Aarick membuka matanya menjelang sore. Tangisnya lemah dan serak, tetapi ketika ia melihat wajah ibunya di balik kaca, bibir kecilnya bergerak.
“Ma... ma...”
Mela menempelkan telapak tangannya di kaca dan menangis untuk kesekian kalinya hari itu. Kali ini karena lega.
Dua hari kemudian, Aarick dipindahkan ke kamar perawatan biasa. Perutnya masih dibalut perban, tetapi ia sudah mulai mau menyusu dan sesekali tertawa ketika Rusdi menirukan suara kucing. Selama dua hari itu, Maya datang setiap pagi. Ia tidak pernah masuk. Ia hanya berdiri di depan jendela kaca, lalu di depan pintu kamar, dan setiap kali pergi ia menitipkan sesuatu kepada perawat. Sebuah boneka gajah kecil. Beberapa setel baju bayi. Sekotak biskuit untuk Rusdi.
Pada hari ketiga, Maya mengetuk pintu.
Rusdi yang membukakannya. Maya berdiri di ambang pintu dengan tas tangan yang ia genggam di depan perut, seperti seorang tamu yang tidak yakin akan diterima.
“Boleh saya masuk, Pak Rusdi?”
Rusdi menatapnya sejenak, lalu menyingkir dari pintu. “Silakan, Bu.”
Maya melangkah masuk, tetapi tidak duduk. Ia berdiri di tengah kamar, memandangi Rusdi, lalu memandangi Mela yang sedang memangku Aarick di atas ranjang.
“Saya datang untuk meminta maaf,” ucapnya. Suaranya bergetar. “Kepada Bapak lebih dulu.”
Rusdi diam, menunggu.
“Di rumah sakit dulu, saya menyebut Bapak ayah dari seorang pembunuh. Saya bersumpah tidak akan mengizinkan Bapak melihat menantu Bapak sendiri, bahkan kuburannya.” Maya menunduk. “Saya ibu yang kehilangan anak. Tapi Bapak juga ayah yang kehilangan menantu. Saya tidak pernah memikirkan itu.”
Rusdi menarik napas panjang. Ketika ia bicara, suaranya pelan sekali.
“Saya juga seorang ayah, Bu. Saya tahu, kalau anak kita pergi, kita ingin ada yang bisa disalahkan. Supaya dada ini tidak meledak.” Ia tersenyum tipis. “Saya sudah lama memaafkan Ibu.”
Maya menutup mulutnya dengan tangan. Lalu ia menoleh kepada Mela.
“Mela.”
Itu pertama kalinya Maya menyebut namanya. Mela memeluk Aarick sedikit lebih erat.
“Kecelakaan itu terjadi karena Rayan menerobos lampu merah,” ucap Maya. “Kau tidak membuatnya melakukan itu. Mama yang menutup pagar hari itu. Mama yang membuat anak Mama pergi dari rumahnya sendiri dengan hati yang hancur. Menyalahkanmu jauh lebih mudah daripada menyalahkan diri Mama sendiri.”
Air mata Mela jatuh ke kepala Aarick.
“Saya yang memaksa Mas Rayan ke rumah Mama pagi itu,” bisiknya. “Mas Rayan sebenarnya ragu. Selama ini saya juga menyalahkan diri saya sendiri, Ma.”
“Kalian datang untuk meminta restu.” Maya menggeleng. “Itu bukan dosa, Nak. Yang berdosa adalah orang yang tidak mau membukakan pintu.”
Kamar itu hening. Hanya terdengar suara Aarick yang mengoceh pelan, memainkan kancing baju ibunya.
“Bolehkah Mama menggendongnya?” tanya Maya akhirnya, nyaris tanpa suara.
Mela memandangi perempuan di depannya. Perempuan yang pernah mencabut selang infus dari tangannya, yang mengusirnya dari ruang tengah, yang membiarkannya berlutut di bawah hujan. Lalu ia teringat janji yang pernah ia ucapkan kepada Rayan di dalam mobil, beberapa detik sebelum kecelakaan itu. Aku akan mengambil hati keluarga Mas.
Mela bangkit dengan hati-hati, lalu meletakkan Aarick ke dalam pelukan Maya.
Maya menggendong cucunya dengan tangan yang gemetar. Aarick memandanginya dengan mata bulat yang penasaran, lalu meraih kalung mutiara di leher Maya dan berusaha memasukkannya ke mulut.
Maya tertawa di antara tangisnya. “Rayan dulu juga suka menggigit kalung Mama,” ucapnya. “Persis begini.”
Sebelum pulang, di ambang pintu, Maya berbalik.
