Pagi kembali menjelang. Aku mencoba membuka mataku yang masih terasa berat, entah kenapa tidurku sangat nyenyak. Aku duduk di ranjang selama hampir lima menit hanya untuk membuatku merasa ‘sadar’. Selanjutnya aku membuka korden untuk membiarkan sinar matahari menerangi seluruh kamarku. Sempat kulihat daun di depan sudah banyak yang gugur. Sebenarnya aku sangat heran dengan kondisi iklim di sini yang sangat cepat berubah. Tapi nanti sajalah kalau aku ingat akan kutanyakan pada Kakek Matheo.
Suara ketukan di pintu membuatku sepenuhnya sadar. Aku meraapikan rambut dan pakaianku sebelum membuka pintu, takut kalau-kalau ada tetua di depan pintuku.
“Hai, Rin. Kau sudah bangun?” Rupanya Alois yang berdiri di depanku.
“Tentu saja! Kalau belum pasti aku tidak berdiri di depanmu sekarang.” aku tersenyum menjawab pertanyaannya.
“Haha benar juga.” Ia tersenyum sangat lebar, kemudian memandangku dalam sambil terus mempertahankan senyum di wajahnya. Aku juga hanya tersenyum padanya. Lalu kami hanya diam tanpa percakapan lagi.
“Oh iya, kita perlu bersiap untuk sarapan.” ucapnya kemudian. Aku mengangguk mantab. Harus kuakui aku cukup lapar.
“Kau pergi duluan saja, aku harus mandi dan merapikan kamarku dulu.” ucapku pada Alois. Aku memang harus merapikan kamarku lebih dahulu. Dan jelas aku juga harus mandi lebih dulu karena tidak mungkin aku tampil kumal di depan para tetua.
“Perlu aku menunggu? Kita pergi bersama saja.” tuturnya kemudian. Aku menggeleng sopan berkata tidak perlu, karena aku yakin akan memakan waktu cukup lama. Aku tidak ingin membuat Alois menungguku begitu lama. Alois kemudian mengangguk dan menepuk lembut bahuku sebelum berlalu pergi.
Aku menutup pintu dan mulai merapikan selimut. Cara merapikan selimut sama seperti di duniaku, hanya tinggal melipatnya saja. Selanjutnya aku memutuskan untuk segera mandi. Di duniaku biasanya aku mandi lumayan lama, bahkan bisa lebih dari tiga puluh menit. Namun di sini sepuluh menit saja cukup. Aku kembali ke kamarku untuk merapikan rambut panjangku.
Aku segera pergi ke ruang makan karena aku yakin sudah ada teman-temanku di sana. Jarak ruang makan dari kamarku tidak terlalu jauh, mungkin tiga menit berjalan kaki. Aku melihat Camellia melambai padaku di depan ruang makan. Aku juga balas melambai dan segera berjalan cepat ke arahnya. Ia menguncir ramburnya rapi, ia tidak pernah tidak tampak cantik.
“Aku baru saja hendak ke kamarmu.” katanya tersenyum.
“Untuk apa?” tanyaku. Tanpa kusadari Hazel keluar dari dalam ruang makan.
“Menjemputmu tentu saja, kupikir kau belum bangun.” Camellia sedikit terkekeh. Aku memasang ekspresi cemberut karena aku tidak harus selalu dijemput.
“Sudahlah, cepat masuk.” Ucap Hazel dingin. Camellia meliriknya sinis, namun menurut. Camellia menarik tanganku agar segera masuk ke ruang makan.
Ruang besar menyambut kami. Lagi-lagi, jumlah kursi kosong jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan kursi yang terisi. Hanya ada empat ksatria, Alois, Viscaria, dan kami bertiga. Alois melambai padaku, menyuruhku untuk duduk di sebelahnya. Camellia duduk di sebelahku. Hazel pergi duduk di sebelah kanan dua kursi utama. Dua kursi utama itu jelas milik Kakek Theo dan Matheo. Umumnya kursi utama hanya ada satu, tapi di sini ada dua karena pemimpinnya ada dua.
