Daftar tujuh nama itu digantung di papan di ruang kerja Ario — dan Sapta serta Ario menghabiskan malam-malam berikutnya mencoretnya dengan hati-hati orang-orang yang tidak pernah mencoret tanpa bukti.
Prosesnya berjalan seperti proses yang sudah dijalani Sapta puluhan kali: setiap nama dibaca ulang dari berkas-berkas lama, setiap jejak keberadaannya diverifikasi, setiap kemungkinannya ditimbang dengan dingin. Ranti bergabung di satu malam — duduk di sudut ruangan itu dengan map catatan tangannya sendiri, karena ia menolak menjadi satu-satunya orang yang dilindungi tanpa ikut membaca. 'Aku tidak akan bisa membantu menelusuri,' katanya saat minta izin masuk, 'tapi aku bisa membaca. Dan kadang-kadang, orang yang membaca dengan hati yang berbeda melihat hal yang berbeda. Jadi aku akan duduk di sudut ini dan membaca — dan kalian tidak akan pernah sadar aku ada.'
Dan benar saja: di malam ketiga, Ranti-lah yang mengangkat satu halaman dan bertanya satu hal yang tidak ditanyakan dua lelaki itu: 'Tujuh nama ini semuanya lelaki yang kalian kalahkan di sidang. Tapi tidak ada satu pun perempuan di daftar ini. Kenapa?'
Ario dan Sapta saling menatap. 'Karena tidak ada satu pun lawan perempuan dalam kasus-kasusku yang kehilangan cukup banyak untuk dendam seperti ini,' jawab Ario.
'Atau,' kata Ranti pelan, 'karena kalian mencari dari sisi yang salah. Pesan-pesan ini ditulis dengan kesabaran yang tidak seperti lelaki yang kalah sidang. Kalimatnya halus, berlapis, tidak pernah terburu-buru. Bacalah lagi — ini bukan bahasa orang yang meledak. Ini bahasa orang yang menunggu. Jadi jangan coret kemungkinan yang tidak pernah kalian tulis di papan ini.'
Malam itu, satu kolom baru ditambahkan di papan itu — kolom tanpa nama, dengan satu tanda tanya besar, untuk semua kemungkinan yang tidak pernah ditulis.
Tujuh orang yang dikalahkan Ario di ruang sidang dalam sepuluh tahun terakhir — dengan kekalahan yang cukup besar untuk menyimpan dendam bertahun-tahun. Dua sudah di luar negeri dan tidak pernah kembali. Satu masih menjalani hukuman. Satu sudah meninggal dua tahun lalu. Tiga tersisa — dan satu nama membuat Sapta berhenti lebih lama:
'Danuarta Sutedja,' katanya, mengetuk namanya. 'Kasusnya lima tahun lalu — kamu menghancurkan kerajaan distribusinya di ruang sidang, dia kehilangan hampir semuanya, dan dia menghilang dari publik sejak itu. Tidak ada kabar, tidak ada jejak, tidak ada apa-apa. Orang yang menghilang total setelah kehilangan segalanya adalah orang yang paling perlu kita perhatikan, Pa Ario — karena kehilangan seperti itu tidak pernah diterima dengan tenang.'
'Aku ingat kasusnya,' kata Ario pelan. 'Dia bersalah, Sapta. Buktinya utuh, prosesnya bersih, dan dia tidak pernah menyangkalnya di sidang. Tapi aku ingat satu hal dari hari vonisnya: dia tidak marah. Dia hanya menatapku dari kursi terdakwa dan tersenyum — senyum yang tidak pernah kumengerti sampai sekarang. Seperti orang yang sedang menyimpan sesuatu untuk nanti.'
'Kalau begitu kita cari dia.' Sapta mengetuk namanya sekali lagi. 'Lima tahun menghilang, lalu seseorang dengan uang dan kesabaran mulai mengawasi orang yang kau sayangi. Polanya cocok. Tapi pola saja tidak cukup — kita butuh satu jejak yang menghubungkannya langsung, dan jejak itu akan kutemukan.'
