Maya tidak langsung kembali ke tempat tidur. Ia berdiri di balik tirai jendela kamarnya di lantai dua, memandangi pagar putih di kejauhan.
Perempuan itu masih berlutut di sana. Hujan mengguyur tubuhnya tanpa ampun, dan dari tempatnya berdiri, Maya bisa melihat kedua tangan Mela masih menggenggam jeruji pagar.
“Sandiwara,” bisik Maya kepada dirinya sendiri. “Semua itu cuma sandiwara.”
Namun ia tidak beranjak dari jendela.
Beberapa saat kemudian, Pak Yudi keluar dari pos membawa payung. Lelaki itu membantu Mela berdiri, membawanya berteduh, lalu menyerahkan sesuatu yang tampak seperti secarik kertas. Tidak lama kemudian, Mela berlari ke arah taxi yang menunggu di tepi jalan.
Maya menyambar gagang interkom di samping pintu kamarnya.
“Yudi. Apa yang kau berikan kepadanya?”
Di seberang sana, Pak Yudi terdiam cukup lama. Ketika ia akhirnya menjawab, suaranya gemetar tetapi tidak berbelit.
“Alamat apartemen Den Reyno, Bu. Kalau Ibu mau memecat saya, saya terima.”
“Kau berani...”
“Maaf, Bu,” Pak Yudi memotong, sesuatu yang belum pernah ia lakukan selama belasan tahun bekerja di rumah itu. “Tadi Bu Mela bilang, darah anaknya rhesus negatif. Sama seperti darah Den Rayan. Sama seperti darah Bapak.”
Maya tidak menjawab. Tangannya yang memegang gagang interkom perlahan turun. Ia meletakkan gagang itu kembali ke tempatnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu duduk di tepi ranjang.
Rhesus negatif.
**
Kata itu pernah diucapkan seorang dokter kepadanya, bertahun-tahun yang lalu, dengan nada yang sama persis seperti yang ia bayangkan malam ini. Pelan, hati-hati, dan menakutkan.
Waktu itu Savian akan dioperasi jantung. Suaminya masih sempat bercanda di atas ranjang dorong, sebelum para perawat membawanya pergi.
“Anak-anak kita mewarisi darahku, May,” ucapnya sambil tertawa kecil. “Darah yang keras kepala dan susah dicari.”
Reyno dan Rayan menggulung lengan kemeja mereka tanpa perlu disuruh. Rayan yang paling takut jarum, wajahnya sampai pucat pasi, tetapi ia yang paling dulu berbaring di kursi donor. Maya menunggu di depan pintu ruang operasi, memandangi lampu merah di atasnya, menghitung detik.
Darah kedua putranya tidak cukup. Sisanya datang menjelang subuh.
Maya masih ingat bagaimana azan subuh terdengar dari kejauhan ketika dokter itu keluar dan menggeleng pelan. Ia masih ingat dinginnya tangan Savian ketika ia menggenggamnya untuk terakhir kali. Sejak malam itu, ia tidak pernah tahan mencium bau lorong rumah sakit.
Dan sekarang, di sebuah rumah sakit entah di mana, seorang bayi menunggu darah yang sama.
Maya tahu, di negeri ini hanya segelintir orang yang membawa darah seperti itu. Darah itu tidak datang dari lelaki mana saja. Darah itu datang dari Savian, turun kepada kedua anaknya, lalu...
Ia tidak berani menyelesaikan pikirannya.
Maya bangkit dan membuka laci meja riasnya. Surat Rusdi masih ada di sana, terlipat rapi, bekas remasannya sudah ia luruskan berkali-kali. Di sampingnya, foto bayi Rayan yang tertidur dengan kepalan tangan di dekat pipi.
Cucu Ibu sudah lahir kemarin, waktu azan subuh. Laki-laki, sehat, tangisnya keras sekali. Namanya Aarick Savian.
Maya membaca kalimat itu berulang kali. Lalu ia memasukkan foto bayi Rayan ke dalam tas tangannya, seolah ia sudah tahu ke mana kakinya akan pergi sebelum hatinya sendiri mengakuinya.
Ia menelepon Reyno. Tidak diangkat. Ia mencoba lagi setengah jam kemudian, lalu sejam kemudian. Setiap nada sambung yang berakhir tanpa jawaban membuat dadanya semakin sesak. Di antara panggilan-panggilan itu, Maya mendapati dirinya berdoa. Untuk pertama kalinya, ia mendoakan anak yang selama ini tidak sudi ia sebut cucu.
