Ranti tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar, dengan jari yang menyentuh bibirnya sendiri untuk kesepuluh kalinya. Kecupan itu masih terasa di sana — hangat, panjang, dan penuh dengan semua hal yang tidak perlu diucapkan. Ario mengecupnya. Di dalam mobilnya. Di basement apartemennya. Setelah satu hari penuh yang sempurna di Pantai Andara.
Dan sekarang pikirannya penuh dengan satu pertanyaan besar yang tidak bisa dijawab dengan debar jantung: *kita ini apa?*
Ponselnya berbunyi. ARIO. Ranti langsung duduk — dengan kecepatan yang akan dibantahnya nanti.
Ario, 'Belum tidur?'
Ranti, 'Belum. Kamu sudah sampai rumah?'
Ario, 'Sudah. Sudah dari satu jam lalu. Tapi aku tidak bisa tidur.'
Ranti tersenyum ke layar ponselnya. 'Kenapa tidak bisa tidur?'
Jeda yang panjang. Lalu: 'Karena ada yang harus kukatakan, dan tidak bisa kutunda sampai besok. Boleh ke bawah? Aku di depan apartemenmu.'
Ranti melompat dari tempat tidurnya. *Dia kembali? Dia menyetir pulang dan kembali?* Ia mengintip dari jendela kamarnya — dan benar saja, mobil besar hitam itu terparkir di depan gedung apartemennya, dengan Ario berdiri di sampingnya, menatap ke atas.
Ranti berlari — dengan baju tidur, dengan jaket Ario yang masih tersampir di bahunya dari pantai tadi, dengan rambut yang sama sekali tidak diatur. Ia turun dengan lift, keluar ke lobi, dan berhenti dua langkah dari lelaki itu.
'Kamu gila,' katanya, terengah-engah. 'Kamu pulang dan kembali lagi.'
'Aku sampai rumah, dan tidak bisa masuk,' kata Ario, dengan suara yang tidak seperti biasanya — tidak dingin, tidak terkontrol. 'Karena ada satu hal yang belum selesai kukatakan, dan aku tidak mau tidur sebelum mengatakannya. Ranti... kecupan tadi bukan kecupan yang biasa untukku. Aku tidak pernah mengecup siapa pun tanpa maksud. Dan aku tidak bisa membiarkan malam ini berakhir tanpa kita berdua tahu persis apa artinya.'
Ranti menatapnya — dengan jaketnya yang masih di bahunya, dengan jantung yang tidak pernah berhenti berdebar sejak tadi sore.
'Aku tidak mau jadi 'seseorang yang kencan denganmu', Ranti.' Ario melangkah mendekat. 'Aku mau jadi lelakimu. Resmi. Dengan nama. Dengan semua yang ada di dalamnya. Aku sudah terlalu lama sendiri untuk bermain-main dengan hal-hal yang tidak jelas — dan kamu terlalu berharga untuk dijadikan hal yang tidak jelas. Jadi aku bertanya sekarang, di depan apartemenmu, jam sebelas malam, dengan rambut berantakan dan jantung yang tidak bisa diatur: maukah kamu menjadi milikku? Secara resmi?'
Dan Ranti — yang sudah menghabiskan berminggu-minggu menebak-nebak perasaan lelaki dingin ini, yang menangis karena cemburu, yang menunggu setiap pesan seperti menunggu udara — menjawabnya dengan satu kalimat yang keluar tanpa perlu dipikirkan sama sekali:
'Aku sudah menjadi milikmu sejak kamu mengantarku pulang jalan kaki malam itu. Kamu saja yang baru resmi sekarang.'
Dan Ario menariknya ke dalam pelukannya — di depan gedung apartemen itu, di malam yang sepi, dengan jaketnya yang melingkari mereka berdua — dan menciumnya untuk kedua kalinya, kali ini tanpa ragu, tanpa menahan diri, dengan dua tangan yang memegang wajahnya seperti memegang sesuatu yang paling berharga di dunia.
'Akhirnya,' bisiknya di sela ciuman itu. 'Akhirnya.'
***
Mereka duduk di mobilnya setelah itu — karena tidak ada yang mau pulang — dan bicara sampai lewat tengah malam, tentang hal-hal yang harus dibicarakan dua orang yang baru saja resmi menjadi pasangan.
'Tentang Wira,' kata Ario akhirnya, dan Ranti langsung menoleh karena nada suaranya berubah. 'Aku harus jujur padamu dari awal, karena aku tidak mau ada satu pun yang disimpan di antara kita. Aku cemburu padanya. Sejak hari pertama. Dia yang menyambutmu dengan bebas, dia yang mengirimimu bubur, dia yang selalu ada di sebelahmu — dan aku menghabiskan berminggu-minggu memperhatikan kalian berdua dan bertanya-tanya apakah ada sesuatu di antara kalian.'
'Wira?' Ranti membelalak, lalu tertawa — tertawa lepas, di malam itu, di mobil itu. 'Ario. Wira itu teman SMA-ku. Kami tidak pernah lebih dari itu, tidak pernah akan lebih dari itu. Dia seperti kakak yang tidak pernah kumiliki — dan dia tahu tentang kamu sejak hari pertama, karena aku menceritakan semuanya padanya.'
'Dia tahu tentangku?'
'Dia yang menyuruhku menunggumu menyerah. Dia yang bilang: laki-laki yang mengantar perempuan pulang jalan kaki berblok-blok itu tidak mungkin tidak punya hati.' Ranti menatapnya, masih tersenyum. 'Jadi kamu cemburu pada orang yang justru menjadi pendukung terbesar hubungan ini sejak sebelum hubungan ini ada.'
Ario menunduk — dan untuk pertama kalinya, Ranti melihat lelaki tegap itu malu. 'Aku menghabiskan berminggu-minggu menyusun cerita yang salah di kepalaku sendiri. Maaf.'
'Jangan minta maaf. Tapi mulai sekarang, satu aturan untuk kita: kalau ada yang membuatmu bertanya-tanya, tanyakan padaku. Jangan susun ceritanya sendiri. Karena aku juga melakukan hal yang sama — dengan Mirna — dan kita berdua hampir menghancurkan sesuatu yang belum sempat dimulai karena dua cerita yang kita susun sendiri-sendiri.'
'Mirna?' Ario menatapnya — dan kemudian mengerti, dengan wajah seorang lelaki yang baru menyadari betapa buta dirinya. 'Hari itu. Pertemuan di Blue. Kamu melihat kami bersama.'
'Aku melihat kalian bersama dan menyusun seluruh novel di kepalaku.' Ranti tertawa kecil. 'Jadi kita impas. Dua orang dewasa yang menyusun dua cerita salah. Mulai malam ini: tidak ada lagi cerita susunan sendiri. Semua ditanyakan, semua dijawab, semua jujur. Deal?'
'Deal.' Ario menggenggam tangannya. 'Dan satu aturan dariku: tidak ada yang disimpan sendiri. Apa pun. Badai atau cerah, kita hadapi berdua. Aku sudah terlalu lama sendiri untuk tahu bahwa itu satu-satunya cara yang benar.'
Dan mereka menutup malam itu dengan satu kecupan terakhir di dalam mobil — dan dengan dua aturan yang akan menjadi tulang punggung semua yang akan datang: tidak ada cerita susunan sendiri, dan tidak ada yang disimpan sendiri.
Dua aturan untuk dua hati yang akhirnya berdiri di tempat yang sama.