Rekening pengisi kartu prabayar itu membawa Sapta ke satu titik yang tidak disangkanya: bukan ke satu nama, tapi ke satu kebiasaan.
'Pengisinya disiplin,' lapornya ke Ario dan Ranti di ruang kerja itu, dengan papan yang kini penuh garis-garis. 'Selalu jumlah yang sama, selalu di hari yang sama, selalu dari mesin yang berbeda tapi di wilayah yang sama — Jakarta utara. Orang ini tidak pernah ke mana-mana, Pa Ario. Dia bukan orang yang datang dan pergi. Dia orang yang tinggal — dan sudah tinggal di sini sejak lama, menunggu, dari jarak yang tidak pernah berubah.'
'Artinya?'
'Artinya dia tidak perlu pergi jauh untuk mengawasi. Dia sudah ada di kota ini, di wilayah yang sama, bertahun-tahun — mungkin sejak kasus Danuarta Sutedja itu, mungkin sebelumnya.' Sapta mengetuk papan itu. 'Dan satu hal lagi yang tidak pernah berbohong: waktu. Setiap pesan dikirim dalam jendela yang sama — malam hari, antara sembilan dan sebelas. Orang dengan jadwal seperti itu bukan orang yang bekerja di siang hari. Dia bebas di siang hari, dan bekerja di malam hari. Itu mempersempit banyak hal.'
'Dan Danuarta Sutedja?'
'Menghilang lima tahun lalu — tapi menghilang itu juga pola. Tidak ada yang menghilang total tanpa membayar sesuatu yang tetap berjalan. Aku sedang menelusuri semua yang masih berjalan atas namanya: yayasan-yayasannya, perusahaan-perusahaan cangkangnya, orang-orang lamanya. Orang menghilang, Pa Ario. Uang tidak pernah menghilang. Uang selalu bergerak — dan aku akan menemukannya di pergerakannya.'
Hari-hari berikutnya berjalan dengan dua dunia yang sudah terbiasa berjalan berdampingan: dunia yang terlihat, tempat Ranti memimpin rapat-rapatnya dan menertawakan lelucon-lelucon Cica seperti tidak ada satu pun yang bergerak di bawah permukaan, dan dunia yang tidak terlihat, tempat Sapta membaca pergerakan uang lima tahun dan Ario membaca ulang kasus-kasus lamanya dengan mata yang baru. Dan di malam-malamnya, dua orang itu pulang ke rumah yang sama dan menjalankan satu aturan yang tidak pernah lebih penting dari minggu-minggu itu: malam untuk hidup, siang untuk perang. Mereka memasak bersama, menonton satu episode yang tidak pernah selesai, dan mengakhiri setiap malam dengan satu hal baik dari hari itu — karena rumah yang dibangun dengan benar tidak pernah menyerahkan malamnya kepada orang yang menyerangnya.
'Aku tidak akan pernah membiarkan satu pun malam kita menjadi miliknya,' kata Ranti di satu malam itu, dari sofa yang sama. 'Itu bentuk perlawanan yang tidak pernah bisa dibacanya: kita tetap bahagia. Bukan pura-pura bahagia — bahagia yang benar, yang dirawat setiap hari, dengan dua aturan yang tidak pernah dilanggar. Itu jawaban yang tidak akan pernah bisa dituliskannya dari nomor mati mana pun.'
Malam itu, Ranti dan Ario berjalan pulang dari kantor For Her — dengan orang-orang Sapta di kejauhan, dengan dua kopi, dengan satu pembicaraan yang sudah menjadi ritual mereka setiap kali ada perkembangan: membacanya berdua, di tempat terbuka, dengan kepala dingin.
'Kamu tahu apa yang kupikirkan sepanjang hari ini?' kata Ranti. 'Bukan tentang orangnya. Tentang lima tahunnya. Lima tahun menunggu seseorang jatuh cinta supaya ada yang bisa diambil — itu bukan dendam, Ario. Itu hidup yang berhenti. Siapa pun dia, dia sudah lima tahun tidak hidup. Dia hanya menunggu.'
'Dan itu yang membuatnya berbahaya,' jawab Ario. 'Orang yang tidak punya apa-apa untuk dijaga tidak pernah membuat kesalahan yang ceroboh. Kita harus memancingnya bergerak — dengan cara yang kita yang menentukan waktunya, bukan dia.'
'Maksudmu?'
'Maksudku,' Ario menatapnya, 'kita beri dia satu hal untuk direncanakan. Sesuatu yang terlihat seperti keretakan. Orang yang sudah lima tahun menunggu tidak akan tahan melihat keretakan — dia akan datang untuk melebarkannya. Dan saat dia datang, Sapta akan menunggunya.'
Ranti menatapnya — dan tersenyum tipis. 'Kamu sedang mengusulkan kita berpura-pura retak.'
'Aku sedang mengusulkan kita menulis satu cerita palsu — untuk dibaca satu orang. Dan kamu yang akan menulisnya, karena tidak ada yang menulis cerita lebih meyakinkan dari kamu.'
'Aku suka rencana itu,' kata Ranti. 'Karena untuk pertama kalinya, dia yang akan membaca sesuatu yang kita yang menulis — bukan sebaliknya.'
Mereka menyusunnya dua malam kemudian di meja dapur Ranti — dengan Sapta yang membaca setiap detailnya dengan mata seorang yang sudah puluhan tahun membaca keretakan yang asli. Cerita palsu itu sederhana dan mudah dipercaya: dua minggu ke depan, mereka akan terlihat 'mendingin' di depan umum — tidak ada lagi jemputan sore yang terlihat, tidak ada lagi makan siang yang mencolok, dan satu pertengkaran kecil yang 'terdengar' di satu kafe yang sering mereka datangi, dengan satu kalimat dari Ranti yang sengaja diucapkan cukup keras: 'Aku tidak tahu lagi apakah aku bisa menjalani ini, Ario. Hidupku tidak pernah seperti ini sebelum kamu.' Kalimat yang benar dari sudut tertentu — karena memang benar, hidupnya tidak pernah seperti ini — dan justru karena itu mustahil dibedakan dari yang asli.
'Orang ini membaca detail,' kata Sapta, menyetujuinya. 'Maka kita beri dia detail yang benar dengan susunan yang salah. Itu satu-satunya kebohongan yang tidak pernah terbaca: kebohongan yang dibangun dari kalimat-kalimat yang benar.'
'Aku tidak suka menulisnya,' kata Ranti malam itu, saat Sapta sudah pulang. 'Bukan karena palsunya. Karena untuk menulisnya, aku harus meminjam kalimat-kalimat yang benar — dan meminjam kalimat yang benar untuk keretakan palsu terasa seperti menulis surat perpisahan yang tidak pernah kumaksudkan.'
'Maka kita pastikan satu hal,' jawab Ario, menggenggam tangannya di atas meja itu. 'Bahwa setiap malam setelah kafe itu, kita pulang ke rumah yang sama dan tidak pernah membiarkan satu pun kalimat palsu itu tinggal semalam di antara kita. Cerita itu untuk dibaca satu orang. Rumah ini tidak pernah membacanya.'
'Deal. Untuk cerita yang dibaca satu orang — dan rumah yang tidak pernah membacanya.'