'Cemburu kenapa? Kenapa cemburu? Siapa? Sama siapa?' Ranti tampak gelagapan kaget dan mengucapkan tanya berderet. 'Bingung?' Ario tiba-tiba menyadari kalau sikapnya membuat Ranti kebingungan. 'Iya,' jawab Ranti. 'Sudahlah lupakan,' ucap Ario dengan nada agak tinggi. 'Marah?' Ranti bertanya dengan nada lemah.
Mesin mobil sudah mati sejak tadi. Yang tersisa cuma dengung samar lampu parkiran dan suara nafas mereka berdua di dalam kabin. Ranti menggenggam tali tasnya kuat-kuat, sampai buku jarinya terasa kaku.
Kepalanya penuh, tapi tidak ada satu pun kalimat yang berani keluar dengan rapi.
Ario menoleh padanya. Ranti hanya tertunduk, tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Melihat Ranti seperti itu, Ario tiba-tiba merasa bersalah. 'Saya tidak marah,' ucap Ario lembut. Ranti menoleh padanya. Ario tersenyum dan Ranti membalas senyumannya.
Udara di dalam mobil terasa hangat. Pendingin sudah dimatikan sejak mesin berhenti, tapi Ranti tidak merasa gerah. Ia justru merasa aman, seolah ruang sekecil ini sedang menjaga mereka dari apa pun yang ada di luar sana.
Ario bergetar, ingin rasanya memeluk perempuan cantik didepannya ini. 'Saya cemburu, tapi saya tidak marah,' ujarnya. 'Iya, jangan marah ya,' Ranti memandang Ario dengan tatapan memelas. Lama.. Menunggu jawaban. Ario membalas tatapannya. Lama… Terdiam. Mereka saling menatap, diam. 'Kamu cantik,' Ario memecah kesunyian..
Dua kata itu jatuh begitu saja. Tanpa hiasan, tanpa nada bercanda. Justru itu yang membuat Ranti tidak sanggup menatapnya lebih lama.
Ranti tersipu.
Pipinya panas. Ia pura-pura merapikan rambut yang sebenarnya tidak berantakan, lalu memandang dashboard, memandang kaca depan, memandang apa saja selain Ario. Di kaca depan itu wajah Ario terpantul samar, dan tetap saja sedang menatapnya.
'Besok jadi nonton ya? Temani saya?' Ario bertanya memastikan. 'Iya,' jawab Ranti lalu memegang bagian atas tangan Ario, 'Tidak marah ya?' Ario menatapnya, 'Tidak,' sambil perlahan menyentuh tangan Ranti yang berada di bagian atas tangannya, mengelusnya, kemudian menariknya perlahan dan menggenggamnya.
Telapak tangan Ario hangat, sedikit kasar di sisi ibu jari. Ranti bisa mendengar degup jantungnya sendiri, jelas sekali, seolah suaranya bisa terdengar sampai kursi sebelah.
Ranti tiba-tiba bergetar, Ario memegang erat tangannya, "Cemburu itu ada, tentu beralasan.”
Kalimat itu diucapkan pelan, hampir seperti bisikan, tapi rasanya seperti ada yang ditekan tepat di dadanya.
'Iya.. Tapi tadi itu cuma Wira,' jelas Ranti.
Mmm... Ario menunduk. Ia menyadari, Ranti tidak tahu ketertarikannya selama ini. Awalnya Ario selalu menahan diri karena keberadaan Wira. Kecemburuannya beralasan, tapi Ranti tidak tahu. Tidak, bukan tidak, tapi belum. Ario memutuskan untuk tidak mengungkapkan apa-apa. Ia tidak mau merusak hari ini. Hari yang ia tunggu-tunggu.
Sebuah mobil lewat pelan mencari tempat parkir. Lampunya menyapu bagian dalam kabin sebentar, lalu hilang di belokan. Ario menunggu sampai suasana kembali sepi.
"Kalau Ario, apa juga "cuma" Ario?" tanyanya. Secara tidak langsung, Ario mengungkapkan perasaannya. Ia tidak mau Ranti menganggapnya "cuma" seseorang biasa saja, ingin lebih dari itu. Ranti bingung, "Mmm, maksudnya?" Ario merasa tidak tega membuat Ranti kebingungan. Ia memutuskan untuk menunda pembicaraan ini. "Lupakan," ujarnya tersenyum. Ranti merajuk, manyun, "Maksudnya?" Ario tertawa, "Ya lupakan.”
Di luar, pintu lift basement terbuka lalu menutup lagi tanpa ada seorang pun yang keluar. Bunyinya bergema sebentar di antara tiang-tiang beton, lalu hilang. Genggaman Ario tidak melonggar sedikit pun.
