Aku terbangun karena merasakan getaran di kasurku –seperti gempa bumi. Kulihat sekeliling memastikan apa yang membuat tempat tidurku bergoncang. Namun tidak ada apa-apa. Aku memutuskan berganti pakaian dan segera keluar. Tubuhku sudah bugar. Semalam Camellia menggunakan teknik penyembuhannya padaku.
Aku berjalan keluar kamar menuju sekolah kakek Lupin. Biasanya akan banyak siswa yang berkumpul di depan ruang berlatih karena sekolah kakek ini menggunakan sistem asrama, jadi siswa tidak pulang-pergi menuju ke sekolah –sama seperti di sekolah pada umumnya. Kudapati siswa-siswa di sana sudah berkerumun dengan wajah pucat pasi. Aku semakin bingung, ada apa?
Aku berkeliling mencari Camellia, karena sejauh ini aku hanya mengenal Camellia, Hazel, dan kakek Lupin. Aku menatap wajah-wajah gelisah para siswa. Aku menatap jauh di pintu masuk ruang latihan terdapat asap yang mengepul keluar dari pintu yang megah itu. Aku tidak menemukan Camellia di sepanjang jalan menuju ruang latihan, sebagai gantinya aku menemukan Hazel.
“Hazel, ada apa?” Aku menepuk bahunya. Dia memandang ke arahku sekilas namun tidak menjawab pertanyaanku. Ku amati dagu Hazel mengeras, dia seperti marah akan suatu hal. Aku semakin penasaran.
“Hei Hazel! Kau tidak mendengarku ya? Ada apa sebenarnya?” Aku bertanya sekali lagi. Berharap Hazel akan menjawabnya kali ini.
“Penyusup.” Jawabnya singkat masih memperhatikan pintu yang kini sudah berkurang kepulan asapnya. Aku terkejut mendengar jawaban Hazel. Kemarin aku begitu mengagumi sistem keamanan tempat ini, dan kini aku mendengar kabar bahwa ada penyusup?
“Aku tau kamu mencari Camellia. Dia ada di ruang penyembuhan.” Hazel kini menatapku. Dia sudah tak lagi kaku seperti tadi. Aku mengangguk dan berjalan pergi menuju ruang penyembuhan. Tunggu-tunggu, Camellia ada di ruang penyembuhan? Tadi terdapat asap keluar dari ruang pelatihan, dan kini dia ada di ruang penyembuhan? Apa Camellia terluka? Aku mempercepat langkahku menuju ruang penyembuhan.
“Camellia!” Aku setengah berteriak ketika memasuki ruang penyembuhan. Kudapati tubuh Camellia yang berpendar di tengah ruangan. Aku sedikit lega Karena dia tidak terluka. Namun mataku dengan cepat menyapu sekeliling ruangan. Ada sekiranya lebih dari 20 siswa yang tergeletak di ranjang-ranjang ruang penyembuhan. Aku jadi merasa bersalah karena berteriak tadi.
Aku berjalan mendekati Camellia di tengah ruangan. Kurasa dia tengah membantu pihak medis mengobati siswa-siswi yang terluka. Aku baru menyadari bahwa pihak medis di sini sangat sedikit. Mereka menggunakan jubah hijau serupa dengan Camellia namun dengan warna yang lebih tua.
“Apa yang terjadi Camellia?” Tanyaku.
“Penyusup.” Jawabnya singkat.
“Ah! Kau sama saja dengan Hazel.” Aku menepuk dahiku mengeluh. Jawabannya sama singkatnya dengan Hazel. Aku tak kunjung menemukan titik terang mengenai penyusup ini.
“Nanti saja aku cerita. Bisakah kamu membantuku?” Camellia memandangku. Aku mengangguk. Sinar di tubuhnya sudah menghilang. Dia mendekati satu per satu siswa yang terluka dengan senyum manisnya. Dia memegang tangan atau bahu pasien itu. Cukup sekitar 5 menit, siswa terluka itu sudah pulih. Namun Camellia mengingatkan untuk jangan terlalu aktif bergerak, katanya lukanya belum benar-benar pulih. Camellia hanya menyembuhkan luka yang nampak saja.
“Kenapa bisa begitu Camellia?” Tanyaku mendengar pernyataan Camellia.
