Alois meletakkan batu hitam legam yang ia temukan di atas pasir yang telah ia beri garis lurus sepanjang tiga puluh senti. Kini ia berdiri dan meletakkan kedua tangannya yang saling bergandengan di depan mulutnya. Aku melihat mulutnya komat-kamit tanpa suara seperti berdoa. Tepat ketika ia berhenti mengucap mantra, garis yang tadi ia gambar di pasir mengeluarkan sinar orange yang membuat mataku silau. Tidak sampai lima detik kemudian, desir angin mulai menerbangkan pasir-pasir di sekitarku. Jubah Alois berkibar sedikit ditemani sinar yang membuatnya semakin terlihat hebat.
Satu kedipan mata kemudian batu hitam tadi pecah dan berubah menjadi ular hitam yang menggeliat seukuran lengan. Alois sedikit tersentak karena ular itu mendadak berlari ke arahnya. Aku juga terkejut dan reflek berlari kearah Alois untuk menyerang ular itu. Tepat setelah aku mengaktifkan pedangku, Alois telah lebih dulu menarik ular itu kembali ke arah garis yang tadi ia gambar di tanah. Tanpa sedikitpun menyentuhnya. Bagaimana bisa dia melakukan itu?
Ular itu telah menghilang tepat saat aku sudah berdiri di sebelahnya. Ia memberikan senyum sambil menatapku lagi sekarang. Aku sedikit lega karena dengan Alois menunjukkan senyumnya lagi padaku, berarti keadaan sudah aman.
“I-itu apa Alois?” tanyaku sedikit khawatir. Garis yang dibuat Alois belum menghilang, tapi sinarnya sudah memudar. Ular yang menghilang tadi berubah menjadi chip hitam seukuran jempol. Alois segera mengambil dan menyimpan di balik jubahnya.
“Ini adalah bom yang tidak meledak.” ucapnya sambil menghapus garis yang ia lukis hanya dengan mengarahkan tangannya.
“Tidak meledak?” tanyaku bingung. Bagaimana bom bisa berubah menjadi ular besar yang mengerikan?
“Menurutku kelompok sihir hitam menyembunyikan banyak bom di area ini untuk penyerangann kemarin. Namun ternyata ada yang tidak meledak. Kelompok sihir hitam sepertinya mengatur jika bom yang tidak meledak tersentuh oleh tenaga yang tidak dikenal ia akan melarikan diri.” jelasnya. Aku mengangguk-angguk paham.
“Tapi tadi kau menyentuhnya cukup lama sebelum kau memulai mantramu kan?” tanyaku lagi. Aku mengingatnya menggenggam batu itu.
“Itu kemampuanku, Rin.” katanya sambil tersenyum.
“Eh bukankah kemampuanmu itu menyegel?” aku bingung lagi dengan ucapannya.
“ Kami para pemilik kemampuan segel memiliki kekuatan lain, yaitu menyamarkan kemampuan kami. Artinya adalah mereka tidak bisa menyensor kemampuanku.” jelasnya. Aku mengangguk-angguk lagi. Itu kemampuan yang hebat. Jika aku bisa menyamarkan kemampuanku mungkin aku bisa menyerang Hazel tanpa dia menyadari aku sudah mengaktifkan mode menyerangku kan? Eh? Kenapa aku jadi memikirkan Hazel?
“Chip yang tadi kusimpan akan kuberikan pada kakek Theo karena aku juga tidak tau itu apa.” ucapnya lagi. Aku hanya tersenyum kemudian berjalan lagi.
Ia mengikutiku dari belakang sembari mengamati sekitar. Kami mulai berlari ketika ketika Alois mengatakan kami harus menyusur semua tempat ini dalam waktu tiga jam. Dan tidak mungkin bisa dilakukan hanya dengan berjalan. Aku sepakat dan memutuskan berlari lebih cepat. Sebenarnya aku bingung bagaimana cara menyisir tempat ini. Karena sekali lagi kukatakan hanya ada pasir dan puing-puing bangunan di sini.
Mungkin sudah lebih dari satu jam kami berkeliling dan tidak menemukan apapun lagi. Ini sudah tidak ada pasir di pijakan kami. Kami berdiri di atas reruntuhan bangunan sejauh mata. Aku membayangkan bagaimana jika ini terjadi pada rumahku. Ini seperti bencana gempa bumi di atas tujuh SR.
“Kau tidak lapar?” ia kemudian menghentikan langkahnya dan berhenti di depanku. Aku memikirkan bahwa kami belum makan sejak sarapan tadi. Mungkin ini sudah melebihi jam makan siang?
