"Filmnya lucu," Ranti tersenyum. "Iya ketawanya paling keras tadi," canda Ario. "Ya soalnya lucu," ucap Ranti, "Eh, mau ke toilet dulu.. Tunggu ya.”
Ario mengangguk, lalu mengikuti Ranti menunggu di depan toilet perempuan. Ario masuk sebentar ke toilet laki-laki untuk mencuci muka. Tak berapa lama Ranti keluar, Ranti melihat rambut Ario yang masih agak basah terkena air, terlihat segar dan ganteng.
Lampu lobi terasa lebih terang daripada waktu mereka masuk tadi. Bau mentega dari mesin popcorn masih menempel di udara, bercampur wangi pembersih lantai. Orang-orang keluar dari studio sebelah, ramai, saling mendahului. Ranti membetulkan tali tasnya, pura-pura sibuk, padahal matanya masih mencuri lihat ke ujung rambut Ario yang meneteskan air.
'Yu,' ujarnya.
'Yu kemana?' tanya Ranti.
'Makan malam,' jawab Ario.
'Oh,' Ranti merespon pendek.
Ia sebenarnya ingin bilang iya, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Takut terdengar terlalu ingin.
'Kenapa? Mau pulang saja?' Ario bertanya hati-hati.
Ranti menggeleng, belum mau pulang, masih ingin bersama Ario.
Sudah lama ia tidak punya alasan untuk pulang terlambat. Malam ini rasanya sayang kalau disudahi secepat itu. Ranti sendiri heran, kenapa ia jadi seberani ini.
Ario tersenyum, 'Mau makan apa?'
'Di atas ada rooftop resto, mau coba?' Ranti usul.
'Iya apa saja boleh,' jawab Ario.
Ranti membetulkan letak tas di bahunya. Ia mengecek jam di ponsel, masih belum terlalu malam. Perutnya memang lapar, tapi bukan lapar itu yang membuatnya sesenang ini.
Mereka berjalan menggunakan eskalator untuk sampai di rooftop, lalu mencari tempat duduk di luar yang bisa melihat view kota. Angin malam bertiup, Ranti merasa menyesal tidak mengenakan jaket atau sweater. Ario berdiri dan melepas jaketnya, lalu meletakannya di bahu Ranti, "Angin dingin, dipakai jaketnya.”.
Ranti terharu, Ario begitu perhatian padanya. Harum badan Ario tercium saat mengenakan jaketnya. Ah, Ario seakan memeluknya.
Dari ketinggian, lampu kota terlihat seperti butir-butir kecil yang bergerak pelan. Suara klakson dari bawah naik sampai ke atas, tapi tertahan angin. Ranti memasukkan kedua tangannya ke saku jaket yang kebesaran itu. Ada karcis parkir di dalam sana, kertas kecil yang tanpa alasan membuatnya tersenyum sendiri.
'Terlalu besar ya jaketnya,' Ario mengomentari penampilannya.
'Iya, tapi hangat, thanks ya,' Ranti menyampaikan rasa terima kasihnya dengan mata berbinar-binar.
Ario memandangnya. 'Cantik,' gumamnya.
'Apa?' Ranti tidak mendengar gumaman Ario.
'Tidak apa-apa,' Ario memandang Ranti. 'Pernah makan di sini?'
'Belum, jarang nonton soalnya,' jawab Ranti. 'Jadi jarang ke sini.'
Ia melihat sekeliling. Meja-meja lain kebanyakan diisi pasangan, ada yang bergandengan tangan tanpa canggung. Ranti buru-buru mengalihkan pandangannya ke daftar menu. Ia baru sadar, ini pertama kalinya ia duduk di tempat seperti ini bukan untuk urusan kantor.
'Kenapa jarang?' tanya Ario.
'Tidak ada teman nonton,' Ranti menerangkan.
Ranti tidak menjelaskan lebih jauh. Cica sibuk dengan urusannya sendiri, dan di luar Cica tidak ada nama lain yang bisa ia ajak.
'Oh.. Saya ajak nonton lagi kapan-kapan, apa mau?' Ario ingin tahu.
Ranti mengiyakan lewat gerakan kepala.
Ia menunduk ke piring yang masih kosong, menahan senyum yang sudah setengah jalan naik. Jantungnya berdetak terlalu cepat untuk percakapan sesederhana itu. Kapan-kapan, kata Ario tadi. Terdengar jauh, tapi Ranti tidak berani meminta yang lebih dekat dari itu.
Ario lagi-lagi tersenyum. 'Besok misalnya, mau nonton?' Ario tiba-tiba bertanya.
'Serius?' Ranti bertanya, 'Tidak bosan?'
'Serius, tidak bosan,' ujar Ario. 'Mau? Besok?'
Ranti mengangguk, lalu tersenyum.