***
Dan minggu itu berakhir dengan satu malam yang tenang di apartemen Ranti — tenang dengan cara yang dibayar mahal, dengan orang-orang Sapta di sekitarnya, dengan aturan-aturan yang dijalankan tanpa lelah.
Mereka memasak bersama — kebiasaan baru yang lahir di minggu-minggu berat itu, karena dapur adalah satu-satunya tempat di mana dunia di luar tidak bisa masuk. Ario mengiris, Ranti mengaduk, dan tidak ada satu pun yang membicarakan daftar tujuh nama itu selama satu jam penuh.
'Kamu tahu apa yang paling kutakutkan dari semua ini?' kata Ranti di tengahnya, pelan.
'Apa?'
'Bukan orangnya. Bukan ancamannya. Yang kutakutkan adalah bahwa suatu hari nanti, kamu akan melihatku dan melihat beban — bukan perempuan yang kamu cintai. Bahwa menjagaku akan mengubah caramu melihatku.' Ia menatapnya. 'Janjikan satu hal: jangan pernah melihatku sebagai sesuatu yang harus dijaga. Lihat aku sebagai pasanganmu yang sedang berperang bersamamu. Karena kalau caramu melihatku berubah, orang itu menang — tanpa perlu melakukan apa-apa lagi.'
Ario meletakkan pisaunya, dan menatapnya dengan cara yang hanya keluar untuk hal-hal yang paling benar:
'Kamu bukan bebannya, Ranti. Kamu alasannya. Ada perbedaan besar antara keduanya — dan perbedaan itu tidak akan pernah berubah, selama aku masih bernapas untuk menjaganya. Orang ini mau aku kehilanganmu dengan menakutimu. Dia tidak pernah akan mendapatkannya — karena kamu tidak pernah takut, dan aku tidak pernah pergi. Itu matematika yang tidak bisa dia menangkan, dari nomor mati mana pun dia menulis.'
Dan malam itu, di dapur kecil itu, dua orang yang sedang diperangi dari kejauhan memasak dan makan dan tertawa seperti malam-malam biasa — karena mereka sudah memutuskan sejak aturan pertama ditulis: tidak ada satu pun dari luar yang akan mengubah apa yang ada di dalam.
Tidak satu pun. Tidak akan pernah.
Pagi berikutnya membuktikan bahwa keputusan itu bukan kata-kata: Ranti berjalan ke kantornya seperti semua pagi — diantar Ario sampai lobi, diterima Irna yang tidak tahu apa-apa seperti hari-hari biasa, dan menjalankan rapat-rapatnya dengan suara yang tidak pernah berubah nada. Hanya Cica yang membaca satu hal yang berbeda — satu bekas kurang tidur di bawah matanya — dan menegurnya di pantry dengan satu tatapan. 'Aku baik,' jawab Ranti sebelum ditanya. 'Benar-benar baik. Dan kalau ada yang tidak baik, kamu akan jadi orang pertama yang tahu — itu juga aturan, dan aturan itu berlaku untuk semua yang kucintai.'
Dan di akhir pekan itu, mereka menghabiskan satu hari penuh di rumah Ario — hari yang tidak melakukan apa-apa, yang sengaja dirancang untuk tidak melakukan apa-apa: membaca berdampingan, memasak makan siang yang sederhana, dan tidur siang di sofa yang sama dengan jendela yang terbuka ke langit sore. Tidak ada ancaman di hari itu. Tidak ada daftar nama, tidak ada foto-foto, tidak ada satu pun dari luar. Hanya dua orang yang membuktikan, di tengah semua yang sedang bergerak melawan mereka, bahwa rumah mereka tidak pernah bisa diguncang dari luar — karena fondasinya tidak pernah diserang dari luar. Fondasinya selalu dirawat dari dalam, setiap hari, dengan dua aturan dan satu kalimat yang tidak pernah berubah:
'Sampai besok.'
'Aku tunggu.'