ARIO. Ranti melihatnya pertama kali saat ia memasuki lift di gedung kantornya. Ia terburu-buru ia mengejar lift, tak disangka pintu lift ada yang menahan. Ranti pun mengucapkan terima kasih sambil melihat sesosok pria yang menahan pintu lift itu.
Pagi itu lobi masih penuh. Bau kopi dari kedai di sudut gedung bercampur dengan parfum orang-orang yang sama-sama telat. Ranti sempat mendengar suara sepatunya sendiri menghentak lantai marmer, terlalu keras, terlalu buru-buru.
Pandangan mereka bertemu. Jantung Ranti tiba-tiba berdegup kencang. Pria itu tampan sekali. Badannya tinggi, rahangnya tegas, dan bahunya bidang. Belum lagi tatapan matanya yang tajam namun terlihat lembut.
'Te.. te.. terima kasih,' Ranti begitu gugup, lalu mengalihkan tatapannya.
Suaranya keluar terlalu pelan, nyaris kalah oleh dentang pintu lift yang menutup. Ranti menatap ujung sepatunya. Kenapa harus gagap sih, batinnya. Padahal cuma bilang terima kasih.
Pria itu hanya diam, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Hufhh... Ranti menghela nafas kecil, sedikit kecewa karena ternyata pria itu tidak memberi respon apapun padanya.
Ia berdiri menghadap pintu lift. Pria itu dibelakangnya. Ranti hanya bisa diam, dan terus menatap pergerakan lift. Posisi sekarang di lantai 3, tak sabar rasanya untuk tiba di lantai 7.
Dinding lift memantulkan bayangan mereka berdua. Dari pantulan itu Ranti bisa melihatnya berdiri tegak, satu tangan memegang map, matanya lurus ke depan, tidak sekali pun melirik. Ada wangi parfum yang bersih dan dingin, seperti kayu sehabis hujan.
Saat menatap angka-angka itu, Ranti tersadar, tidak ada angka lain yang menyala. Pria itu menuju ke lantai 7 juga kah? Siapa dia? Mau kemana? Bertemu siapa? Berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya.
Ranti pura-pura sibuk membuka ponsel, padahal layarnya masih gelap. Angka di atas pintu bergerak lambat sekali. Empat. Lima. Enam. Ia menahan napas tanpa alasan yang jelas.
Tiba-tiba, pintu lift terbuka. Mereka tiba di lantai 7. Ranti pun keluar dengan segera. Sesuai dugaan, pria itu pun keluar.
Ranti melangkah cepat dan duduk di kursi kerjanya. Ia tidak mau melihat lagi pria itu. Jantungnya terus berdebar kencang.
Ada langkah lain yang terdengar di belakangnya, tenang, tidak terburu-buru, lalu menjauh ke arah lain. Ranti tidak menoleh. Ia menghitung dalam hati sampai langkah itu tidak terdengar lagi.
Ia menyalakan komputernya, salah mengetik password sampai dua kali. Layar email terbuka, tapi tidak satu pun huruf masuk ke kepalanya.
Hhh... Hati kecilnya merasakan ada ketertarikan pada pria itu. 'Ah lupakan!' tanpa sadar ia tiba-tiba bicara sendiri cukup lantang. Uppss...
'Lupakan apa?' Linda yang kebetulan berada di dekat mejanya tampak penasaran. 'Ahh... tidak!' Ranti menutup mukanya dan membenamkan wajahnya ke meja. 'Ada apa?' Cica ikut mendekatinya. Akhirnya Ranti mengungkapkan isi kepalanya pada Linda dan Cica. 'Ini efek virus cowo ganteng!'
'Jangan-jangan gara-gara tamu ganteng tadi ya?' kata Cica. 'Siapa tamu ganteng?' Linda makin penasaran. 'Itu tamunya Pa Ridwan,' ungkap Cica lagi. 'Resepsionis sampai ribut, ada tamu ganteng banget cari Pa Ridwan, bilangnya dari kantor pengacara.'
'Wah? Tim Legal baru?' tanya Linda. 'Entahlah,' Cica hanya mengangkat kedua tangannya. 'Jadi, efek tamu ganteng itu ya?' Cica bertanya lagi pada Ranti. 'Yesss... Sweet banget jagain pintu lift. Tapi pas say thanks, dia cuma diam. Ah broke my heart,' Ranti bercerita dengan suara melemah. 'Hahaha... Terus maunya gimana? Tatap-tatapan? Langsung falling in love? Ini hidup bukan drama,' canda Linda.