“Tenagaku tidak cukup.” Ucapnya tersenyum penuh penyesalan. Dia seperti merasa gagal membantu pihak medis, padahal bantuannya sangat penting untuk penyembuhan siswa yang terluka itu.
“Hmm, seandainya aku bisa menyumbangkan energiku. Kuharap kau bisa membuat mereka sembuh total.” Ucapku simpati.
“Ide yang bagus!” Camellia memandangku tersenyum sumringah.
“Kemarilah.” Camellia menarik tanganku menuju bahunya. Aku memegang bahu Camellia meski sebenarnya tidak mengerti apa maksudnya.
“Apa yang harus kulakukan?” Tanyaku bingung.
“Konsentrasi.” Jawabnya singkat. Aku mengangguk menuruti perintahnya. Camellia memegang tangan pasien. Tangan Camellia bercahaya. Aku mencoba menutup mataku berkonsentrasi. Sedetik kemudian, aliran hangat terasa mengaliri tubuh dan berakhir di tanganku. Tanganku mengeluarkan cahaya berwarna putih dan mengenai bahu Camellia. Aku terkejut dan reflek menarik tanganku dari Bahu Camellia.
“Ada apa?” Tanyaku ketakutan. Cahaya itu menghilang setelah aku melepas tanganku dari Camellia.
“Itu tandanya transfer energinya berhasil, Rin.” Kata Camellia berkata sumringah. Aku juga sumringah, ini artinya kami bisa menyembuhkan semuanya. Aku merasa sangat senang bisa membantu Camellia menyembuhkan orang-orang. Setidaknya dengan begitu aku dapat mengurangi rasa bersalahku karena membuat keributan tadi.
Kami menghampiri satu per satu pasien untuk di sembuhkan. Camellia berkata dia bisa menyembuhkannya sampai luka dalam –tidak hanya bagian luarnya saja. Pasien yang sudah merasa pulih akhirnya memutuskan kembali ke kamar masing-masing. Proses penyembuhan ini berlangsung kurang lebih 1 jam.
Camellia menghapus peluh di dahinya. Wajah anggunnya terlihat sangat senang setelah melihat ruang penyembuhan sepi. Petugas medis terlihat merapikan setumpuk perban penuh darah dengan hati-hati.
“Sebenarnya ada apa?” Tanyaku pada Camellia terengah-engah karena merasa tenagaku cukup terkuras.
“Tadi terjadi ledakan besar di ruang latihan. Menurut tetua, kelompok sihir hitam tengah memulai penyerangann secara terang-terangan.” Camellia meneguk air yang tadi disediakan tim medis. Ketika Camellia mengatakan mengenai serangan sihir hitam, pikiranku meloncat di hari kemarin ketika kakek Lupin menceritakan mengenai kematian Queen Anne yang meninggal karena bertarung dengan komplotan sihir hitam.
“Kenapa komplotan sihir hitam menyerang kemari?” Tanyaku.
“Tempat ini adalah sekolah para petarung dan tim medis yang hebat, sekalipun jumlahnya hanya sedikit. Tempat ini telah dipercaya sebagai tempat paling aman dari serangan sihir hitam. Namun, ini pertama kalinya setelah sekian lama mereka gagal menyerang tempat ini.” Aku mengangguk-angguk mendengarkan cerita Camellia.
“Sayangnya kali ini mereka berhasil. Namun mereka gagal karena sekolah ini memiliki petarung terbaik dan tetua-tetua dengan kemampuan yang sangat mumpuni. Aku penasaran bagaimana mereka bisa memasukkan bom di dalam ruang pelatihan.” Camellia memandang jauh. Berpikir bagaimana sistem keamanan terbaik ini dapat diretas.
“Mudah Camellia.” Kataku. Seketika otakku berpikir seperti detektif-detektif seperti film yang sering kutonton. Camellia memandangku bingung.
“Kurasa sihir hitam memiliki antek-antek yang berkeliaran di dalam sini. Dan aku percaya serpihan Gladiolus mereka telah terdaftar, jadi sistem keamanan tidak akan curiga.” Jelasku. Camellia menerawang dan mengangguk.
