“Racunnya sudah keluar, dia akan baik-baik saja.” Samar-samar aku mendengar suara dari luar sana. Aku membuka mataku dan menyadari bahwa aku terbangun di kamar asrama kakek Lupin –tempatku menginap. Aku mencoba duduk perlahan, namun kenyerian luar biasa merambat di kepalaku. Aku kembali mengingat kejadian yang rasanya baru saja terjadi. Lelaki itu, apa yang terjadi padanya?
“Rupanya kau sudah sadar.” Hazel memasuki kamarku dengan pakaian putih selengan dengan dua garis emas di ujungnya. Dia tidak mengaktifkan jubah dan pedangnya seperti biasa aku bertemu dengannya.
“Kau sendirian?” Kutanya setelah dia mendekati ranjangku. Karena biasanya kedatangannya akan bersama Camellia atau kakek Lupin. Dia mengangguk datar.
“Camellia?”
“Dia sedang memaksa kakek Lupin.” Jawabnya sembari mengambil kursi untuk duduk di sebelah ranjangku.
“Memaksa untuk apa?” Tanyaku bingung.
“Kami menemukan ada racun berbahaya dalam bom yang diledakkan siswa kemarin. Dan yang terinfeksi virusnya hanya kau.” Jelasnya.
“Camellia sebelumnya memaksa ingin mengobatimu, namun ternyata kemampuannya belum setingkat dengan racun yang ada di tubuhmu. Dia memaksa kakek mengajarinya lebih lanjut mengenai teknik penyembuhan.” Tambahnya. Aku mengangguk-angguk. Beberapa hari aku mengenal Camellia ia memang selalu seperti itu. Ia akan merasa bersalah apabila tidak bisa menolong orang lain. Padahal itu bukan kesalahannya, dan ia akan belajar dan berusaha lebih keras untuk dapat menyelamatkan orang-orang.
“Lalu bagaimana racunnya?” Tanyaku.
“Tadi tetua bagian medis yang menanganimu. Butuh waktu yang cukup lama hingga semua racun itu dapat dibersihkan.” Terang Hazel. Ini pertama kalinya Hazel berbicara banyak padaku sejak pertemuan pertama kami. Sesungguhnya Hazel adalah pemuda yang baik dan manis, hanya saja sikap dinginnya menutupi itu semua. Eh? Apa yang kupikirkan?
“Camellia tadi sudah ke sini, namun tetua tidak mengizinkannya masuk. Jadi dia hanya menitip salam padaku.” Aku mengangguk. Tubuhku masih terasa sangat lemah.
“Apa yang terjadi dengan siswa kakek itu, Hazel?” Tanyaku setelah kami diam cukup lama.
“Dia melarikan diri. Aku sempat melawannya, namun kemampuan segel gaibnya cukup tinggi dan juga aku juga terpapar sedikit asap beracun itu.” Hazel berkata datar. Aku dapat melihat kemarahan dari matanya. Hazel sepertinya kesal karena kehilangan satu pengacau di sekolah yang akan ia warisi kelak.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku setelah mendengar bahwa Hazel terkena asap beracun itu. Dia hanya mengangguk sekali.
“Bagaimana kau tau kalau dia menyembunyikan sesuatu Rin?” Hazel serius memandangku. Aku menjelaskan bahwa aku mencium aroma aneh dari pemuda itu. Aku juga bercerita pada Hazel bahwa orang itu dikelilingi aura hitam yang sangat pekat. Hazel hanya datar mendengar ceritaku.
Tak lama setelah itu, salah satu anggota tim medis datang untuk memeriksa kondisiku dan membawakan aku semangkuk sup sayuran yang katanya akan membuat tubuhku kembali bugar.
“Istirahatlah, jika kondisimu sudah baik pergilah ke ruang latihan. Kemampuan pedangmu harus dilatih.” Hazel bangkit dari kursinya dan mengucapkan salam pada tim medis yang ada di kamarku. Dia berjalan meninggalkan kamarku. Aku menatap Hazel dari belakang sampai dia benar-benar keluar dari kamarku. Harus kuakui jika di sekolah asalku ada siswa seperti dia, mungkin saja dia akan menjadi bahan gunjingan bagi seluruh sekolah. Bagaimana tidak? Tubuh proporsional, rambut coklat yang nampak indah, mata coklat yang tak kalah indahnya, serta wajah tampan yang tak bisa kupungkiri lagi. Andai saja dia sering tersenyum, itu akan menjadi hal yang sangat luar biasa. Bagaimana mungkin ada orang yang sesempurna dia? Oops! Sejak kapan aku jadi mengamati dia seperti ini?
