Aku dan Alois berlari sekuat tenaga agar segera sampai ke tempat awal kami. Tidak ada kendala apapun dalam perjalanan sehingga kami akan bisa sampai tepat waktu. Di depan kami sudah mulai terlihat asap di tempat awal berkumpul kami tadi. Rupanya asap itu tidak hilang meski sudah tiga jam. Kami mempercepat langkah kami setelah tampak banyak jubah berkibar di tempat itu.
“Kalian terlambat dua menit.” Hazel berdiri tepat di depanku setelah kakiku berhenti. Aku tidak peduli dengan ucapan dan tatapannya, aku segera menghadap ke kakek Theo.
“Kek, kami menemukan korban yang tertimbun reruntuhan.” aku menunduk di depan kakek Theo. Alois tengah menurunkan lelaki itu dibantu dengan kelompok kami yang lain. Sepuluh detik kemudian Alois sudah ada di sebelahku menghadap kakek Theo dengan rasa hormat.
“Saya menemukan ini.” Aloin menunduk menyerahkan chip yang tadi kami temukan.
“Oh, kalian juga menemukan ini? Hanya satu?” tanya kakek Theo seperti tidak terkejut. Kami hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Baiklah, apa kalian sudah memeriksa semua dan memastikan tidak ada lagi bom yang tidak meledak?” tanya kakek Theo memastikan. Kami mengangguk sekali lagi.
“Bagaimana dengan lelaki itu?” Kakek Theo kembali bertanya sambil menunjuk lelaki itu dengan tatapan matanya.
“Rin yang menemukannya. Aku tidak menemukannya dengan radarku, tapi syukurlah Rin bisa mendeteksinya.” terang Alois.
“Bagaimana kondisi saat ditemukan?” tanya kakek lagi. Ini lebih seperti interogasi, tapi kakek Theo memang menuntut laporan yang jelas.
“Ia tidak sadarkan diri selama lebih dari satu jam setelah ditemukan. Kondisi detak jantungnya lemah dan tubuhnya penuh luka memar. Tadi ia sempat mengatakan bahwa ia pikir kemarin hari terakhirnya. Artinya ia telah tertimbun sejak awal serangan itu terjadi.” Alois benar-benar runtut menjelaskan kronologi penemuan korban tadi. Hazel tanpa kusadari sudah berdiri di sebelah kakek Theo. Kakek Theo kemudian hanya mengangguk-angguk.
“Mohon maaf sebelumnya kek, saya juga ingin mengajukan pertanyaan pada mereka.” ucap Hazel kemudian. Kakek Theo mengangguk lagi.
“Apa kalian menyadari bagaimana proses lelaki itu sadar?” tanya Hazel.
“Aku kurang paham, karena kami hanya beristirahat sebentar sebelum kembali ke sini. Kemudian kusadari ia terbatuk ketika Rinai memegang tangannya.” Alois menjelaskan sekali lagi. Kakek Theo dan Hazel kompak menatapku serius. Aku semakin menunduk,
“Benar begitu, Rin?” tanya kakek Theo.
“Iya kek. Sejujurnya saya juga tidak tahu kenapa dia bisa sadar ketika saya memegang tangannya. Awalnya saya hanya merasa tangannya sangat dingin dan ingin memberinya kehangatan saja.” aku menjelaskan apa yang aku rasakan.
“Memang ada apa, Hazel?” Alois bertanya.
“Tadi aku pergi ke tim yang menanganinya. Ia adalah lelaki biasa tanpa serpihan gladiolus. Artinya ia sama sekali tidak memiliki kemampuan, tadi dalam tubuhnya ditemukan aliran kekuatan yang tidak dikenal. Dan itu bukan kekuatan dari orang berkemampuan medis.” terang Hazel. Kini Alois juga ikut memandangku.
“Bagaimana maksudmu?” aku bertanya karena kebingungan dengan penjelasannya.
