Matahari yang seharusnya sudah hampir berada di tengah, tertutupi oleh awan tebal saat kami berdiri di gerbang rumah singgah kami. Aku baru menyadari bahwa rumah singgah kami memiliki lima lantai dengan seluruh gedung berwarna putih dengan jendela kaca berbingkai kayu terjajar rapi di sisi bangunan. Bangunan besar itu semakin terlihat putih ditemani salju yang turun sedikit demi sedikit. Lengkap sudah pasukan yang akan dikirim menuju posko bantuan dan pusat penyerangann. Kami akan menaiki empat kereta kuda seperti yang biasa kami naiki. Kereta pertama dinaiki tim yang dipimpin oleh kakek Matheo. Kereta kedua digunakan oleh kami sebagai tim kami yang dipimpin oleh kakek Theo. Kereta ketiga khusus untuk pasukan yang berasal dari siswa ilmu pedang dengan jubah putih sepertiku dan Hazel. Kereta keempat dibiarkan kosong jikalau ada keperluan lain.
“Sudah siap?” tanya kakek Matheo keluar dari gerbang.
“Kereta sudah diperiksa, barang bawaan sudah siap, anak-anak juga sudah berkumpull. Kita sudah siap berangkat.” jawab kakek Theo.
“Bagaimana kalau terjadi sabotase seperti kemarin?” aku berbisik pada Hazel yang berdiri tepat di sebelahku.
“Mereka tidak akan melakukan penyerangann lagi dalam waktu dekat, Rin.” katanya memandangku. Aku memasang wajah bingung.
“Mereka tau kalau para tetua sudah turun tangan, jadi kemungkinan besar mereka akan memilih menyusun rencana baru dibanding melakukan sabotase atau penyerangann yang sama lagi.” terangnya. Aku mengangguk-angguk paham. Tidak heran jika Hazel akan dipilih sebagai penerus kota Achillea -atau mungkin seluruh negeri ini.
“Baiklah, semua naik! Kita akan berangkat sekarang.” ujar kakek Matheo.
Kami semua melompat ke kereta masing-masing. Alois mengulurkan tangannya untuk membantuku. Hazel dan Camellia memandang kami. Namun tatapan mereka berkebalikan. Hazel tetap memandangku dengan sinis, sedangkan Camellia seperti menggodaku.
“Uwuuu kalian terlihat sangat dekat sekarang, padahal baru bertemu kemarin.” Camellia benar-benar menggodaku. Aku hanya tersipu kemudian duduk di sebelahnya. “Kami tidak sedekat itu.” kata Alois sedikit tertawa kemudian duduk di sebelah Hazel. Keempat kereta kuda kami akhirnya berangkat. Kusir memacu kuda dengan kecepatan penuh dan membuatku sedikit terbanting ke belakang. Salju yang menumpuk tidak menghalangi langkah kaki kuda kami. Kakek Theo memandangi kami berempat dengan serius.
“Hazel, bisa kau jelaskan tingkat berapa kemampuan teman-temanmu ini?” Ucap kakek Theo memecah keheningan.
“Kakek tentu tahu kemampuanku, Camellia berada di tingkat empat, Alois juga berada di tingkat empat, kalau Rin entahlah, dia baru saja kesini.” ucap Hazel dengan serius. Ia mengeluarkan secarik kertas dari dalam jubahnya. Kurasa itu adalah kertas yang berisi daftar kemampuan para murid yang diberikan kakek Lupin sebelum datang kemari.
“Aku rasa Rin adalah petarung yang baik.” kata Alois tersenyum kepadaku.
“Aku sudah melatihnya beberapa hari. Kemampuannya meningkat pesat, namun dia tetap lemah.” kata Hazel menghela nafas panjang. Camellia dan Alois terkekeh melihat muka cemberutku.
“Mungkin Rin akan berlatih dengan giat di sini, aku yakin dia bisa melakukannya.” kakek Theo menghiburku. Sebenarnya aku sedikit takut untuk pergi ke kota yang diserang. Aku takut jika akan terjadi penyerangann lagi, dan aku gagal menyelamatkan teman-temanku. Ingatanku kembali pada serangan serigala salju saat aku tidak bisa membantu Camellia sama sekali, atau saat terjadi penyerangann di sekolah kakek Lupin. Aku merasa tidak bisa melakukan apapun. Aku berjanji akan serius berlatih agar tidak mengecewakan teman-temanku lagi.
“Apa jaraknya masih jauh?” Tanyaku sembari menutup kepalaku dengan tudung karena merasa kedinginan.
