Aku membuka mataku perlahan, namun segera kembali menyipitkannya lagi karena ada cahaya menyilaukan tepat diatasku.
“Rin kau baik-baik saja?” suara hangat menyapaku ramah. Nadanya terdengar sangat cemas. Belum sempat aku menjawab, dia sudah melompat memelukku. Dia adalah Camellia. Aku balas memeluknya karena jujur aku rindu berbincang lagi dengannya. Dia adalah sahabatku sejak aku sampai ke negeri ini. Sepertinya aku tidur di posko medis. Aku melihat banyak ranjang di sekelilingku, namun kondisinya sudah lebih baik daripada awal saat kami sampai ke sini. Kini hanya ada sedikit ranjang yang terisi, entah kemana sebagian orang dibawa pergi.
“Aku sangat khawatir saat Hazel membawamu kemari.” ia melepaskan pelukannya dan mulai mengamati tangan dan kepalaku, sepertinya memastikan tidak ada luka lagi.
“Auuu seharusnya Rin juga memelukku, hahaha.” aku menoleh. Alois tersenyum padaku melambaikan tangan. Aku tersenyum balik menyapanya. Aku melihat Hazel berdiri diam memandangku. Ada segaris luka di pipinya, namun terlihat sudah mengering.
“Jangan ganggu Rin, Alois!” Camellia menatap galak pada Alois yang mendekatiku.
“Aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya ingin berada di dekatnya.” Katanya menjawab Camellia. Aku tertawa mendengar mereka sedikit bertengkar.
“Camellia kau baik-baik saja?” tanyaku menatap wajah ayu Camellia.
“Apa maksudmu? Harusnya kau mencemaskan dirimu sendiri.” jawabnya.
“Kau pasti lelah merawat pasien yang lain kan.” aku mencemaskan kondisi Camellia yang kurasa kelelahan karena pasien yang menumpuk.
“Aku sudah baik-baik saja. Tenang saja, energiku sudah pulih total.” Camellia menepuk pundakku dengan senyuman khasnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku setelah hening beberapa saat. Alois dan Camellia beradu pandang.
“Kau tidak ingat?” Alois bertanya dengan tampang serius. Aku menggeleng sebagai jawaban.
“Sama sekali tidak ingat?” Alois memastikan, kini memengang tanganku seperti khawatir. Camellia memandangnya sambil melipat alisnya.
“Aku hanya ingat Hazel menyuruh Alois membawaku menjauh karena ledakan yang aku ciptakan.” aku menunduk mengingat kejadian beberapa jam lalu. Apa yang terjadi setelah kekacauan yang aku ciptakan tadi?
“Biar aku yang menceritakan pada di lemah ini.” Hazel mendekat ke ranjangku dan menggeser Alois agar sedikit menjauh dariku. Dan agar Alois melepaskan tangannya, kurasa. Hazel kemudian duduk di sisi ranjangku yang menyisakan tempat yang lebih dari cukup untuknya duduk. Aku memandangnya sinis karena menyebutku lemah lagi. Tapi aku cukup merasa lega karena semua terlihat baik-baik saja. Hazel mulai bercerita padaku tentang apa yang terjadi tepatnya lima jam yang lalu.
**
Aku memandang punggung Alois yang berlari dengan cepat menuju cekungan besar tempatku dan Hazel pergi tadi. Suasana menjadi sangat tegang karena asap tebal membumbung tinggi di udara. Lokasiku duduk saat ini masih bisa melihat golongan kakek Theo tengah bersiap-siap. Aku juga bisa melihat jubah para rekan utusan kakek Theo yang kami temui tadi mulai bersinar. Dalam jarakku saat ini, aku juga masih bisa melihat Hazel dengan jelas.
Para kesatria yang berjaga tadi tidak melakukan apapun sampai terdengar suara desingan yang sangat kencang. Aku menutup telingaku karena suaranya sungguh membuatku pusing. Namun ksatria kakek Theo disana seperti tidak terpengaruh apapun. Tak sampai semenit setelah suara desingan itu berhenti, angin mulai bertiup kencang menghilangkan seluruh asap di depan sana. Sekarang tampak sudah apa yang menyebabkan suara desingan tadi. Itu adalah… ular. Sama dengan apa yang aku dan Alois temukan, namun ukurannya sangat jauh lebih besar. Mungkin jika dibandingkan, panjang ular itu tak kurang dari dua puluh meter, dengan lebar badannya sebesar diameter tujuh pohon kelapa yang disusun berjajar. Aku menelan ludah, ketakutan.
Tujuh orang di depan sana tampak tidak bergeming. Seperti sudah biasa menghadapi hal seperti ini. Namun Alois mundur selangkah, jubahnya mulai bersinar, mungkin menyiapkan mantranya. Tepat dengan aba-aba kakek Theo, empat diantara mereka mulai berpencar mengelilingi ular itu. Menyisakan kakek Theo dan Hazel yang berdiri tepat di depannya. Dengan satu anggukan dari kakek Theo, Hazel melompat maju dengan gerakan cepat dan mengibaskan pedangnya ke dadaa ular yang bisa dibilang seperti ular kobra itu.
