Minggu itu berjalan dengan dua kehidupan yang berjalan berdampingan: kehidupan yang terlihat — makan siang bersama, penjemputan sore, telepon-telepon larut — dan kehidupan yang tidak terlihat, yang dijalani Ario di jam-jam lainnya: menelusuri nomor itu.
Hasilnya datang Kamis: nomor itu terdaftar atas nama yang tidak ada, dibeli dua minggu lalu di satu toko kecil, dan hanya pernah dipakai dua kali — satu untuk pesan ke Ranti, satu untuk satu nomor lain yang juga tidak terdaftar. 'Dua nomor mati,' kata orang kepercayaan Ario — seorang penyelidik swasta yang sudah bertahun-tahun bekerja dengannya. 'Pengirimnya berhati-hati. Ini bukan orang yang emosional, Pa Ario. Ini orang yang terorganisir. Dan orang yang terorganisir selalu punya rencana yang lebih besar dari pesan pertamanya.'
Ario menyimpannya dalam diam — dan malam itu, di apartemen Ranti, ia menyampaikannya dengan jujur, karena aturan mereka tidak pernah boleh dikorbankan demi ketenangan sesaat.
'Kita tidak tahu siapa dia. Tapi kita tahu dua hal: dia berhati-hati, dan dia mengenalku cukup baik untuk tahu bahwa kamu adalah titik lemahku.' Ario menggenggam tangan Ranti di atas meja. 'Jadi kita tidak akan meremehkannya. Mulai besok, ada orang yang menjaga gedung apartemenmu dan sekitar kantor — tidak terlihat, tidak mengganggu, tapi ada. Dan kamu tidak pernah sendirian di tempat yang tidak aman. Itu tidak bisa ditawar, Ranti. Itu satu-satunya hal yang tidak bisa kutawar.'
'Dan kamu?' Ranti menatapnya. 'Orang ini dendam padamu, Ario. Aku bukan satu-satunya yang harus dijaga.'
'Aku sudah sepuluh tahun menghadapi orang-orang seperti ini.'
'Dan aku tidak peduli.' Ranti menggenggam tangannya lebih erat. 'Aturannya dua arah, Ario Yudha. Tidak ada yang disimpan sendiri — dan tidak ada yang dijaga sendirian. Kamu juga. Itu juga tidak bisa kutawar.'
Dan Ario menatap perempuan di hadapannya — perempuan yang diterornya malam itu, yang seharusnya ketakutan, yang justru berdiri mengatur perlindungan untuknya — dan merasakan sesuatu yang melampaui cinta: kagum. Utuh, dan tanpa syarat.
'Deal,' katanya. 'Dua arah. Seperti selalu.'
***
Jumat malam, Marissa muncul di satu acara industri hukum — acara yang dihadiri Ario, seperti yang sudah dijadwalkannya sejak lama — dan untuk pertama kalinya, bertemu Ranti secara langsung.
Ranti datang sebagai pendamping Ario — dengan dress sederhana dan satu keputusan yang diambilnya sejak pagi: malam ini ia bukan pacar yang cemburu; malam ini ia pendamping dari lelaki yang dicintainya, dan tidak ada satu pun yang akan membaca satu kelemahan di wajahnya.
Marissa mendekati mereka di tengah acara — dengan dua gelas di tangannya, dengan senyum yang sudah dilatihnya lima tahun di ruang-ruang seperti ini.
'Ario. Dan ini pasti... orang yang membuatmu mematikan telepon jam sembilan malam setiap hari.' Ia menatap Ranti dengan tatapan yang dinilai dalam satu detik — dan Ranti menilainya balik dengan kecepatan yang sama. 'Marissa. Rekan lama Ario dari masa yang lebih sederhana.'
'Ranti,' jawab Ranti, mengulurkan tangannya dengan tenang. 'Senang akhirnya bertemu. Ario sudah bercerita tentang proposal kolaborasinya — kedengarannya menarik. Kalian dulu tim yang baik, katanya.'
Marissa menjabat tangan itu — dan untuk sepersekian detik, Ranti melihatnya: sesuatu yang melintas di mata perempuan itu saat Ranti menyebut kata 'kolaborasi' dengan nada yang benar-benar tidak terancam. Perhitungan yang tidak menemukan titik lemah. Marissa mengharapkan pacar yang gugup, yang cemburu, yang bisa dibaca. Ia menemukan satu perempuan yang berdiri di samping Ario seperti berdiri di rumahnya sendiri.
'Kedengarannya kamu sudah tahu banyak,' kata Marissa, dan senyumnya tidak berubah satu milimeter pun.
'Kami tidak pernah menyimpan apa-apa satu sama lain,' jawab Ranti sederhana. 'Itu aturan kami sejak hari pertama. Jadi tidak ada yang bisa mengejutkan aku tentang Ario — dan aku harap tidak ada yang bisa mengejutkan Ario tentang aku. Itu membuat segalanya jauh lebih sederhana untuk semua orang.'
Dan Ario, yang berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya di depan Marissa — pelan, tanpa teatrikal, dengan cara seorang lelaki yang tidak perlu membuktikan apa-apa kepada siapa pun.
'Kalau proposalnya sudah siap, kirim ke kantor,' kata Ario. 'Dan Marissa — senang bertemu lagi. Tapi malam ini aku dengan Ranti, jadi permisi.'
Mereka berjalan pergi berdua — dan Marissa berdiri di tengah acara itu dengan dua gelas di tangannya, menyaksikan dua orang yang berjalan pergi bergandengan tangan seperti satu badan, dengan satu pikiran yang dingin dan jelas:
*Dia bukan pacar biasa. Dia yang sebenarnya. Dan itu berarti mengambilnya akan membutuhkan lebih dari sekadar kehadiranku. Itu berarti aku harus menghancurkan sesuatu yang lebih dalam — dan untuk itu, aku membutuhkan sesuatu yang lebih kuat dari kehadiran.*
Dan di sakunya, satu ponsel bergetar dengan satu pesan dari nomor yang tidak pernah menyimpan nama: *'Kamu sudah melihatnya. Sekarang kamu tahu: ini tidak akan mudah. Tapi itu justru bagus. Karena aku tidak pernah tertarik pada hal-hal yang mudah. Minggu depan, kita bicara — tentang bagaimana cara meruntuhkan rumah yang dibangun dengan benar. Jawabannya selalu sama: dari fondasinya.'*
Marissa membaca pesan itu sekali — dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke Jakarta, ia bertanya pada dirinya sendiri satu pertanyaan yang tidak pernah ditanyakannya sebelumnya: *dengan siapa sebenarnya aku bersekutu?*
Tapi pertanyaan itu hanya bertahan tiga detik. Karena Marissa tidak pernah bertanya dua kali — dan karena dendam yang dibawa pulang lima tahun tidak pernah menunggu jawaban dari siapa pun.