“Kau sudah ingat?” tanya Hazel. Aku menatapnya sejenak, kemudian mengangguk. Aku melihat senyuman tipis di bibir Hazel yang membuatku ikut tersenyum.
“Hazel, pipimu baik-baik saja?” tanyaku khawatir, luka itu juga karena kesalahanku. Ia mengangguk singkat.
“Aku mencoba mengobatinya tadi, tapi entah kenapa tidak mau hilang.” Camellia menghembuskan napas panjang.
“Maafkan aku.” kataku menunduk.
“Untuk apa meminta maaf? Hazel terlihat baik-baik saja.” Alois sedikit terlihat kesal, ungkapan kekesalannya mendapat sorotan tajam dari Hazel.
“Sudah-sudah jangan bertengkar di sini. Hazel kapan kita akan kembali ke kota? Kondisi di sini sudah baik, pasien akan diangkut ke kota secara bertahap.” tanya Camellia mengalihkan pembicaraan.
“Sekitar dua jam lagi, aku akan berkumpul dengan pasukan khusus sebentar lagi.” Terangnya.
“Pasukan khusus?” tanyaku bingung.
“Iya, para petarung mata-mata terbaik.” jelas Camellia.
“Aku harus pergi dulu. Istirahatlah, nanti aku akan ke sini lagi.” Hazel berlalu tanpa menunggu jawaban. Ia sangat memesona dengan jubah putihnya.
“Aneh, Hazel jarang banyak bicara seperti itu.” ucap Alois disertai anggukan setuju dari Camellia.
“Oh, apa dia terlalu khawatir pada Rin?” goda Camellia menyenggol lenganku. Pipiku memerah, tapi kurasa aku sedikit GR kali ini hahaha.
“Sudahlah, Rin kau istirahat ya. Aku akan pergi berkeliling sebentar.” Ucap Alois seakan ingin menghentikan pembicaraan soal Hazel meskipun ia yang memulainya.
Alois memegang pundakku tersenyum manis. Aku membalas senyumannya mengangguk lagi. Alois juga sangat memesona dengan rambut dan mata hitamnya. Bagaimana bisa orang-orang disini sangat mengagumkan? Mungkin mereka akan menjadi primadona sekolah di negeriku.
“Eh kau mau kemana?” Camellia menahan tubuhku ketika aku hendak berdiri.
“Mengambil air” jawabku. Tenggorokanku terasa kering sekali karena sejak tadi mendengar cerita dari Hazel.
“Oh aku sampai lupa membawakan air, tunggu sebentar ya.” Camellia berdiri dan pergi untuk mengambilkan air untukku. Sebenarnya aku merasa tidak enak karena Camellia pasti lelah mengobati pasien, tapi sekarang harus ku repotkan lagi. Aku memandang sekeliling memeriksa keadaan. Orang-orang dengan jubah hijau seperti Camellia kini lebih banyak. Mungkin dikirim dari kota untuk membantu. Mereka sibuk berlalu-lalang tengah membereskan sesuatu. Sepertinya beberapa jam lagi posko ini akan dibongkar.
“Hei! Kau Rin, kan?” sebuah suara membuyarkan pikiranku. Aku menoleh ke arah asal suara yang ternyata di belakangku. Itu adalah Viscaria, gadis cantik dengan jubah kuning terpasang rapi membalut tubuhnya. Aku tersenyum melihatnya.
“Kau mengenalku?” tanyanya mendekati ranjangku.
“Iya, kau Viscaria kan?” ia mengangguk sebagai jawaban. Suara Viscaria terdengar rendendah dan dingin. Namun ia tetap menawan.
“Kau orang baru ya?”
“Iya” jawabku singkat mengingat aku masih terdampar di sini.
“Salam kenal.” ia tersenyum simpul. Kami berhadapan cukup lama tanpa pembicaraan. Aku sedikit canggung karena aku baru mengenalnya. Viscaria juga seperti tidak ingin melanjutkan pembicaraannya denganku lagi. Aku berharap Camellia cepat kembali agar bisa mencairkan suasana.
“Hei Rin, maaf ya lama tadi aku harus memasukkan obat herbal dalam box.” doaku menjadi kenyataan, Camellia benar-benar datang. Ia menyerahkan air padaku kemudian menatap Viscaria tajam.
“Untuk apa kau menemui Rin?” tanya Camellia.