'Ya sudah, kelamaan di parkiran. Aku pulang ya.. Naik dulu ke atas,' Ranti melihat suasana parkiran basement yang terlihat gelap dan sepi. 'Boleh,' ujarnya, tapi Ario masih memegang tangannya.
Jam di dashboard menunjukkan angka yang membuat Ranti sadar mereka sudah terlalu lama duduk di sini. Lampu di ujung basement berkedip sekali, lalu normal lagi.
'Terus ini bagaimana?' Ranti menunjuk tangannya yang susah ia lepaskan. Ario memegangnya erat. 'Yang ini punya Ario,' katanya tersenyum jahil dan makin erat memegang tangannya.
Genggaman itu tidak menyakitkan, tapi juga tidak memberi ruang untuk kabur. Ranti pun sebenarnya tidak benar-benar ingin kabur.
Ranti menunduk, tersipu malu.
Ia tersenyum ke arah pangkuannya sendiri. Entah apa yang dipikirkan orang kalau ada yang melihat mereka dari luar sana.
Ario merasa perasaannya bersambut. Meski belum lama mengenal, tapi hatinya seakan terikat. Ario pun tak kuasa menahan perasaannya. Ranti, berhasil memikat hatinya. Sosok yang membuatnya bergetar, ada di depan matanya, tangannya dalam genggamannya. Ingin rasanya mencium bibir merahnya, tapi Ario menahan diri.
Menahan diri bukan hal yang mudah bagi Ario. Ia terbiasa memutuskan cepat, mengambil apa yang ia mau, tanpa banyak pertimbangan. Tapi untuk Ranti ia ingin semuanya pelan. Ada hal yang kalau diburu justru rusak, dan ia tidak mau kehilangan yang satu ini.
'Jadi? Boleh pulang atau tidak?' tanya Ranti greget.
Nada suaranya setengah merajuk, setengah bercanda, dan Ario menikmati keduanya.
Ario tersenyum dan ingin menjawab, TIDAK. Kalau Ranti pergi dari hadapannya, hatinya pasti kembali sepi dan merindukannya. Tapi waktu sudah malam, akhirnya ia menjawab, 'Boleh,' lalu perlahan melepas tangan Ranti.
Tangan Ranti terasa kosong begitu genggaman itu lepas. Dingin kabin mobil tiba-tiba terasa lagi.
Ranti sedikit kecewa, tapi ia tahu besok akan bertemu lagi. Ranti menenangkan diri, "Naik dulu ya.” Ario turun dari mobil dan mendekati pintu penumpang, lalu membukakan pintu untuk Ranti.
Angin basement yang lembab masuk begitu pintu terbuka. Ario menahan bagian atas pintu dengan tangannya, kebiasaan yang tidak pernah ia jelaskan pada siapa pun.
Ranti pun turun, menatap Ario, terpesona. Ario merasa luluh saat melihat tatapan Ranti. Tatapan itu membuatnya ingin menjaga dan melindunginya.
Beberapa detik mereka hanya berdiri di sana, di antara mobil-mobil yang diam dan lampu yang temaram. Tidak ada yang mau melangkah lebih dulu.
'Bye,' ujar Ranti. 'Sampai besok ya.'
Ia melambaikan tangan setinggi bahu, kecil sekali, seperti orang yang tidak ingin terlihat terlalu senang.
'Bye. Besok saya jemput,' Ario membalasnya.
Ranti membalikkan badan, lalu menoleh sekali lagi. Ario masih berdiri di tempatnya, tangan di saku, matanya tidak pindah ke mana-mana.
Matanya terus menatap sampai Ranti memasuki lift apartemen.
Langkah sepatu Ranti terdengar makin jauh, lalu berhenti. Ada bunyi tombol lift ditekan dua kali, buru-buru, seperti orang yang takut berubah pikiran kalau menunggu terlalu lama.
Ranti memasuki lift. Hatinya terasa hangat. Sosok Ario masih berdiri melihatnya, sampai pintu lift pun tertutup.
Di dalam kamar nanti, ia tahu ia akan tersenyum sendiri sambil menatap langit-langit. Besok, katanya dalam hati. Tinggal beberapa jam lagi.
Ario tiba-tiba merasa sepi. Belum hitungan menit, tapi ia kangen Ranti.
Ario menyalakan mesin, tapi tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia menatap pintu lift yang sudah tertutup itu agak lama, lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri, seperti orang yang baru sadar sedang jatuh dan tidak berniat berpegangan.
***