Marissa kembali ke Jakarta pada hari Kamis — dan seperti semua orang yang kembali untuk merebut sesuatu, ia tidak pernah datang tanpa rencana.
Lima tahun di luar negeri telah mengubahnya dengan cara yang hanya dikenali orang yang mengenalnya dekat: lebih halus, lebih terukur, lebih sabar. Di firma tempatnya bekerja di sana, ia dikenal sebagai negosiator yang tidak pernah kalah dua kali di meja yang sama — dan kekalahannya satu-satunya, satu-satunya yang masih menyala lima tahun kemudian, adalah Ario Yudha. Bukan karena ia masih mencintainya dengan cara yang sehat. Tapi karena Marissa tidak pernah terbiasa kehilangan apa pun — dan Ario adalah satu-satunya hal yang pernah pergi dari hidupnya tanpa bisa direbutnya kembali. Lima tahun ia menatanya dari kejauhan: membaca kabar-kabar firma Yudha & Bagas, mencatat kesuksesannya, dan menunggu waktu yang benar untuk kembali. Dan waktu itu tiba bukan karena kebetulan — tapi karena satu berita kecil yang sampai ke telinganya dari satu mulut yang selalu tahu segalanya: *Ario Yudha akhirnya bersama seseorang. Serius kali ini.*
Itu yang menariknya pulang. Bukan Ario yang sendirian — Ario yang sendirian tidak pernah bisa dimenangkan. Ario yang mencintai seseorang... itu Ario yang akhirnya punya titik lemah. Dan Marissa sudah lima tahun menunggu titik lemah itu muncul.
Ario mengetahuinya dari satu email yang masuk ke alamat kantornya — bukan alamat pribadinya, karena Marissa tidak pernah kehilangan kecerdasannya: email resmi, profesional, tentang satu 'kemungkinan kolaborasi hukum' antara firma lamanya di luar negeri dengan Yudha & Bagas. Dan di akhir email itu, satu kalimat yang ditulisnya dengan sempurna untuk terlihat tidak berbahaya: *'Kebetulan aku sudah kembali ke Jakarta untuk menetap. Akan sangat baik kalau kita bisa membicarakannya langsung. Untuk masa lalu yang baik. — M.'*
Ario membaca email itu dua kali di ruang kerjanya — dan kemudian melakukan satu hal yang sudah dijanjikannya di malam pertama mereka resmi bersama: tidak ada yang disimpan sendiri. Ia menelepon Ranti.
'Ada yang harus kuberi tahu kamu, dan aku mau kamu mendengarnya dariku sebelum dari siapa pun. Marissa kembali ke Jakarta.'
Di seberang, Ranti diam sebentar. 'Marissa yang mana?'
'Mantan pacarku. Satu-satunya yang pernah ada, sebelum kamu. Kami bersama dua tahun, lima tahun lalu, dan putus karena dia memilih kariernya di luar negeri dan aku memilih Jakarta. Tidak ada dendam, tidak ada yang menggantung — selesai dengan benar, lima tahun lalu.' Ario menarik napas. 'Dia mengirim email ke kantorku tentang kemungkinan kolaborasi. Email profesional. Tapi aku mengenalnya, Ranti — dan aku mengenal kalimat 'untuk masa lalu yang baik'. Dia tidak pernah menulis kalimat tanpa maksud.'
'Dan kamu memberitahuku ini karena...?'
'Karena aturan kita: tidak ada yang disimpan sendiri. Dan karena aku tidak mau kamu mendengarnya dari mana pun selain dariku. Aku akan menemuinya — untuk urusan kolaborasi itu, kalau memang ada urusannya — tapi kamu akan tahu kapan, di mana, dan apa hasilnya. Tidak ada satu pun bagian dari ini yang akan kamu dapatkan dari cerita susunan sendiri. Itu janji.'
Di seberang telepon, Ranti diam beberapa detik — dan Ario mendengar sesuatu yang membuatnya tahu bahwa ia telah memilih dengan benar: tawa kecil.
