Paket itu tiba di kantor For Her pada hari Senin — satu kotak kecil yang ditujukan kepada Ranti, tanpa pengirim, diantar kurir biasa.
Beruntung, aturan baru sudah berjalan: tidak ada satu pun paket untuk Ranti yang dibuka tanpa diperiksa dulu — aturan yang diperkenalkan Ario dengan bantuan Pa Ridwan yang diberi tahu seperlunya ('ada masalah keamanan pribadi, kami menanganinya'). Petugas keamanan gedung membukanya di ruang khusus, dan isinya sampai ke Ario dalam satu jam.
Foto-foto. Puluhan foto Ranti — dari beberapa minggu terakhir: Ranti berjalan ke kantornya, Ranti di kedai kopi, Ranti di dalam mobil Ario, Ranti di depan apartemennya. Semua diambil dari jarak yang cukup dekat untuk melihat wajahnya, cukup jauh untuk tidak pernah disadarinya.
Dan di atasnya, satu kartu: *'Setiap hari dalam hidupmu ada di dalam file-ku. Aku sudah mengenalmu lebih lama dari yang kamu kira, Miranti. Dan aku mengenal orang-orang yang kamu cintai: sahabatmu Cica, temanmu Wira, teman-teman kantormu. Mundur dari Ario Yudha — atau mulailah menghitung siapa yang akan membayar untuk kesalahan yang bukan kesalahanmu.'*
Malam itu juga, dua orang lagi harus diberi tahu — karena aturan 'tidak ada yang disimpan sendiri' tidak pernah hanya berlaku untuk mereka berdua. Cica dan Wira duduk di apartemen Ranti dengan wajah-wajah yang membaca satu kartu ancaman dengan dua cara yang berbeda: Cica dengan tangan yang menutup mulutnya dan air mata yang tidak bisa ditahannya, Wira dengan rahang yang mengeras dan satu pertanyaan yang langsung keluar: 'Mulai kapan aku dijaga?'
'Mulai besok,' jawab Ario. 'Kamu dan Cica, dua-duanya, masuk dalam lingkaran pengamanan Sapta — tanpa terlihat, tanpa mengganggu. Dan satu hal yang tidak bisa ditawar: kalau ada satu saja hal aneh — satu mobil yang tidak biasa, satu orang yang terlalu dekat — kalian kabari kami saat itu juga. Tidak ada yang 'terlalu kecil untuk diberitahu' dalam minggu-minggu ini.'
'Aku tidak takut,' kata Cica, dan suaranya bergetar dengan cara yang membantah kata-katanya. 'Aku marah. Ada bedanya. Orang ini menulis nama kami seperti kami ini barang-barang di etalase — dan aku tidak akan memberinya satu tetes pun dari takutku. Tapi ti... aku takut untukmu. Kamu yang ditulisnya paling banyak.'
'Dan aku yang paling tidak takut,' jawab Ranti, menggenggam tangan sahabatnya. 'Karena aku punya semua kalian. Orang ini pikir menyeret nama kalian akan membuatku merasa sendirian — yang terjadi justru sebaliknya. Sekarang aku punya kalian yang mengetahuinya, dan tidak ada satu pun dari ini yang kupikul sendirian.'
Wira berdiri dan berjalan ke jendela — dan ketika berbalik, wajahnya adalah wajah yang tidak pernah dilihat Ranti di semua tahun persahabatan mereka: tenang yang dingin. 'Aku hanya akan mengatakan satu hal, dan ini untuk kalian berdua,' katanya pada Ario dan Ranti. 'Orang ini menulis nama saya di kartu ancamannya. Maka dia sudah membuat satu kesalahan yang tidak bisa ditariknya: dia menjadikan ini urusan pribadi saya juga. Dan saya tidak pernah kalah dalam urusan pribadi.' Ia menatap Ranti pelan. 'Kamu tidak pernah sendirian dalam hidupmu, Ranti. Tidak sejak SMA, tidak akan pernah. Dan orang yang bersembunyi itu baru saja menambahkan satu orang yang mencarinya ke dalam daftar yang tidak pernah diperhitungkannya.'