“Tim medis memiliki kemampuan tersendiri untuk menyembuhkan. Artinya di setiap tubuh orang di negeri ini tertanam sel kemampuan pihak medis agar tubuhnya tidak menolak ketika diobati. Tapi saat kutanya mereka tadi, sel yang ditemukan lain dari kelompok medis.” Hazel kembali menjelaskan. Kini aku paham, tim medis seperti Camellia memiliki kemampuan untuk menanamkan ‘pengenal’ dalam tubuh pasien yang pernah ditangani tim medis. Jadi antibodi dalam tubuhnya tidak akan menolak ketika diobati kembali. Mungkin sistemnya seperti vaksin. Tapi dalam artian yang universal, dan setiap orang dengan kekuatan penyembuhan memiliki kemampuan itu. Kalian mengerti maksudku kan?
“Maaf kami terlambat, Kek. Aku yang menyebabkan kami terlambat.” aku menunduk lagi pada kakek Theo.
“Tidak apa-apa, Rin. Setidaknya kali ini kalian menemukan korban selamat. Lain kali jangan sampai terlambat. Semenit pun, kakek tidak akan mengampuni kalian.” Ucap kakek Theo dengan nada tegas. Aku bergidik ngeri.
“Satu jam lagi kita akan kembali ke posko medis. Kalian manfaatkan waktu yang tersisa.” Kakek Theo berlalu setelah mengucapkan itu. Aku dan Alois menghembuskan napas lega. Ekspresi kakek Theo yang tegas tetap terasa seram meskipun sedang bicara biasa.
“Kukira kita akan diberi hukuman, Rin.” Alois menghela napas, kemudian tersenyum padaku.
“Maaf ya, karena aku kita hampir terkena masalah.” aku menunduk menyesal karena tidak kuat berlari dan menyebabkan kami terlambat dua menit.
“Santai saja, Rin. Aku rela dihukum jika demi kamu.” Alois tersenyum menggodaku. Aku tersipu malu karena ucapannya.
“Rin kau mau ikut denganku?” Hazel tiba-tiba berdiri di sebelahku.
“Kemana?” tanyaku mendongak memandangnya. Untuk apa ia mengajakku.
“Sudah ikut saja.” Hazel langsung menarik tanganku dengan sedikit kasar membuatku sedikit terpeleset. Kami berjalan menjauh dari Alois. Ia hanya menatap kami datar. Aku mencoba menarik tanganku dari cengkeraman tangan Hazel. Namun jelas tidak berhasil karena lengannya lebih jauh lebih besar jika dibandingkan denganku. Langkah Hazel melambat ketika sampai di rombongan kakek Theo yang tengah merapikan barang-barang dalam kereta kuda. Mungkin kereta itu datang ketika kami diberi tugas tadi.
“Kemana lelaki tadi, Hazel?” tanyaku setelah melihat sekeliling. Langkah kami kini sempurna berhenti, namun ia belum melepaskan tanganku.
“Sudah dibawa ke posko medis.” jawabnya singkat.
“Untuk apa kau membawaku kesini?” tanyaku penasaran, aku berhasil melepaskan pegangannya dari pergelangan tanganku.
“Tidak ada apa-apa.” jawabnya singkat sekali lagi tanpa menoleh padaku. Aneh sekali dia, apa maksudnya menyeretku seperti itu tapi tidak ada alasan apapun? Sungguh jika tanganku bisa menggapai kepalanya mungkin sudah kutampol! Tapi selain dia terlalu tinggi, aku tidak punya cukup keberanian. Kami hanya berdiri berdampingan ditemani diam cukup lama hingga Viscaria menghampiri kami.
