Marissa tidak pernah merencanakan untuk bertemu Ranti — tapi semesta, atau keberanian yang dipinjam dari satu botol wine, mengatur keduanya bertemu di satu acara amal yang dihadiri For Her dan firma Ario.
Acara itu sendiri adalah acara tahunan yang selalu dihadiri Ranti mewakili majalahnya — malam penggalangan dana untuk pendidikan anak, dengan meja-meja berdiri dan musik yang tidak pernah terlalu keras. Ario terlambat karena satu rapat yang memanjang, dan Ranti berdiri sendirian di dekat meja minuman dengan satu gelas soda dan satu kesadaran penuh bahwa malam ini ia diperhatikan — oleh Mirna dari seberang ruangan, oleh orang-orang yang mengenalnya sebagai pacar baru Ario Yudha, oleh semua mata yang selalu ada di acara-acara seperti ini. Ia menjalankannya dengan cara yang sudah menjadi caranya: berdiri tegak, tersenyum pada yang menyapa, dan tidak pernah sekali pun terlihat seperti orang yang sedang diperhatikan. *Mereka membaca untuk menemukan celah,* pikirnya, memutar gelasnya pelan. *Maka tidak akan pernah ada celah untuk dibaca.*
Ranti melihatnya lebih dulu — di seberang ruangan, sendirian, dengan dua gelas dan satu wajah yang tidak pernah dilihatnya di perempuan itu sebelumnya: ragu. Marissa yang ragu adalah pemandangan yang tidak pernah ada — dan Ranti, yang menghabiskan hidupnya membaca orang, membacanya dalam satu detik.
'Kamu terlihat seperti orang yang membawa sesuatu yang berat,' kata Ranti, menghampirinya. Bukan menunggu diserang. Menghampiri.
'Kamu terlihat seperti orang yang tidak pernah takut pada apa pun,' jawab Marissa. 'Itu yang paling menggangguku darimu, tahukah kamu. Aku sudah menemuimu dua kali, dan dua kali kamu tidak pernah memberiku satu celah pun untuk dibaca. Orang yang tidak punya celah adalah orang yang berbahaya — atau orang yang benar-benar tidak menyembunyikan apa-apa. Dan aku sudah cukup lama di pekerjaan ini untuk tahu yang mana yang langka.'
'Kamu sedang menilai aku atau sedang berbicara denganku?'
Marissa tertawa kecil — tawa pertama yang jujur yang pernah keluar darinya di hadapan Ranti. 'Mungkin dua-duanya. Mungkin aku sudah terlalu lama di dunia yang tidak bisa membedakan keduanya.' Ia menatap Ranti lama — dan kemudian, dengan gerakan yang tidak direncanakannya, membuka tasnya dan mengeluarkan satu amplop. 'Ada yang harus kamu baca. Bukan dariku — aku hanya pembawanya, dan aku sudah lelah menjadi pembawa. Bacalah. Lalu tanyakan padanya langsung — karena kamu perempuan yang bertanya langsung, dan itu satu-satunya hal yang kuhormati darimu.'
Ranti menerima amplop itu. Tidak membukanya di sana — ia tahu, dari cara Marissa menyerahkannya, bahwa amplop itu bukan untuk dibaca di depan umum.
'Terima kasih,' kata Ranti. 'Untuk menyerahkannya sendiri, bukan lewat jalur lain.'
'Jangan berterima kasih padaku,' jawab Marissa, dan suaranya berubah sedikit — lebih tua, lebih lelah. 'Aku tidak melakukannya untukmu. Aku melakukannya karena aku sudah mulai tidak menyukai orang yang kulihat di cermin setiap pagi sejak aku kembali. Dan itu perasaan yang tidak pernah kurencanakan untuk kurasakan.'
