Mereka menghabiskan akhir pekan itu di ruang kerja Ario, dengan arsip kasus itu terbuka di meja di antara mereka — dan dengan Ranti yang membacanya halaman demi halaman seperti membaca buku yang tidak pernah ingin diselesaikannya.
Kasus itu bernama sederhana di sampulnya: *Sengketa Pabrik Tekstil Madina.* Dan isinya adalah kisah yang sudah terlalu sering terjadi untuk menjadi berita: satu keluarga kecil yang memiliki satu pabrik yang diwariskan dua generasi, satu grup besar yang menginginkannya, dan satu sengketa yang dimenangkan dengan uang dan waktu — dua hal yang tidak pernah dimiliki keluarga kecil.
Ranti membaca tentang keluarga itu dengan perlahan — karena Ario memintanya membaca dengan perlahan, 'supaya kamu mengenal mereka, bukan hanya mengenal kasusnya'. Hamid Madina, pewaris generasi kedua, yang menulis surat-surat perlawanannya dengan tangan. Istrinya, Rukmini, yang berjualan kain dari halaman rumah mereka saat pabriknya mulai dicekik. Dan dua anak mereka — satu anak laki-laki yang waktu itu berusia dua belas tahun, satu anak perempuan berusia delapan — yang namanya hanya muncul satu kali di dokumen-dokumen itu, dalam satu laporan sekolah tentang dua anak yang berhenti sekolah di tengah tahun ajaran. Ranti berhenti di nama dua anak itu lebih lama dari halaman mana pun — dan Ario tidak mengganggunya, karena ia tahu persis di halaman mana perempuan itu sedang berhenti, dan apa yang sedang dibacanya di sana: bukan kasus, tapi dua anak yang tidak pernah memilih satu pun dari semuanya.
'Kasus ini tidak pernah tentang hukum untuk mereka,' kata Ario pelan, saat Ranti akhirnya mengangkat wajahnya. 'Kasus ini tentang satu keluarga yang kehilangan semua yang dibangun dua generasi — dan dua anak yang kehilangan ayahnya setahun setelahnya. Aku memenangkannya, Ranti. Dan dua tahun aku mencarinya bukan untuk membersihkan namaku — tapi karena tidak ada satu pun kemenangan yang pantas dibangun di atas dua anak yang berhenti sekolah di tengah tahun ajaran.'
'Aku menang untuk grup itu,' kata Ario, menunjuk satu nama di daftar klien. 'Grup Lestari. Dan enam bulan setelahnya, aku menemukan ini.' Ia menyerahkan satu map terpisah — map yang sudah aus di pinggirnya, seperti sudah dibuka ratusan kali. 'Dokumen-dokumen yang seharusnya diserahkan klienku di awal dan tidak pernah diserahkan: bukti bahwa mereka sudah tahu satu saksi kunci keluarga Madina itu ditekan untuk mundur. Bukan oleh grupnya secara resmi — oleh satu orang di dalamnya, yang memainkannya sendiri, dan menyembunyikannya bahkan dari pengacaranya. Dari aku.'
'Apa yang kamu lakukan saat menemukannya?'
'Aku berkonfrontasi dengan klienku. Dia tidak menyangkalnya — dia justru tersenyum dan mengatakan satu kalimat yang tidak pernah kulupakan: 'Pengacara yang baik tidak bertanya, Ario. Pengacara yang baik menang.'' Ario menatapnya. 'Aku keluar dari mandat itu hari itu juga. Firma kami tidak pernah lagi menerima satu pun pekerjaan dari Grup Lestari. Dan aku menghabiskan dua tahun berikutnya mencari keluarga Madina — untuk mengembalikan apa yang bisa dikembalikan. Tapi mereka sudah menghilang. Pabriknya dijual paksa, rumahnya dijual, dan satu tahun kemudian kepala keluarganya meninggal. Aku tidak pernah menemukan satu pun dari mereka.'
Dua tahun pencarian itu ada di satu map terpisah lagi — map yang dibawanya dari laci paling dalam, yang tidak pernah dilihat siapa pun: catatan-catatan pencarian, alamat-alamat yang sudah tidak ada, nama-nama kontak yang tidak pernah menjawab. Ranti membacanya satu per satu, dan di halaman terakhirnya ada satu catatan tulisan tangan Ario sendiri, bertanggal dua tahun setelah kasus itu: *'Tidak ditemukan lagi. Tapak terakhir: kota kecil di utara, sudah kosong. Jika suatu hari mereka ditemukan, semua sudah siap di map biru — ganti rugi, permintaan maaf, dan satu surat yang sudah kutulis sejak lama. Kasus ini tidak pernah selesai untukku. Dan tidak akan pernah selesai sampai mereka ditemukan.'*
'Kamu menyimpan map biru itu sampai sekarang,' kata Ranti pelan. Bukan pertanyaan.
'Aku menyimpannya sampai sekarang. Dan akan terus menyimpannya — karena beberapa utang tidak pernah kedaluwarsa, Ranti. Utang itu hanya menunggu untuk dilunaskan, berapa pun tahun yang dibutuhkan.'
Ranti membaca map aus itu dalam diam yang panjang. Dan saat mengangkat wajahnya, tidak ada satu pun keraguan di matanya — hanya satu pertanyaan yang paling penting:
'Nama orang itu. Orang di dalam Grup Lestari yang memainkannya sendiri. Siapa dia?'
'Dia yang paling tidak pernah bisa kubuktikan apa pun tentangnya.' Ario menatap papan tujuh nama itu. 'Direktur operasionalnya waktu itu. Orang yang tidak pernah muncul di satu pun dokumen resmi, yang selalu bergerak di balik nama-nama lain. Aku mengenalnya hanya dari satu pertemuan dan satu nama yang tidak pernah ada di mana pun lagi setelahnya. Dan Ranti — dengarkan ini baik-baik, karena ini bagian yang membuat semuanya masuk akal: memo palsu yang dikirim ke Marissa itu meniru gaya firma kami dengan sempurna. Terlalu sempurna. Orang yang bisa meniru memo firma kami sebelum kasus ini... adalah orang yang pernah bekerja cukup dekat dengan firma kami untuk mengenal bentuknya.'
'Atau,' kata Ranti pelan, dengan mata yang sedang membaca sesuatu yang lebih besar, 'orang yang menyuruh menulis memo-memo seperti itu — untuk klien-klien seperti Grup Lestari — dan yang mengenal bentuknya dari sisi seberang. Ario. Bagaimana kalau orang bertopi itu bukan dari kasus Danuarta Sutedja sama sekali? Bagaimana kalau dia dari kasus Madina — dan dia bukan salah satu dari keluarga yang dihancurkan?'
Ario menatapnya — dan Ranti bisa melihat seluruh papan itu menyusun ulang dirinya di kepalanya, garis demi garis.
'Bagaimana kalau dia adalah orang yang menghancurkannya,' lanjut Ranti, 'dan yang kehilangan segalanya bukan karena kamu menang — tapi karena permainannya sendiri akhirnya terbaca, dan dia harus menghilang? Orang seperti itu tidak dendam pada pengacara yang menang. Orang seperti itu dendam pada satu-satunya orang yang pernah membacanya — pada satu-satunya orang yang tahu bahwa dia ada.'
Dan ruangan itu hening — karena untuk pertama kalinya sejak pesan pertama, papan itu tidak lagi dibaca dari sisi yang sama.