Mereka bertemu di satu restoran kecil di pinggir kota — Marissa, dan orang yang selama ini hanya dikenalnya lewat nomor yang tidak pernah menyimpan nama.
Marissa datang satu jam lebih awal — karena ia tidak pernah masuk ke ruangan tanpa tahu pintu keluarnya — dan menghabiskan satu jam itu dengan satu pikiran yang tidak bisa ditenangkannya: seminggu terakhir, ia menelusuri sendiri nomor yang tidak pernah menyimpan nama itu, dengan semua keahlian yang dimilikinya. Hasilnya nol — terlalu bersih, terlalu sempurna, terlalu hati-hati untuk orang yang sekadar dendam. Orang ini bukan mantan klien yang kalah sidang. Orang ini sesuatu yang lain — sesuatu yang sudah lama berdiri di sebelah cerita Ario tanpa pernah terlihat, dan Marissa mulai curiga bahwa dirinya sendiri, dengan lima tahun dendamnya, hanyalah satu pintu yang dipakai untuk masuk.
Tapi kecurigaan itu tidak menghentikannya untuk datang. Karena Marissa tidak pernah mundur dari meja mana pun — dan karena ada satu bagian dari dirinya, bagian yang tidak pernah diakuinya kepada siapa pun, yang ingin tahu apa yang disimpan orang itu tentang Ario Yudha, bukan untuk dipakai, tapi untuk diketahui.
Orang itu datang dengan topi dan kacamata, duduk di sudut paling jauh, dan tidak pernah melepas satu pun dari keduanya. Marissa tidak pernah melihat wajahnya dengan jelas — dan ia cukup cerdas untuk tahu bahwa itu disengaja, dan cukup cerdas untuk tidak mempersoalkannya.
'Kamu sudah bekerja dengan baik,' kata orang itu, dengan suara yang datar seperti orang yang membaca laporan. 'Proposalnya diterima. Kamu sudah di dalam orbitnya. Dan perempuan itu sudah mulai merasakan tanahnya bergetar.'
'Perempuan itu tidak merasakan apa-apa,' jawab Marissa — karena kejujuran adalah satu-satunya mata uang yang berharga di meja seperti ini. 'Aku sudah bertemu dengannya. Dia tidak bisa digetarkan dengan cara biasa, dan Ario melaporkan semuanya kepadanya secara langsung. Mereka tidak punya celah di tengah — dan selama mereka tidak punya celah, semua serangan dari luar hanya memperkuat mereka.'
Orang itu diam sebentar — dan ketika bicara lagi, ada sesuatu di suaranya yang pertama kali didengar Marissa di sana: kekaguman yang enggan. 'Kamu membaca mereka dengan benar. Itu sebabnya kamu kupilih. Rencana kita tidak pernah untuk menggoyahkan mereka dari luar, Marissa. Rencana kita selalu dari dalam fondasi — dan fondasi hubungan itu bukan kepercayaan mereka satu sama lain. Fondasinya adalah kebenaran tentang siapa Ario Yudha sebenarnya. Dan ada satu kebenaran yang belum pernah diketahuinya — kebenaran yang kubawa sejak lama, tentang satu kasus, tentang satu nama, tentang apa yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun lalu.'
'Kebenaran apa?'
'Kebenaran yang akan kuberikan kepadamu pada waktunya — dan hanya kepadamu, karena kamu satu-satunya yang cukup dekat untuk menyampaikannya dan cukup cerdas untuk menggunakannya dengan benar.' Orang itu berdiri, meninggalkan uang di meja untuk dua minuman yang tidak pernah disentuh. 'Sabar. Orang yang terburu-buru tidak pernah meruntuhkan rumah yang dibangun dengan benar. Minggu depan, tempat yang sama. Dan mulai minggu ini: dekatkan dirimu dengan perempuan bernama Mirna itu. Dia akan berguna nanti — bukan karena dia pintar, tapi karena dia tidak.'
Sebelum berdiri, ada satu pertukaran lagi yang tidak pernah dilaporkan Marissa kepada siapa pun — pertukaran yang dilakukannya dengan sengaja, untuk membaca orang di hadapannya lebih jauh dari yang diizinkannya: 'Satu pertanyaan, sebelum kamu pergi. Semua ini — pesan-pesan, foto-foto, paket — membutuhkan uang dan waktu yang tidak sedikit. Siapa pun kamu, kamu bukan orang yang baru mulai kemarin. Kasus apa yang bisa melahirkan dendam sebesar ini?'
Orang itu berhenti di tengah berdirinya — dan untuk pertama kalinya, Marissa melihat sesuatu bergerak di balik kacamata itu: bukan marah, bukan terganggu, tapi sesuatu yang lebih tua dari keduanya. 'Kasus yang tidak pernah sampai ke meja hijau,' jawabnya akhirnya. 'Kasus yang diselesaikan di luar — dengan uang, dengan ancaman, dengan orang-orang yang memastikan tidak ada satu pun bukti yang selamat. Ario Yudha tidak memenangkannya di sidang, Marissa. Dia memenangkannya jauh sebelum sidang dimulai — dan yang kalah bukan satu orang. Yang kalah adalah satu keluarga yang tidak pernah dipulihkan.' Ia merapikan topinya. 'Minggu depan. Dan jangan telusuri aku lagi — aku tahu kamu melakukannya minggu ini, dan aku membiarkannya, supaya kamu tahu bahwa aku selalu tahu. Itu terakhir kalinya kamu menguji batas itu.'
Marissa menyaksikannya pergi — dan untuk kedua kalinya sejak kembali ke Jakarta, pertanyaan itu datang lagi, lebih keras dari sebelumnya: *dengan siapa sebenarnya aku bersekutu? Orang ini tidak pernah membicarakan dendamnya — tapi dendamnya ada di setiap kalimatnya. Apa yang dilakukan Ario kepadanya? Dan kenapa aku merasa bahwa aku bukan sekutunya — melainkan alatnya yang paling berguna?*
Dan satu pikiran lagi menyusulnya, yang tidak pernah ada sebelumnya: *kalau aku hanya alatnya, apa yang akan terjadi padaku saat alatnya sudah selesai dipakai?*
Tapi Marissa menyimpan pertanyaan itu di tempat yang sama dengan semua pertanyaan yang tidak pernah ditanyakannya: di dalam, terkunci, menunggu waktu yang akan datang atau tidak akan pernah datang.
Malam itu, di apartemen sewaannya yang menghadap kota, Marissa melakukan satu hal yang tidak pernah dilakukannya: ia membuka satu kotak kecil yang dibawanya dari luar negeri — kotak berisi sisa-sisa lima tahun lalu yang tidak pernah dibuangnya. Satu foto Ario dan dirinya di satu acara firma, dari masa sebelum semuanya salah arah. Ia menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya sejak kembali, satu pertanyaan yang lebih tua dari semua rencananya muncul ke permukaan: *kalau aku mendapatkannya kembali dengan cara-cara ini — apakah yang kudapatkan masih dia, atau hanya bayangan yang direbut dari tangan orang lain?* Ia menutup kotak itu tanpa menjawabnya. Tapi untuk pertama kalinya, kotak itu tidak dikembalikan ke laci terdalamnya. Ia ditinggalkan di atas meja — seperti pertanyaan yang tidak bisa lagi disembunyikan sepenuhnya.