“Reyno bilang, salad yang dulu Mama habiskan tengah malam itu buatan atasanmu.”
Mela mengerjap. “Bu Deswita, Ma.”
“Sampaikan kepadanya,” ucap Maya, “Mama minta resepnya.”
**
Sore itu Reyno mengajak Mela berbicara di taman kecil di samping gedung rumah sakit. Mereka duduk di bangku semen di bawah pohon ketapang, sementara Rusdi menjaga Aarick di kamar.
Reyno mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah percakapan, lalu menyodorkannya kepada Mela. Pesan paling bawah terkirim pukul sebelas malam, sehari sebelum akad nikah mereka.
“Bang, besok aku menikah dengan Mela. Aku tahu Abang berpihak pada Mama, dan aku tidak minta Abang membelaku. Cukup datang. Jadi saksiku, atau duduk di belakang juga tidak apa-apa. Aku cuma ingin ada keluargaku di sana,” tulis Rayan.
Mela membaca pesan itu sekali, lalu sekali lagi. Tangannya gemetar.
“Aku tidak pernah membalasnya,” ucap Reyno. “Besoknya aku tidak datang. Lusanya aku berpapasan dengan kalian di jalan, dan kata terakhir yang aku ucapkan kepada adikku adalah selamat. Aku mengucapkannya sambil menaikkan kaca jendela.”
Ia memandangi tangannya sendiri.
“Kalau hari itu aku turun dari mobil dan memeluknya, mungkin dia tidak menyetir dengan pikiran sekacau itu. Aku tidak sanggup memikirkannya. Jadi aku menyalahkanmu. Lebih mudah.”
Mela mengembalikan ponsel itu. “Mama bilang tadi siang, kecelakaan itu terjadi karena Mas Rayan menerobos lampu merah. Bukan karena aku. Bukan karena Mama.” Ia menatap Reyno. “Bukan karena kau juga, Bang.”
Reyno memalingkan wajah. Rahangnya mengeras, dan Mela tahu lelaki itu sedang menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ia tahan.
Setelah beberapa saat, Reyno mengeluarkan sebuah map plastik dari tasnya. Di dalamnya ada brosur perumahan yang sudah agak lecek. Brosur yang asli, dengan tulisan tangan Rayan di baliknya.
“Ini milikmu,” ucapnya. “Seharusnya kuberikan sejak hari aku membaliknya.”
Mela memeluk map itu di dadanya.
“Satu lagi.” Reyno mengambil ponsel Mela dari pangkuannya, mengetikkan sesuatu, lalu mengembalikannya. Sebuah nomor baru tersimpan di sana. “Simpan nomorku. Jangan sampai kau berlutut di lobi lagi hanya karena tidak bisa meneleponku.”
“Andri,” ucap Mela tiba-tiba. “Bang Rey tahu dia yang memberitahuku letak makam itu?”
“Aku tahu sejak lama.” Reyno tersenyum tipis untuk pertama kalinya. “Aku tidak memecatnya. Dia lebih berani daripada aku.”
Mela tertawa kecil, lalu mengusap matanya.
“Bolehkah aku menjenguk Aarick,” tanya Reyno hati-hati, “sesudah dia pulang nanti?”
Mela memandangi lelaki itu. Wajahnya mirip sekali dengan wajah suaminya, terutama ketika ia sedang ragu seperti ini.
“Pintu rumah kami tidak pernah dikunci untuk keluarga Mas Rayan, Bang.”
**
Seminggu setelah operasi, Aarick diizinkan pulang. Reyno menjemput mereka dengan mobilnya. Mela duduk di kursi belakang sambil memangku Aarick, dan kali ini Reyno langsung membukakan pintu belakang tanpa perlu diberi tahu. Rusdi mengikuti dari belakang dengan motor tuanya.
Reyno belum pernah melihat rumah itu. Ia berdiri lama di depan pagar, memandangi dinding krem dan sepetak taman kecil yang kini ditanami cabai dan sebatang pohon jambu.
Rusdi mengajaknya masuk dan menunjukkan setiap ruangan. Kamar depan. Kamar belakang dengan jendela menghadap ke timur. Lalu kamar kecil di dekat taman, dengan boks bayi putih di sudutnya.
Reyno berhenti di ambang pintu kamar itu. Dindingnya kuning muda.
“Rayan sendiri yang memilih warnanya,” ucap Rusdi. “Supaya cocok untuk anak laki-laki maupun perempuan.”
Reyno melangkah masuk dan menyentuh dinding kuning muda itu dengan telapak tangannya. Ia berdiri di sana lama sekali, tanpa berkata apa-apa, persis seperti yang dulu Rusdi lakukan di kamar belakang.