“Hazel, kakek Theo memanggilmu.” ucapnya. Viscaria adalah gadis yang cantik. Wajahnya putih dan mulus dengan rona kemerahan di pipinya. Hidungnya mancung seperti wanita Asia Timur. Rambutnya coklat dan sedikit pirang. Tingginya seukuran dengan dagu Hazel, jelas lebih tinggi dariku karena aku hanya seukuran d**a Hazel. Ia juga memiliki garis wajah tegas yang membuatnya lebih menawan. Hazel hanya mengangguk sebagai jawaban. Viscaria pergi lima detik kemudian, ia tersenyum kepadaku lebih dulu.
Aku kan Hazel pergi menemui kakek Theo yang ternyata berdiri di depan kubangan besar dengan asap tebal tadi. Beberapa orang dengan jubah putih mengelilinya dengan wajah serius. Aku menelan ludah, merinding. Sebenarnya hanya Hazel yang dipanggil, tapi ia memaksaku mengikutinya.
“Aku memberimu tugas.” Ucap kakek Theo ketika melihat Hazel sudah berdiri di depannya. Hazel tidak menjawab, ia membiarkan kakek Theo melanjutkan kalimatnya sambil menunduk.
“Cari tau lebih lanjut mengenai benda ini.” kakek Theo menunjukkan benda sejenis chip seperti yang aku dan Alois temukan, namun dengan jumlah yang lebih banyak. Alois menerimanya dengan sopan. Kutaksir mungkin jumlahnya ada sekitar lima belas buah. Ia lekas menyimpannya di balik jubahnya. Aku penasaran sebenarnya ada apa di balik jubah kami sehingga bisa menyimpan berbagai barang dengan mudah.
“Kita akan kembali tiga puluh menit lagi.” Tambah kakek Theo. Hazel sekali lagi hanya mengangguk. Kemudian balik kanan mendekatiku.
“Kau sudah siap?” tanyanya. Aku mengangguk, memang apa yang harus disiapkan?
Kami berdiri dalam keheningan cukup lama sampai perasaanku mendadak terasa tidak enak lagi. Sensasinya sama seperti saat aku menemukan korban yang tertimbun reruntuhan tadi. Tapi terasa lebih kuat. Aku mulai berjalan perlahan mendekati cekungan besar dengan asap tebal itu. Perasaanku mengatakan ada sesuatu di dasarnya.
“Apa yang kau lakukan?” Hazel menarik tanganku. Tubuhku sedikit tersentak ke belakang karena tanpa kusadari aku sudah hampir jatuh ke dalam cekungan besar itu.
“Aku merasakan sesuatu di sana.” aku memandang Hazel. Ia balik menatap mataku.
“Apapun yang ingin kau lakukan, jangan lakukan itu.” Ia memegang tanganku erat. Sorot matanya tajam namun sedikit terlihat lembut dibandingkan dengan biasanya.
“Aku serius Hazel. Ada sesuatu di sana.” paksaku.
“Para tetua sudah disini sejak tadi, namun tidak ada reaksi apa-apa dari sana!” Ia sedikit menaikkan nadanya. Tapi aku tetap ingin masuk kesana karena ingin memastikan ada apa di sana.
“Hazel…” aku terus merengek karena dadaku makin lama makin terasa sesak. Dua menit kemudian Hazel menghembuskan napas dan mengangguk. Tapi dia tetap tidak melepaskan cengkramannya dari tanganku. Ia berjalan di depanku, mungkin untuk memastikan semuanya aman. Asap mulai semakin pekat ketika kami hampir sampai ke dasar. Untungnya tudung jubah yang kami pakai bisa melindungi kami dari paparan asap yang bisa membuat kami batuk atau kelilipan.
Langkah kami terasa cukup berat karena pasir yang semakin ke bawah semakin menebal. Di dalam sana memang tidak terlihat apa-apa, tapi perasaanku terasa semakin ganjal ketika kaki kami semakin dekat dengan pusat awal ledakan.