**
Azan subuh berkumandang ketika ponselnya akhirnya berdering. Nama Reyno muncul di layar.
“Rey...”
“Aku di rumah sakit, Ma.” Suara putranya terdengar sangat lelah.
“Anak itu...” Maya tidak sanggup melanjutkan.
“Operasinya berhasil, Ma. Darahku cocok. B rhesus negatif. Satu kantong darahku dipakai waktu operasi tadi.”
Maya menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
“Darahnya,” bisiknya. “Darahnya sama dengan darah Papa.”
“Sama dengan darah Papa, Ma. Sama dengan darah Rayan.” Reyno diam sejenak. “Mama sudah tahu sejak surat itu datang, ‘kan?”
Maya tidak menjawab. Ia hanya menangis, dan di seberang sana, Reyno membiarkannya.
“Mama ke sana,” ucap Maya akhirnya.
**
Langit masih gelap ketika mobil Maya keluar dari halaman. Pak Yudi membukakan pagar dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap majikannya. Maya meminta sopirnya berhenti sebentar di depan pos.
“Yudi.”
“Ya, Bu.”
Maya memandangi lelaki tua itu dari balik jendela mobil yang terbuka. Bibirnya bergetar.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Pak Yudi mengangkat wajahnya dengan mata yang membesar. Namun mobil itu sudah kembali melaju sebelum ia sempat menjawab.
**
Reyno menunggu di lobi rumah sakit. Wajahnya kusut, matanya merah, dan ada plester putih di lipatan sikunya. Maya menyentuh plester itu dengan ujung jarinya, lama sekali, seolah sedang menyentuh luka yang sangat besar.
“Mama mau melihatnya?” tanya Reyno.
Maya mengangguk.
Mereka berjalan menyusuri lorong yang berbau obat. Maya menggenggam lengan putranya erat-erat. Reyno membawanya ke depan sebuah jendela kaca lebar di ruang perawatan intensif anak. Seorang perawat di balik kaca itu mengenali Reyno, lalu menyingkap tirai di samping salah satu ranjang.
Bayi itu tertidur di sana. Kecil sekali, dengan selang-selang tipis di tangan dan hidungnya. Kakinya terbungkus selimut putih gading yang tampak sudah sangat tua.
Maya mendekatkan wajahnya ke kaca. Tangannya gemetar ketika ia mengeluarkan foto dari dalam tasnya dan mengangkatnya tepat di samping jendela.
Alis yang sama. Bentuk kening yang sama. Bibir mungil yang sedikit terbuka dengan cara yang sama.
Lalu bayi di balik kaca itu menggeliat dalam tidurnya. Tangannya yang tidak terpasang selang terangkat perlahan, mengepal, dan berhenti tepat di dekat pipinya.
Persis seperti di dalam foto.
Kaki Maya kehilangan tenaga. Ia merosot di depan jendela kaca itu, dan Reyno menangkapnya sebelum ia terjatuh ke lantai. Maya menangis seperti yang belum pernah Reyno lihat sejak pemakaman Papa. Tangisnya keras dan hancur, memenuhi lorong yang sepi.
“Dia mirip Rayan, Rey,” isaknya. “Dia mirip sekali. Mama sudah tahu. Mama sudah tahu sejak awal, tapi Mama tidak mau tahu.”
Reyno memeluk ibunya erat-erat. Ia tidak mengatakan apa pun.
Langkah kaki terdengar dari ujung lorong. Mela dan Rusdi baru kembali dari musala. Mela masih memakai mukena pinjaman, wajahnya pucat dan matanya bengkak. Langkahnya terhenti ketika ia melihat siapa yang terduduk di depan jendela kaca itu.
Maya mengangkat wajahnya. Riasan yang biasanya selalu sempurna kini luntur oleh air mata. Di tangannya masih tergenggam foto lama berwarna kekuningan.
Untuk waktu yang sangat lama, kedua perempuan itu hanya saling menatap.
Maya membuka mulutnya, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Mela memandangi foto di tangan Maya, foto seorang bayi yang tertidur dengan kepalan tangan di dekat pipi, lalu memandangi anaknya sendiri di balik kaca.
Ia mengerti.
Rusdi meletakkan tangannya di bahu putrinya. Di balik kaca, Aarick masih tertidur dengan tenang, tidak tahu bahwa pagi itu, untuk pertama kalinya, neneknya datang menjenguk.