Aku terbangun karena suara ketukan pintu kamarku. Aku berjalan perlahan menuju pintu. Kakiku menyentuh lantai dingin yang membuatku ingin kembali ke ranjangku. Aku membuka pintu kamarku sambil mengucek mataku. Sosok putih tinggi berdiri tepat di depanku. Aku membuka mataku lebih lebar setelah melihat bayangan putih itu.
“Hei? Jadi kau belum siap?” suara itu terdengar sangat jelas. Aku mengerjap. HAZEL YANG BERDIRI DI DEPANKU!!!
“Kakek menyuruh kita berangkat pagi buta dan kau masih seperti ini?” ucapnya datar. Aku terkejut karena memang aku benar-benar baru saja bangun, sedangkan ia sudah rapi dan terlihat tampan. Aku merasa mukaku memerah.
“Camellia sudah bersiap di depan, kau cepatlah bersiap.” dia menatap wajah terkejutku, kemudian pergi berlalu. Tanpa pikir panjang lagi aku segera menutup pintu dan segera mandi. Aku bersiap sekitar sepuluh menit kemudian berlari sekuat ku menuju gerbang depan. Aku terengah-engah saat sampai di luar. Kulihat para rombongan sudah selesai menaikkan barang bawaan. Dan benar saja aku memang yang terakhir datang.
Kami pergi menggunakan dua kereta kuda. Kereta pertama berisi barang bawaan dengan aku, Camellia, Hazel, dan salah satu tetua yang ikut. Kereta kedua mengangkut empat siswa lain. Kami berangkat sebelum matahari terbit. Tujuannya adalah agar dapat sampai tidak terlalu siang.
“Kau bangun pukul berapa, Rin?” tanya Camellia sedikit terkekeh.
“Entah, tadi Hazel yang membangunkanku.” ucapku sedikit malu. Camellia terdiam.
Kami terdiam cukup lama sampai muncul semburat jingga dari ufuk timur. Aku meluruskan kakiku karena pegal duduk dalam kereta yang bergoyang-goyang. Aku menutup mataku karena rasa kantuk segera merasuk dalam diriku setelah rasa pegal ku berkurang.
“Kau bisa tidur dalam kondisi seperti ini?” suara Camellia membuatku terbangun. Aku salah tingkah kemudian duduk dengan tegap.
“Kita harus siaga, karena musuh bisa menyerang kita kapan saja.” Hazel menatapku dengan mata coklatnya yang tajam. Aku makin salah tingkah karena merasa perbuatanku salah.
“Kau benar, Hazel. Saat ini kelompok sihir hitam sudah berani menyerang terang-terangan.” Tetua dengan jubah putih tergerai itu akhirnya turut bicara.
“Sebenarnya bagaimana kondisi kota Azalea, Kek?” tanya Camellia penasaran. Aku juga menatap tetua.
“Saya menerima laporan kalau mereka menyerang beberapa sektor penting. Seperti pusat keamanan, namun tidak berhasil tembus. Mereka juga melakukan penjarahan senjata.” terang tetua yang terlihat hanya beberapa tahun lebih muda dari kakek Lupin. Ia menggeleng-gelengkan kepala karena resah.
“Aku juga mendengar kalau mereka melakukan pengeboman di perumahan penduduk.” Hazel angkat bicara.
“Kau benar. Ada banyak korban terluka, namun tidak ditemukan korban tewas.” muka tetua itu mengeras. Mungkin ia semakin kesal karena kelakuan kelompok sihir hitam. Camellia juga terlihat kesal. Ia ingin segera sampai untuk membantu menyembuhkan orang yang terluka.
“Satu jam lagi menuju pintu masuk kota Azalea, Tuan.” Kusir yang dari pagi tidak terdengar suaranya akhirnya berbicara pada tetua kami. Kami mulai menegang ingin segera sampai di kota. Matahari sudah mulai tinggi. Kuperkirakan ini sekitar pukul delapan pagi.
“AAAGGHHKKK!!!!!!”
Suara teriakan terdengar dari kereta di belakang kami. Aku terkejut hingga langsung berdiri. Disaat yang bersamaan kereta kuda kami berhenti. Seketika aku terjengkang kebelakang. Tubuhku menimpa barang bawaan kami. Tetua sigap melompat kemudian berlari menuju kereta belakang, disusul Camellia, kemudian Hazel. Dan tidak ada yang membantuku. Aku berlari setelah bangkit dari jatuhku. Aku melihat para siswa mulai keluar dari kereta. Mereka membopong salah seorang diantara mereka yang memiliki jubah kuning. Ia didudukan di samping jalan yang kebetulan ada sebuah pohon besar. Camellia segera mendekat dan menyentuh bahunya. Jubah hijaunya mulai berkibar dan di tangannya muncul sinar lembut.
“Ada apa?” Tanyaku dengan napas terengah-engah.
“Sabotase.” Jawab Hazel singkat sambil mengamati kereta. Hah? Sabotase bagaimana?