'No... Maksudku I'm not that bad. Berharap dia bilang ok atau sama-sama. Just that. Bukan respon super dingin kaya tadi. Kecewa. Putus sebelum berlanjut,' Ranti merajuk dan memasang muka sedih.
Sekilas Ranti melihat dirinya sendiri. Ia bekerja sebagai Head of Marketing di Majalah 'For Her'. Sehari-hari ia bertemu klien, jadi penampilan selalu ia perhatikan. Banyak orang yang menyebut sense of fashion-nya bagus dan selalu terlihat menarik mengenakan apapun. Hari ini ia mengenakan loafer hitam, pallazo hitam, kemeja mint dan outer warna putih. Rambut panjang sebahunya ia ikat. Tak banyak aksesoris, ia hanya mengenakan anting mutiara kecil dan jam tangan sporty warna hitam.
Tapi ia lalu tertawa, 'Who am I yaa?' ujarnya. 'Yang mana sih orangnya?' Linda pun penasaran. 'Masih di ruang Pa Ridwan. Nanti kita tunggu keluar. Aku info nanti,' Cica menjawabnya lalu berjalan menuju mejanya.
Cica adalah Fashion Editor di Majalah 'For Her'. Salah satu teman terbaik Ranti di kantor. Mereka sudah kenal lama sejak sama-sama diterima di kantor majalah terbesar di Indonesia ini. Sudah 8 tahun mereka bersama, dari usia 23 tahun hingga sekarang beranjak 31 tahun.
Linda masih berdiri di dekat Ranti. Ia Public Relation 'For Her', jadi hampir tiap pagi Ranti dan Linda pasti meeting untuk membahas mengenai tren dan isu-isu hangat dunia fashion, juga saling bertukar pikiran. Tema obrolan pun berganti soal pekerjaan. Tiba-tiba obrolan mereka terputus, Sekretaris Pa Ridwan yang bernama Dinda menghampiri mereka.
'Bu Ranti dan Bu Linda dipanggil Pa Ridwan ke ruangan,' ujarnya. 'Wah ada apa nih,' Linda tersenyum kecil sambil mengedipkan mata pada Ranti.
Ranti melirik Linda dengan mata memohon supaya tidak macam-macam. Linda hanya mengangkat bahu, senyumnya makin lebar.
Ranti tak sanggup berkata-kata, jantungnya berdebar tidak karuan. Linda lalu menggandengnya, dan berjalan menuju ruang Pa Ridwan.
Sepanjang koridor Ranti mencoba menenangkan diri. Ini pasti soal proposal kerja sama, pikirnya. Atau agenda edisi bulan depan. Tapi telapak tangannya dingin, dan ia sadar itu bukan tanda-tanda orang yang mau membahas agenda edisi bulan depan.
'Ya masuk,' suara Pa Ridwan terdengar menjawab ketukan pintu Linda dan Ranti. Bapak Ridwan Nugraha adalah Direktur Majalah 'For Her'. Sosoknya terbilang senior di dunia media.
Pintu terbuka. Aroma kopi hitam dan kertas baru menyambut mereka. Di kursi seberang meja Pa Ridwan ada seseorang yang duduk membelakangi pintu, lalu menoleh sedikit ke arah suara. Napas Ranti tertahan di tenggorokan. Pria lift itu.
Ranti dan Linda pun duduk.
Ranti mengambil kursi paling ujung dan menegakkan punggung, berusaha terlihat seperti Head of Marketing yang biasa menghadapi klien mana pun. Di dalam kepalanya satu kalimat berputar terus: jadi dia memang ke lantai 7.
'Pa Ario, kenalkan ini Miranti Larasati Head of Marketing dan Linda Maulida Public Relation For Her,' Pa Ridwan memperkenalkan mereka.
Ario pun berdiri dan menyalami Linda, lalu bergerak menyodorkan tangan pada Ranti. 'Ario Yudha,' ujarnya tegas sambil menggenggam tangan Ranti erat.
Genggamannya tegas dan singkat, langsung dilepas begitu namanya selesai diucapkan. Nada suaranya datar, tanpa tambahan basa-basi apa pun. Ranti hanya sanggup mengangguk, lupa menyebutkan namanya sendiri, lupa pula bahwa Pa Ridwan sudah melakukannya untuknya.
'Pa Ario ini dari kantor pengacara Yudha & Bagas. Ia akan menjadi konsultan tim legal For Her,' ungkap Pa Ridwan.
Konsultan tim legal. Berarti pria ini akan sering ada di lantai yang sama dengannya. Ranti belum tahu harus merasa senang atau justru panik.
Itu pertemuan “pertama” Ranti dan Ario. Awal kisah mereka.