“Mungkin lima menit lagi.” Jawab Camellia. Dia terlihat tegang, mungkin karena posko pengobatan semakin dekat. Aku juga mulai merasa tegang karena tidak tau apa yang akan kami hadapi nanti. Aku memandangi Hazel yang tepat ada di depanku. Ia tampak fokus melihat ke pedang berkilau yang tadi ia keluarkan.
Tak lama setelah ia mengamati pedang itu pedang itu segera menghilang ketika Hazel menggenggam erat pegangannya. Seketika sinar putih muncul dari tangan dan jubah Hazel, namun sedetik kemudian sinar itu menghilang. Memang begitulah cara memunculkan dan menghilangkan pedangnya. Aku juga bisa melakukannya. Awalnya aku bingung bagaimana caranya, namun ternyata hanya memikirkannya saja pedang itu bisa muncul dan hilang begitu saja. Tapi syaratnya adalah harus memiliki serpihan Gladiolus yang sesuai dengan pedang itu. Jadi pedang milik kami tidak akan bisa digunakan oleh orang lain.
“Ada apa Hazel?” tanya kakek Theo yang melihat sinar dari jubah Hazel. Ia hanya menggeleng singkat tanpa memandang kakek Theo. Dasar anak tidak tau sopan santun!
“Tuan, coba lihat!” ucap kusir yang sejak tadi tidak terdengar suaranya. Kakek Theo langsung melompat keluar setelah kereta berhenti. Disusul Hazel kemudian kami beriringan ikut turun. Rupanya di depan kami terdapat pemandangan yang mengerikan. Rumah-rumah yang hanya tersisa puing-puing. Mungkin gambarannya akan tepat jika aku mengatakan seperti bekas pengeboman yang sangat besar atau tsunami. Kakek mengatakan kalau sekitar 40 rumah yang terdampak, namun nyatanya sejauh mata memandang yang kulihat hanya puing-puing bangunan yang tertutup salju setinggi sekitar lima sentimeter.
“Dimana posko pengobatan, Kek?” tanya Camellia.
“Ada di dalam, kita akan kesana bersama.” jawab kakek Theo.
“Kita tidak bisa membawa kereta ini masuk Kek, kita berjalan saja.” usul Hazel. Kakek mengangguk setuju kemudian memerintahkan teman-teman di kereta lain untuk turun.
“Tunggu kek, bagaimana dengan barang bawaan kita?” tanyaku. Barang bawaan kami cukup banyak karena terbagi dalam tiga kereta. Kami semua terdiam memikirkan bagaimana barang bawaan kami. Selagi kami memikirkan hal itu, seseorang datang dari jauh sambil melambaikan tangan. Ia menaiki seekor kuda putih yang gagah.
“Tetua, kami sudah menunggumu.” pria itu turun dengan jubah putih berkibar sembari menunduk pada kakek Theo dan Matheo.
“Maaf karena membuat kalian menunggu lama.” kakek Matheo tersenyum padanya.
“Mari saya antar ke posko penanganan terlebih dahulu.” ia kembali menunduk sambil menunjuk jalan.
“Tunggu, kami tidak bisa membawa barang bawaan kami karena reruntuhan san salju ini.” tutur Camellia. Lelaki berparas tegas itu melihat kereta kuda kami.
“Kereta kalian ada yang berukuran kecil, kita bisa memindahkan setiap barang bawaan ke sana. Kemudian aku akan membantu membuka jalan bagi kereta. Kalian bisa berlari kan?” usulnya sambil melihat kami secara bergantian. Kami semua mengangguk. Kemudian tanpa dikomando kami mulai memindahkan barang ke kereta kami yang sedari awal memang dibiarkan kosong. Syukurlah kini kereta itu berguna.
“Baiklah, ayo kita pergi.” tutur pria itu disusul dengan langkah ringan kami. Dia tidak berlari, jadi kami juga tidak ikut berlari. Anehnya, ia menuntun kudanya padahal seharusnya kami akan bisa sampai lebih cepat jika ia menaiki kudanya.
“Hazel, bisakah kau lihat jalan di depan?” Hazel hanya melihat sekilas kemudian mengangguk.
“Rin, ayo.” ucap Hazel tiba-tiba memandangku.
“Hah?” jawabku linglung. Tanpa mendengarkan aku, ia kemudian berlari kencang dengan jubah yang berkibar. Dua detik kemudian aku baru menyusulnya. Kakiku terasa berat karena menginjak salju, namun Hazel terlihat sangat mudah melewatinya.
“Kau lama sekali.” ucapnya ketika aku sampai di depannya. Rombongan kami masih berjalan dengan jarak yang cukup jauh. Aku tidak mengerti alasan Hazel mengajakku ke reruntuhan rumah ini.