“Dia benar.” Hazel memasuki ruang perawatan dengan jubah putih yang berkibar. Dia terlihat sangat mengagumkan dengan jubah putih itu. Namun segera kuhapus pikiranku ini.
“Apa maksudmu?” Camellia bertanya. Hazel duduk di depan kami.
“Penyusup-penyusup ini telah terdaftar dalam sekolah ini. Kakek Lupin akan melakukan pemeriksaan ulang besar-besaran siang nanti.” Hazel menjelaskan. Aku dan Camellia saling beradu pandang. Kurasa ini adalah keputusan yang tepat.
“Perasaanku berkata akan ada orang-orang yang melarikan diri atau bahkan melakukan serangan lagi. Kalian harus bersiap atas kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.” Hazel berdiri hendak keluar dari ruangan. Sepertinya ia hanya ingin memeriksa kondisi siswa yang terluka.
“Hazel! Bagaimana dengan latihanku?” Aku memberanikan diri bertanya. Sebenarnya aku masih sangat kesal dengannya karena perbuatannya kemarin. Namun aku harus terus berlatih, apalagi melihat kondisi seperti ini aku tidak ingin diam dan hanya menonton seperti ketika aku di serang serigala salju malam itu.
“Kita lanjutkan petang ini setelah pemeriksaan. Temui aku di ruang latihan yang kemarin.” Hazel meninggalkan kami. Kurasa dia akan membantu kakek menyiapkan Pemeriksaan ulang sebentar lagi.
Matahari telah tepat berada di atas kepala. Camellia mengajakku ke lapangan di tengah sekolah ini. Semua siswa berbaris rapi dengan jubah-jubah kebanggan mereka. Aku ikut berbaris namun aku berada di samping kakek Lupin dan para tetua sekolah. Awalnya aku hendak ikut berbaris dengan siswa-siswi berjubah putih seperti milikku dan Hazel. Namun sebelum aku sampai Hazel menarikku dan memerintahkanku berbaris di depan bersanding dengannya dan Camellia. Lapangan ini sangat luas. Padahal siswa di sini tidak terlalu banyak. Tapi mungkin cukup dengan berlari satu putaran saja aku bisa pingsan. Bayangkan saja, jika pintu satu ruang latihan lebih dari lima meter, tak bisa ku hitung luas lapangan ini.
Kakek memulai pidato panjang yang sepertinya berhubungan dengan penyerangann pagi tadi. Kondisi sekolah memang sudah kembali kondusif. Seperti tak pernah ada kejadian apa pun. Para tetua mulai berkeliling memastikan Gladious mereka. Hazel ikut berkeliling bersama mereka. Di depan hanya tersisa aku, Camellia, kakek Lupin, dan 1 tetua dengan jubah coklat muda.
“Camellia, kenapa Hazel ikut memeriksa?” tanyaku penasaran.
“Aku belum cerita kepadamu ya? Hazel itu calon pewaris sekolah ini.” Camellia tersenyum. Aku terkejut, bagaimana mungkin orang dingin seperti dia memimpin tempat sehebat ini?
“Apa hubungannya dengan pemeriksaan ini?” Tanyaku bingung.
“Pemilik sekolah ini memiliki darah yang unik, mereka secara turun temurun memiliki teknik melacak yang sangat kuat. Dan Hazel mempunyai kemampuan itu.” Kakek Lupin menjelaskan. Aku mengangguk paham.
“Namun kemampuannya lemah. Dia masih berusaha melatihnya.” Camellia menambahkan. Aku menatap Hazel dari kejauhan. Pedang perak di punggung Hazel terasa silau di mataku karena diterpa sinar mentari. Hasil pemeriksaan ini nihil. Sama sekali tidak terdeteksi gladiolus yang menyimpang. Aku kelelahan dan memutuskan duduk pada rumput yang terpangkas rapi di bawahku. Aku iseng mengaktifkan pedang perakku. Cukup dengan memikirkannya pedang itu akan muncul dengan sendirinya.
Aku memegang pedangku memeriksa 3 permata yang menghiasi pedangku. Aku baru menyadari bahwa ini adalah gladiolus milikku. Aku meneliti lebih jauh apa yang mungkin istimewa dari pedangku ini. Namun sesuatu menarik perasaanku. Aku memandang sekeliling memastikan gejolak apa yang aku rasakan kini. Aku merasakan aura aneh berada di dekatku. Aku memutuskan menghentikan transformasi pedang dan berkeliling mencari sumber perasaan tidak mengenakkan ini.