Aku segera menyantap sup setelah anggota tim medis itu meninggalkan kamarku. Makanan itu memang mengembalikan staminaku, namun tidak sepenuhnya. Aku memutuskan untuk tidur. Mama kira-kira sedang apa ya?
Aku terbangun ketika matahari sudah berada di kaki langit. Aku pergi ke kamar mandi karena aku belum mandi seharian ini. Kurasa mandi dapat menyegarkan kembali tubuhku yang sepertinya terlalu banyak tidur. Mungkin sekitar 15 menit aku berada di kamar mandi membersihkan diri. Dan ketika aku keluar dari kamar mandi, aku mendapati Camellia duduk membelakangiku.
“Hei!” Sapaku menepuk bahunya. Dia tersenyum ramah.
“Bagaimana kondisimu?” Camellia bertanya sambil memegang pundak dan dahiku.
“Aku sudah bugar. Seperti yang kau lihat hahaha.” Jawabku terkekeh.
“Maaf, aku baru bisa menjengukmu sekarang. Tadi aku belajar teknik pengeluaran racun dari tetua tim medis.” Camellia menunduk merasa bersalah.
“Tidak apa-apa. tadi Hazel sudah cerita.” Jawabku tersenyum. Kami duduk di ranjang seperti sepasang sahabat yang sudah lama tidak bertemu.
“Tadi Hazel kemari?” Camellia terkejut.
“Ya, cukup lama dia ada di sini.” Jawabku sedikit bingung dengan keterkejutan Camellia
“Hazel memang menungguimu setelah selesai berurusan dengan pemuda yang melarikan diri itu.” Camellia menarik napas panjang.
“Aku tidak menyangka dia menunggumu sampai sadar dan menemuimu. Padahal kamu pingsan lama sekali.” Tambahnya. Pipiku memanas, aku bermain opini bahwa Hazel tengah mengkhawatirkan aku. Namun opiniku berakhir ketika kutatap wajah Camellia yang kelihatan kurang cahayanya.
“Kamu ditunggu Hazel di ruang latihan.” Ucapnya seraya berdiri dan meninggalkan kamarku. Ada apa dengan Camellia ya? apa jangan-jangan dia menyukai Hazel? Lagi-lagi aku segera menghilangkan opiniku sendiri dan berjalan menuju ruang latihan.
Aku memasuki pintu ruang latihan mengendap-endap. Aku merencanakan menyerang Hazel saat dia tidak sedang siaga. Aku ingin balas dendam untuk latihan pertamaku waktu itu. Aku diam-diam mengaktifkan jubah dan pedang perakku. Aku mengamati sekeliling mencari keberadaan Hazel. Dan itu dia! Aku menemukannya duduk tengah memoles pedangnya. Tanpa ba-bi-bu lagi aku segera menghampirinya. Dan dengan kekuatan penuh aku mencoba menyerangnya dari belakang.
Wuusshh~
Angin dan pasir berhempus ketika serangan pedangku hanya mengenai ruang kosong.
“Bukankah sudah kubilang, menyerang dari belakang apalagi ketika musuh sedang tidak siaga itu tindakan pengecut?” Aku mendapati Hazel keluar dari kepulan pasir dan angin dari hempasan pedangku. Ternyata dia hanya mundur selangkah untuk menghindari seranganku.
“Kau licik juga ternyata.” Hazel tersenyum sinis. Hazel bertanya padaku apakah aku sudah siap untuk diajari teknik bertarung selanjutnya. Dan tentu saja jawabannya, Ya!
Sekitar 10 menit aku berlatih bertarung bersamanya, tubuhku sudah terasa penat. Hazel benar-benar tidak memberiku kelonggaran sedikitpun. Apalagi untuk latihan ini Hazel tidak mengizinkanku lari untuk menghindari serangannya. Aku hanya boleh menggunakan pedang untuk menangkis serangannya.
“Saat kau benar-benar dalam pertarungan nanti, lari hanya akan mengurangi energimu. Kusarankan kuasailah teknik pedangmu dengan baik. Kalau kau bisa mengatur kecepatan dan kekuatan pedangmu, kau akan sulit dikalahkan.” Begitu alasannya.
