Kami semua sampai di sebuah bangunan putih besar tempat awalku sampai di kota ini. Anehnya, pohon di sekitar bangunan dan sepanjang jalan terlihat memiliki daun berwarna orange seperti saat musim gugur. Sebenarnya juga aku tidak terlalu mengerti karakteristik musim gugur, tapi yang kulihat saat ini sama seperti yang sering kulihat di foto. Orang-orang sibuk menurunkan muatan untuk dikembalikan ke tempatnya. Camellia sudah mengajakku ke dalam sejak tadi, katanya aku tidak perlu membantu menurunkan muatan.
Aku kembali ke kamar tempat tidurku. Aku membuka korden untuk melihat pemandangan indah di luar. Rasanya suasana hatiku menjadi lebih tenang. Namun sekali lagi aku merasakan keanehan di sini. Kemarin saat aku bangun, udara begitu dingin hingga turun salju. Kemudian salju menguap namun cuaca begitu panas. Lalu saat pertarungan dengan hewan melata itu hujan deras. Dan sekarang tampak seperti musim gugur? Bukankah itu aneh?
Aku terus bermain dengan pikiranku hingga Camellia meminta izin masuk ke kamarku. Ia hanya membawa segelas minuman seperti susuu coklat hangat. Camellia ikut duduk di ranjangku sambil melihat pemandangan di luar. Rasa susuu ini sangat enak dan sesuai dengan gayaku, tidak terlalu manis. Kami hanya menyesap susuu hangat ini dalam diam. Entah kenapa tapi sepertinya kami ingin menenangkan pikiran kami masing-masing.
“Kau sudah mandi?” Camellia tiba-tiba bertanya padaku. Aku menggeleng sebagai jawaban.
“Kudengar kakek Theo menyuruhmu ke ruang pemeriksaan, sebaiknya kau lekas bersiap. Kau tidak pernah tau kapan Hazel menjemputmu.” terang Camellia.
“Sebentar lagi saja, tunggu susuu ini habis.” jawabku terkekeh. Setelah itu tidak ada percakapan lagi. Kami hanya memandang kesibukan di luar tanpa bicara. Waktu berlalu sangat cepat, minuman hangat di tanganku sudah tandas. Tapi kami tidak kunjung bergerak dari tempat duduk kami.
“Kalian sedang apa?” suara di belakang kami mengagetkanku. Aku menoleh dan kudapati Hazel berdiri di depan pintu yang terbuka dengan pakaian putihnya, saat ini ia tidak sedang mengenakan jubahnya. Aku sedikit gelagapan karena sama sekali belum bersiap, namun Hazel sudah datang ke sini. Camellia sama sekali tidak bergerak dari posisi duduknya. Bahkan menoleh pun tidak.
“Camellia, kau tidak terusik?” kataku heran melihat Camellia yang tidak bergeming.
“Aku sudah hafal suaranya, bahkan aku sudah tau itu siapa tanpa menoleh.” jawab Camellia sedikit tersenyum. Aku tidak merasa heran karena aku yakin Hazel dan Camellia sudah lama saling kenal. Apalagi mereka bisa terhitung bersaudara.
“Rin, ayo ke ruang pemeriksaan.” Hazel sudah berbicara kembali sebelum aku mengatakan sesuatu. Aku meletakkan gelas yang sudah kosong di meja sebelah kamarku.
“T-tunggu sebentar, aku akan mandi.” jawabku sedikit canggung.
“Camellia, terima kasih minuman hangatnya, aku akan bersiap dulu.” Kataku pada Camellia sebelum berjalan cepat menuju kamar mandi sebelah kamarku. Aku melewati Hazel yang menatapku di tengah pintu. Aku sedikit mendengar Camellia tertawa sambil mengomel pada Hazel yang harusnya membuatku beristirahat lebih dahulu, namun aku tidak mendengar jawaban dari Hazel.
