Di ruangan itu, Ranti hanya bisa menunduk. Sambil mendengarkan ucapan Pa Ridwan, ia sesekali melihat ponselnya.
Ruangan Pa Ridwan selalu berbau kopi hitam dan kertas majalah yang baru keluar dari percetakan. Pendingin ruangannya pun selalu disetel terlalu dingin. Ranti meremas ujung blazernya, mencoba menenangkan telapak tangannya yang entah kenapa masih terasa hangat. Fokus, Ran. Fokus.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Setelah dipersilahkan masuk, tampak 3 orang memasuki ruangan. Ternyata Tim Legal.
'Pa Ario ini tim legal kita, agak terlambat karena mereka baru saja rapat di luar kantor. Head of Legal Wiratama, lalu asistennya Ira dan Andri,' Pa Ridwan memperkenalkan.
Wira dan Ario pun saling bersalaman. Sekilas Ranti melihat keduanya memiliki postur tubuh yang sama tinggi dan besar, meski Wira terlihat lebih berotot. Ario juga berbadan atletis tapi tidak menunjukkan otot yang berlebih. Ranti tiba-tiba memiliki imajinasi tersendiri, seperti apa jika ia menyentuhnya. Ranti stop! Ia merasa aneh sendiri, kenapa memikirkan hal itu. Ranti buru-buru memindahkan pandangan ke map di pangkuannya, pura-pura membaca deretan angka yang sebenarnya tidak ia baca sama sekali. Hmm…
Tiba-tiba Wira mengarahkan pandangan padanya. Ranti mencoba memasang muka cuek, antara kaget Wira melihatnya, sekaligus juga ketidaknyamanan satu ruangan dengan Ario. Namun entahlah apa yang terlihat. Apakah teman-teman kantornya di ruangan itu tahu kalau ia sedang gundah dan gelisah tidak jelas? Ah sudahlah, pikir Ranti.
Suara Pa Ridwan terdengar jauh, seperti radio dari ruangan sebelah. Ranti hanya menangkap potongannya saja: kontrak, klausul, tenggat waktu. Ia mengangguk di saat yang tepat, dan diam-diam berdoa supaya tidak ada yang bertanya apa pun padanya.
Tak lama, Pa Ridwan menyudahi pertemuan itu. Ranti pun kembali ke mejanya. Sesekali ia melirik ke arah ruangan Pa Ridwan, menanti keluarnya si tampan Ario dari ruangan itu.
Plak! Punggungnya disentuh keras oleh seseorang. Ternyata Linda. 'Aduh apa sih?' Ranti pura-pura kesal. Punggungnya masih terasa panas, dan pelakunya malah cengar-cengir tanpa merasa bersalah sedikit pun.
'Rantiii.. iya benar itu pengacara super ganteng. Hmm.. Karismatik,' puji Linda penuh semangat. 'Terus kenapa?' Ranti berpura-pura cuek sambil melihat majalah. 'Ihhh... Aku dukung dirimu sama pengacara ituuu...' Linda berbisik di telinganya. 'Setujuuu...' Cica ikut-ikutan berbisik di telinga satunya lagi.
'Tapi kelihatannya dia tidak ada interest. No comment,' Ranti menjawab keisengan dua temannya itu. 'Jangan menyerah ok?! Nanti kita ngobrol lagi, aku harus ke lapangan,' Linda pun pergi. Cica mengikutinya. Keduanya terlihat tertawa bersama, entah apa yang mereka bicarakan.
Ranti menutup majalahnya. Ia sendiri tidak yakin tadi sedang membela diri atau sedang meyakinkan hatinya. No interest. Dua kata yang ia ucapkan sendiri, tapi terdengar jauh lebih pahit dari yang ia kira.
Ranti pun menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Ia yang tadinya menanti Ario keluar ruangan Pa Ridwan pun lupa. Sampai jam menunjukkan pukul 12.00, waktunya makan siang. Tapi Ranti kehilangan selera makan dan memutuskan hanya diam saja di ruangan. Ruangan mendadak lengang. Yang terdengar hanya desis pendingin udara dan satu dua langkah di koridor. Ranti menatap layar, huruf-huruf di proposal itu berbaris rapi tanpa makna.
Namun, ponselnya berbunyi. Ternyata WIRA. Nama itu berkedip di layar. Entah kenapa Ranti merasa sedikit lega. Setidaknya masih ada yang mengingatnya siang ini.
Wira adalah teman sekelas saat SMA. Meski dulu saat SMA tidak terlalu dekat, tapi mereka saling kenal. Jadi hubungannya sekarang tidak canggung lagi, malah semakin akrab. Dulu Wira anak basket yang selalu ribut di barisan paling belakang. Sekarang ia Head of Legal, dan tetap saja ribut.