Hazel memang tidak memberi ruang bagiku untuk beristirahat. Sepertinya dia ingin membuatku pingsan sekali lagi. Perlu kuakui teknik pedang Hazel memang sangat mumpuni. Tak heran jika kakek Lupin mempercayakan latihanku padanya. Kelak dia akan menjadi pewaris tempat ini, jadi dia benar-benar berlatih sangat keras hingga menjadi seperti ini.
“Wah, kemampuan Rin meningkat pesat ya!” Camellia dari belakang kami membawa tiga gelas air. Aku dan Hazel segera menepi untuk istirahat bersama Camellia. Camellia menyentuh tanganku sebentar untuk menyembuhkan memar di bagian sikuku. Sedari tadi saat latihan, Hazel dengan mudahnya membuat pertahananku goyah hingga aku terpelanting kesana-kesini. Camellia juga memegang tangan Hazel untuk memulihkan energinya.
“Seharusnya kalian belajar ilmu penyembuhan agar aku tidak repot menyembuhkan kalian.” Camellia menarik napas panjang.
“Aku kan sudah menguasai teknik itu.” Hazel menyeruput air yang dibawa Camellia tadi. Aku menoleh padanya menatap tidak mengerti, dia sudah menguasainya?
“Hazel memang bisa melakukannya, tapi hanya menyembuhkan dirinya sendiri. Dan itu memerlukan waktu yang sangat lama dan dalam kondisi terdesak saja.” Camellia menarik napas panjang sekali lagi. Aku mengangguk-angguk menatap Hazel yang menanggapinya acuh tak acuh. Yang penting aku bisa kan? Begitulah maksud dari sikapnya.
Aku menutup hari dengan membersihkan diri. Hazel berkata setelah dia selesai mengajariku teknik petarung, dia akan mengajarkan sedikit mengenai teknik perlawanan dan pertahanan. Aku tidak sabar menunggu hal itu.
Brakkk…
Pintu besar ruang pelatihan itu rasanya seperti terdobrak didorong angin yang sangat kencang. Seorang pria tua memasuki ruang pelatihan dengan jubah hitam yang berkibar-kibar menampakkan wajah cemas. Dia menghampiri kakek Lupin yang tengah mengajari Camellia cara mengeluarkan racun berbahaya.
“Gawat!” lelaki yang rupanya adalah salah satu tetua (guru besar) teknik sihir itu mendekati kakek Lupin.
“Apa yang gawat?” Kakek Lupin berdiri dengan sikap tenangnya. Aku, Camellia, dan Hazel yang sedari tadi memperhatikan kakek turut berdiri.
“Kelompok sihir hitam benar-benar sudah beraksi,Kak!” Tutur lelaki itu penuh dengan kecemasan.
“Apa maksudmu?” Kakek Lupin mulai tidak tenang setelah mendengar kelompok sihir hitam disebut. Begitu juga kami.
“Mereka melakukan penyerangann besar-besaran di kota Azalea.” Terang kakek itu. Kakek Lupin mengangguk paham.
“Kita adakan rapat tetua. Kumpulkan mereka di ruang rapat segera. Camellia, kita lanjutkan pelajaranmu lain kali. Hazel ikut kakek!” kakek Lupin mengakhiri ucapannya dengan berjalan cepat. Dari perawakannya mungkin usianya sudah lebih dari 80 tahun, namun dia adalah kakek yang benar-benar kuat hingga dia tak terlihat seperti kakek-kakek pada umumnya.
Aku dan Camellia yang merasa sangat cemas memutuskan pergi ke kamar. Kami yakin Hazel atau kakek Lupin akan memberitahu kejelasannya pada kami nanti. Aku memikirkan bagaimana maksud dari penyerangann ini. Pikiranku kembali ke waktu kemarin. Di mana penyerangann itu terjadi di sekolah dan kepadaku. penyerangann kecil seperti itu saja dapat menyebabkan kondisi yang sangat tidak karuan. Bagaimana dengan serangan besar-besaran?
Aku dan Camellia duduk berdampingan di kamarku, berharap cemas segera mendapat titik terang dari kasus penyerangann ini. Camellia bercerita tentang seberapa suramnya kota bekas serangan sihir hitam dulu. Sihir hitam sering kali ditulis dalam buku-buku sejarah atau bahkan diukir menjadi relief-relief di berbagai tempat. Itu akan mengingatkan penduduk mengenai bahayanya sihir hitam.