Aku mandi secepat kilat karena tidak ingin membuat Hazel menunggu terlalu lama. Selanjutnya aku kembali mengenakan pakaian putihku. Jantungku berdebar karena tidak tau pemeriksaan apa yang akan aku hadapi. Aku merapikan rambut panjangku yang kugerai biasa. Selanjutnya aku kembali ke kamar untuk menemui Camellia dan Hazel. Sesampainya di kamarku, aku mendapati Hazel tidak berubah dari tempatnya. Namun kini ia bersandar pada pintu. Camellia sudah tidak ada, kata Hazel ia sudah pergi.
Tanpa ada penundaan lagi, kami berjalan beriringan di lorong tanpa percakapan. Aku tidak tau dimana lokasi tempat pemeriksaan, aku hanya mengikuti langkah Hazel. Rasa tegang kembali menjalar dalam diriku. Aku merasa takut bahwa hasil pemeriksaan nanti tidak sesuai keinginan.
“Kau takut?” Hazel tiba-tiba berhenti dan menatapku.
“Eh?” aku terkejut karena Hazel seperti bisa membaca pikiranku.
“Tidak apa-apa, aku yakin semua akan baik-baik saja.” Hazel memandang mataku dalam, kali ini ada senyum simpul di bibirnya. Pipiku memanas, Hazel kenapa bisa menjadi manis seperti ini?
“Kemarilah.” Hazel menggandeng tanganku kemudian kembali berjalan perlahan menyusuri lorong putih yang terlihat sangat panjang. Ia menggenggam tanganku cukup erat, namun aku menurut saja membiarkannya menuntunku. Aku tidak tau seberapa besar gedung ini, karena dari tadi yang kami lewati hanya lorong panjang. Di sisi kanan dan kirinya ada beberapa pintu kayu yang entah apa yang ada di dalamnya, mungkin kamar seperti kamarku dan yang lainnya.
Tangan Hazel terasa hangat dan sangat nyaman. Hingga beberapa saat kemudian, kami sampai di depan ruangan dengan pintu seperti besi yang diukir sangat rumit. Pintu itu berwarna perak yang terlihat gagah dengan panjang sekitar tiga meter dan tinggi lima meter. Belum lama kami berdiri di depannya, pintu itu terbelah dan membuka ke arah dalam, menyajikan pemandangan ruangan putih kosong yang cukup besar. Eh? Kosong?
Namun ruangan ini tidak sepenuhnya kosong. Aku melihat Kakek Matheo duduk di kursi yang juga putih di ujung ruangan. Beliau tengah membaca buku dengan cover bergambar bunga seperti lambang medis. Hazel menggandengku masuk untuk menghadap pada Kakek Matheo.
“Halo!” kakek Matheo menyapa kami ramah. Ia menutup bukunya dan memandang kami dengan senyuman hangat. Kakek Matheo memang lebih ramah jika dibandingkan dengan saudara kembarnya.
“Akhirnya kita bertemu lagi, Rin.” masih dengan senyuman di wajahnya, Kakek Matheo berdiri dan menjentikkan jarinya. Mendadak muncul sebuah meja yang juga berwarna putih, ia meletakkan buku yang tadi ia pegang di sana. Dan lima detik setelahnya, meja putih itu kembali masuk ke lantai.
“Halo, Kek.” aku balik menyapanya mencoba tidak tegang dan menyembunyikan rasa tegang ku.
“Aku tunggu di luar ya.” Hazel melepaskan genggamannya dan kembali menatapku.
“Eh?” jawabku reflek karena kupikir Hazel akan menemaniku di sini.
“Jangan Khawatir.” Hazel tersenyum dan langsung berjalan keluar setelah menunduk pada Kakek Matheo. Aku memandang punggungnya hingga hilang di luar pintu.
“Wah, kurasa kalian sudah menjadi sangat dekat.” Kakek Matheo menggodaku. Aku tersipu namun kemudian menggeleng, kami tidak sedekat itu.
“Jadi, apa yang akan aku lakukan, Kek?” tanyaku karena penasaran, sekaligus mengalihkan pembicaraan.
Kakek Matheo kembali menjentikkan jarinya dan kali ini muncul sebuah kubah yang bentuknya seperti iglo, lagi-lagi berwarna putih. Di luarnya terdapat kotak kecil berukuran telepon seluler dengan banyak tombol. Sepertinya itu tombol pengendali untuk alat ini.