Empat ksatria yang duduk berhadapan menunduk pada Hazel, yang kemudian dibalas anggukan oleh Hazel. Wah? Apa Hazel dihormati di sini? Aku, Alois, dan Camellia duduk berdampingan terpisah dua kursi dari dua ksatria di sebelah kiri. Tepat di depanku ada Viscaria yang menatapku lamat-lamat. Aku merasa canggung, jadi aku mengalihkan pandanganku setelah tersenyum padanya. Camellia di sampingku mendengus kesal melihat Viscaria, kemudian mulai membuka obrolan denganku.
“Aku dengar dari Kakek Matheo kalau kau akan tinggal di sini, benarkah?” tanya Camellia memandangku sedih.
“Iya.” aku mengangguk memasang ekspresi sedih juga.
“Apa? Rin tidak akan ikut kembali ke Achillea?” Alois terkejut mendengar ucapan Camellia. Aku hanya tersenyum padanya.
“Rin, padahal aku berencana untuk pulang menemui Nenek Smilax setelah dari sini.” Camellia kemudian memelukku. Aku mengelus lengan Camellia. Aku sebenarnya merindukan Nenek Smilax. Beliau adalah orang pertama yang membantuku setibanya aku di sini. Tapi aku harus tetap di sini untuk meningkatkan kemampuanku.
“Perlukah aku juga tetap di sini menemanimu?” Alois kemudian memandangku. Aku tidak berani memandang matanya kali ini, namun aku menggeleng.
“Kau harus melanjutkan pendidikanmu di Achillea kan.” jawabku terkekeh. Alois nampak terlihat sedih. Namun kedatangan Kakek Theo dan Matheo membuat kami semua diam. Aura Kakek terasa sangat kuat, rasanya bahkan sebelum Kakek memasuki ruangan ini sudah terasa tegang. Semenit setelah Kakek Theo dan Matheo duduk, makanan segera disajikan. Kakek Matheo sempat menyapa kami dengan tersenyum, tapi Kakek Theo tidak.
Hari ini menu yang disajikan cukup berawal. Di awal, kami disajikan makanan sepeti salad namun berukuran kecil. Setelah itu, ada yang datang membawakan piring berisikan irisan daging tebal dengan saus yang ada potongan jamurnya. Terakhir, disajikan mangkuk berisikan daun dan bunga yang berwarna putih. Aku sedikit takut memakannya, namun setelah melihat yang lain lahap, aku ikut memakannya. Rasanya manis namun dengan sensasi mint yang segar. Sebenarnya semua ini sangat enak dan sesuai gayaku, tapi saat ini sungguh aku rindu makan nasi.
Piring terakhir sudah dibereskan. Di meja besar kami kini hanya tersaji segelas air dengan ukuran lumayan besar.
“Kalian akan pergi sebentar lagi?” Kakek Matheo membuka pembicaraan. Hazel mengangguk sebagai jawaban.
“Titip salam pada Lupin ya.” kata Kakek Matheo sekali lagi. Sebenarnya Kakek Lupin adalah kakak dari Kakek Theo dan Matheo, tapi sepertinya beliau memang tidak memanggilnya kakak.
“Kek, kenapa Rin perlu tinggal di sini?” tanya Camellia.
“Bukankah sudah aku katakan kemarin kalau Rin harus meningkatkan kemampuannya?” Jawab Kakek Matheo dengan nada sabar.
“Tapi kek-” Camellia merengek. Di sini memang menyenangkan, namun alangkah lebih baik jika aku punya teman seperti Camellia di sini.
“Camellia, Rin akan dilatih oleh orang profesional. Lagi pula ini tempatnya.” Kakek Theo kini ikut menjawab. Camellia kini menunduk, namun tetap cemberut. Sepertinya memang tidak ada yang berani melawan Kakek Theo, kecuali si Hazel tentu saja.
“Sebentar lagi akan kusuruh orang menyiapkan kereta. Hazel pergilah ambil salinan hasil laporan di ruang pemerikasaan. Kami permisi dulu.” ucap Kakek Matheo disusul keduanya berdiri meninggalkan ruangan. Empat ksatria kini juga ikut keluar, namun sebelumnya mengucapkan selamat tinggal kepada kami.
“Hasil laporan apa?” tanya Camellia pada Hazel karena tidak tahan menahan rasa penasaran.
