Pesan itu datang ke ponsel Ranti pada Senin malam — dari nomor yang tidak dikenal, dengan satu kalimat yang membuat darahnya berhenti mengalir sebentar:
*'Kamu pikir kamu sudah menang? Kamu tidak tahu apa-apa tentang Ario Yudha. Dan kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang sedang menunggumu. Mundur sekarang, selagi masih bisa. Ini peringatan pertama — dan satu-satunya yang sopan.'*
Ranti membacanya tiga kali di dapur apartemennya — dan kemudian, dengan tangan yang berusaha tidak gemetar, melakukan satu hal yang sudah menjadi aturan mereka: tidak ada yang disimpan sendiri. Ia menelepon Ario.
Ario mendengarkannya tanpa memotong satu kali pun. Lalu suaranya datang — tenang, tapi dengan baja di dalamnya yang tidak pernah didengar Ranti sebelumnya: 'Jangan hapus pesannya. Jangan balas. Jangan keluar sendirian malam ini. Aku datang sekarang.'
Ia tiba dua puluh menit kemudian — dan Ranti membukakan pintu untuk lelaki yang wajahnya sudah berubah sepenuhnya: bukan lagi wajah pacar yang hangat, tapi wajah seorang pengacara yang sedang membaca ancaman dengan mata yang sudah sering membaca ancaman.
'Pesan seperti ini tidak dikirim orang yang main-main,' kata Ario, membacanya sekali lagi. 'Tapi pesan seperti ini juga tidak dikirim orang yang serius menyerang malam ini — karena kalau serius, tidak akan ada peringatan sopan. Ini pembuka. Orang ini sedang mengukurmu — dan mengukurku.'
'Siapa yang bisa melakukan ini, Ario? Aku tidak punya musuh. Aku tidak pernah—'
'Bukan musuhmu.' Ario menatapnya lurus. 'Musuhku. Pesan ini tidak mengancammu karena kamu — pesan ini mengancammu karena aku. Dan itu artinya satu hal: seseorang dari masa laluku sudah tahu tentang kamu, dan memutuskan bahwa cara terbaik untuk menyakitiku adalah lewat kamu.' Ia berhenti, dan untuk sesaat sesuatu yang seperti rasa bersalah melintas di wajahnya. 'Aku pengacara, Ranti. Sepuluh tahun aku memenangkan kasus-kasus yang membuat orang-orang berbahaya kehilangan banyak hal. Daftar orang yang membenciku tidak pendek. Tapi tidak pernah satu pun dari mereka mendekati orang yang kusayangi — sampai sekarang.'
'Jadi ini salahmu?' Ranti menatapnya. 'Ario, lihat aku. Ini bukan salahmu. Ini salah orang yang mengirimnya. Dan kita sudah punya aturan: tidak ada yang disimpan sendiri, tidak ada yang dihadapi sendiri. Jadi sekarang kita hadapi berdua — dan beritahu aku apa yang harus kulakukan, dan aku akan melakukannya, karena aku tidak akan bersembunyi dari hidupku sendiri.'
Ario menatapnya lama — dan kemudian menariknya ke dalam pelukannya, erat, seperti orang yang menahan sesuatu yang paling berharga di dunia.
'Mulai malam ini, kamu tidak jalan kaki sendirian di mana pun. Bukan karena kamu tidak bisa — karena tidak perlu. Aku yang mengantar dan menjemput. Dan pesan itu akan kucari pengirimnya — aku punya cara-caraku, dan aku akan memakainya semua.' Ia berhenti, dan suaranya melembut. 'Dan Ranti. Satu hal lagi: jangan takut. Orang yang mengirim peringatan sopan sedang bermain dengan keberanian yang dipinjam. Kita tidak akan meminjamkan keberanian kita kepadanya.'
