Salju sudah sepenuhnya mencair bahkan seperti tidak pernah ada salju di daerah sini. Matahari ini terasa sangat terik dan reruntuhan terlihat sangat jelas. Kami berdiri di tengah reruntuhan membentuk lingkaran kecil. Aku memandang sekeliling. Reruntuhan bangunan yang tidak rata seringkali membuatku tergelincir. Perasaanku sangat tidak enak berada di sini. Lihat saja dengan suhu yang berubah drastis, kepulan asap seperti sisa kebakaran terlihat di beberapa titik reruntuhan tak jauh dari kami.
“Kalian lihat kepulan asap disana?” kakek Theo menunjuk beberapa kilo di sebelah kanan. Kami seketika menoleh dan mengangguk.
“Itu adalah titik penyerangann awal kelompok hitam.” ucapnya. Aku menelan ludah. Dari sekian banyak kepulan asap, di lokasi yang kakek Theo tunjuk itulah yang asapnya paling tebal dan hitam. Tanah di sekitarnya juga kosong mungkin akibat ledakan yang dahsyat. Aku penasaran bagaimana bisa setelah hujan salju turun namun kepulan asap masih sangat jelas terlihat?
“Kita akan melakukan penyisiran daerah kalau-kalau ditemukan petunjuk tentang penyerangann atau bahkan korban yang tertimbun reruntuhan.” perintah kakek Theo. Kurasa pembagian tugas untuk penyisiran dan pengobatan kami sangat baik bahkan dengan kemampuan dari para anggota kami. Tidak diherankan lagi duo tetua petarung adalah ketua kami.
“Tapi kita harus membagi tim kita menjadi tiga kelompok, jadi hanya ada dua orang tiap kelompok.” kakek Theo mengamati kami lamat-lamat. Tidak ada yang berbicara ketika mendengar suara serak rendahnya.
“Aku akan pergi bersama dia” kakek Theo melanjutkan pembagian kelompok kami. Ia akan pergi dengan lelaki dengan teknik pedang yang sedari tadi paling pendiam diantara kelompok kami.
“Hazel kau pergi dengan Viscaria, Alois dengan Rin.” lengkap sudah pembagian kelompok kami.
“Aku akan pergi dengan Rin.” ucap Hazel tiba-tiba. Kami semua mengalihkan pandangan kami padanya.
“Aku tidak bisa membiarkanmu melakukannya.” jawab kakek Theo datar.
“Kakek Lupin telah mempercayakan Rin kepadaku.” bujuk Hazel dengan nada tak kalah datar namun kepalanya menunduk tanda ia tetap menghormati kakek Theo meskipun membantah perkataannya.
“Aku sudah membagi tim dengan memikirkan kemungkinan terbaik. Kau petarung yang baik, rekanmu adalah Viscaria seorang pemanah yaitu penyerang jarak jauh. Kalian akan saling melengkapi jika ada sesuatu yang tidak diinginkan.” kakek Theo memandang kami yang mengelilinya bergantian. Aku dan anggota lain menunduk.
“Sedangkan Rin juga memiliki kekuatan pedang dan petarung. Jika kalian digabungkan kekuatannya hanya akan dalam bentuk serangan, tidak ada pertahanan tambahan.” tambah kakek Theo.
“Tapi kemampuan Rin belum cukup baik.” sanggah Hazel. Kemampuanku belum cukup baik? Enak saja dia kalau bicara! Tapi perlu kuakui kemampuanku memang sangat jauh jika dibandingkan dengan Hazel. Tapi aku juga sudah mulai bisa menguasai teknik pedang ini.
“Alois adalah seorang ahli segel. Ia bisa menjadi pertahanan yang baik. Ia juga bisa membantu Rin dalam serangan jika ada kondisi yang tidak sesuai. Sudah tidak usah berdebat, bukankah kau yang membawa daftar kekuatan seluruh anggota? Tidak mungkin kau tidak tau kemampuan mereka dan alasan aku membagi tim kalian seperti ini kan?” kakek Theo berkata tegas dengan suara yang sedikit meninggi.
Sepertinya ia tidak suka mendengar perintahnya disanggah jika tidak disertai dengan alasan yang menurutnya kurang akurat. Hazel hanya menunduk tanpa mengucapkan kata lagi. Aku tidak keberatan ditempatkan dengan siapa saja dalam tim, karena kurasa aku cukup bisa melakukan semua tugas yang diberikan. Memangnya kenapa dia ingin bersamaku? Bukankah dia sendiri yang bilang aku lemah? Dia seharusnya tidak ingin bersamaku karena akan membuat perjalannya terhambat dengan kemampuanku yang dianggapnya kurang layak itu.