“Tidak ada apa-apa kan? Ayo kita harus kembali.” Hazel menoleh padaku menyarankan kami kembali. Aku menggeleng dan terus meminta Hazel berjalan. Ia sekali lagi menghembuskan napas namun tetap menurut. Samar-samar aku mendengar teriakan dari atas memanggil Hazel. Mungkin karena waktu kami tinggal sedikit, tapi Hazel malah menuju pusat ledakan bersamaku. Hazel menghentikan langkahnya lima langkah dari kepulan asap hitam tebal.
“Rin, tidak ada apa-apa disini, kita harus segera kembali ke kota.” Hazel memandangku tajam dengan nada bicara yang semakin tinggi. Aku tetap berdiri diam memikirkan ada apa sebenarnya di sini? Apakah benar para tetua sudah memeriksa dan tidak menemukan apa-apa? Kenapa perasaanku mengatakan ada sesuatu?
“Rin!” Hazel benar-benar menaikkan nada bicaranya, membentakku. Tapi aku terus diam memandang tempat kepulan asap itu keluar. Aku menyipitkan mata ku mencoba melihat ada apa di dalamnya. Tapi tentu saja tidak berhasil.
“Hazel tolong tunggu sebentar.” Ucapku memandangnya sejenak. Aku melangkah menjauh darinya mendekati sumber asap itu. Menurutku sudah tanggung jika tidak selesai memastikan tidak ada apa-apa di sini, karena jarak kami hanya tinggal beberapa langkah.
Hazel memandangku dari belakang, wajahnya tampak sedikit kesal. Aku mengeluarkan pedang perak ku untuk berjaga-jaga. Sebenarnya aku merasa takut untuk melangkah mendekatkan kakiku ke kepulan asap hitam yang mengaburkan pandangan itu. Langkahku terhenti dua langkah di dekat pusat ledakan. Aku merasa tidak mungkin melangkah lebih dekat karena bisa terhempas bersama asap yang keluar. Tapi dadaku juga semakin terasa mengganjal. Apa perasaan ini hanya karena aku menghirup asap terlalu banyak? Tidak, aku yakin tidak.
Aku menusukkan pedang perak ku ke pasir tempatku berpijak. Dua detik kemudian pedangku bersinar terang membuat asap tebal di depanku berubah arah seolah tertiup angin. Tanah di bawahku mulai terasa bergetar. Tubuhku limbung dan jatuh terduduk. Lima detik kemudian getaran di tanah menghilang dan digantikan dengan semburan asap hitam yang lebih tebal dari sebelumnya. Hazel menarik tubuhku untuk menjauh dari tempat itu, tak lupa mengambil pedangku yang begitu ditarik sinarnya telah pudar.
Hazel lari secepat yang ia bisa sambil menggendongku. Sedetik kemudian kembali muncul ledakan dari tempat aku menancapkan pedang ku tadi. Aku dan Hazel terlontar ke depan karena hempasan angin dari ledakan di belakang kami. Kami jatuh terguling, namun Hazel tetap mendekapku. Sekitar enam orang akhirnya muncul di hadapan kami. Empat diantaranya berjubah putih sedangkan dua lainnya adalah Alois dan Kakek Theo.
“Hazel, apa yang terjadi?” Tanya Alois. Hazel tidak menjawab.
“Tolong bawa Rin menjauh dari sini.” ia menyerahkanku pada Alois yang kebingungan tapi segera membopongku untuk pergi menjauh dari sana. Jantungku menderu kencang. Aku mengira-ngira apa yang terjadi di sana. Wajah Alois menegang, kemudian ia meletakkanku di bawah pohon yang memang ada diatas cekungan dekat tempat awal kami berkumpul kami tadi.
“Rin tolong tunggulah di sini, aku mohon jangan pergi kemana pun. Aku akan kembali ke sana.” Alois terdengar khawatir, begitu memastikan aku mengangguk ia langsung berlari menuju cekungan besar itu. Aku khawatir akan terjadi sesuatu yang besar. Apa ini salahku? Karena aku yang menyebabkan asap hitam tebal itu kembali mengepul.
Ya Tuhan… tolong buat segalanya baik-baik saja.