Wira, 'Ranti, mau gabung makan siang?'
Ranti, 'Dimana?'
Wira, "Proper Lunch, gedung sebelah. Aku turun. Tunggu.” Langsung menutup telepon tanpa menunggu jawabannya.
Ranti pun menghela nafas, dan akhirnya siap-siap keluar. Ruangan Wira ada di lantai 9. Supaya tidak lama lagi, Ranti pun bergegas menuju area lift, terus berjalan sambil melihat isi tas. Betapa kagetnya, baru ia sadari dompetnya tidak ada, Ranti pun setengah berlari kembali ke ruangannya.
Brak! Badannya bertubrukan dengan seseorang dan sedikit terpental hampir mengenai pembatas ruangan. Namun ia terselamatkan, ada tangan yang menarik tangannya. Kaget! Aroma parfum maskulin yang samar-samar ia kenal langsung menyergap hidungnya. Ranti bahkan belum sempat mengangkat wajah, tapi dadanya sudah tahu lebih dulu.
Lebih kaget lagi, ternyata sosok itu Ario.
'Ma.. Maaf Pa Ario,' Ranti meminta maaf sambil agak terbata-bata. Ia kaget luar biasa, pertama karena bertubrukan dan kedua Ario memegang tangannya!!!
Lagi-lagi Ario tidak berkata-kata. Ia hanya tersenyum kecil. Hatinya meleleh... Ranti mulai merasa getaran-getaran itu memang ada. Telapak tangan pria itu hangat dan kering. Genggamannya tidak keras, tapi juga tidak buru-buru dilepas. Satu detik. Dua detik. Ranti lupa cara bernapas dengan benar.
'Ranti!' Wira memanggilnya.
Kondisinya saat itu, Ario masih memegang tangannya. Ranti pun melepaskan diri. Cepat-cepat, seperti orang yang ketahuan mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Wira menghampiri keduanya, lalu menyapa Ario. 'Siang Pa Ario, ternyata masih di kantor, mau gabung kita makan siang?' sapa Wira. 'Terima kasih, tapi saya harus segera kembali ke kantor. Besok setelah meeting mungkin kita bisa lanjut makan siang,' ujar Ario ramah.
Ranti kaget. Kenapa Ario seramah itu? Sedangkan padanya tidak mengucap sepatah kata pun. Kecewa. Ranti merasa pupus harapan. Padahal tadi tangannya yang ditarik. Padahal tadi ia yang hampir terpental. Tapi yang mendapat kalimat sepanjang itu justru Wira.
'Baik Pa Ario, sampai besok,' balas Wira. 'Saya permisi dulu,' pamit Ario. 'Baik pa,' ujar Wira. Ario pun melangkah menuju lift.
Sementara itu, Wira menyapa Ranti. Saat Ranti mengungkapkan dompet entah dimana, Wira langsung mengusap cepat bagian atas kepala Ranti dan mengatakan,'Lunch on me! Ayo.' Mereka pun berjalan ke arah lift. Ranti sempat mengaduh kecil karena rambutnya jadi berantakan, meski sebenarnya ia tidak keberatan.
Ario masih di situ menunggu lift terbuka di lantai 7. Saat lift terbuka, dengan 'terpaksa' mereka bertiga memasuki lift yang sama. Ranti menundukkan kepalanya, berpura-pura mencari barang di dalam tas. Sunyi, sepi, tidak ada obrolan dalam lift. Angka lantai turun satu per satu di layar kecil di atas pintu. Enam. Lima. Empat. Ranti menghitunginya dalam hati, supaya tidak perlu memikirkan bahu siapa yang cuma berjarak sejengkal dari bahunya.
Akhirnya lift tiba di lantai dasar. Ahh akhirnya, Ranti bersyukur dalam hati. Saat hendak melangkah keluar, Wira memegang bahunya pelan, dan mengarahkannya untuk keluar. Meski kaget, Ranti mengikutinya.
'Mari Pa Ario,' Wira berpamitan.
Sekilas terlihat, Ario hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Ranti merasa hari itu bukan miliknya. Bye pengacara ganteng, pikirnya saat itu.
Di luar gedung, matahari siang langsung menampar wajahnya. Wira mengoceh soal menu andalan Proper Lunch, tentang sup yang katanya wajib dicoba. Ranti mengiyakan, mengangguk, bahkan tertawa di bagian yang seharusnya lucu. Tapi kepalanya masih tertinggal di lift tadi, di lantai tujuh, di tangan yang menariknya lalu tidak mengucapkan apa-apa.
***