“Hazel hati-hati!” Alois berteriak setelah Hazel menyabetkan pedangnya. Sejalan dengan teriakan Alois, ular itu marah karena ada yang mencoba menyakitinya. Ular itu membuka mulutnya sangat lebar dan mulai mengeluarkan suara desingan kencang lagi. Bersamaan dengan suara itu, awan mendung mulai melingkupi kami. Dua detik kemudian, hujan turun. Hazel melompat ke belakang.
“Dia berbeda, lihat corak di atasnya. Akan lebih sulit mengalahkannya.” Kakek Theo menjelaskan. Kurasa Alois juga mengetahui itu. Empat orang di sekeliling ular mulai membuat pedangnya bersinar. Kurasa mereka akan melakukan serangan bersama. Dadaaku terasa sesak melihat mereka bertarung, sedangkan aku hanya menonton.
Empat kesatria itu kemudian berlari untuk menyerang bersamaan. Kulihat pedangnya mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti pedang yang diselimuti api. Serangan itu tepat mengenai perut ular besar itu. Ular itu kini menggeliat seperti kesakitan, kemudian mulai bergerak untuk menyerang mereka kembali. Kemudian tanpa disangka-sangka ular itu terlihat memendek, namun dengan cepat membelah menjadi dua. Tunggu, bagaimana itu mungkin? Aku mulai berdiri karena tegang. Antara takut dan ingin membantu ketika melihat dua ular hitam besar siap menerkam mereka.
Aku melihat orang-orang yang tidak ikut bertarung juga mulai memasang wajah tegang. Aku sangat khawatir karena akulah penyebab kekacauan ini terjadi. Meskipun aku tau kelompok kakek Theo tidak akan kalah, aku tetap ingin membantu. Aku berdiri untuk mendekat, tapi ular itu segera meliuk melakukan serangan cepat pada mereka. Langkahku seketika terhenti melihat ular besar itu menyemburkan api. B-bagaimana mungkin?
Aku melihat Hazel dan gerombolannya gesit menghindar. Alois fokus melakukan pertahanan dari belakang, ia seperti membentuk benteng dari mantra sihirnya. Aku masih berdiri mengamati pertarungan mereka. Ular itu terus memecah, kini sudah ada lima ular. Hazel dan kelompoknya terlihat kewalahan. Anehnya, kakek Theo seperti hanya mengamati dari belakang dan tidak ikut menyerang. Padahal aku tau kalau kakek Theo yang turun tangan ini akan segera berakhir.
Ular itu kini sudah memisahkan diri menjadi enam. Makin lama ukurannya semakin pendek, tapi semakin cepat. Ular-ular itu mengeluarkan jurus yang berbeda-beda. Mulai dari air, api, dan salju. Hujan semakin deras. Kini mereka berhadapan satu per satu dengan ular itu. Hazel berkali-kali melompat ke belakang menghindari serangan gesit ular itu. Sesekali terlempar karena terlambat menghindar. Aku sudah tidak tega lagi melihat mereka kewalahan. Mungkin kalian berpikir aku akan menjadi beban lagi karena kemampuanku yang kurang mumpuni. Tapi aku yakin kalau kalian berada diposisiku, kalian akan melakukan hal yang sama.
Aku berlari melompat ke dalam cekungan besar itu mendekati Hazel yang kini berhadapan dengan dua ular, karena kakek Theo tidak ikut bertarung. Aku menebaskan pedang ku pada satu diantaranya. Tapi tidak menimbulkan kesan apa-apa. Sebagai balasannya, ular itu membuka mulutnya yang menyemburkan salju ke arahku. Hazel gesit menarikku menghindar.
“Apa yang kau lakukan?” Hazel berteriak padaku ditengah guyuran hujan.
“Bukankah sudah kubilang untuk pergi?” tambahnya. Alois di belakang juga menatapku terkejut.
“Tapi aku ingin membantu. Aku melihat kalian kesusahan.” jawabku.
“Kau anggap kami kesusahan dengan ini? Ini sudah rencana kami.” Hazel kembali menaikkan nada bicaranya padaku.
Saat aku sibuk mencerna perkataan Hazel yang bilang ini sudah menjadi rencana mereka, kedua ular itu menyerangku ganas. Yang satu menyerangku dengan saljunya lagi, sedangkan satunya mengeluarkan batu es tajam yang bisa menusukku dengan mudah. Tapi lagi-lagi Hazel membuatku bisa menghindar dengan merengkuhku menjauh. Aku memandangnya, merasa bersalah. Sungguh kenapa aku bodoh sekali? Ia yang harusnya bisa menghindar sendiri kini memiliki luka sayatan yang berdarah di pipinya. Dan itu karena menyelamatkanku…
“Hazel…” ucapku dengan suara kecil.
