catatan hasil pemeriksaan ku kemarin.
“Baik, Tuan Einar.” jawabku dan tanpa pikir panjang mengaktifkan pedang perakku.
“Tuan?” katanya sedikit tertawa.
“Eh?”
“Tidak perlu terlalu formal, aku tidak terlalu mementingkan panggilan.” katanya masih sedikit tertawa.
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Panggil namaku saja, seperti Hazel memanggilku.” katanya lagi.
“T-tapi aku akan merasa tidak enak karena anda adalah guruku.”
“Baiklah. Panggil aku sesukamu saja. Kita harus fokus pada latihan, bukan nama panggilan.” katanya kembali serius. Aku mengangguk mantap.
Tuan Einar memerintahkanku untuk memejamkan mata dan memfokuskan kekuatan pada pedang ku. Kemudian aku disuruh berlari mengelilingi garis yang sudah disediakan. Tidak terlalu luas, tapi ada beberapa rintangan yang disajikan. Rintangan itu berupa potongan kayu yang muncul secara acak dari lantai, dan aku harus menebasnya tanpa kesalahan. Awalnya aku gagal karena terkejut, namun semakin lama aku semakin terbiasa.
Tuan Einar membiarkanku beristirahat sepuluh menit setelah berlari lebih dari tiga puluh menit. Aku melihatnya menandai beberapa bagian pada catatan yang dibawanya sejak tadi.
“Rin apa kau tau kalau kau memiliki kemampuan lain?” tanya Tuan Einar tiba-tiba.
“Eh?”
“Seperti ketua Matheo hanya menyampaikan garis besarnya padamu kemarin. Tapi dari hasil pemeriksaan ini mengatakan kau memiliki kemampuan lain.” terangnya. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban.
“Eh, aku pernah membantu Camellia mengobati pasien dengan menyalurkan kekuatanku. Aku juga pernah menyentuh seseorang, dan orang itu langsung sadar dari pingsannya. Apa itu kemampuan lain, Tuan?” tanyaku teringat apa yang pernah aku lalui.
“Bisa jadi, tapi sepertinya masih ada yang tersembunyi lagi. Kekuatan itu ingin keluar, tapi tubuhmu menolak. Jadi kau sering jatuh pingsan.” terangnya. Aku mengangguk paham.
“Hari ini kau hanya memfokuskan kekuatan pada pedang dan daya tahan. Tapi kau masih terlihat baik-baik saja. Itu karena aku tidak membiarkanmu memikirkan hal lainnya.” tambahnya lagi. Hal itu masuk akal karena dari tadi dalam kepalaku hanya berpikir menguatkan pedang dan tidak melakukan kesalahan dalam menebas.
“Kita ulangi latihan itu sampai waktu makan siang. Lalu istirahat.” ucapnya. Aku mengangguk dan berdiri untuk bersiap melanjutkan latihanku. Aku berlari selama berjam-jam. Garis tempat aku berlari terasa semakin membesar. Sepertinya ini untuk melatih daya tahanku. Tuan Einar tidak mengajakku berbicara lagi, ia hanya bersandar pada dinding mengamati progres ku. Sesungguhnya aku tidak terlalu lelah dengan berlari, tapi sesekali aku kehilangan fokus dan lenganku terhadap potongan kayu cukup keras.
Tidak sekali saja aku terkena lemparan kayu yang muncul tiba-tiba. Tuan Einar sepertinya menyadari bahwa aku sudah mulai tidak fokus, dan akhirnya mengakhiri latihan hari ini.
“Kita akhiri latihan hari ini.” ucap Tuan Einar sambil meletakkan kertas hasil pemeriksaan ku di balik jubahnya.
“Baik. Apa besok latihan di jam yang sama?” tanyaku sopan sambil mengatur nafas. Aku telah menonaktifkan pedangku.
“Iya, setiap hari di jam yang sama. Jangan melewatkan makan, kau perlu tenaga besar.” katanya. Aku mengangguk paham. Tuan Einar kemudian berpamitan untuk pergi lebih dulu. Aku duduk di sudut sambil menyandarkan punggungku pada dinding. Siswa di sini memang tidak sebanyak seperti di sekolah Kakek Lupin. Mungkin karena di tempat ini tidak ada klaim sekolah, hanya tempat berlatih.
Garis tempatku berlari tadi sudah menghilang dengan sendirinya. Aku mengamati lenganku yang sering terkena balok kayu ternyata sudah mulai memerah, mungkin besok akan memar. Para siswa yang ada di depanku berlatih seperti tanpa lelah. Kadang aku ternganga melihat adu tanding mereka yang sangat luar biasa. Mungkin jika tidak ada teknologi khusus di tempat ini, semua akan porak poranda.