“Lagi pula kenapa kau sangat ingin bersama Rin? Kau menyukainya?” Alois tiba-tiba angkat bicara dengan senyum tersungging di bibirnya. Pipiku memerah mendengar Alois bertanya hal seperti itu pada Hazel. Namun Hazel tidak menjawab, ia hanya mengangkat wajahnya dan melirik sinis pada Alois. Aku dapat jelas melihat wajah Hazel dan Alois karena aku berada di tengah mereka. Wow jika aku tidak sedang dalam penyisiran daerah serangan atau jika aku berada dalam cerita bergenre romantis aku akan sangat bahagia karena diapit oleh dua lelaki tinggi, tampan, dan rupawan.
“Pertama kita akan bersama menuju pusat ledakan. Disana kita akan bertemu dengan perwakilan dari kota Azalea yang lebih dulu sampai di sana. Kemudian tim Hazel pergi menyisir daerah barat, sedangkan Alois pergi ke timur. Kalian hanya diberi waktu tiga jam untuk menyisir daerah yang terdampak. Kemudian kembali ke sini dan laporkan padaku.” kami semua mengangguk dan langsung membubarkan diri untuk pergi ke arah pusat ledakan yang tadi ditunjuk kakek Theo.
Aku berlari paling akhir karena daya tahanku masih tidak terlalu tinggi. Aku takut akan pingsan lagi dan akan merepotkan anggota kelompok yang lain. Meski jika dipikirkan lagi kecepatan lari ku akan jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan anak-anak di sekolah dunia nyataku. Aku mungkin bisa saja memenangkan lomba lari nasional jika dengan kecepatan ini. Namun ini masih tetap lambat jika dibandingkan dengan para kesatria hebat di depanku. Aku hanya memikirkan apa lagi yang akan kami temui nanti.
“Sedang memikirkan apa, Rin?” tanpa kusadari Alois sudah berada di sebelahku. Aku terkejut mendengar suaranya yang menyebabkan aku kehilangan keseimbangan pada pijakanku. Aku terpeleset. Namun dalam hitungan dua detik Alois sudah menangkapku. Kini aku ada dalam pelukannya. Aku diam cukup lama karena tidak pernah ada sedekat ini dengan laki-laki. Kakiku terasa dingin seperti membeku. Kemudian aku tersadar dan langsung berdiri dengan wajah merah, lalu selangkah menjauh darinya.
“Kau baik-baik saja Rin?” tanyanya dengan senyuman. Aku patah-patah mengangguk. Apa hanya aku yang merasa malu dengan kejadian barusan? Apa ia biasa melakukan itu?
“Kita harus segera menuju kesana, Rin. Kakek Theo dan rombongan sudah lumayan jauh. Kau tidak mau dimarahi karena terlambat kan?” ia masih tersenyum kemudian mengajakku berlari lagi. Kali ini aku berlari lebih cepat menyusul rombongan kakek karena tidak ingin diomeli, terutama oleh Hazel.
Tak butuh waktu lama, lima menit kemudian kami sudah sampai ke pusat ledakan. Disini hanya ada asap hitam yang mengepul serta lubang dengan lebar kurang lebih lima meter, dan kedalaman tak kurang dari tujuh meter. Lebih dari itu, tidak ada apa-apa. Mataku sedikit perih karena asap yang tebal ini.
Kami mulai berkeliling sendiri-sendiri memastikan tidak ada hal yang mencurigakan setelah kami bertemu dengan kelompok suruhan kota Azalea. Suruhannya hanya ada tiga orang, dengan jubah putih tentu saja. Mereka terlihat bercakap-cakap dengan kakek Theo. Tapi aku tidak bisa mendengarnya jadi aku langsung berkeliling saja. Perasaanku terasa campur aduk melihat kekacauan ini. Bukankah harusnya ada banyak rumah besar di sini? Tapi kini hanya ada pasir beterbangan dan reruntuhan yang mengelilinginya.
Mataku semakin memanas ketika aku telah berkeliling beberapa menit. Kurasa aku ingin menangis. Seseorang menepuk pundakku. Aku langsung menoleh padanya. Alois telah memasang tudung kepalanya, namun ia tetap terlihat tampan. Debu kembali menusuk mataku. Aku merasa kali ini aku benar-benar menangis. Bukan hanya karena kelilipan, tapi karena perasaanku sangat tidak nyaman berada di sini. Aku memang cenderung anak yang mudah menangis. Terkadang saat tertawa saja aku diam-diam menangis. Aneh kan? Aku juga menganggapnya aneh.
Alois berjalan selangkah mendekati ku. Tanganku masih aku gunakan untuk menggosok mataku mencoba mengeluarkan debu dari mataku. Aku mulai merasakan d**a Alois menyentuh kepalaku, tapi aku terlalu fokus untuk menghapus air mataku. Dia menggerakkan tangannya kebelakang badanku kemudian memegang rambutku pelan. Tiga detik kemudian ia telah selesai mengikat rambutku. Aku melepaskan tangan dari mataku dan memandangnya. Benar saja, jaraknya denganku tak sampai selangkah.
Jantungku mulai berdegup sangat cepat. Sekarang tidak hanya mataku yang panas, tapi wajahku juga. Lepas Alois mengikat rambutku dengan sesuatu, ia memegang tudung di belakang jubahku dan menutupkannya dalam kepalaku.