“Hazel, kau menemukan sesuatu?” tanya tetua. Hazel masih diam mengamati kereta yang ternyata rodanya sudah lepas sebelah. Pak kusir sudah melepaskan ikatan dari kudanya untuk membiarkan kudanya istirahat.
Hazel melompat ke atas kereta yang tidak stabil itu. Sekitar lima menit Hazel melompat keluar dengan jubah putihnya. Ia membawa segenggam abu ditangannya. Ia menunjukkannya pada tetua.
“Apa ini Hazel?” tanya tetua.
“Kurasa ini sisa dari penyerangann mereka.” ungkapnya. Aku mengamati Camellia yang masih mengobati siswa itu.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku pada salah satu siswa dengan jubah hitam.
“Tadi kami hanya mengobrol biasa, kemudian asap mulai keluar dari bagian roda lalu kami sedikit terlempar.” ucapnya masih sedikit panik.
“Tapi dari depan tadi kami tidak melihat asap. Bagaimana mungkin asap hilang secepat itu?” tanyaku penasaran. Ia hanya mengangkat bahu.
“Lantas bagaimana ia bisa terluka?” tanyaku lagi.
“Ia digigit oleh sesuatu.” kali ini Hazel yang menjawab. Kini ia berdiri di sebelahku.
“Bagaimana kamu tau?”
“Luka yang ditangani Camellia bukan luka biasa, Camellia menemukan luka gigitan di bagian bahu. Ia juga harus mengeluarkan racun yang mulai menyebar.” terangnnya.
“Bukankah kita harus meminta bantuan? Kota Azalea hanya satu jam lagi dari sini” tanyaku.
“Rin benar. Kalian pergi bersamaku menuju Azalea dengan kereta yang kami tumpangi tadi. Kita akan menunggu Camellia mengobati lukanya sebentar lagi, kemudian kita akan membawanya ke rumah perawatan di kota.” tetua agkat bicara. Ia menunjuk kelompok yang mengalami serangan untuk pergi terlebih dahulu.
“Kami akan menyusul. Kami bisa berlari kesana.” Hazel menyela.
“Tidak Hazel. Kita akan menunggu bantuan. Tenaga Camellia sudah terkuras untuk mengobati anak itu.” kataku.
“Kalau begitu biarkan mereka menaiki kereta bersama kakek. Camellia bisa mengobatinya selama di kereta. Kita bisa berlari di belakangnya untuk berjaga-jaga.” jelas Hazel sekali lagi. Bagaimana kami bisa berlari sejauh itu? Bukankah lebih baik menunggu bantuan?
“Lantas bagaimana dengan kereta kuda kami?” tanya siswa berjubah hitam yang ternyata bernama Alois.
“Tinggalkan saja di sini, ikatkan kuda pada kereta kami. Kusir biarlah duduk di depan juga. Karena kereta kami ada banyak barang bawaan, kita hanya bisa mengangkut maksimal lima orang. Itu artinya tiga orang lainnya akan berlari.” Hazel menerangkan rencananya.
“Tidak usah khawatir. Saat pulang nanti aku akan mengganti keretanya.” tambahnya. Sebenarnya rencana Hazel bagus juga, itu akan menghemat waktu. Tapi bagaimana kami menentukan siapa yang akan berlari?
“Baiklah, kita akan pakai rencana Hazel, pak Kusir tolong ikatkan kudanya.” Tetua menyetujui ide Hazel. Sebenarnya aku tidak ingin berlari. Bagaimana mungkin? Kota Azalea masih satu jam dari sini. Saat disekolah saja aku sudah hampir pingsan saat berlari mengelilingi lapangan tiga kali. Sudahlah, tetua juga sudah menyetujuinya.
Aku mendatangi Camellia yang sepertinya mulai kelelahan. Peluh mengucur di wajah ayunya. Sinar di tangannya sudah mulai pudar. Aku duduk di sampingnya dan kemudian menyentuh pundaknya. Tanganku mulai bersinar. Kami pernah melakukannya, dan ini mungkin akan berhasil lagi. Namun Camellia sepertinya sudah selesai memberi pertolongan pertama bagi siswa dengan kemampuan panahan itu. Jadi energiku hanya untuk memulihkan kondisi Camellia agar menjadi sedikit lebih baik.
“Kau sudah selesai?” Tanya Hazel pada Camellia. Camellia mengangguk melepaskan tangannya. Aku juga melepas tanganku.
“Kau baik-baik saja?” Tanyaku. Ia mengangguk lagi sambil mengelap keringat di dahinya. Hazel kemudian menuntun siswa itu untuk naik ke atas kereta.
“Kau juga naiklah.” ia bicara pada Camellia.
“Tidak, aku bisa berlari juga bersama kalian.” Camellia menolak untuk naik ke kereta.
“Camellia naiklah. Kamu memiliki kemampuan yang penting bagi kami. Energimu harus dipulihkan lagi.” kataku khawatir.