Tak sampai tiga puluh menit aku memutuskan untuk pergi ke ruang makan. Kali ini makanan yang disajikan adalah sup berwarna putih yang rasanya gurih asin dan tiga potong roti berukuran besar. Sepertinya makanan ini sama dengan di negeriku. Tidak ada pembicaraan panjang kali ini, namun beberapa kesatria memberi laporan pada Kakek Theo tentang penanganan dampak serangan. Dan itu menunjukkan kemajuan.
“Rin, bagaimana latihanmu?” tanya Kakek Matheo memandangku ramah. Aku duduk jauh dari para kesatria, seorang diri.
“Iya, Kek.” jawabku.
“Bagus kalau begitu.” ucapnya lagi. Kami mengakhiri makan siang lima menit kemudian.
Aku langsung menuju kamarku setelah bertanya bagaimana cara mendapatkan minuman hangat. Aku diberitahu ada dapur di sebelah ruang makan, aku bisa meminta apa saja di sana. Tapi aku akan kesana nanti, aku ingin berbaring dulu. Sebenarnya aku tidak tidur, aku hanya ingin diam di kamar untuk beristirahat.
Sekitar pukul empat sore aku memutuskan untuk pergi mandi sejenak, dan mengunjungi dapur untuk melihat-lihat. Ketika masuk ke sana, aku melihat banyak pekerja tengah sibuk menyiapkan makanan. Aku berpikir akan ada hal ajaib di sini, ternyata sama saja seperti mamaku biasa memasak. Setelah ku tanya, katanya masakan yang enak tidak bisa diciptakan dengan sihir. Seorang wanita paruh baya menghampiriku dan mengatakan aku bisa meminta apa aja. Namun aku hanya meminta segelas susuu hangat dan beberapa botol air mineral untukku. Salah seorang pekerja menawarkan untuk mengantarkannya ke kamarku. Namun aku menolak dengan ramah karena merasa tidak enak hati.
Aku memandangi jendela lagi. Sangat indah karena ternyata aku bisa melihat matahari terbenam dari sini. Tapi sekali lagi aku merasa aneh dengan cuaca diluar. Kenapa masih tetap dengan suasana musim gugur? Padahal sebelumnya bahkan cuaca dan iklim bisa berubah dalam waktu sehari saja. Aku menutup gorden dan memutuskan untuk tidur. Aku tidak ikut makan malam.
**
Aku membuka mataku perlahan. Lenganku terasa sangat ngilu karena hantaman kayu kemarin, dan benar saja ternyata lenganku lebam di beberapa tempat. Untungnya aku mengenakan pakaian panjang, jadi tidak akan terlihat. Aku membuka gorden dan merapikan kamar sebelum pergi mandi. Kemudian aku pergi ke ruang makan untuk sarapan. Awalnya aku takut dimarahi karena kemarin melewatkan makan malam, padahal sudah diingatkan. Tapi ternyata di dalam tidak terjadi apa-apa.
Setelah makan aku langsung mengaktifkan jubah dan pergi ke tempat latihan. Aku menyapa para siswa lain seperti kemarin, beberapa diantaranya balas melambai padaku. Namun tanpa berlama-lama aku pergi ke lokasi yang sama seperti kemarin. Tuan Einar rupanya sudah menunggu di sana. Ada garis yang sama di lantai seperti kemarin.
“Lakukan seperti kemarin. Usahakan lebih fokus dan jangan lengah.” ucapnya kemudian ia pergi duduk mengamatiku. Aku mengangguk paham dan langsung memfokuskan kekuatanku. Aku tidak ingin membuat kesalahan hari ini karena lenganku masih sakit, aku tidak ingin membuatnya lebih sakit.
Berkali-kali Tuan Einar menghentikan latihanku untuk memberikan tips agar tidak lengah. Namun dua jam berlatih aku tetap terhantam berkali-kali.
“Kondisimu sepertinya tidak seprima kemarin. Kita latihan yang lebih mudah saja.” ucapnya kemudian sambil menghembuskan napas. Lenganku terasa kaku, tapi aku tidak mengatakannya.
Tuan Einar menyuruhku berdiri dan memegang pedang ku dengan dua tangan. Kemudian ia menyuruhku untuk menutup mata dan memfokuskan pikiran ku agar bisa merasakan sekitar. Rupanya ini adalah latihan fokus agar aku bisa merasakan munculnya balok kayu agar bisa menebas semuanya. Aku terus memfokuskan pikiranku yang ternyata berefek pada sensitivitas seluruh indraku. Aku bahkan bisa mendengar suara siswa yang ada di sudut terjauh. Aku juga bisa mendengar sesuatu yang mendekatiku. Rasanya seperti aku bisa melihat padahal mataku tertutup.