“Hei, kau tidak lapar?” Ia mengulangi pertanyaannya lagi. Aku mengangguk tersenyum. Alois mengajakku duduk di puing-puing tertinggi yang datar. Aku mengikutinya duduk.
“Alois, bukankah kurang menyenangkan makan dengan pemandangan seperti ini?” Aku menelan ludah melihat sekeliling. Namun Alois sudah mengeluarkan dua kota bekal yang tadi kami bawa dari balik jubahnya. Ia mengangkat bahu tersenyum dan menyerahkan satu kepadaku.
Aku membuka kotak bekal kayu itu. Di dalamnya terdapat dua potong roti tawar dan empat bulatan daging yang terlihat seperti bakso goreng. Hanya ini? Aku berpikir apakah aku bisa kenyang hanya dengan makan ini? Namun aku mulai mengambil roti dan memakannya. Ternyata rasa dari roti ini tidak tawar, lebih gurih kurasa. Tidak sampai dua menit aku sudah menghabiskan bekalku. Rasa bulatan daging itu memang persis seperti bakso bakar, namun lebih padat. Aku melihat kotak bekal Alois yang hanya berkurang satu roti dan satu bakso. Kenapa dia lama sekali makannya?
“Rin, kau menghabiskan semuanya?” Alois memandangku heran. Memangnya kenapa? Makanan ini kan hanya sedikit?
“Rin, makanan ini bisa kita makan dua kali. Nanti kita bisa makan kembali saat kembali ke pusat kota.” katanya heran melihatku. Aku terkejut mendengar pernyataan Alois. Bagaimana jika nanti aku kelaparan?
“Nanti aku akan membagi milikku. Kau mau minum?” Alois tertawa melihatku bingung. Lantas mengambil air minum yang terdapat dalam wadah seperti bambu. Ia memintaku minum terlebih dahulu sebelum ia ikut minum. Alois mengambil kotak bekal dari tanganku dan kembali menyimpannya.
“Terima kasih.” Aku malu-malu menatapnya. Ia mengangguk sepintas sambil tersenyum. Kami tetap di sini selama beberapa menit untuk istirahat.
Aku mulai menatap sekeliling dengan teliti. Aku melepas tudung untuk merasakan kesiur angin lembut yang mulai berhembus. Alois melakukan hal yang sama. Rambut hitamnya bergerak teratur terkena hembusan angin. Bentuk wajah Alois tidak jauh berbeda dengan Hazel. Wajahnya proporsional dengan mata bulat yang tajam tapi tatapannya terlihat ramah dan menyenangkan. Hidungnya juga mancung, apalagi kalau dilihat dari samping. Bibirnya sedikit lebih tebal jika dibandingkan dengan Hazel warnanya juga sedikit lebih kemerahan. Aku penasaran, apakah pemuda di dunia ini memang dilahirkan dengan visual sempurna seperti mereka?
“Alois, berapa usiamu?” tanyaku tiba-tiba.
“Eh? Aku 119 tahun.” jawanya sedikit bingung karena pertanyaanku. Aku tersentak, mana mungkin orang bisa hidup begitu lama?
“Yang benar saja. Mana mungkin hahaha” kataku menyahuti jawabannya. Aku merasa dia hanya mempermainkanku.
“Kenapa? Memang benar kok usiaku 119 tahun. Apa aku terlihat tua?” tanyanya memegang wajahnya.
“Di duniaku manusia hidup seratus tahun saja sudah disebut panjang umur, bagaimana denganmu ya…” ucapku setengah tertawa.
“Usiaku sama dengan Camellia dan Hazel. Bukankah kita juga seumuran?” sepertinya ia bingung dengan kalimatku.
“Eh? Aku masih delapan belas tahun.” kataku. Ia semakin bingung.
“Apa maksudmu? Usia delapan belas tahun mungkin kau masih sekecil batu kerikil.” ucapnya kini tertawa. Wajah tampannya terlihat semakin menawan ketika ia tertawa. Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal. Aku memang merasa kalau aku, Hazel, Alois, dan Camellia memiliki usia yang sama. Apa jangan-jangan hitungan umur di sini berbeda?
“Aku sangat bingung, semua di sini terlihat baru untukku. Aku tiba-tiba saja ada di sini tanpa tahu tempat apa ini.” ucapku pelan. Alois memegang pundakku, mungkin berusaha menenangkanku.