“Jubah ini juga bisa menjadi penghalau debu atau asap agar penggunanya bisa melihat dengan jelas. Jangan menangis lagi ya.” Ia tersenyum lagi ke arahku. Senyumnya tidak pernah berubah sejak aku bertemu denganya beberapa waktu lalu. Dan benar kata Alois, kini aku bisa melihat dengan jelas.
“Kita sebaiknya berkumpul lagi dengan kakek Theo, kamu tidak menemukan apa pun kan di sini?” Tanyanya. Aku mengangguk singkat. Memang apa yang bisa aku temukan dalam lahan kosong berpasir sejauh mata memandang ini? Namun harus ku akui aku merasa kurang nyaman dengan pusat dari lubang di bawah sana.
“Ayo. Kau tidak akan menangis lagi kan? Nanti orang di sana akan mengatakan kau lemah lagi, kau tidak akan suka dikatain seperti itu kan?” tanyanya kini memegang tanganku sambil berjalan menuju kakek Theo. Aku tidak sempat menjawab karena berjalan mengikutinya.
“Dan juga aku suka melihat senyummu. Jadi jangan menangis lagi ya.” Katanya lagi, aku tidak bisa melihat raut wajahnya karena aku berjalan di belakangnya. Namun ku ramal, dia sedang tersenyum. Aku merasakan wajahku memerah lagi untuk kesekian kalinya. Bagaimana mungkin dia mengatakan hal seperti itu dengan sangat santai? Kurasa Alois harus menghentikan sikap dan ucapan manisnya padaku. Ini benar-benar tidak sehat untuk jantungku!
Dia menggenggam tanganku selama kurang lebih tiga menit sampai kami berada di sebelah kakek Theo.
“Oh aku baru saja memegang tanganmu. Tidak apa-apa kan?” ucapnya polos dengan senyuman lebar sambil memandangi tangannya. Bagaimana bisa dia baru menyadarinya sedangkan jantungku rasanya sudah mau meledak sejak tadi?
Kini aku, Alois, Hazel, dan Viscaria berdiri di depan kakek Theo. Ia memberi arahan agar kami tidak berpencar terlalu jauh saat melakukan penyisiran nanti. Dan juga harus melaporkan apa pun yang ditemukan, bahkan jika kami tidak menemukan apa pun kakek Theo harus menerima laporan. Kami mengangguk sepintas. Dua detik kemudian kakek Theo mengangguk sambil memandang kami. Tanpa dikomando kami segera balik kanan dan berlari menuju arah yang tadi diperintahkan kakek Theo.
Aku dan Alois pergi ke arah timur untuk menyisir area terdampak. Tidak banyak yang kami temukan di separuh jalan perjalanan kami. Lagi-lagi hanya pasir dan tumpukan reruntuhan yang sesekali membuat kami harus memperlambat langkah kami. Aku dan Alois tidak berlari secepat Hazel dan Viscaria. Alasannya adalah takut aku pingsan di tengah jalan. Padahal aku tidak akan jatuh semudah itu hanya dengan berlari kan? Tapi memang harus kuakui aku mudah lelah.
Alois memperlambat langkahnya dan berhenti di tengah gundukan pasir. Kami sudah berlari cukup jauh dari tempat kami berkumpul tadi. Mungkin sudah dua kilometer. Alois terus memandangi gundukan pasir itu senyap. Aku yang berhenti di depannya memutuskan untuk mendekatinya.
“Ada apa?” tanyaku padanya. Ia mengangkat tangannya sebagai petunjuk untuk menyuruhku berhenti melangkah mendekatinya. Jarakku dan Alois hanya terpaut tiga langkah sampai ia memberikan isyarat itu. Aku terus memandangnya karena curiga dengan apa yang ia lakukan.
Alois kini berjongkok di depan gundukan pasir yang tingginya mungkin hanya sejengkal. Sebenarnya tidak hanya kali ini kami bertemu dengan gundukan pasir seperti itu karena akibat penyerangann itu daerah ini hampir mirip dengan padang pasir di beberapa lokasi. Jubah Alois bersinar samar ketika ia mulai menyentuh gundukan pasir itu. Sinar yang dipancarkan dari jubah hitam Alois menjadi lebih terang perlahan-lahan ketika ia menyingkirkan tumpukan pasir itu. Aku menelan ludah. Ia menemukan sesuatu berwarna hitam sekepalan tangan orang dewasa. Benda itu terlihat seperti batu. Kini aku mendekat.
“Apa yang kau temukan?” tanyaku ikut berjongkok di sampingnya. Ia diam memandangi batu yang kini sudah ia genggam.
“Rin menjauhlah sebentar.” ucapnya tanpa memandang ke arahku. Aku yang merasa tidak aman langsung mundur beberapa langkah. Alois tidak pernah berbicara datar kepadaku sejauh ini.
Kali ini pasti sesuatu yang berbahaya.