'Kamu tahu betapa aneh rasanya mendengar pacar menelepon untuk melaporkan bahwa mantannya kembali, dengan jadwal dan protokol pelaporan lengkap?' kata Ranti. 'Ario. Aku percaya padamu. Temui dia, selesaikan urusannya, dan pulang padaku. Satu-satunya hal yang kuminta: kalau ada satu saja yang berubah dari rencana, kamu kabari aku. Bukan karena aku tidak percaya — karena aku tidak mau cerita susunan sendiri. Itu aturannya.'
'Itu aturannya,' ulang Ario — dan untuk pertama kalinya sejak email itu masuk, dadanya ringan.
***
Pertemuan itu berjalan Jumat sore, di satu kafe hotel — tempat umum, terang, seperti yang sudah disepakatinya dengan dirinya sendiri dan dilaporkannya ke Ranti.
Marissa datang dengan semua yang tidak berubah darinya: kecantikan yang tajam, langkah yang membuat satu ruangan menoleh, dan satu mata yang masih membaca Ario seperti membaca buku yang pernah dimilikinya.
'Ario Yudha. Lima tahun, dan kamu tidak berubah sedikit pun.' Ia duduk di seberangnya tanpa menunggu dipersilakan. 'Masih datang lima belas menit lebih awal. Masih memesan kopi hitam tanpa gula. Masih membaca orang sebelum mereka duduk.'
'Dan kamu masih mengamati orang dari jauh sebelum mendekat,' jawab Ario tenang. 'Katakan keperluanmu, Marissa. Aku ada waktu satu jam.'
'Satu jam?' Marissa tertawa pelan — tawa yang dulu membuatnya memenangkan setiap argumen di antara mereka. 'Kamu membangun firma dari nol, menjadi nama yang dibicarakan semua orang di industri ini, dan kamu memberiku satu jam. Ada seseorang, ya? Tentu saja ada. Tidak ada Ario Yudha yang menutup rapat dengan jadwal ketat tanpa ada seseorang yang menunggunya.'
'Kolaborasinya, Marissa.'
Marissa menatapnya lama — dan untuk sepersekian detik, topeng profesionalnya turun sedikit, dan Ario melihat sesuatu di sana yang membuatnya waspada: bukan nostalgia. Perhitungan.
'Baik. Kolaborasi.' Ia membuka mapnya. 'Tapi dengarkan aku dulu satu hal, Ario — karena lima tahun adalah waktu yang panjang, dan aku sudah banyak berubah. Aku kembali ke Jakarta untuk menetap. Untuk selamanya. Dan aku tidak kembali untuk masa lalu — aku kembali untuk masa depan. Jadi apa pun yang sedang kamu jalani sekarang, jangan jadikan alasan untuk menolak bekerja denganku. Kita selalu menjadi tim yang baik. Kamu tahu itu.'
Dan Ario menatap perempuan di hadapannya — perempuan yang pernah dicintainya, yang pergi lima tahun lalu, yang kini duduk di hadapannya dengan mata yang sudah dihitung — dan merasakan satu hal yang jelas seperti kaca: ini belum selesai. Marissa tidak pernah kembali untuk sesuatu yang sudah selesai. Dan pekerjaannya sekarang adalah memastikan Ranti tidak pernah harus menghadapi satu pun dari ini sendirian.
'Aku akan membaca proposalnya,' katanya, berdiri. 'Dan kita bicara sebagai profesional — kalau memang itu yang kamu mau. Selamat datang kembali di Jakarta, Marissa.'
Ia pergi tanpa menoleh — dan Marissa duduk sendirian di kafe itu, menatap punggungnya, dengan satu senyum yang tidak pernah mencapai matanya.
'Lima tahun tidak mengubahmu,' katanya pelan, pada kursi yang kosong. 'Tapi aku juga tidak pernah berubah. Dan kita lihat nanti, Ario Yudha — kita lihat nanti, siapa yang bertahan lebih lama.'