Ario tidak pernah marah seperti itu dalam hidupnya — dan Ranti, yang sudah mengenalnya dalam semua bentuknya, menyaksikan satu bentuk yang baru: bukan amukan, bukan teriakan, tapi ketenangan yang begitu total sampai menakutkan. Ketenangan seorang pengacara yang sudah memutuskan bahwa ini bukan lagi soal mencari — ini soal mengakhiri.
'Cica. Wira. Semua yang kusebut namanya.' Ranti membaca kartu itu dua kali — dan ketika mengangkat wajahnya, tidak ada takut di sana, hanya sesuatu yang lebih keras: marah yang bersih. 'Dia tidak hanya mengawasiku, Ario. Dia mengawasi semua orang yang kucintai. Ini bukan lagi tentang aku.'
'Ini tidak pernah tentang kamu,' jawab Ario. 'Ini tentang menghancurkan apa yang kucintai dengan cara yang paling menyakitkan — dan dia baru saja menunjukkan satu hal yang tidak pernah kutahu sebelumnya: dia tidak hanya mengenal hidupmu. Dia mengenal hidup kita berdua. Kedekatannya bukan kerja dua minggu, Ranti. Ini pekerjaan bertahun-tahun — dari orang yang sudah menunggu lama sekali untuk melihatku jatuh cinta, supaya ada sesuatu untuk diambil.'
'Kalau begitu kita berhenti menunggu dia bergerak.' Ranti menatapnya, dan untuk pertama kalinya, Ario melihat di matanya bukan perempuan yang dilindungi — melainkan pasangan yang berdiri di sampingnya dalam perang. 'Kita bergerak duluan. Kamu pengacara terbaik yang kukenal, Ario. Susun kasusnya seperti kamu menyusun kasus-kasusmu: bukti, saksi, waktu, motif. Siapa yang kamu hancurkan dalam sepuluh tahun karier ini? Siapa yang kehilangan cukup banyak untuk menunggu bertahun-tahun demi ini? Mulai dari daftar itu — dan jangan berhenti sampai namanya berdiri di depan kita dengan wajah yang jelas.'
Ario menatapnya lama — dan mengangguk. 'Sapta dan aku sudah mulai dari daftar itu sejak minggu lalu. Ada tujuh nama. Dan kami sedang mencoretnya satu per satu.'
'Coret lebih cepat,' kata Ranti. 'Karena aku tidak akan dihitung mundur oleh orang yang bersembunyi. Dan satu hal lagi: jangan pernah, satu detik pun, berpikir untuk mengorbankan hubungan ini demi keselamatanku. Kita tidak akan memberinya kemenangan itu. Tidak akan pernah.'
Malam itu berakhir dengan satu keputusan terakhir yang dibuat berdua — keputusan yang oleh Ranti disebut 'deklarasi perang kecil kita': mereka tidak akan pernah lagi membicarakan ancaman itu di malam hari. Malam untuk hidup mereka, siang untuk perang mereka. 'Orang ini ingin mengisi malam-malam kita dengan ketakutan,' kata Ranti, mematikan lampu terakhir. 'Maka malam-malam kita tidak akan pernah menjadi miliknya. Mulai malam ini, setiap malam berakhir dengan hal yang sama: kamu, aku, dan satu hal baik dari hari itu. Hanya itu yang boleh masuk ke malam kita.'
'Dan hal baik hari ini?' tanya Ario.
'Hari ini: kamu datang dalam dua puluh menit. Dan kamu tidak pernah terlambat satu kali pun sejak hari pertama. Itu hal baikku. Dan hal baikku itu tidak pernah bisa ditulis dari nomor mati mana pun.'