“Benda yang kami temukan saat penyisiran lokasi kemarin.” Terang Hazel pada kami tanpa melangkahkan kaki dari tempat duduknya. Ia sangat terlihat berwibawa saat ini.
“Yang seperti chip?” tanyaku ikut penasaran. Ia mengangguk. Aku juga penasaran itu apa, tapi sepertinya salinan laporan itu akan ditujukan pada Kakek Lupin.
“Sepertinya hasil pemeriksaanmu kemarin juga.” kata Hazel kemudian.
“Aku ingin melihat hasil pemeriksaannya lagi.” kataku. Aku ingin melihat lebih detail hasil pemeriksaanku. Namun kemudian aku sadar kalau aku buta huruf jika di sini.
“Kakek Matheo dan pelatihmu nanti pasti akan menjabarkan lebih jelas, tenang saja.” Jawab Hazel sambil meneguk air di depannya.
“Kita harus segera bersiap untuk pulang, kalian sudah berkemas?” tanya Hazel. Camellia, Alois, dan Viscaria mengangguk.
“Sebenarnya aku tidak ingin pergi jika tidak ada Rin.” ucap Alois. Aku tersenyum melihatnya sedikit murung di sebelahku.
“Aku juga. Padahal aku ingin mengajak Rin berkeliling di Millefolia.” Camellia di sebelahku meletakkan kepalanya di meja seperti berpura-pura menangis. Aku justru tertawa melihat tingkahnya seperti itu.
“Lagi pula ini tidak terlalu jauh dari Achillea kan.” kataku masih sedikit terkekeh sambil menepuk bahu Camellia lembut.
“Memangnya kalian tidak ada pengajaran lagi?” tanya Hazel pada Camellia dan Alois. Mungkin maksudnya adalah pelajaran di sekolah Kakek Lupin. Mereka semua adalah siswa di sana.
“Tentu saja masih ada.” jawab Camellia cemberut, disambut anggukan setuju dari Alois.
“Ya kalau begitu kalian jelas tidak bisa tetap di sini.” terang Hazel.
“Kenapa begitu?”
“Kakek Lupin hanya mengizinkan kita pergi untuk membantu situasi di sini kemarin. Para ksatria yang pergi sudah kembali, kita tidak dibutuhkan lagi.” jawab Hazel. Alois dan Camellia kembali memasang wajah cemberut. Aku melihat Viscaria memandangi Hazel tanpa sadar.
“Tidak apa, Camellia. Nanti kalau aku sudah bisa mengendalikan kekuatanku, ajak aku ke Millefolia.” aku menyakinkan Camellia bahwa aku akan kembali.
“Asal saat kembali ke Millefolia kalian sadar waktu saja, agar tidak merepotkanku lagi.” Ucap Hazel dengan mengangkat sebelah bibirnya. Sebenarnya itu lebih terkesan seperti senyum meremehkan, namun tampak bagus pada wajahnya.
“Saat itu Nenek Smilax lupa, aku yakin kami tidak akan melakukannya lagi.” tutur Camellia. Aku hanya tersenyum sebagai jawaban. Pikiranku kembali saat aku melihat cahaya putih menyilaukan sebelum aku pingsan, dan itu ternyata Hazel.
“Ayo kita pergi.” Ucap Hazel sambil berjalan meninggalkan ruang makan. Kami bertiga menyusulnya, namun segera berpisah ke kamar masing-masing untuk berkemas.
Aku mengikuti Camellia ke kamarnya karena ingin membantunya berkemas. Kamar Camellia hanya berjarak dua pintu dari kamarku. Isi kamarnya sama saja dengan kamarku, dengan luas yang sama pula. Barang bawaan Camellia tidak banyak. Hanya dua pasang pakaian yang berwarna hijau muda, tidak ada bedanya dengan apa yang ia kenakakan. Juga beberapa daun dan ranting yang sepertinya akan ia gunakan utnuk pengobatan.
Kami kembali duduk di ranjang memandang keluar melalui jendela. Selalu menyenangkan memandang ke luar. Sudah kuceritakan kondisi di luar gedung? Kamar kami ada di lantai atas, jadi kami bisa memandang luar gedung dengan baik. Jalanan di luar sangat sepi dan ada penjagaan yang lumayan ketat. Mungkin karena bisa dibilang ini adalah kantor pusat.