“Masuklah.” ucap Kakek Matheo. Aku mengangguk, namun ragu-ragu berjalan mendekati kubah itu. Aku berusaha memberanikan diriku untuk memasukinya. Aku sudah bertarung melawan serigala, aku sudah melawan ular dari kelompok sihir hitam, apa lagi yang perlu aku takutkan dari kubah putih ini?
Di dalam kubah yang dari luar terlihat kecil itu ternyata lumayan luas. Bahkan cukup untuk aku tidur terlentang dan berguling-guling kesana kemari. Namun jelas aku tidak melakukan itu.
“Apa yang harus aku lakukan, Kek?” tanyaku setelah duduk di dalamnya.
“Tidak ada, lakukan sesukamu saja.” jawab Kakek Matheo sambil terkekeh di luar sana. Aku bingung dengan jawaban kakek, tapi aku memutuskan untuk duduk meluruskan kaki dan bersandar di dinding kubah.
“Sudah siap, Rin?” tanya Kakek beberapa menit kemudian. Aku menjawab sudah dengan sedikit berteriak karena takut suaraku tidak terdengar.
Beberapa saat kemudian, seperti ada lampu yang mati menyala selama berulang-ulang. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri takut terjadi sesuatu. Lima detik kemudian lampu itu berhenti kelap-kelip dan memunculkan cahaya putih lembut yang berpendar halus. Cahaya itu terasa sangat menenangkan hingga aku merasa mengantuk. Kemudian aku jatuh tertidur.
**
Aku terbangun sambil menyadari bahwa aku tidur terduduk. Mataku mengerjap mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.
“Kakek, apa yang terjadi?” Aku sedikit berteriak karena sadar ternyata saat ini aku tengah dalam proses pemeriksaan. Namun aku tidak mendengar suara apapun.
Aku takut kalau Kakek Matheo pergi karena aku tidur terlalu lama. Aku terus memanggil Kakek Matheo sambil berputar mencari tombol pembuka pintu. Setelah berputar cukup lama, akhirnya aku menemukan tombol kecil di lantai. Tanpa pikir panjang aku langsung menekan nya karena sudah panik. Ternyata benar, tombol yang ku tekan adalah untuk membuka pintu. Di hadapanku kini pintu sudah terbuka, dan aku langsung melangkah keluar kubah putih itu. Di luar kubah, aku mendapati Hazel dan Kakek Matheo tengah mengobrol berhadapan sambil duduk di kursi yang nampaknya dimunculkan dari lantai.
“Oh, kau sudah bangun?” Kakek Matheo menyapaku ramah. Aku sedikit bingung karena ada orang lain di luar kubah, tapi kenapa tidak mendengar teriakanku.
“Kakek, apa yang terjadi?” Aku mendekat pada mereka. Kakek Matheo memberikan isyarat agar muncul satu lagi kursi untukku duduk.
“Tesnya sudah selesai sejak tadi, tapi aku menyadari kau sedang tidur, jadi aku membiarkannya.” Jawab Kakek sambil meminum sesuatu di gelas yang juga sama putihnya. Apa semua benda di sini berwarna putih?
“Kau mau?” Hazel menawarkan segelas air padaku. Aku mengangguk dan langsung meneguknya. Tentu saja setelah mengucapkan terima kasih.
“Oke, berhubung Rin sudah di sini, bagaimana kalau kita lihat hasilnya bersama?” Ucap Kakek Matheo disambut anggukan ku dan Hazel. Aku kira mereka sudah melihat hasil pemeriksaan ku, ternyata kakek memutuskan untuk menungguku.
Kakek Matheo mengetuk sesuatu di dinding, dan lagi-lagi benda canggih muncul. Kini ada sebuah layar besar di dinding yang membuatku menganga. Kini layar televisi besar itu menampilkan sebuah gambar seperti berlian dan pedang, serta banyak tulisan yang tidak aku kenal.
“Kalian pasti sudah tau apa jenis serpihan Gladiolus milik Rin, kan? Aku yakin Lupin telah memberitahu kalian.” aku dan Hazel mengangguk lagi. Aku memang sudah pernah melakukan pemeriksaan saat pertama datang ke negeri ini.