“Jangan khawatir, Rin. Esok kau akan menemukan jawaban kenapa kau bisa sampai di sini.” ia menatapku sembari memberikan senyumannya. Aku mengangguk mencoba menguatkan diriku. Aku percaya ada alasan kenapa aku terseret ke dunia ini. Semua hal di dunia pasti memiliki alasan.
“Kau ingin meneruskan perjalanan? Kurang satu jam lagi sebelum kita harus kembali ke tempat awal tadi.” Alois berdiri mengenakan tudungnya lagi. Aku mengangguk setuju dan segera berjalan di sebelahnya.
Aku terus merasa gundah ketika memikirkan bagaimana jika ada serangan susulan yang menimpa kami. Atau memikirkan bagaimana kondisi Camellia di posko medis, apa dia baik-baik saja? Sesekali juga memikirkan mama yang mungkin sibuk mencariku. Aku sangat ingin bertemu dengan mamaku, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.
Kami terus menyusuri jalanan dengan berjalan cepat sambil melihat kanan dan kiri, memastikan segalanya aman. Sejauh ini memang tidak ada apa-apa lagi selain yang ditemukan Alois tadi. Sebenarnya aku juga bingung bagaimana cara menemukan hal-hal seperti itu, tapi kini aku mulai mengerti bahwa kami memiliki radar tersendiri ketika merasakan sesuatu yang mencurigakan. Alois juga tampak tengan berjalan di sebelahku. Kami benar-benar tidak berpencar sesuai perintah kakek Theo. Alois juga tidak membiarkanku untuk berjalan sendirian.
Langkahku terhenti di dekat reruntuhan bangunan dengan banyak pecahan kaca di sekelilingnya. Entah mengapa aku tidak bisa berpaling dari bangunan itu. Aku mendekat selangkah demi selangkah guna berhati-hati jika ada hal yang tidak kami inginkan. Aku diam-diam mengaktifkan pedangku untuk berjaga- jaga.
“Ada apa?” tanya Alois mendekatiku, sepertinya ia melihat sinar pedangku.
“Aku merasa ada sesuatu di bawah reruntuhan itu.” jawabku.
“Tapi aku tidak merasakan apa-apa.” katanya sedikit bingung, kemudian menahan langkahku.
“Alois percayalah. Aku merasakan sesuatu yang aneh.” aku mulai mendekatinya lagi. Kini Alois diam saja mencoba percaya kepadaku. Jarakku dengan reruntuhan yang lumayan tinggi itu kini hanya tinggal tiga langkah. Kakiku menginjak pecahan kaca di sepanjang jalan, tapi tidak merasa sakit. Mungkin sepatu boot yang aku kenakan bisa menahannya?
Aku mengintip ke dalam celah reruntuhan yang lumayan besar. Aku terkejut hingga mundur selangkah. Alois mendekatiku bertanya ada apa, namun aku tidak sanggup menjawab dan hanya menunjuk ke dalam reruntuhan. Aku menemukan manusia! Benar aku menemukan korban yang belum kami ketahui masih hidup atau sudah tewas. Aku hanya melihat tangannya karena tubuhnya terhimpit reruntuhan yang beratnya tidak terkira.
“Alois ayo kita selamatkan.” aku tergopoh-gopoh mengangkat reruntuhan itu namun jelas tidak berhasil. Alois kembali merapal mantra dan mengarahkan tangannya pada reruntuhan. Namun hasilnya reruntuhan itu hanya bergeser sedikit. Aku panik karena tetap tidak berhasil mengangkat reruntuhan itu. Alois mencobanya kembali, mungkin dengan mantra yang berbeda. Kali ini ia berhasil memindahkan sebongkah dinding besar. Aku tidak sabar takut orang itu masih hidup dan ingin segera menyelamatkannya. Aku melangkahkan kaki kananku ke belakang dan menyiapkan pedangku.
“Rin apa yang akan kau lakukan?” tanya Alois menatapku.
“Aku akan memotong reruntuhan ini menjadi lebih kecil, kemudian tolong singkirkan reruntuhannya.” aku menjawab mantab. Alois mengangguk paham akan rencanaku. Aku mulai berlari menghunuskan pedang ku di atas balok-balok besar. Satu persatu reruntuhan itu berubah menjadi potongan yang lebih kecil. Seranganku berhasil! Alois tanpa ba-bi-bu langsung memindahkan reruntuhan-reruntuhan itu. Hingga tebasan terakhirku tepat berada di atas tubuh korban yang rupanya adalah pria paruh baya. Untungnya tebasanku tidak kuat jadi tidak melukai korban.