“Tidak ada apa-apa.” jawabnya.
“Aku pergi dulu ya.” tambahnya. Ia berlalu sambil memandang Camellia dengan ramah, berbanding terbalik dengan tatapan Camellia yang memandangnya tajam. Ada apa? Kenapa Camellia begitu dingin memandangnya? Padahal Camellia kan gadis yang ramah.
“Kenapa?” Tanyaku tidak bisa menahan rasa penasaranku pada sikap Camellia. Ia hanya menggeleng seperti enggan menjawab. tatapannya padaku seperti mengatakan bahwa aku akan tau sendiri nanti. Aku menghabiskan air di gelas ku dalam diam. Camellia juga diam saja, seperti moodnya sudah tidak baik.
Aku dan Camellia tidak melanjutkan percakapan karena aku menjadi sedikit canggung. Waktu berjalan cepat tanpa percakapan lagi. Tak sampai satu jam, Hazel memasuki tenda perawatan dan kembali mendekat ke ranjangku. Ia bersitatap dengan Camellia lebih dulu. Seakan memberi isyarat, Camellia mengangguk dan berpamitan padaku. Katanya ia akan membantu berkemas untuk kembali ke kota. Aku melihatnya pergi untuk membantu tenaga medis lain untuk merapikan alas dan obat yang selesai digunakan.
“Kau bisa berdiri kan?” Tanyanya padaku. Wajahnya masih sama datarnya.
“Tentu saja.” Jawabku mantab. Aku memang sama sekali tidak merasa kesakitan dalam tubuhku. Hanya saja terasa sangat lelah.
“Pergi lah keluar lebih dahulu.” aku mengangguk mendengar perintah Hazel. Entah bagaimana semua perkataannya terasa sangat berwibawa dan harus dilakukan. Mungkinkah jika ia menjadi pemimpin, ia akan menjadi pemimpin yang otoriter? Hahaha.
Aku melipat selimut yang tadi kupakai sebelum pergi keluar. Hazel hanya menatap tanpa membantu. Kemudian aku berjalan keluar tanpa ada percakapan lagi diantara kami. Hazel tidak ikut keluar, mungkin ia ingin membantu tim medis untuk bersiap. Di luar aku melihat banyak kereta kuda terparkir rapi. Kuda-kudanya tampak gagah dan besar, tidak seperti kuda awal saat kami kemari. Mungkin dipersiapkan untuk membawa kembali barang bawaan ke kota dan mengangkut para ksatria yang butuh istirahat.
“Kau baik-baik saja?” Alois menghampiriku dengan senyumannya yang khas. Ia datang dari arah salah satu kereta kuda yang ada di sana.
“Berapa kali kau akan menanyakan itu? Aku baik-baik saja haha.” jawabku. Alois dan Camellia selalu bertanya padaku apakah aku benar baik-baik saja. Padahal aku tidak selalu merasa kesakitan. Kali ini Alois hanya tersenyum lagi dan mengangguk.
“Ada yang perlu kubantu?” tanyaku pada Alois. Tentu saja aku ingin membantu. Tidak mungkin kan kalau aku hanya diam saja berdiri memandang orang lain melakukan kesibukan?
“Hmm mungkin kau bisa membantu mengangkat box berisi peralatan medis itu.” jawabnya sambil menunjuk box yang berada di depan tenda pengobatan tak jauh dariku. Tanpa disuruh dua kali, aku langsung mengangkatnya dan membawanya ke kereta kuda yang berlogo sama dengan tenda perawatan.
Sepuluh menit kemudian semua barang sudah dinaikkan dan tenda sudah dibereskan. Kami berkumpul jadi di sebelah kereta kuda mendengarkan arahan kakek Theo. Sekarang mungkin ada sekitar lima puluh orang dengan warna jubah bermacam-macam. Pengarahan dari kakek Theo hanya sebentar, beliau hanya menyampaikan sebentar lagi akan kembali ke kota Azalea. Sebagian ksatria beliau suruh berlari, sebagian orang lainnya diperintahkan untuk naik ke kereta yang disiapkan.
Setelah kami semua mengangguk tanpa usulan lain, aku segera pergi menemui Camellia yang ternyata ada di salah satu kereta. Ia bersama dengan para petugas medis lain. Sepertinya mereka termasuk golongan prioritas yang tidak akan berlari karena lelah sudah merawat banyak pasien.