Aku terus berkeliling sendirian. Pada awalnya Camellia bertanya padaku apa yang akan aku lakukan. Aku hanya menjawab aku akan berjalan-jalan sebentar karena aku sudah dirundung rasa bosan. Camellia sebenarnya melarangku karena pemeriksaan belum selesai, namun aku meyakinkannya bahwa aku hanya berjalan-jalan sebentar. Aku melangkahkan kakiku ke depan murid-murid yang sudah diperiksa. Namun rasa aneh ini membawaku ke satu murid. Aku memandangnya yang tersenyum padaku. Dia adalah lelaki dengan perawakan tinggi dan gagah seperti Hazel namun dia mengenakan jubah hitam. Berdasarkan jubahnya itu aku mengetahui bahwa kemampuannya adalah teknik sihir atau segel gaib. Aku merasa ada yang aneh pada lelaki ini. Aku terus memandangnya karena perasaan dingin dan kurang bersahabat keluar dari pemuda ini.
Aku terus mengamatinya bermenit-menit lamanya hingga aku mendapati ada sesuatu yang dia sembunyikan di balik jubahnya. Aku tidak tahu itu apa, itu hanya terlihat seperti gulungan kertas yang sangat tebal. Aku penasaran dengan apa yang dia sembunyikan ini.
“Ada sesuatu di balik jubahmu ya?” Aku memberanikan diri mendekat padanya. Aroma suram segera menyapaku.
“Menyembunyikan apa maksudmu?” Tanyanya sedikit tersinggung.
“Jangan berbohong. Cepat keluarkan!” Aku terus memaksanya mengaku karena aku tau ada benda yang dia sembunyikan.
“Kau ini siapa? Beraninya kau memerintah dan membentakku seperti ini!” Dia balik berteriak padaku. Aku menelan ludah, aura hitam kurasakan menyelimutinya. Sebenarnya aku sedikit takut, karena aku baru saja sampai di sini dan aku akan menimbulkan keributan.
“Aku melihat kau menyembunyikan sesuatu di balik jubahmu. Cepat keluarkan!” Aku mulai menaikkan suaraku hingga banyak siswa lain yang melihatku. Hazel menghampiriku.
“Apa yang kau lakukan?!” Hazel membentakku. Aku hanya menunjuk pemuda yang tadi kuteriaki, kemudian menunduk
“Kamu tidak punya hak memeriksa dan memerintah orang seperti itu!” Hazel berkata padaku dengan nada sedikit tinggi. Pemuda yang kutunjuk itu hanya tersenyum, mungkin senang melihatku dimarahi. Tapi aku tidak percaya karena kuyakin dia menyembunyikan sesuatu yang buruk.
“Dia menyembunyikan sesuatu Hazel!” Aku mencoba meyakinkan Hazel, namun dia tetap tidak percaya dan menyuruhku kembali ke sisi Camellia. Aku menyerah, akhirnya aku berjalan kembali menuju Camellia. Belum genap tiga langkah aku berbalik, pemuda tadi terkekeh dan melemparkan gulungan itu padaku. Gulungan itu mengeluarkan asap yang sangat tebal. Aku tidak punya kesempatan lari. Asap ini membuat kakiku lunglai. Tubuhku limbung. Sedetik sebelum aku jatuh tersungkur, Hazel berlari menarikku menuju tempat bebas asap. Mungkin baru lima langkah Hazel berlari menggendongku menjauh, benda itu meledak! Radius ledakannya tidak terlalu besar namun cukup membuat kocar-kacir. Aku dan Hazel terguling. Aku terbatuk-batuk karena masih merasakan asap di tenggorokanku. Camellia berlari menghampiriku dan Hazel.
“Bawa Rin pergi!” Hazel berkata cepat setelah Camellia memegangku. Hazel mengaktifkan pedangnya dan berlari menuju pelempar bom tadi. Aku tidak tahu mereka bertarung seperti apa karena kini aku merasa kehabisan nafas. Camellia segera membawaku ke tempat penyembuhan dibantu tim medis.
Kemudian aku pingsan.