“Kau lihat jalan setapak ini?” tanyanya. Aku mengangguk. Sebenarnya aku kurang jelas melihatnya karena tertutup oleh salju. Namun kurasa hari sudah mulai panas dan mulai melelehkan salju sedikit demi sedikit. Nampak tanah merah yang berada di bawah kami ditutupi reruntuhan. Kurasa inilah yang dimaksud oleh Hazel.
“Salju tidak akan terlalu menghalangi. Kita singkirkan puing-puing ini.” katanya memerintahku.
“Hah? Tadi lelaki itu bilang dia yang akan menyingkirkan ini semua? Kenapa kau mengangajakku?!” aku sedikit berteriak karena terkejut ia menyuruhku bekerja. Ia hanya memandangku sinis dan mengeluarkan pedang indahnya.
“Kita akhiri sampai di sana, kemudian ia yang akan membersihkannya untuk kita.” sedetik setelah mengatakan itu, Hazel mengibaskan pedangnya secara vertikal dari atas ke bawah dengan sangat kuat sehingga muncul angin yang sangat kencang. Aku mundur selangkah bergidik ngeri melihat kemampuan Hazel.
“Apa? Kau terkejut? Ini belum semua kemampuanku.” ucapnya. Dengan hempasan angin dari pedang Hazel tadi, jalan setapak merah mulai terlihat. Reruntuhan juga mulai tersingkir bertepatan dengan sampainya rombongan di belakang kami.
“Kau bisa dengan cepat menyelesaikan ini sendirian, namun kenapa mengajakku?” ucapku memandang lelaki yang tingginya mungkin lebih dari 20 cm diatasku.
“Terserah aku kan?” katanya sembari balik memandangku. Rambut coklatnya berkibar lembut ditemani jubah putihnya. Ia semakin tampak hebat dikelilingi salju putih yang senada dengan jubahnya. Tanpa kusadari, wajahku memerah lagi.
“Pekerjaan bagus!” ucap lelaki itu menepuk punggung Hazel. Sebagai jawaban Hazel hanya tersenyum kecil mengangguk.
“Kurasa Achillea memiliki penerus yang hebat.” katanya tersenyum memandang Hazel. Kurasa juga begitu. Kemampuannya yang mumpuni mungkin bisa menjadi kekuatan besar bagi kota itu. Namun tetap saja ia orang yang menyebalkan.
“Mulai sekarang aku yang akan mengurusnya. Kalian ikuti jalan setapak yang kubuat.” tuturnya lagi. Kudanya kini dipegang oleh seorang siswa dengan jubah putih suruhan kakek Theo dan Matheo.
Kali ini kami berjalan perlahan untuk menghemat energi dan menghindari puing yang mungkin tertinggal. Aku berada di belakang barisan sambil memandang jauh melihat kondisi kota ini. Mungkin kota ini juga sama bagusnya dengan kota yang pernah ku kunjungi sebelumnya jika tidak diserang oleh kelompok sihir itu. Apa sih masalah mereka hingga membuat kekacauan seperti ini?!
“Ada apa, Rin?” tanya Alois yang rupanya berjalan di sebelahku. Aku menggeleng kecil kemudian kembali memandang ke depan. Jalan di depan kami sudah lancar tanpa puing karena utusan tadi membersihkannya seperti yang dilakukan Hazel. Namun aku yakin kekuatan yang dipakai tidak lebih besar dari Hazel. Apakah dia sengaja pamer padaku?
Di depan kami sekarang nampak sebuah tenda berwarna merah yang sangat besar dengan logo bunga berwarna hijau kuning. Aku melihat Camellia berbincang dengan kakek Theo sebentar kemudian berlari dengan kencang. Nampaknya ini adalah posko medis untuk perawatan korban terluka. Aku hendak ikut berlari mengejarnya, namun langkahku tertahan karena seseorang memegang tanganku.
“Hah? Kenapa kau menahanku?” ternyata Hazel yang menahanku.
“Untuk apa kau berlari?” katanya.
“Itu posko medis kan? Aku akan ikut Camellia.” ucapku.
“Tidak perlu. Kau tidak akan banyak membantu. Hemat saja tenagamu.” katanya lagi. Kami tertinggal rombongan karena berhenti untuk pembicaraan ini.
“Tapi mungkin ada yang bisa ku lakukan.” Aku merengek ingin mengejar Camellia.
“Rin, kakek Lupin mempercayakanmu kepada ku, tolong jangan merepotkanku.” Hazel menarik napas panjang. Aku tidak tahu memang apa salahnya aku membantu?
“Aku tidak akan membuatmu repot. Lagi pula aku sudah besar, jadi kau tidak perlu menjagaku.”
“Ada apa ini?” kakek Matheo muncul di depan kami dengan Alois.
“Wah kalian bergandengan?” Alois memandangku terkejut. Aku segera melepaskan tanganku dari Hazel. Wajahku memanas lagi.