Tuan Einar memerintahkanku untuk menebas segala sesuatu yang mendekat tanpa menggerakkan kaki. Aku merasakan bahwa aku telah menebas semua kayu yang mendekat ke arahku. Aku perhalan membuka mataku dan kusadari banyak sekali kayu di sebelah kakiku. Tak sampai lima detik kayu itu sudah menghilang seperti terserap ke dalam lantai.
“Rin aku harus pergi ke lokasi perawatan korban, kau akan baik-baik saja ku tinggal sendirian?” katanya kemudian.
“Eh?”
“Atau begini saja, kau bisa istirahat dan kembali kesini lagi nanti sore.” ucapnya.
“Baik. Hati-hati di jalan.” ucapku menunduk padanya. Ia langsung meninggalkan ruangan. Aku kembali duduk di sudut bersandar pada dinding. Aku melipat kakiku dan membenamkan wajahku di sana. Aku terus berpikir semua yang aku lalui melelahkan. Aku tidak bisa menghadapi ini semua.
Saat ini harusnya aku di sekolah menyiapkan ujian untuk masuk ke tingkat akhir sekolah menengah atas. Saat ini harusnya aku di rumah untuk merencanakan liburan dengan orang tuaku, atau bahkan pulang dari liburan. Kenapa aku harus terdampar disini? Ini mimpi? Kenapa aku tidak kunjung bangun? Kenapa aku harus melakukan ini semua?
Aku menutup mataku yang mulai memanas karena air mata. Sebenarnya suka tempat ini. Aku juga punya teman-teman baik yang tidak kalah dari dunia asalku. Tapi di sini aku melalui banyak cobaan dan tantangan. Aku takut jika aku tidak bisa membantu banyak, aku takut kalau aku justru merepotkan orang lain. Aku takut kalau aku akan mati di tempat ini.
Aku sudah hampir mati berkali-kali, bagaimana jika ada pertarungan lagi aku benar-benar mati?
“Kau tidak berlatih?”
Suara hangat menyapa telingaku. Aku mengelap mataku dengan tangan sebelum mengangkat wajahku.
“Eh?” aku bingung menatap seseorang yang berdiri tepat di depanku.
“Kau menangis?” ucapnya sedikit terdengar khawatir.
“Eh? Apa aku tertidur? Ini mimpi?” aku kembali mengucek mataku karena tidak percaya apa yang kulihat. Iya, itu adalah Hazel.
“Apa yang kau bicarakan?” katanya, kini ia duduk di sebelahku. Wajahnya tetap datar.
“Kau sungguh Hazel?” tanyaku bingung.
“Apa maksudmu? Tentu saja aku Hazel.” jawabnya masih tetap datar.
“Bukankah kau sudah pulang kemarin?” aku sangat bingung karena ia baru pulang kemarin, dan sekarang sudah ada di sampingku.
“Iya, tapi memang apa susahnya kembali?” ia memandangku cukup lama, kemudian sedikit tersenyum. Pipiku terasa memerah.
“Bukankah kau harus belajar di sekolah kakek?”
“Kau lupa kalau kemampuanku adalah teknik pedang juga? Apa bedanya dengan belajar di sini? Lagi pula Kakek Lupin memintaku untuk mengawasimu.” terangnya lagi.
“Benarkah?”
“Sebenarnya aku bebas kemanapun aku mau.” jawabnya dengan santai. Beberapa orang yang lewat di depan kami menunduk pada Hazel ramah.
“Kau baik-baik saja?” tanya Hazel.
“Tentu saja.” jawabku dengan senyuman lebar.
“Bagaimana latihanmu?” tanyanya lagi.
“Lancar. Tapi hari ini Tuan Einar harus pergi ke tempat korban penyerangann beberapa waktu lalu.” terangku. Ia mengangguk paham.
“Sepertinya kita juga akan diperintahkan kesana.” ucapnya.
“Hah?” aku terkejut. Hazel hanya mengangkat bahunya. Kami kemudian diam cukup lama. Ia kemudian menarik tanganku sedikit kasar. Aku terkejut dan reflek berteriak. Ia menaikkan baju lengan panjang ku yang cenderung longgar hingga bahu.
“Apa ini? Baru saja kau bilang kalau kau baik-baik saja.” katanya, nada bicaranya sedikit naik. Ia melihat luka lebam di sepanjang lenganku.
“Aku baik-baik saja.” ucapku tersenyum. Lenganku masih terasa nyeri karena tarikan kasar Hazel.
“Aku baru pergi sehari, dan aku sudah menemuimu dalam kondisi seperti ini?” Hazel menghembuskan napas pelan. Ia kembali menurunkan pakaianku untuk menutupi luka itu.
“Aku baik-baik saja, Hazel. Aku hanya belum menguasai pelatihanku.” ucapku sambil menggaruk rambutku yang tidak gatal.
“Ayo, kita harus mengobatinya.” ucapnya. Ia berdiri dan memintaku untuk mengikutinya.
Eh? Hazel kenapa perhatian sekali?