“Rin, kenapa aku merasa Hazel dan Alois menaruh perhatian padamu ya.” Camellia tiba-tiba mengatakan itu sambil tertawa. Aku terkejut mendengar perkataannya, namun kemudian pipiku memerah.
“Apa maksudmu? Itu jelas tidak mungkin” kataku merasa malu.
“Aku tidak mengerti soal Alois karena kami hanya mengenal sesama siswa di sekolah, tapi dia terlihat sangat menyukaimu. Kalau Hazel aku bahkan sudah mengenalnya sejak bayi. Dia adalah laki-lagi dingin, namun akan berubah perhatian pada orang yang dianggapnya dekat. Bukankah kau merasakan kalau Hazel memperhatikanmu?” terangnya sekali lagi sambil tertawa.
Sebenarnya aku tidak ingin terlalu percaya diri, namun aku juga merasa kalau sikap Hazel berubah padaku. Tapi itu mungkin karena Kakek Lupin mempercayakan aku padanya. Kalau Alois aku merasa itu hanyalah sikap ramahnya padaku yang datang dari negeri jauh.
“Kalian membicarakanku?” suara lelaki mengaketkan kami. Aku reflek menoleh ke belakang, rupanya kami lupa menutup pintu dan saat ini Hazel bersandar di sana. Camellia sedikitpun tidak menoleh, mungkin ia sedikit takut karena terpergok membicarakan Hazel.
“K-kau mendengar semuanya?” Camellia kemudian gelagapan melihat ke belakang. Hazel memasang wajah datarnya kemudian mengangguk tipis.
“A-aku tidak berbicara buruk tentangmu, kan.” baru kali ini aku melihat Camellia sedikit takut pada Hazel, padahal biasanya ia selalu santai.
“Sudahlah. Rin, Kakek Matheo menyuruhku mengajakmu berkeliling lebih dulu.” Kata Hazel mengabaikan Camellia. Namun ucapannya justru mengundang Camellia untuk menggodaku. Namun tidak berlangsung lama karena aku segera mengikuti Hazel keluar.
Aku berjalan tepat di belakang Hazel. Kini ia mengaktifkan jubah butih berkilaunya yang membuat Hazel semakin tampak menawan. Anehnya aku terus memikirkan perkataan Camellia barusan. Tidak mungkin kan seorang Hazel, siswa terbaik, calon penerus pemimpin kota Achillea tertarik padaku? Sangat tidak mungkin.
“Bisakah kau jalan lebih cepat?” langkah Hazel yang terhenti tepat di depanku membuatku menabraknya.
“E-eh maaf.” aku sedikit gelagapan dan langsung mundur dua langkah menjauh darinya.
“Jangan melamun.” kata Hazel aku hanya mengangguk pendek karena aku sadar melamun sejak tadi. Hazel justru mendekat dan menarik tanganku, membuatku berjalan di sampingnya.
“Jangan terlalu percaya diri, aku hanya tidak ingin kau ketinggalan di belakangku.” ucap Hazel tanpa memandangku. Hal itu justru membuatku semakin malu karena pikiran liarku tadi. Dia memang tidak mungkin menaruh hati padaku.
Kami berjalan beriringan cukup lama tanpa percakapan. Hazel tetap menggenggam tanganku. Aku tidak bertanya atau berusaha melepaskannya, dia juga tidak mengatakan apapun.
“Ini ruang pelatihanmu, kau sudah hafal jalannya, kan?” kami berhenti di ruangan berpintu besar seperti ruang pemeriksaan kemarin. Jaraknya cukup jauh dari kamarku, aku tidak tahu seluas apa gedung ini, tapi dari tadi kami hanya berbelok dua kali.
“Kau mau mencoba masuk sebentar?” tuturnya lagi. Aku mengangguk mantab. Aku juga penasaran apa isi dari tempat yang mengagumkan ini. Hazel melepaskan tangannya dan berjalan mendekat ke depan pintu. Sepertinya sistem yang sama dengan ruang ‘kelas’ di kota Achillea. Tak sampai dua detik pintu bergerak membuka. Tanpa disuruh dua kali aku mengikuti Hazel masuk ke ruangan itu.