Selang 20 menit Hazel masuk ke kamarku, “Kalian diminta menuju ruang rapat segera.” Dia langsung meninggalkan kamarku tanpa peduli ekspresi bingung dan penasaran kami. Wajahnya seperti terpatri, kaku seperti patung batu. Aku dan Camellia segera menuju ruang rapat. Suasana tegang langsung terasa ketika kami memasuki ruangan berbentuk persegi panjang yang sangat luas dengan ratusan bangku mengelilingi meja persegi panjang yang lebar pula. Sekalipun ada ratusan kursi yang tersedia di sini, hanya ada 11 kursi yang terisi.
“Rin, Camellia, duduklah.” Kakek Lupin berkata datar. Aku dan Camellia tanpa menunggu perintah selanjutnya langsung duduk di sebelah tetua yang lain. Hazel duduk tepat di sebelah kanan kakek Lupin. Ia terlihat tegang dan terlihat semakin dingin.
“Aku telah menerima banyak laporan penyerangann di kota Azalea. Karena ada Rin yang baru saja ada di sini, aku akan menjelaskan apa saja yang ada di Azalea. Kota itu adalah kota pusat bagi para petarung. Yang membuat geram adalah, bagaimana bisa mereka berhasil melakukan penyerangann pada kota yang memiliki para petarung hebat?” kakek menarik napas panjang. Aku juga memikirkan hal yang sama. Jika kota itu merupakan kota petarung, bagaimana mungkin kelompok sihir hitam dengan mudah melakukan penyerangann?
“Aku telah mengumpulkan laporan bahwa kota itu kini memang sedang rentan pada penyerangann, Kak. Para tetua dan petarung hebat banyak yang sedang pergi keluar kota. Mereka hanya dijaga oleh siswa tingkat tiga.” salah seorang tetua menuturkan hasil laporannya.
“Kita harus mengirim orang untuk bantuan memperbaiki kota Azalea. Kita juga harus melakukan pembersihan besar-besaran. Mereka harus ditumpas habis.” ujar kakek Lupin.
“Aku akan pergi, Kek.” Ucap Hazel.
“Ya, sebentar lagi kita akan menyusun divisi untuk pergi ke Azalea.” kakek Lupin kemudian menunjuk tetua untuk mengirim beberapa siswa terbaiknya. Akhirnya kakek memutuskan untuk mengirim sepuluh orang termasuk aku, Camellia, dan Hazel. Mereka adalah siswa tingkat empat dari berbagai kemampuan dan satu tetua dengan teknik bertarung.
“Perintahkan desa-desa lain untuk memperkuat penjagaan. Kita tidak bisa menjamin mereka tidak akan melakukan penyerangann lagi pada kita.” kata kakek Lupin diakhir pertemuan. Semua tetua pergi dari ruangan luas itu meninggalkan kami bertiga. Kakek Lupin juga pergi mengurus pemberitahuan darurat untuk desa lain.
“Kenapa aku harus pergi juga?” ucapku. Jujur sebenarnya aku sedikit takut dengan kelompok bengis itu.
“Kakek dan para tetua mendengar cerita bahwa kau yang menemukan penyusup yang melarikan diri itu. Jadi kakek merasa kemampuanmu sangat penting untuk misi ini.” ungkap Hazel. Aku diam saja karena merasa apa yang aku lakukan kemarin hanya sebuah kebetulan.
“Kapan kita akan pergi?” tanya Camellia.
“Besok pagi.” jawab Hazel singkat.
“Apa kota Azalea jauh dari sini?” tanyaku.
“Tidak, Rin. Hanya sekitar enam jam dari sini.” Jawab Camellia.
Kami akhirnya keluar dari ruang pertemuan itu untuk istirahat karena besok kami harus pergi ke kota Azalea pagi-pagi sekali. Aku pergi ke kamarku untuk mengemas pakaianku. Aku memasukkan satu pakaian pada ransel putih dengan garis emas di bagian tengah. Tas ini kecil, namun perlengkapanku masuk dengan rapi dan masih ada banyak ruang di dalamnya. Camellia ada di kamar sebelahku, mungkin juga bersiap sama sepertiku. Aku takut atas apa yang akan aku hadapi besok. Aku masih trauma menghadapi srigala salju yang membuatku hampir mati. Namun harus bagaimana lagi? Aku harus bisa membantu negeri ini.
Aku berbaring di kasurku. Merasakan kehangatan selimut berwarna hijau muda itu menembus kulitku. Disaat seperti ini aku memikirkan Mama dan Papa di duniaku. Bagaimana ya kondisi mereka? Aku sudah lama berada di sini. Aku yakin mereka mencemaskanku. Bagaimana caraku bisa kembali pulang? Bagaimana kalau aku tidak bisa kembali?