Udara dingin menyapa tengkukku. Sebaliknya, tubuhku terasa sangat hangat. Mataku terbuka karena sinar matahari perlahan mengenai mataku. Aku ingat kemarin aku pingsan di jalan. Bukankah aku terlalu sering pingsan? Padahal tubuhku terasa sangat kuat dan bisa melakukan apapun, tapi kenapa aku justru sering terjatuh?
Suara ketukan pintu lembut terdengar. Aku hendak berdiri untuk membuka pintu, namun sebelum aku turun dari ranjangku, ia sudah ada di dalam.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya dengan nada yang lembut dan disertai senyuman. Aku balas tersenyum kemudian duduk bersandar.
“Boleh aku masuk?” tanyanya.
“Kau kan sudah di dalam.” kataku tertawa. Ia berjalan mendekatiku dengan senyuman, seolah senyumnya terpatri permanen di wajahnya. Rambut hitam legamnya senada dengan warna matanya yang terlihat bersinar. Ia memakai baju hitam sepanjang bahu seperti kaos pendek dan celana selutut yang memiliki garis berwarna putih pudar. Ya, dia adalah Alois.
“Kau benar-benar sudah sehat?” tanyanya kini duduk di kursi sebelah kasurku. Kursi itu terbuat dari sulur-sulur tumbuhan berwarna hijau. Bagian sandarannya masih terdapat beberapa daun yang terlihat hidup. aku mengangguk karena aku memang sudah baik-baik saja.
“Tadi aku merasa dingin di sekitar sepalaku, tapi tubuhku terasa sangat hangat bagaimana bisa begitu ya?” tanyaku.
“Kau bisa merasakan dingin karena memang sedang musim dingin.” katanya tersenyum.
“Hah? Musim dingin apa? Kemarin saat kita menuju kota cuaca masih sangat panas.” aku bingung mendengar jawaban Alois yang terdengar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kemarin dalam perjalanan tanah-tanah terlihat kering dan tandus namun ia bilang sekarang musim dingin?
“Tubuhmu tidak merasakan dingin karena selimut yang kau pakai itu dirancang untuk berbagai musim. Ia akan otomatis menyesuaikan suhu tubuh di musim apapun.” terangnya. Aku memandang selimut dengan warna putih terang namun berhiaskan pola berbentuk daun yang sangat besar.
“Kau tidak bercanda kan?” tanyaku sambil sesekali tertawa karena tidak percaya atas apa yang Alois katakan. Belum ia menjawab pertanyaanku, Hazel masuk begitu saja ke dalam kamarku.
“Apa yang kau lakukan?” ujarnya setelah melihat Alois ada di sebelahku.
“A-aku..” ucapku entah kenapa tiba-tiba tergagap.
“Aku tidak bertanya padamu.” Hazel menoleh padaku dengan tatapan dinginnya, kemudian mengalihkan pandangannya pada Alois. Aku sedikit takut melihat Hazel yang galak seperti itu. Entahlah, terkadang ia terlihat sangat memukau. Namun terkadang ia juga terlihat sangat menyeramkan.
“Aku hanya memeriksa apakah Rin baik-baik saja.” kata Alois masih tersenyum. Bagaimana ia bisa tersenyum seperti itu padahal di depannya Hazel terlihat sangat kaku? Namun Hazel diam saja, dia tidak menjawab sama sekali.
“Memang kenapa?” tanya Alois lagi. Hazel masih tidak menjawab, kini ia memandangku dengan tatapan sinis.
“Kau baik-baik saja?” tanya Hazel tiba-tiba. Apa maksudnya? Ia baru saja masuk dan membuat keributan kemudian bertanya seperti itu padaku?
“Untuk apa kau kesini?” tanyaku setelah mengangguk padanya.
“Memang kenapa?” tanyanya balik. Alois terkekeh di samping kami. Aku memandang sinis pada Hazel. Ia juga balas menatapku tajam.
“Kau benar-benar lemah ya ternyata? Huft kenapa kakek membiarkanku melatihmu.” ia menggerutu.
“Apa maksudmu aku lemah, hah?” aku sangat kesal mendengarnya memakiku lemah lagi.
“Lihatlah dirimu. Berlari sebentar saja sudah jatuh pingsan? Kau lemah sekali.” katanya lagi masih dengan tatapan sinis. Jujur saja, mungkin sudah berkali-kali aku mengatakan hal ini. Ia adalah pria yang menawan. Dari segi manapun, kecuali sikapnya. Lihat, ia memandangku tajam saja ia tetap terlihat tampan dengan rambut coklat tua dan mata yang berwarna senada. Wajahnya yang sangat proporsional dengan kulit putih dan hidung mancung serta bibir merah muda yang tidak terlalu tebal, namun juga tidak terlalu tipis. Eh? Kenapa aku memperhatikannya lagi?
