Marissa menelepon Ario pada Senin pagi — dengan suara yang tidak pernah didengarnya darinya dalam lima tahun mengenalnya: suara yang tidak dihitung.
'Aku harus bertemu denganmu. Hari ini. Dan tidak dengan tim — denganmu, dan dengan perempuanmu. Tanyakan padanya dulu. Aku akan menunggu jawabannya.'
Mereka bertemu di rumah Ario sore itu — tempat yang dipilih Ranti, karena rumah adalah tempat untuk kebenaran, dan apa pun yang dibawa Marissa sore itu bukan untuk ruang publik.
Marissa datang dengan satu amplop di tangannya dan satu wajah yang sudah selesai berperang dengan dirinya sendiri. Ia tidak duduk. Ia berdiri, dan berbicara langsung:
'Aku datang ke Jakarta untuk merebutmu kembali, Ario. Itu benar, dan aku tidak akan berpura-pura sebaliknya. Tapi dua minggu terakhir ini aku menjadi sesuatu yang tidak pernah kurencanakan: alat orang lain. Seseorang mendekatiku sebelum aku tiba — seseorang yang sudah lama mengawasi kalian berdua, yang mengetahui kebiasaan kalian, yang memalsukan dokumen dari firma kalian, dan yang mengirimiku satu amplop untuk disampaikan kepada perempuanmu sebagai senjata.' Ia meletakkan amplop kedua di meja — amplop yang sama yang diterima Ranti darinya, yang kini sudah dibaca berdua. 'Aku sudah menyampaikannya. Tapi aku tidak akan menyampaikan satu pun lagi — karena aku sudah selesai menjadi pembawa untuk orang yang tidak pernah menunjukkan wajahnya.'
'Kenapa berbalik?' tanya Ario.
'Karena dua hal.' Marissa menatap mereka berdua. 'Pertama: perempuanmu tidak pernah memberiku satu celah pun untuk dibenci — dan aku sudah cukup lama di dunia ini untuk tahu bahwa orang yang tidak bisa dibenci dengan benar biasanya orang yang benar. Dan kedua...' ia berhenti, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang nyata di suaranya — bukan perhitungan, bukan topeng: jujur. 'Kedua: orang itu memalsukan bukti untuk menghancurkan kalian. Dan aku menghabiskan lima tahun membencimu untuk sesuatu yang kamu lakukan dengan benar, Ario. Aku tidak bisa menemukan satu pun yang salah dengan caramu memenangkan kasus-kasus itu — dan aku sudah mencarinya, percayalah, dengan semua yang kupunya. Kalau aku berdiri di sisi orang yang memalsukan bukti untuk menghancurkanmu, maka lima tahun dendamku bukan keadilan. Hanya kerak. Dan aku tidak mau sisa hidupku menjadi kerak.'
Ranti dan Ario saling menatap — dan Ranti yang menjawabnya:
'Terima kasih sudah datang dengan benar, Marissa. Itu tidak mudah — dan kami tahu itu.' Ia menatapnya lurus. 'Dan sekarang bantu kami: semua yang dia pernah katakan padamu, setiap pertemuan, setiap kalimat. Kami sedang mencarinya — dan kamu satu-satunya orang yang pernah duduk di meja yang sama dengannya.'
'Itu sebabnya aku di sini,' jawab Marissa. 'Tapi dengarkan satu hal dariku, dari lima tahun aku mengenal Ario dan dua minggu aku mengenal orang itu: dia tidak akan pernah menyerang kalian dari depan. Dia akan menyerang dari satu-satunya arah yang tidak pernah kalian jaga — dari kebenaran yang diputar, dari orang yang kalian percaya, dari dalam fondasinya sendiri. Dan dia sudah memulainya.' Ia menatap mereka berdua. 'Minggu depan aku seharusnya menerima 'kebenaran' berikutnya darinya — satu nama, katanya, yang akan mengubah segalanya. Aku akan pergi ke pertemuan itu. Dan kali ini, aku akan pergi sebagai orang kalian.'
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak pesan pertama, papan itu memiliki satu sisi baru yang berdiri di sisi mereka — dan satu pertemuan minggu depan yang akan membawa mereka lebih dekat ke wajah yang tidak pernah menunjukkan dirinya, dari jarak yang paling dekat yang pernah ada.
Dari dalam.
***
Setelah Marissa pergi, mereka tidak langsung menyusun rencana — mereka membiarkan malam itu mengendap dulu, seperti semua hal besar dalam rumah itu. Dan keesokan paginya, di ruang kerja Ario, dengan Sapta yang dipanggil datang, mereka membaca pertemuan minggu depan itu dengan mata orang-orang yang tidak pernah membuang kesempatan.
'Marissa menjadi mata kita di dalam mejanya,' kata Sapta, mengetuk papan itu. 'Itu keuntungan yang tidak pernah kumiliki di penyelidikan mana pun. Tapi itu juga risiko yang tidak bisa kuremehkan: orang itu sudah membacanya minggu ini saat dia menelusurinya — dia sendiri yang mengatakannya. Kalau dia membaca perubahan di Marissa, pertemuan minggu depan bukan lagi pertemuan biasa. Bisa jadi jebakan untuknya.'
'Maka kita tidak membiarkannya pergi sendirian,' kata Ario. 'Kamu di sekitarnya, tanpa terlihat. Dan satu hal yang tidak bisa ditawar: dia tidak akan pernah berada di luar jangkauan pandang orang-orangmu. Marissa masuk ke meja itu sebagai orang kita — dan orang kita tidak pernah dibiarkan sendirian di meja mana pun.'
'Dan satu hal lagi,' kata Ranti, yang sedari tadi diam membaca papan itu. 'Kita tidak pernah memberitahunya rencana yang sesungguhnya — bukan karena tidak percaya, tapi karena orang yang tidak tahu tidak pernah bisa kecolongan. Marissa hanya perlu tahu satu hal: bahwa kita mempercayainya. Dan kepercayaan itu, Ario, harus diucapkan langsung kepadanya — olehmu. Karena orang yang berbalik dari lima tahun dendam tidak butuh strategi dari kita. Dia butuh satu bukti bahwa pilihannya benar. Dan bukti itu tidak pernah datang dari rencana — bukti itu datang dari orang.'
Ario menatapnya — dan mengangguk pelan. 'Aku yang akan mengatakannya. Sebelum dia pergi ke meja itu, dia akan mendengarnya dariku langsung: bahwa kami mempercayainya, dan bahwa kepercayaan itu bukan alat. Itu hal pertama yang akan kuberikan padanya — sebelum satu pun tugas.'
Dan papan itu, malam itu, untuk pertama kalinya tidak terlihat seperti papan perang. Ia terlihat seperti apa yang selalu dimaksudkannya sejak awal: papan orang-orang yang menolak untuk kalah — dan yang kini, akhirnya, punya satu mata di dalam meja lawannya.