Marissa menerima amplop itu di pertemuan mereka berikutnya — amplop tebal, cokelat, tanpa satu pun tanda di luarnya, yang didorong ke arahnya oleh tangan bertopi di restoran pinggir kota yang sama.
'Bacalah. Semuanya. Lalu putuskan sendiri apakah kamu masih ingin berdiri di meja ini.'
Marissa membacanya malam itu juga, di apartemennya, dengan satu botol wine yang tidak pernah dibukanya. Dan isinya — isinya adalah sesuatu yang membuatnya berdiri dan berjalan mondar-mandir di ruang tengahnya untuk waktu yang lama.
Dokumen-dokumen tentang satu kasus dari tujuh tahun lalu — dua tahun sebelum kasus Danuarta Sutedja. Kasus yang tidak pernah sampai ke publik: satu keluarga pemilik pabrik kecil yang bersengketa dengan satu grup besar yang menjadi klien Ario. Keluarga itu kalah — bukan di sidang, tapi di proses: bukti-bukti mereka hilang satu per satu, saksi-saksi mereka mundur satu per satu, dan pada akhirnya mereka menyerah dan menandatangani penyelesaian yang menghancurkan mereka. Pabrik hilang. Rumah hilang. Dan satu tahun kemudian, kepala keluarga itu meninggal — serangan jantung, kata laporannya, di usia yang terlalu muda untuk itu.
Dan di dokumen-dokumen itu, ada satu halaman yang dirancang untuk menjadi pukulan terakhir: satu memo internal firma Yudha & Bagas, bertanggal sebelum penyelesaian itu, yang menyarankan 'penanganan aset bukti secara proaktif' — bahasa dingin untuk sesuatu yang tidak pernah dingin akibatnya.
Marissa membaca dokumen-dokumen itu bukan seperti orang yang sedang memenangkan sesuatu — tapi seperti pengacara yang sudah terlatih membaca bukti: dengan pensil, dengan catatan, dengan pertanyaan-pertanyaan di pinggir halamannya. Nama keluarganya Madina. Pabriknya berdiri dua generasi di satu kota kecil di utara. Kepala keluarganya seorang lelaki bernama Hamid Madina, yang menandatangani penyelesaian itu dengan tangan yang menurut satu saksi 'tidak pernah berhenti gemetar'. Dan satu tahun setelahnya, Hamid Madina meninggal — meninggalkan satu istri dan dua anak yang menghilang dari kota itu tanpa satu pun alamat yang tersisa.
Semakin Marissa membaca, semakin satu pertanyaan membesar di kepalanya — pertanyaan yang tidak pernah bisa ditahannya sebagai pengacara: *dari mana orang bertopi itu mendapatkan memo internal firma Ario?* Memo seperti itu tidak pernah keluar dari firma yang menulisnya. Kecuali bocor — atau kecuali tidak pernah ada. Dan malam itu, Marissa melakukan satu hal yang tidak pernah direncanakan orang bertopi itu: ia menguji memo itu. Bukan isinya — bentuknya. Kopnya, formatnya, cara tanggalnya ditulis. Lima tahun lalu ia bekerja cukup dekat dengan firma itu untuk mengenal bentuknya. Dan memo itu... hampir benar. Hampir. Tapi 'hampir' adalah kata yang tidak pernah diterima pengacara yang baik — dan Marissa, di atas segala yang salah darinya, adalah pengacara yang baik.
Ia tidak menelepon siapa pun malam itu. Ia hanya berdiri lama di jendelanya, dengan amplop itu di tangannya, dan menonton kota yang tidak pernah tidur — kota tempat ia datang untuk merebut satu lelaki, dan kini menemukan dirinya berdiri di tengah sesuatu yang jauh lebih besar dari satu lelaki. *Kasus yang tidak pernah sampai ke meja hijau,* tulis orang itu dulu. *Yang kalah adalah satu keluarga yang tidak pernah dipulihkan.* Dan Marissa, yang menghabiskan lima tahun membaca orang dengan benar, untuk pertama kalinya membaca satu hal yang benar tentang situasinya sendiri: aku tidak sedang dibekali amunisi. Aku sedang dibungkus ke dalamnya.
*'Ini yang tidak pernah diketahui pacar barunya,'* kata pesan yang menyertai amplop itu. *'Ario Yudha membangun namanya di atas keluarga yang dihancurkan tanpa sidang. Tanyakan padanya tentang kasus itu. Atau lebih baik — tunjukkan padanya. Pada perempuannya. Dan biarkan fondasi mereka menghitung sendiri berapa lama bisa bertahan di atas tanah yang tidak pernah mereka periksa.'*
Marissa membaca memo itu tiga kali.
Dan sebelumnya — sebelum memo itu — ia sudah menghabiskan dua jam membaca semua dokumen lainnya dengan mata seorang pengacara yang tidak pernah bisa mematikan profesinya. Setiap halaman dibacanya dua kali: sekali dengan hati, sekali dengan hukum. Dan di pinggir-pinggir halamannya, catatan-catatan kecilnya sendiri mulai tumbuh, kebiasaan yang tidak pernah hilang dari orang yang dulu memenangkan kasus-kasus dengan membaca apa yang tidak dibaca orang lain: *'tanggal memo ini — satu minggu sebelum penyelesaian. Terlalu pas.'* *'kop firma benar, tapi spasi antarbarisnya bukan gaya mereka.'* *'kalimat ini ditulis orang yang pernah membaca memo-memo firma — tapi bukan orang yang menulisnya.'*
Lima tahun ia menghafal Ario Yudha dari kejauhan — lima tahun membaca kabar firma itu, lima tahun menyusun gambar tentang lelaki yang pergi darinya, lima tahun menunggu waktu untuk kembali dan merebut apa yang pernah dilepaskannya. Dan lima tahun itu, malam ini, runtuh di atas mejanya bukan karena amplop itu membuktikan Ario bersalah — tapi karena amplop itu, dibaca dengan benar, justru membuktikan hal yang sebaliknya: bahwa seseorang telah bekerja sangat keras untuk membuat Ario terlihat bersalah, dan orang yang bekerja sekeras itu untuk memalsukan satu halaman tidak pernah berhenti di satu halaman.
*'Ini yang tidak pernah diketahui pacar barunya,'* kata pesan yang menyertai amplop itu. *'Ario Yudha membangun namanya di atas keluarga yang dihancurkan tanpa sidang. Tanyakan padanya tentang kasus itu. Atau lebih baik — tunjukkan padanya. Pada perempuannya. Dan biarkan fondasi mereka menghitung sendiri berapa lama bisa bertahan di atas tanah yang tidak pernah mereka periksa.'*
Marissa membaca memo itu tiga kali.
Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke Jakarta, ia tidak merasa seperti pemain yang memegang kartu kemenangan. Ia merasa seperti orang yang memegang sesuatu yang lebih berbahaya dari yang pernah dipegangnya — karena kalau memo itu benar, maka lima tahun dendamnya baru saja diberi amunisi yang sesungguhnya. Dan kalau memo itu palsu... maka orang bertopi itu bukan sekutu yang kejam.
Orang bertopi itu adalah orang yang memalsukan bukti — dan orang yang memalsukan bukti untuk melawan satu orang tidak akan pernah ragu memalsukan bukti untuk melawan siapa pun.
*Termasuk aku,* pikir Marissa, menatap amplop itu di mejanya sampai pagi. *Termasuk aku.*