“Kalian ini pagi-pagi sudah ribut saja.” Camellia tiba-tiba muncul dari balik pintu dan berjalan cepat untuk duduk di kasurku. Aku tersenyum memandang Camellia, setidaknya aku merasa punya teman sekarang.
“Kau baik-baik saja, Camellia?” tanyaku senang melihatnya.
“Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, Rin. Kamu pingsan kemarin.” jawab Camellia. Itu menandakan ia baik-baik saja.
“Beberapa hari kamu disini kurasa kamu sering pingsan,Rin.” kata Camellia menepuk-nepuk kaki di dalam selimutku.
“Benarkah Rin sudah pingsan berkali-kali?” tanya Alois, kini ia memandangku dengan tatapan mata sedikit khawatir. Camellia mengangguk sambil tertawa kecil. Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal, merasa malu.
“Itu pertanda dia lemah.” Hazel kembali menyebutku lemah dengan wajah datarnya. Aku kembali cemberut karena perkataan Hazel.
“Bukankah kita harus berkumpul dengan tetua?” tanya Alois memecah keheningan.
“Oh! Benar juga. Baiklah, ayo kita keluar.” Camellia bangkit dari duduknya dan membantuku berdiri. Rambutku terasa sangat lepek, mungkin aku harus mandi terlebih dahulu. Alois dan Hazel sudah berjalan mendekati pintu, namun sepertinya menungguku dan Camellia. Hazel dan Alois memiliki tinggi yang hampir sama. Namun Hazel lebih tinggi beberapa centi.
“Camellia, apa aku boleh mandi dulu?” aku berbisik pada Camellia. Ia tertawa sedikit, kemudian mengangguk.
“Kalian pergi duluan saja, tunggu kami di ruang makan.” ucap Camellia, mereka mengiyakan kemudian pergi. Camellia mengantarku ke kamar mandi yang rupanya ada di sebelah kamarku. Ia memintaku untuk menekan tombol berwarna merah sebelum mengambil ‘daun’ di tempatnya. Kemudian Camellia berkata akan menunggu di lantai bawah. Aku masuk ke kamar mandi dan mulai proses penyegaran dengan daun ajaib itu. Rambutku yang tergerai sepinggang akhirnya terasa segar lagi. Sepuluh menit kemudian aku keluar dari bilik kaca namun tidak terlihat transparan itu.
Aku mengambil sebuah handuk yang tergantung setelah mengenakan pakaian putihku. Aku melihat keluar jendela. Ternyata benar kata Alois diluar sedang turun salju! Aku tinggal di negara tropis jadi tidak pernah melihat salju secara langsung. Aku mentap kemilau salju yang turun mengenai daun-daun yang membuatnya terlihat sangat indah.
“Rin, kau belum selesai?” ketukan Camellia membuatku tersadar dari lamunanku. Aku menyisir rambut panjangku dengan jari, kemudian keluar menemui Camellia.
“Aku sudah selesai, apa kau menunggu lama?” tanyaku.
“Tidak, aku hanya sedikit khawatir kalau-kalau kau akan pingsan lagi di dalam kamar mandi.” Camellia terkekeh. Aku cemberut lagi karena aku tidak akan mungkin pingsan semudah itu. Aku dan Camellia berjalan beriringan menuju ruang makan. Kami berjalan melewati lorong-lorong dengan banyak pintu kayu yang tertutup rapat. Mungkin itu adalah kamar-kamar lain seperti kamarku.
“Kau tidak mengeringkan rambutmu?” tanya Camellia memandangku. Aku menggeleng, membiarkan rambutku yang sedikit basah tetap tergerai. Kami akhirnya sampai di ruang makan. Para tetua dan rekan rombongan kami sudah menunggu di sana. Ada dua orang yang tidak aku kenal, mungkin ia adalah petinggi di kota ini. Ia memakai jubah putih sama sepertiku, namun terlihat lebih kusam.
Kami duduk dalam diam sampai makanan disajikan. Para pelayan dengan pakaian putih muncul mengirimkan piring-piring berisi makanan. Kali ini kami menikmati daging panggang dengan kentang. Makanan ini terlihat dan terasa seperti steak daging sapi. DAN INI SANGAT ENAK!!!
Aku sedikit canggung karena tidak ada orang yang membuka percakapan. Camellia juga hanya tersenyum kepadaku seperti mempersilahkan aku untuk memakan makananku. Alois juga tersenyum memandangku, aku balas tersenyum kepadanya. Hazel juga memandangku tapi dengan tatapan sinis. Aku mengalihkan pandanganku, kembali menikmati makanan enakku.
“Kau adalah Rin, kan?” seorang Tetua yang tidak kukenal menyebut namaku. Aku mengangguk tersenyum.