Aku sempat berpikir di dalamnya akan kosong sama seperti di ruang pemeriksaan. Namun aku sepenuhnya salah. Di dalamnya ada banyak siswa yang sedang berlatih. Ada yang tengah beradu pedang, melatih memotong sesuatu, mengeluarkan angin dari pedangnya, dan lain-lain. Aku juga berpikir bahwa ruangan ini tidak terlalu luas. Namun aku sekali lagi salah. Luas tempat ini hampir lebih besar dari tiga kali lapangan sepak bola. Bagaimana mungkin?
“Hazel, saat kita di luar tadi gedung ini terlihat seperti gedung pada umumnya, tapi bagaimana bisa ada ruangan seluas ini?” tanyaku karena tidak bisa menahan rasa penasaranku.
“Oh kau tidak menyadarinya? Kita ada di bawah tanah.” jawab Hazel santai. Aku semakin terkejut karena dari tadi kami hanya berjalan datar. Bagaimana bisa ini adalah bawah tanah? Tapi sepertinya ini juga merupakan teknologi dari negeri ini. Siswa lain yang melihat Hazel meyapanya ramah, sebagai balasan Hazel hanya mengangguk-angguk saja. Dia tidak berlagak keren kan?
“Kau kenal mereka?” Tanyaku sambil mempercepat langkahku untuk menjajari Hazel. Aku sedikit takut karena banyak yang melihatku.
“Tidak semua, aku juga pernah belajar di sini.” jawabnya sekali lagi tanpa memandangku. Sepertinya kami hendak menemui seseorang.
“Benarkah? Kapan?”
“Saat aku ingin, lagi pula kemampuanku lahir di kota ini.” jawabnya santai. Aku mengangguk paham. Sepertinya ia mendapat kartu freepass kemanapun ia pergi. Hazel akhirnya berbicara dengan seseorang yang terlihat lebih tua dari pada kami. Ia adalah salah satu ksatria yang membantu menyerang ular dalam penyisiran kemarin. Aku berdiri tiga langkah di belakangnya. Namun samar-samar aku mendengar Hazel berkata agar ksatria itu menjagaku selama Hazel tidak ada.
Akhirnya kami keluar dari ruangan dan pergi ke halaman gedung. Ini sudah saatnya mereka pergi. Rasa sedih kembali merayapi perasaanku. Aku akan ditinggalkan di tempat yang aku tidak mengenal orang lain selain Kakek Theo dan Matheo. Untungnya saja aku merasa bisa bergaul dan mudah beradaptasi.
“Rin, aku akan segera ke sini lagi jika kakek mengizinkan.” Camellia memelukku erat. Ia sungguh teman yang baik.
“Doakan aku baik-baik saja yaaa.” aku membalas pelukannya sambil menepuk punggungnya. Kemudian aku melepas pelukan Camellia dan kami tiba-tiba tertawa bersama. Mungkin maksud kami adalah kami terlalu lebay.
“Aku tau kau akan baik-baik saja.” kata Camellia kemudian. Alois mendekatiku dengan ekspresi sedih.
“Aku yakin akan merindukanmu.” ucap Alois sambil melangkahkan kakinya untuk mendekatiku. Namun Hazel seperti pura-pura terbatuk dan mengisyaratkan agar segera masuk ke kereta. Alois hanya menatap sinis pada Hazel kemudian melambai padaku. Aku juga balas melambai padanya dengan senyuman di wajahku. Alois juga teman yang baik.
“Jangan lemah, kalahkan mereka semua.” Hazel menepuk pundakku dengan senyum simpul di wajahnya.
“Tenang saja, saat kita kembali lagi bertemu mungkin aku sudah bisa mengalahkanmu.” kataku sedikit terkekeh.
“Jangan bermimpi.” Ucap Hazel dengan senyum yang makin melebar, ia semakin menawan dengan sinar matahari yang menimpanya.
“Sampai jumpa lagi.” kataku melambai padanya. Ia mengangguk dan melompat ke kereta kuda. Aku terus melambai pada mereka sampai benar-benar jauh.
Kini aku benar-benar sendiri. Mama, apa kabar?