“Rin, aku baik-baik saja. Aku akan berlari saja.” kata Camellia lagi.
“Camellia, energimu belum pulih. Naiklah, siapa tau dia membutuhkanmu lagi nanti.” tetua akhirnya angkat bicara, dan Camellia tidak mungkin menolak itu. Hanya ada lima orang yang akan naik. Camellia, tetua, dan anak yang terluka itu sudah naik ke kereta. Kurang dua orang lagi. Gadis dengan jubah biru muda yang diam sejak kami berangkat kini naik pula ke kereta. Aku menyusulnya dengan melangkahkan kakiku menuju kereta,
“Hei kau mau kemana?” Hazel mendadak menarik jubah yang ada di leherku dan membuatku sedikit tercekik.
“Kurang satu orang lagi, aku akan naik.” kataku sambil membenarkan jubahku.
“Kau akan berlari bersama kami.” katanya.
“HAH?”
“Kenapa? Ini untuk melihat sejauh mana kemampuanmu.” katanya lagi.
“Hei kau tidak lihat aku seorang wanita? Haruskah aku berlari sejauh ini?” aku sedikit merajuk tidak terima. Aku melihat Camellia terkekeh diatas sana.
“Apa aku terlihat peduli? Ini bukan saat bercanda, Rin.” ungkapnya dingin. Memang siapa yang menganggap ini candaan? Aku serius kalau aku tidak ingin berlari sejauh itu. Tapi Hazel memang nampak tidak peduli. Ia memberi isyarat satu orang lagi dengan jubah hitam. Ada dua orang dengan jubah hitam dalam rombongan kami, itu adalah penanda mereka memiliki kemampuan segel gaib. Ada dua orang dengan jubah putih yaitu aku dan Hazel. Satu orang dengan jubah hijau yaitu Camellia, satu jubah kuning menandakan ia memiliki kemampuan panahan, dan satu gadis dengan jubah biru muda dengan kemampuan telekinesis. Satu lagi adalah tetua kami yang memakai jubah putih yang tidak terlalu cerah seperti milikku dan Hazel.
“Jangan khawatir, kalau kamu lelah bilang saja. Aku akan menggantikanmu berlari.” kata seorang dengan jubah hitam padaku. Ia tersenyum padaku dengan sangat indah. Aku penasaran kenapa orang-orang di negeri ini semua menawan? Aku akhirnya pasrah dan memutuskan untuk bersiap berlari dengan Hazel dan Alois.
Sekitar lima menit kemudian, kami sudah mulai berlari. Tubuhku terasa sangat ringan, padahal biasanya aku tidak bisa lari terlalu jauh. Aku tidak merasa lelah dengan cepat. Jubah kami berkibar indah namun terasa sangat ringan.
“Hazel, boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku memecah keheningan. Hazel hanya menatapku sebentar.
“Bukankah seharusnya kita seharusnya dikirim hanya satu orang tiap kemampuan? Kenapa ada dua orang dengan kemampuan segel gaib?”
“Mereka sebenarnya memiliki kemampuan yang sedikit mirip dengan kelompok jahat itu, Rin. Mereka juga memiliki sensor yang sama seperti yang pernah kamu lakukan di lapangan beberapa hari lalu.” Terangnya. Aku mengangguk-angguk paham.
“Lagi pula terserah kakek mau memerintah berapa orang. Kalau satu per-kemampuan kenapa aku harus ditugaskan bersama orang lemah sepertimu?” dia melirikku seperti menyindirku. Aku cemberut kesal.
Sekitar sepuluh menit kemudian kakiku mulai merasa pegal. Aku sudah lelah berlari.
“Sampai kapan kita harus berlari?” tanyaku dengan nafas yang terengah-engah.
“Sekitar dua puluh menit lagi mungkin.” kini Alois yang angkat bicara.
“Aku sudah tidak kuat.” kataku kemudian langkahku terhenti. Alois kemudian ikut berhenti dan menghampiriku.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya sedikit khawatir. Tidak ada peluh sedikit pun di wajahnya. Kereta di depan kami ikut berhenti, namun jaraknya sudah jauh. Kakiku sudah sakit sekali. Aku sudah berlari sekitar tiga puluh menit dan kakiku sudah mencapai batasnya. Aku merasa akan jatuh terduduk, namun Alois sempat menahan bahuku agar aku tidak jatuh. Hazel berlari ke arahku.
“Sudah kuduga kau memang lemah. Berlari sebentar saja sudah seperti ini?” yang kudapat bukan ucapan kekhawatiran tapi justru ungkapan tegas bahwa aku adalah orang yang lemah. Namun aku sudah tidak mendengarnya, rasa sakit di kakiku mulai menjalar ke tubuhku.
Kemudian aku pingsan. Aku sempat mendengar Alois memanggil namaku, namun hanya sampai disitu. Aku tidak tahu lagi.