Alois segera menuju tempatku berdiri untuk membopong lelaki itu. Baju lelaki itu dipenuhi bercak darah dan debu yang mulai menempel di tubuhnya. Alois duduk sambil meletakkan kepala lelaki itu di pangkuannya.
“Alois bagaimana? Dia masih hidup kan?” tanyaku panik mendekat padanya. Alois juga terlihat sedikit panik sambil memegang leher lelaki itu. Aku takut bahwa ternyata lelaki itu sudah tewas mengingat dia tertimbun reruntuhan yang cukup banyak dan pastinya berat. Alois terus memegangi leher lelaki itu, sepertinya memeriksa denyut nadinya. Semenit senyap kemudian Alois menghembuskan napasnya panjang.
“Dia masih hidup. Ayo cepat kita kembali, dia harus mendapat pertolongan.” Hazel bangkit dan menggendong lelaki itu di punggungnya. Aku mengangguk singkat dan kami segera berlari cepat. Kami gesit melompati reruntuhan sepanjang jalan. Aku berpikir kini aku menjadi seperti ninja dalam serial naruto. Tapi aku tidak melanjutkan pikiran anehku itu karena aku cemas lelaki itu tidak menunjukkan gelagat ‘kehidupan’ sama sekali. Aku berlari tepat di belakang Alois untuk memastikan lelaki itu tidak terjatuh.
Satu jam kami berlari, kurasa kami baru sampai setengah jalan menuju lokasi awal tadi. Aku mulai kelelahan berlari dan nafasku mulai tersengal. Alois memperlambat kecepatan berlarinya memastikan aku tidak tertinggal. Tak lama kemudian aku berhenti untuk memperbaiki nafasku. Alois juga menghentikan langkahnya dan mendekat kepadaku.
“Rin, kau baik-baik saja?” tanya Alois khawatir. Tidak nampak keringat setitik pun di wajahnya. Ia tidak terlihat kelelahan meskipun menggendong lelaki dengan berat badan tak kurang sekitar tujuh puluh kilogram. Sangat jauh jika dibandingkan dengan kemampuanku yang sangat mudah lelah ini.
“Kita istirahat dulu saja, aku tidak bisa jika menggendong dua orang.” Alois tersenyum seperti menggodaku, namun kemudian duduk meletakkan lelaki iku di pangkuannya. Aku ikut duduk di sebelahnya. Alois memeriksa nadinya sekali lagi untuk memastikan ia baik-baik saja. Aku merasa sangat bersalah karena gara-gara aku lelaki itu akan terlambat mendapat pertolongan. Aku menyentuh tangan lelaki itu perlahan. Lelaki itu terasa sangat dingin. Aku penasaran bagaimana cara melihat apakah ia masih hidup atau tidak. Aku menutup mataku merasakan energiku tersalur ke dalam dirinya.
Uhuk..
Lelaki itu bangkit terduduk dengan terbatuk. Aku terkejut melepaskan tanganku dari tangannya. Lelaki masih terus terbatuk hingga Alois menepuk punggungnya sedikit keras.
“Pak, anda baik-baik saja?” tanya Alois.
“Bagaimana mungkin dia baik-baik saja setelah tertimbun reruntuhan?” aku memandang Alois heran. Bagaimana mungkin dia menanyakan hal yang sudah jelas?
“A-aku baik-baik saja, tapi siapa kalian?” lelaki itu melihat kami bergantian.
“Kami anggota kiriman kakek Theo.” Alois menjawab singkat. Ia menyerahkan botol minuman yang ia ambil dari balik jubahnya.
“Aku pikir kemarin sudah hari terakhirku. Syukurlah ada yang menyelamatkanku.” kata lelaki dengan pakaian lusuh itu sambil tersenyum simpul setelah meneguk air minum.
“Kita harus pergi menuju kakek Theo. Kita tinggal setengah jalan lagi.” aku menyarankan agar kami segera berangkat karena batas waktu yang diberikan untuk menyisir kawasan sudah hampir habis.
“Kau sudah baik-baik saja, Rin?” Alois masih dengan nada cemas memandangku lembut.
“Iya, kau masih kuat menggendong bapak ini kan?” aku balik bertanya karena juga takut Alois kelelahan. Ia mengangguk sebagai jawaban.
“Bapak, mohon maaf saya menggendong bapak begini. Kita akan berlari dengan cepat jadi tolong kencangkan pegangan anda.” Alois menoleh ke lelaki yang sudah ada di punggungnya itu. Sungguh lelaki yang sopan.
Kami berlari dengan kecepatan yang lumayan cepat karena mungkin waktu yang diberikan kakek Theo kurang dua puluh menit lagi.