“Rin kemarilah.” Ucap Camellia yang melihatku.
“Tidak usah.” kataku sambil menggeleng. Ia kemudian turun mendekatiku.
“Aku yakin kau masih lelah kan? Jangan ambil resiko untuk pingsan lagi.” Ucapnya dengan nada khawatir. Sebenarnya aku sudah merasa baik, jadi aku merasa akan baik-baik saja.
“Tidak Camellia, aku sudah baik-baik saja. Lagi pula ini kereta untuk petugas medis kan?” aku tersenyum kepadanya.
“Kalau begitu kemarilah.” Hazel tiba-tiba muncul dari belakangku.
“Eh?”
“Itu kereta petugas medis, kau naiklah kereta yang itu.” katanya sambil menunjuk sebuah kereta kuda yang ukurannya lumayan besar dengan dua kuda coklat gagah di depannya. Aku berpikir sebentar kurasa memang lebih enak naik kereta. Aku kemudian mengangguk menurutinya. Di dalam kereta hanya terdapat empat orang termasuk kakek Theo. Tiga lainnya adalah ksatria berjubah putih yang ikut bertarung melawan ular besar tadi. Aku menoleh ke kanan-kiri merasa canggung.
“Kenapa?” Hazel kembali muncul di belakangku. Ia gesit melompat ke atas kereta dan mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambut tanganya dan ikut naik dan duduk di depannya. Sebelumnya aku menunduk sopan pada kakek Theo dan ksatria lainnya. Mereka duduk tanpa melakukan percakapan. Aku semakin merasa canggung duduk diantara orang-orang hebat ini.
Tak sampai lima menit kereta kami sudah mulai berjalan. Kereta yang kami naiki berada di posisi tengah demi alasan keamanan. Badan kereta yang kami tumpangi tergolong luas meskipun juga mengangkut beberapa perlengkapan. Alas kayu kokoh yang menjadi alas dan dinding kereta terlihat indah dengan guratan kayu yang khas. Tempat duduk panjang di dua sisi kanan dan kiri kereta sedikit luas sehingga nyaman untuk diduduki.
Aku memandangi Hazel yang diam saja di depanku. Ia menutup matanya sambil bersandar ke dinding. Sepertinya ia mengantuk. Aku sedikit tersenyum ketika melihatnya tidur seperti itu, wajahnya tidak terlihat galak lagi.
“Ada apa?” Hazel kemudian membuka matanya dan memandangku dengan wajah datar. Aku salah tingkah.
“Ada apa kau terus memandangku seperti itu?” aku semakin salah tingkah. Apa itu artinya ia menyadari kupandangi sejak tadi? Padahal jelas-jelas ia menutup matanya. Atau dia bisa melihat meski matanya tertutup? Menyeramkan sekali!
“Rin, keadaanmu sudah baik?” Kakek Theo akhirnya membuatku merasa tidak terintimidasi oleh Hazel.
“Aku baik-baik saja, Kek.” jawabku sambil menunduk sopan.
“Hazel, ketika sampai di kota tolong antar Rin ke tempat pemeriksaan.” Kakek Theo yang duduk tepat di sebelah Hazel memandangnya sekilas. Hazel hanya mengangguk.
“Memang ada apa, Kek?” tanyaku.
“Menurut laporan kau terlalu sering pingsan. Mungkin kau belum bisa menguasai serpihan gladiolus mu. Kita harus memeriksanya lebih lanjut” terang Kakek Theo. Aku hanya mengangguk-angguk mengerti. Memang kusadari aku sering pingsan sejak sampai ke negeri ini, padahal saat di rumah aku adalah anak yang sehat dan jarang sekali terserang penyakit. Mungkin benar aku harus melakukan pemeriksaan agar rasa penasaran ini terjawab.
Sudah lama aku terdampar di tempat ini. Aku sudah bertemu banyak orang baik yang menjadi temanku. Aku bertemu orang yang bersedia merawatku. Aku juga sudah melakukan hal yang tak pernah kulakukan di duniaku sebelumnya, seperti bertarung. Aku menjumpai benda-benda yang memukau. Apa aku sudah mati? Apa ini kehidupan setelah kematian? Aku yakin tidak. Apa ini mimpi? Aku yakin juga tidak. Semua ini terlihat terlalu nyata untuk menjadi mimpi.
Eh? Atau terlalu indah untuk menjadi kenyataan?