“Kau ingin membantu?” Hazel menatapku lembut kali ini. Aku mengangguk. Ia melepaskan pelukannya dariku.
“Kau lihat itu?” katanya sambil menunjuk kepala ular. Aku menyipitkan mata ku untuk melihatnya. Disana terdapat benda seperti batu berwarna abu-abu. Sedikit kontras jika dibandingkan dengan warna kulitnya yang hitam. Aku mengangguk.
“Setelah mendengar aba-abaku, kita akan menyerang batu itu secara bersamaan. Masing-masing menghadapi satu lawan. Kau paham?” jelasnya. Aku mengangguk menguatkan genggaman pada pedang perak ku. Kami mulai berjalan mendekati musuh yang menggeliat itu. Tiga langkah kemudian Hazel berlari ke sebelah kanan, sedangkan aku sebelah kiri. Kini kami semua berhadapan satu lawan satu dengan binatang melata yang jauh lebih besar dari kami. Aku menelan ludah, aku meyakinkan diriku bahwa aku pasti bisa mengalahkan mereka.
Hujan turun lebih lebat mengaburkan pandangan kami. Alois di belakang bersiap melindungi kami dengan mantranya. Sinar kekuningan muncul di depan tangan yang ia rentangkan ke depan. Aku memandang Hazel dan empat kesatria lainnya memandang musuh tajam. Ular di depan kami hanya menggeliat seperti mencoba membaca gerakan kami.
“SEKARANG!” suara Hazel terdengar keras di tengah guyuran hujan. Kami melompat tinggi bersamaan menyerang batu di atas ular itu. Setelah pedang kami mengenainya, ular itu mengerang kencang kemudian hilang berbarengan dengan pecahnya batu di kepalanya. Menghilangnya ular itu tergantikan oleh angin yang sangat kencang hingga membuatku terlempar dan tidak bisa berpijak dengan benar.
“Kau baik-baik saja?” Hazel lagi-lagi secepat kilat menganggapku. Aku mengangguk singkat dan segera berdiri tegap. Hujan telah berhenti, namun langit masih tetap muram.
Sziiiinnggggg…
Suara desingan kembali terdengar kencang. Dari atas sana muncul sejenis tombak hitam yang datang dengan cepat memecah awan menuju ke arahku. Tubuhku membeku menatap benda tajam yang kurasa bisa membunuhku saat itu juga.
“Rin pergi!” Hazel menarik tanganku, namun kakiku seperti tidak mau bergerak.
“RIN!” sekali lagi Hazel berteriak menyuruhku berlari. Namun waktu jelas tidak berpihak pada kami. Jantungku berdegup sangat kencang namun mataku tetap tertuju pada ujung lancip tombak hitam mengkilap diatasku. Sedetik kemudian Hazel memelukku, kurasa reflek melindungiku. Tapi desingan kencang seperti sudah tepat diatas kami. Kakiku lemas, aku menutup mataku perlahan.
Pranggg…
Aku membuka mataku perlahan karena terasa tidak terjadi apa-apa. Diatasku dan Hazel kini terdapat dinding transparan berbentuk kubah. Tombak besar tadi sudah hilang. Sepertinya menghantam dinding di atas kami.
“Rin kau baik-baik saja?” Hazel melepaskan pelukannya kemudian menatap dalam padaku. Aku menatapnya kosong, masih penasaran darimana datangnya dinding pelindung kami. Sesaat yang lalu kurasa aku hampir mati untuk kesekian kalinya.
“Ini benteng kakek Theo.” ucap Hazel mundur selangkah.
“Hah?”
“Kau bertanya-tanya dari mana datangnya perisai ini kan? Kakek Theo yang membuat ini.” jelasnya. Aku melihat sekeliling dan ternyata benar kakek Theo tengah mengarahkan tangannya pada kami yang ketika ia menurunkannya kubah di atas kami perlahan memudar.
“Rin, kau baik-baik saja?” Alois seketika berlari ke arahku ketika kubah itu menghilang. Aku mengangguk tersenyum.
“Kita harus segera kembali.” kakek Theo memberi perintah pada rombongan kami yang kemudian diiringi anggukan semua anggota.
“Ayo, Rin.” Alois menggandeng tanganku menjauh dari cekungan tempat kami bertarung tadi. Kepulan asap hitam seperti saat kami baru datang tadi sudah hilang. Sepertinya karena diguyur hujan deras tadi. Kini cuaca masih mendung, tapi setidaknya pandangan kami sudah jelas. Kami semua berjalan beriringan kembali menuju posko medis. Tubuhku terasa lelah meskipun aku tidak bertarung lama.
Kemudian aku merasa tubuhku limbung dan lututku sudah menyentuh tanah. Lalu gelap, dan aku tidak tau apa-apa lagi.