“Dari hasil pemeriksaan, sebenarnya Rin sudah baik-baik saja. Namun serpihannya yang membuatnya tidak baik.” tutur kakek.
“Apa maksudnya, Kek?” tanyaku tidak sabar.
“Kau pasti menyadari kalau kau terlalu sering pingsan. Itu disebabkan karena tubuh Rin belum bisa menahan kekuatan serpihan gladiolus ini. Pedang di tangannya menyalurkan energi yang terlalu kuat sehingga tubuhnya belum mampu mengimbanginya.” kakek Matheo menerangkan. Gambar di layar menunjukkan gambar dan tulisan yang lebih jelas seperti merespon kata-kata kakek, meskipun aku tidak mengerti bahasa apa itu.
“Tubuh Rin terlalu cepat lelah karena kekuatan yang terpendam di dalamnya.” tambahnya. Aku mengangguk paham. Aku pribadi juga merasa kalau aku selalu merasa lemah ketika selesai menyerang, dan kemudian aku akan tidak sadarkan diri.
“Lalu apa yang bisa dilakukan, Kek?” tanya Hazel. Aku menoleh padanya yang terdengar serius.
“Tentu saja, berlatih.” Kakek Matheo menepuk tangannya dua kali dan layar besar itu kembali menjadi dinding.
“Kalian akan kembali ke Achillea besok kan?” Kakek Matheo memastikan pada kami. Aku tidak tahu jawabannya, tapi Hazel mengangguk.
“Biarkan Rin di sini, dia akan berlatih bagaimana menguasai pedang dengan baik.” Ucap kakek. Kurasa memang di sini merupakan tempat terbaik untuk latihan pedang. Selain fasilitas dan pelatih yang jelas mumpuni, kota ini juga dikenal sebagai kota petarung. Aku tidak keberatan, tapi bukankah ini artinya aku akan berpisah dengan teman-temanku?
Aku memandang Hazel di sebelahku yang tampak seperti berpikir keras. Kenapa justru Hazel yang sepertinya banyak berpikir? Namun kemudian Hazel mengangguk.
“Rin sebenarnya memiliki kemampuan yang luar biasa. Kita harus bisa melatihnya dengan baik agar kekuatannya tidak menghancurkan dirinya sendiri.” Tambah Kakek Matheo.
“Baiklah, kita harus bersiap untuk makan malam. Sampai jumpa nanti.” Kakek Matheo kemudian tersenyum dan melangkah pergi meninggalkan ruangan menyisakan aku dan Hazel yang saling diam.
“Jadi, besok aku akan ditinggal sendirian di sini?” tanyaku dengan sedikit tersenyum pada Hazel. Ia mengangguk sebagai jawaban. Aku merasa sedih karena mungkin tidak bisa bertemu teman-temanku lagi dalam beberapa hari.
“Kau tidak keberatan kan?” Hazel menatapku dalam.
“Tentu saja tidak. Ini lebih baik daripada terus pingsan dan merepotkanmu kan?” aku sedikit menggodanya karena sering menyebutku lemah ketika aku pingsan. Ia juga tersenyum dan meletakkan tangannya pada kepalaku.
“Eh?” aku terkejut. Sekali lagi, aku merasakan pipiku memerah.
“Rambutmu sejak tadi berantakan.” katanya sambil merapikan rambutku dengan tangannya. Sepertinya lebih seperti mengelus, dan itu semakin membuat pipiku panas.
“Kita harus pergi makan malam. Mau kuantar ke kamarmu dulu?” Ucapnya. Aku mengangguk sepintas dan kami berjalan meninggalkan ruangan. Pikiranku terus mengulang kejadian bahwa Hazel mengusap rambutku. HAZEL MENGUSAP RAMBUTKU??? ini sungguh aneh karena lelaki dingin dan berpandangan sinis itu kini mendadak semanis buah cherry. Jantungku berdetak semakin kencang ketika jalan menuju kamarku terasa sangat jauh. Kurasa aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya, bahkan di duniaku.
Tunggu, ini bukan jatuh cinta kan?