Ario membalas senyumannya.
Angin naik lagi dari sisi kanan. Ranti merapatkan kerah jaket, dan wangi tadi kembali menyapu hidungnya. Ia tidak bertanya apa-apa lagi, takut merusak suasana yang sedang enak.
Makanan datang, mereka menikmatinya dalam diam. Tidak terasa, sudah pukul 19.30, Ario melihat jam tangannya. 'Kita jalan pulang saja dulu ya..' Ario mengusulkan. Ranti hanya mengangguk.
Ranti melirik piring Ario yang belum habis. Ia ingin bertanya kenapa buru-buru, tapi urung. Baru beberapa jam bersama, ia sudah takut terdengar terlalu banyak menuntut. Ario memanggil pelayan, membayar, dan menolak halus waktu Ranti membuka tas.
Mereka berjalan menuju parkiran. Akhirnya keduanya duduk di mobil. Sebetulnya belum terlalu malam, tapi Ario sudah menyalakan mobilnya. Ranti sedikit kecewa, tapi ia tidak ingin menunjukkan kekecewaannya.
Di dalam mobil, pendingin udara menyala pelan. Ranti masih memakai jaket Ario dan tidak berniat melepasnya. Ia menyusun topik di kepalanya satu per satu, tapi tidak ada yang terasa pantas diucapkan. Ario menoleh ke spion, lalu memundurkan mobilnya.
Tiba-tiba ponsel Ranti berbunyi. WIRA.
Ranti, 'Ya halo,' Ranti mengangkatnya.
Wira, 'Lagi apa?'
Ranti, "Lagi jalan.”
Wira, 'Hmm... tadinya mau ajak dinner, bisa?'
Ranti, "Tidak bisa, next time ya.”
Wira, 'Ok, bye.'
Setelah menutup telepon, Ranti melihat ada pesan dari Cica.
Cica: Mirantiiii.. Kadang kamu tuh ya bego kebangetan. Artinya orang itu bilang kamu 'cantik'. Paham? Pasti si ganteng itu ya? Pokonya ditunggu spill story lengkap.
Ranti: Dia bilang aku cantik??? Cicaaaa... Bagaimana dooongg... Oh jantungkuuu... Ini lagi bareng. Nanti aku cerita.
Ranti menahan diri supaya tidak tersenyum terlalu lebar. Pipinya panas, dan ia yakin telinganya ikut memerah. Layar ponselnya ia redupkan, seolah Ario bisa membaca dari kursi sebelah. Padahal ia ingin sekali menceritakan semuanya sekarang juga, detik itu, sampai habis.
Ranti memasukkan ponselnya ke tas. Ario terdiam, mukanya agak mengeras. Ranti merasa aneh melihat ekspresinya. Sepanjang perjalanan, Ario terdiam.
Hanya suara ban dan lagu pelan dari radio yang mengisi mobil. Ranti melirik beberapa kali, memastikan ia tidak salah lihat. Rahang Ario memang mengeras, dan tangannya menggenggam setir lebih kuat dari yang perlu. Padahal tadi di rooftop ia masih tertawa.
Tidak tahan dengan suasana sunyi, Ranti mencoba mencairkan suasana, 'Suka dengan film tadi?' Tanyanya. Ario hanya diam dan membuat Ranti bingung.
Ranti memandang Ario dan bertanya, 'Kenapa?' Ario menoleh padanya, 'Mmm.. itu tadi siapa?' Ia malah membalas pertanyaannya dengan pertanyaan. 'Siapa mana?' Tanya Ranti. Dibenaknya, Cica yang terakhir chat dia.
'Yang menelepon?' Tanya Ario.
'Oh, itu Wira,' jawab Ranti.
'Oh..' Ario terdiam.
Ranti mengulang percakapan tadi di kepalanya, mencari bagian yang keliru. Tidak ketemu. Ia sempat berpikir mungkin Ario capek, atau ada urusan kantor yang belum selesai. Tapi sebelum ponselnya berbunyi tadi, semuanya masih baik-baik saja.
Ranti bingung. 'Kenapa? Ada yang salah?' tanyanya.
Ario masih juga diam. Mobil memasuki pelataran parkir apartemen, Ario pun memarkirkan mobilnya. Ranti pelan-pelan bertanya kembali, 'Ada yang salah?' Ia menyentuh bagian atas pergelangan tangan Ario.
Kulit tangan Ario terasa dingin. Ario tidak menarik tangannya, tapi juga tidak langsung menoleh. Beberapa detik lewat tanpa suara, hanya mesin mobil yang belum dimatikan dan bunyi kendaraan lain yang masuk ke pelataran.
Ario menarik rem tangan, lalu melihat Ranti, "Saya rasa, saya cemburu.” Ario menunduk.