Ranti tidak membukanya di acara itu. Tidak membukanya di taksi pulangnya. Tidak membukanya di lift apartemennya. Amplop itu ditatapnya sepanjang jalan seperti menatap sesuatu yang hidup — dan setiap bagian dari dirinya ingin membukanya sendiri, di dapur sendiri, sendirian, malam itu juga. Tapi satu hal yang dipelajarinya dengan harga yang mahal menghentikannya: semua yang dibaca sendirian tumbuh menjadi cerita susunan sendiri. Dan ia tidak akan pernah lagi memberi ruang untuk cerita susunan sendiri — tidak dari amplop mana pun, tidak dari siapa pun. Ia meletakkannya di meja, mengirim satu pesan ke Ario — 'Ada yang harus kita baca berdua. Dari Marissa. Datanglah kalau sudah selesai.' — dan menunggu dengan teh yang dingin, dengan disiplin yang tidak pernah terasa lebih benar.
Ario datang dengan satu pertanyaan yang sudah siap di wajahnya — dan Ranti menjawabnya sebelum ditanya: 'Dia menyerahkannya sendiri. Dengan tangannya sendiri. Dan satu hal lagi yang harus kamu tahu sebelum kita membukanya: dia tidak menyerahkannya sebagai senjata. Aku membaca wajahnya, Ario. Dia menyerahkannya sebagai orang yang menyerahkan sesuatu yang terlalu berat untuk dibawanya sendiri.'
***
Ranti membacanya malam itu juga — dengan Ario di sebelahnya, di sofa apartemennya, dengan dua aturan mereka berjalan seperti selalu: tidak ada yang dibaca sendiri, tidak ada yang disusun sendiri.
Ario membaca memo itu dengan wajah yang berubah di setiap halamannya — dan Ranti membaca wajahnya dengan seksama, seperti membaca satu-satunya dokumen yang penting.
'Kasus ini benar,' kata Ario akhirnya, dan suaranya adalah suara seorang lelaki yang membuka luka lamanya sendiri dengan tangannya sendiri. 'Keluarga itu benar. Penyelesaiannya benar. Dan aku ada di dalamnya — aku yang memenangkannya untuk klienku, dua tahun pertama firma kami, kasus yang membangun nama kami.' Ia menatap Ranti. 'Tapi memo itu, Ranti. Memo itu bukan dari firma kami. Aku mengenal setiap memo yang pernah keluar dari firma kami — dan aku tidak pernah menulis satu kalimat pun seperti 'penanganan aset bukti secara proaktif'. Kalimat itu bukan kami. Kalimat itu ditulis untuk kedengaran seperti kami.'
'Kamu yakin?'
'Aku yakin — tapi yakin tidak pernah cukup untukmu, dan seharusnya memang tidak pernah cukup.' Ario menatapnya lurus. 'Besok aku akan membuka semua arsip kasus itu untukmu. Semuanya. Setiap halaman. Kamu akan membacanya dengan matamu sendiri — karena aturan kita bukan percaya padaku karena aku mengatakannya. Aturan kita adalah membuktikannya bersama. Dan satu hal lagi yang harus kamu ketahui malam ini juga: kasus itu tidak pernah selesai bagiku. Keluarga itu — aku mencari mereka setelahnya. Bertahun-tahun. Dan aku tidak pernah menemukan mereka.'
'Kenapa kamu mencari mereka?'
'Karena enam bulan setelah penyelesaian itu, aku menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada: satu dokumen di arsip klienku yang membuktikan bahwa klienku tahu lebih banyak dari yang diceritakannya kepadaku. Aku memenangkan kasus untuk orang yang membohongi pengacaranya sendiri.' Ario menatap memo palsu itu di meja mereka. 'Dan sekarang seseorang mengangkatnya kembali — dengan memo yang dipalsukan, dengan nama keluarga yang menghilang, dengan dendam yang sudah menunggu tujuh tahun. Orang ini bukan orang yang menang melawanku di sidang, Ranti. Orang ini adalah sisa dari kasus yang paling ingin kulupakan — dan dia kembali dengan wajah yang tidak pernah kutahu.'