Malam itu mereka duduk di sofa apartemen Ranti lebih lama dari yang direncanakan — dengan teh yang diseduh Ranti untuk menenangkan dirinya sendiri lebih dari siapa pun, dan dengan satu percakapan yang menurutnya nanti menjadi salah satu yang paling penting dalam hubungan mereka. Bukan karena ancamannya. Karena cara mereka menghadapinya: tidak ada yang panik sendirian di kamar masing-masing, tidak ada yang menyusun cerita sendirian di kepala masing-masing. Dua orang, satu sofa, satu ancaman — dan dua aturan yang dijalankan dengan benar untuk pertama kalinya di bawah tekanan yang sesungguhnya. 'Kita lulus ujian pertama,' kata Ranti pelan, bersandar ke bahu Ario di penghujung malam. 'Badai pertama kita, dan kita tidak saling menyalahkan satu kali pun. Itu lebih berharga dari semua minggu-minggu yang cerah, Ario. Itu berarti rumah kita berdiri di atas tanah yang benar.'
***
Malam itu juga, dari mobilnya setelah memastikan Ranti tertidur, Ario melakukan dua panggilan — panggilan-panggilan yang tidak pernah disimpannya dari Ranti, tapi dijalankannya dengan segera karena waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dimenangkan kembali.
Panggilan pertama ke seorang penyelidik swasta yang sudah bertahun-tahun bekerja dengannya — lelaki bernama Sapta, mantan polisi yang keluar untuk membuka biro sendiri, dan yang pernah membuktikan keahliannya di tiga kasus besar firma Yudha & Bagas. 'Sapta. Ada satu pesan ancaman ke seseorang yang kusayangi. Dari nomor mati. Aku butuh pengirimnya — dengan semua cara yang sah, dan dengan kecepatan penuh.' 'Besok pagi saya mulai, Pa Ario. Dan satu hal dari pengalaman saya: pesan pertama yang sopan seperti itu selalu punya pesan kedua yang tidak sopan. Kita kerja cepat, supaya pesan kedua itu tidak pernah sempat ditulis.'
Panggilan kedua ke kepala keamanan gedung apartemen Ranti — dihubungi lewat jalur resmi, dengan izin yang akan diurusnya besok pagi — untuk mengetahui satu hal sederhana: apakah ada orang asing yang terlihat berkeliaran di sekitar gedung itu dalam dua minggu terakhir. Jawabannya datang satu jam kemudian, dan tidak menenangkan: ada. Satu mobil yang terparkir dua malam berturut-turut di minggu lalu, dengan satu orang yang tidak pernah turun dari dalamnya.
Orang ini tidak mengukur dari jauh. Orang ini sudah mendekat — dan baru sekarang menulis.
***
Tapi malam itu juga, di sisi kota yang lain, pesan kedua sedang disusun — oleh tangan-tangan yang tidak tergesa-gesa, di ruangan yang tenang, oleh seseorang yang sudah menunggu lebih lama dari yang bisa dibayangkan siapa pun.
Dan di atas meja itu, di samping ponsel yang mengirim pesan pertama, tergeletak satu foto yang sudah lama: foto Ario Yudha yang lebih muda, tersenyum di satu acara firma hukum, berdiri di sebelah seorang perempuan — dan wajah perempuan itu digarisi dengan tinta merah, berkali-kali, sampai kertasnya nyaris sobek.
Bukan Marissa. Seseorang yang lain. Seseorang yang dendamnya jauh lebih tua, jauh lebih dalam, dan jauh lebih sabar.
*'Pesan pertama sudah terkirim,'* tulisnya ke satu nomor. *'Sekarang kita menunggu. Orang yang panik selalu membuat kesalahan pertama — dan Ario Yudha akan membuat kesalahan pertamanya, karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia punya sesuatu yang bisa diambil.'*
Dan jawabannya datang: satu kalimat, dari nomor yang tidak pernah menyimpan nama: *'Bagus. Pelan-pelan saja. Kita punya waktu bertahun-tahun untuk ini — dan aku tidak keberatan menunggu sedikit lebih lama.'*