“Aku adalah adik dari Lupin.” katanya tersenyum.
“Anda adalah kakak dari nenek Smilax?” tanyaku.
“Tidak aku juga adik dari Smilax. Apa aku terlihat setua itu?” Katanya terkekeh, aku menggaruk rambutku yang masih setengah basah. Aku memandang dua tetua yang duduk bersebelahan. Wajah mereka terlihat sama.
“Mereka kembar, Rin.” ucap Hazel dengan tatapan sinis. Mungkin karena melihatku terus memandang kedua tetua itu.
“Kek, bagaimana kondisi lokasi penyerangann itu?” tanya Camellia.
“Tidak baik, mereka telah menghancurkan lebih empat puluh rumah dan banyak sektor penting.” kata kakek yang rupanya bernama Theo dan Matheo itu.
“Hari ini kita akan menuju ke sana. Theo akan memimpin kalian, Rin, Hazel, Alois, dan Camellia. Sedangkan aku akan memimpin tim sisanya. Kita akan berpencar untuk penanganan yang lebih efektif.” kata kakek Matheo.
“Apa ada lagi orang yang memiliki kemampuan medis selain Camellia?” kami semua menggeleng mendengar pertanyaan itu.
“Kalau begitu tim satu menuju posko bantuan untuk membantu mengobati korban terluka. Tim dua menuju pusat penyerangann untuk membantu penyelidikan. Nanti kami akan memerintahkan murid di sini untuk membantu.” ucap kakek Theo disertai anggukan dari kami semua. Aku melihat piring-piring kotor di depan kami.
“Kita berkumpul tiga puluh menit lagi di depan gedung. Sekarang kalian persiapkan diri, tidak perlu membawa apapun karena sudah kami siapkan.” itu adalah ucapan terakhir tetua sebelum mereka meninggalkan ruangan disusul siswa yang lain. Aku yang terakhir pergi meninggalkan ruangan. Camellia juga pergi lebih dulu, hendak ke toilet katanya.
“Hei.” seseorang menepuk punggungku. Aku sedikit terkejut dan reflek menghadap ke belakang.
“Kenapa kau tidak mengeringkan rambutmu?” tanyanya sedikit merunduk melihatku. Ya, karena tentu saja aku lebih pendek. Aku sedikit malu melihatnya memandangku seperti itu.
“Kau bisa demam jika membiarkan rambut panjangmu basah di musim dingin ini.” aku menggaruk rambutku yang tidak gatal.
“Kemarilah, aku akan mengeringkannya untukmu.” dia menarik tanganku menuju kamarku.
“Tunggu di sini ya, aku akan mengambil pengering.” dia tersenyum kemudian keluar dari kamarku. Pipiku memanas melihat ada yang memperhatikanku seperti ini. Alois benar-benar lelaki yang manis. Semenit kemudian dia kembali menemuiku.
“Sebenarnya aku tidak mengerti bagaimana menata rambut, Rin. Aku hanya akan mengeringkannya. Aku takut kau akan terkena flu dan pingsan lagi.” dia tertawa menyalakan pistol pengering rambut yang bentuknya lebih mirip disebut batang kayu tua. Aku merasakan kehangatan ketika alat itu mulai menyala. Disaat yang bersamaan, pipiku mulai memerah.
“Ada apa? Apa aku terlalu panas, Rin?” tanyanya meletakkan pengering itu.
“Tidak.” jawabku.
“Kau merasa tidak nyaman jika aku memperlakukanmu seperti ini, Rin?” tanyanya lagi. Aku menggeleng menghadapkan wajahku padanya. Rambut hitamku sudah kering `“Tidak apa-apa Alois, aku tidak keberatan.” kataku tersenyum. Ia memandangku dan tersenyum ragu-ragu.
“Aku takut kau merasa tidak nyaman jika bersamaku.” ungkapnya terlihat sedikit sedih. Aku menggeleng sekali lagi. Jujur sebenarnya aku tidak pernah diperlakukan seperti ini. Mungkin aku sedikit malu karena ia adalah lelaki manis yang menawan.
“Sedang apa kalian?” kami menoleh ke arah suara itu.
“Kuperhatikan kalian terlalu sering bersama hari ini.” katanya lagi. Hazel bersandar pada dinding sebelah pintuku.
“Aku membantu Rin mengeringkan rambutnya.” jawab Alois dengan senyuman.
“Ohh, manja sekali kau, mengeringkan rambut saja tidak bisa.” Hazel memandangku tajam dengan nada bicara yang sangat datar.
“Sudah, kita harus pergi ke depan sekarang.” tepat sebelum aku membuka mulutku Hazel mengajak kami keluar. Aku dan Alois mengangguk. Mengikutinya dari belakang.