“Aku melarang Rin agar tidak bergabung dengan Camellia.” wajah tegas Hazel kembali lagi. Ia mengabaikan ucapan Alois tadi.
“Kakek, aku ingin melihat kondisi mereka, tapi ia melarangku.” Aku mendekati kakek Matheo merajuk.
“Nanti kita lihat bersama sebentar setelah pembagian tugas, kita di sini tidak untuk pelesiran.” kata kakek Matheo lembut disertai senyuman. Kakek Matheo memberikan isyarat untuk berjalan lagi karena rombongan yang lain sudah sampai di depan tenda besar itu. Aku memberikan tatapan sinis pada Hazel kemudian memilih jalan di samping kakek Matheo meninggalkan Hazel kan Alois di belakang kami.
Tidak sampai lima menit, kami sudah berkumpul dengan formasi penuh di depan tenda dengan tinggi sekitar sepuluh meter itu, termasuk Camellia dengan wajah cemas di wajah ayunya.
“Baiklah, Hazel, Rin, Alois, kalian akan ikut denganku. Kita akan bersama dengan seorang dengan teknik memanah dan teknik pedang dari kota ini.” kakek Theo menjelaskan rencana pembagian wilayah penelusuran.
“Camellia dan dua dari kalian akan membantu Matheo membantu tim medis lain. Sisanya berjaga di depan” kakek Theo menunjuk orang dengan jas kuning dan putih. Kami mengangguk sepakat.
“Kek, apakah kami boleh melihat kondisi di dalam?” tanyaku ragu-ragu. Kakek Theo mengangguk singkat.
“Kami akan memberi kalian waktu lima menit untuk menyiapkan segalanya, kemudian kita akan berangkat.” ujar kakek Theo. Mata tajamnya melihat kami dengan seksama kemudian ia pergi ke kereta kuda yang terparkir rapi di depan tenda. Aku cukup mudah membedakan antara kakek Theo dan Matheo. Kenapa? Karena mereka memiliki tatapan mata yang berbeda. Wajah mereka sama persis, bahkan tingginya juga sama. Namun kakek Theo memiliki perawakan tegas dengan mata mengancam, sedangkan kakek Matheo lebih sering tersenyum dan terasa menyenangkan.
Aku masuk ke dalam tenda besar itu, tapi segera berhenti setelah tiga langkah. Aku merasa hendak menangis melihat apa yang terpampang di depanku. Kini aku melihat deretan manusia dengan darah menghiasi seluruh pakaian mereka. Ada beberapa yang hanya mengalami luka kecil di bagian kaki atau tangan. Namun sebagian besar dari mereka mengalami luka pada bagian kepala. Aku tidak pernah melihat ratusan manusia terluka seperti ini. Aku sudah tidak sanggup melihatnya lagi, kemudian tanpa terasa air mataku mengalir.
“Jangan menangis.” suara lembut terdengar di belakangku. Itu suara Alois.
“Tidak apa-apa semua akan baik-baik saja, mereka dalam penanganan orang yang tepat.” ucapnya lagi. Aku mengangguk singkat menyeka air mata di pipiku. Aku memandang ke Camellia yang mengeluarkan sinar lembut dari tubuhnya. Raut mukanya terlihat sangat serius dan membuatku ingin berjuang sama sepertinya.
Belum sempat aku mendekati Camellia, kakek Theo memanggil rombongan kami untuk berangkat ke lokasi pantau. Kami berenam berkumpul sebentar di depan tenda merah itu. Hazel melemparkan sebuah kotak kayu kepadaku.
“Apa ini?” tanyaku bingung.
“Makanan.” jawabnya singkat. Benar, aku tadi hanya termangu menatap para korban hingga lupa kebutuhan yang lain.
“Simpan saja dalam jubahmu rin, apa perlu aku bawakan?” Alois yang berdiri tepat disampingku tersenyum memandangku. Aku mengangguk balas tersenyum dan menyerahkan kotak bekal itu. Alois kemudian memasukannya ke balik jubahnya, dan hilang begitu saja. Eh? Kemana perginya kotak itu? Apa ada penyimpanan di dalam sana? Aku secara tidak sadar memegang punggung di balik jubahku, tapi tidak ada apa-apa di sana.
Matahari sudah tampak gagah di atas kami ketika kami memulai perjalanan. Salju sudah banyak mencair meninggalkan reruntuhan bangunan. Kami tidak melakukan pembersihan seperti yang dilakukan Hazel tadi karena kami hanya berjalan. Tadi kami melakukan pembersihan untuk membuka jalan bagi kereta yang berisi barang bawaan kami.
Apa lagi yang akan aku hadapi kali ini, Ma?