Berita itu meledak di kantor For Her Senin pagi — tidak lewat pengumuman, tapi lewat satu pemandangan di lobi: Ario menjemput Ranti untuk makan siang, dan menggenggam tangannya saat mereka berjalan keluar, di depan semua orang, tanpa satu pun keraguan. Receptionist sampai lupa menjawab telepon yang berbunyi. Irna menjatuhkan map-nya. Dan Linda, yang menyaksikannya dari lantai dua, mengirim satu pesan ke grup mereka yang isinya hanya satu baris huruf kapital: 'HARI INI RESMI MASUK KALENDER SEJARAH KANTOR.'
Cica menemukan Ranti di pantry sepuluh menit setelahnya dengan mata yang berapi-api: 'RESMI???'
'Resmi.' Ranti tidak bisa menghapus senyumnya. 'Sejak Sabtu malam. Dia kembali ke apartemenku setelah mengantarku pulang, dan bertanya dengan benar, dan aku menjawab dengan benar.'
'MIRANTI LARASATI!' Cica memeluknya sampai hampir tercekik di tengah pantry. 'Akhirnya! Lima tahun kamu sendiri! Dan sekarang kamu pacaran dengan pengacara terganteng di Jakarta! Aku harus memberi tahu Linda! Linda! LINDA—'
'Ca. Napas.'
'Aku tidak bisa napas! Ini hari bersejarah! Ini harus masuk kalender kantor!'
Wira mengetahuinya dari Ranti sendiri, siang itu juga, di mejanya di lantai 9 — dan reaksinya adalah reaksi seorang teman lama yang sudah menunggu kabar ini lebih lama dari siapa pun: ia berdiri, memeluk Ranti seperti seorang kakak, dan berkata: 'Sudah kubilang kan? Laki-laki yang mengantar perempuan jalan kaki berblok-blok itu tidak pernah tidak punya hati. Aku sudah tahu sejak hari itu. Tinggal menunggu kalian berdua menyadarinya.'
'Dan sekarang kamu harus bertemu dengannya dengan benar,' kata Ranti. 'Karena dia menghabiskan berminggu-minggu cemburu padamu, dan kamu harus memperbaikinya seumur hidupmu.'
'Itu hukuman yang kuterima dengan senang hati.'
Pertemuan itu berjalan Rabu — makan siang bertiga, di Proper Lunch, dengan Wira dan Ario yang menjabat tangan seperti dua lelaki yang sama-sama tahu ada yang harus diluruskan.
'Pa Ario. Ranti sudah cerita. Dan sebelum kamu meminta maaf lagi — tidak perlu. Aku mengerti. Aku juga akan cemburu kalau aku kamu.' Wira mengangkat tangannya sebelum Ario sempat bicara. 'Tapi biar kuperjelas satu hal untuk selamanya: perempuan ini seperti adikku. Dia menangis di bahu saya waktu putus dari Indra dulu, dan saya yang menyeretnya keluar dari kamar selama seminggu. Kamu lelaki pertama yang membuatnya bicara tentang seseorang seperti itu lagi. Jadi kamu punya dukungan penuh dari saya — dan satu peringatan kecil: kalau kamu membuatnya menangis, kamu berhadapan dengan saya, dan saya lebih besar dari kamu.'
'Diterima,' jawab Ario, tanpa ragu satu detik pun. 'Dan terima kasih — karena sudah menjaganya bertahun-tahun sebelum saya datang. Itu bukan hal kecil, dan saya tidak akan pernah melupakannya.'
Makan siang itu berjalan hangat — dan di akhirnya, Ranti menyaksikan dua lelaki terpenting dalam hidupnya berbicara tentang hukum dan marketing seperti dua orang yang sudah kenal lama, dan merasakan satu hal yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya: semua orang yang ia sayangi akhirnya berdiri di meja yang sama. Dan rasanya seperti pulang.
***
Malam-malam pertama hubungan resmi itu berjalan seperti halaman-halaman yang ditulis dengan warna baru: Ario yang menjemputnya setiap sore dari kantor tanpa pernah diminta, makan malam-makan malam di tempat-tempat kecil yang ditemukan mereka bersama, telepon-telepon larut yang tidak pernah ada yang mau menutup duluan, dan satu kebiasaan baru yang lahir tanpa direncanakan — setiap kali berpisah, Ario selalu berkata satu kalimat yang sama: 'Sampai besok.' Dan setiap kali, Ranti menjawabnya dengan kalimat yang sama: 'Aku tunggu.'
Pagi-pagi juga berubah bentuk. Ranti yang selalu berjalan kaki sendirian ke kantor kini menemukan Ario menunggunya di depan gedung apartemennya setiap pagi — dengan dua kopi dari kedai di sudut jalan, satu iced americano tanpa gula untuknya dan satu kopi hitam untuk dirinya. 'Rumahku searah,' katanya di pagi pertama, seolah itu penjelasan yang cukup. 'Rumahmu tidak searah. Aku sudah memeriksanya di peta.' 'Kalau begitu aku pindah rute. Mulai hari ini, rute pagiku searah dengan rumahmu. Ada yang bisa dibantah?' Tidak ada yang bisa dibantah — dan sejak pagi itu, jalan kaki pagi mereka menjadi bagian paling disukai Ranti dari harinya: dua puluh menit berjalan berdampingan melewati kota yang baru bangun, membicarakan hal-hal kecil, dengan dua gelas kopi dan satu hari yang selalu dimulai dengan benar.
Dan ada satu malam minggu pertama itu yang menjadi favorit Ranti: mereka menonton lagi — film komedi yang sama seperti kencan pertama — tapi kali ini di rumah Ario, di sofa besarnya, dengan selimut yang dibagi dua dan popcorn yang habis sebelum filmnya selesai. Tidak ada yang istimewa terjadi malam itu. Tidak ada yang perlu terjadi. Mereka hanya duduk berdampingan menonton film yang sudah pernah mereka tonton, dan Ranti menyadari di tengah-tengahnya bahwa ini pertama kalinya dalam lima tahun ia merasa aman sepenuhnya di samping seseorang — aman untuk diam, aman untuk tertawa terlalu keras, aman untuk tertidur di bahunya sebelum filmnya selesai. Ario tidak membangunkannya sampai filmnya habis. Dan saat ia terbangun di bahunya, lelaki itu hanya berkata: 'Kamu mendengkur kecil. Untuk catatan: aku tidak pernah menemukan hal yang lebih menggemaskan.'
'Aku tidak mendengkur.'
'Kamu mendengkur kecil. Ada bedanya. Dan aku sudah memutuskannya secara resmi: itu suara favoritku di dunia ini.'
'Aku tidak suka mengatakan selamat tinggal,' kata Ario suatu malam, saat Ranti menanyakannya. 'Selamat tinggal itu untuk orang yang pergi. Kita tidak pergi ke mana-mana. Kita cuma berpisah sampai besok — dan itu harus diucapkan dengan benar.'
'Kalau begitu kita tidak akan pernah mengucapkan selamat tinggal,' jawab Ranti. 'Selamanya. Hanya sampai besok. Setiap hari. Itu janji.'
'Itu janji,' ulang Ario dan mengecup keningnya, dan menunggu sampai ia masuk ke dalam gedung apartemennya, seperti selalu, seperti yang akan selalu dilakukannya.
Dan di minggu-minggu pertama itu, tidak ada satu pun awan di langit mereka — karena semua awan masih berkumpul di kejauhan, menunggu waktunya, dengan satu nama yang belum pernah didengar Ranti dalam hidupnya: Marissa.