Proposal Marissa ternyata nyata — dan itu yang paling berbahaya darinya.
Kolaborasi antara firma luar negerinya dan Yudha & Bagas bukan proposal kosong: itu proposal yang solid, menguntungkan dua belah pihak, dan dirancang oleh seseorang yang tahu persis cara menyusun sesuatu yang tidak bisa ditolak. Bagas — partner Ario sejak awal firma itu berdiri — membacanya dua kali dan menyampaikan penilaiannya dengan jujur: 'Secara bisnis, ini bagus. Secara pribadi, aku tahu ada yang lain. Tapi firma ini bukan dibangun untuk keputusan pribadi, Ario. Kalau kamu mau menolaknya, kamu harus menolaknya sebagai partner yang bisa mempertahankan penolakannya secara bisnis — atau kita terima, dan kamu mengelolanya seperti kamu mengelola semua hal: dengan batas yang jelas.'
Ario menerimanya — dengan batas yang jelas: semua komunikasi lewat jalur resmi, semua pertemuan dengan tim, tidak pernah sendirian. Dan semuanya dilaporkan ke Ranti, sesuai aturan, tanpa satu pun yang disunting.
Pertemuan kerja pertama berjalan Kamis — di ruang rapat Yudha & Bagas, dengan Bagas dan dua pengacara senior hadir, dengan Marissa di seberang meja sebagai perwakilan firma luar negeri. Dan Marissa menjalankannya dengan sempurna: profesional, tajam, tidak pernah satu kali pun melewati garis — sampai lima menit terakhir, saat tim-tim membereskan dokumen dan ia berkata dengan volume yang pas untuk didengar satu orang: 'Kamu mengumpulkan tim untuk satu pertemuan denganku, Ario. Lima tahun lalu kamu tidak pernah butuh satu pun orang untuk merasa aman di satu ruangan denganku. Apa yang berubah?'
'Yang berubah: aku tidak lagi sendirian,' jawab Ario, tanpa mengangkat wajah dari dokumennya. 'Dan orang yang tidak lagi sendirian tidak pernah mengambil risiko yang tidak perlu — bahkan risiko yang tidak pernah ada. Itu namanya menjaga sesuatu yang benar, Marissa. Kamu akan mengerti kalau suatu hari kamu menemukan satu untukmu sendiri.'
'Aku pernah menemukan satu,' jawabnya, pelan — hanya untuk didengar Ario. 'Dan aku melepaskannya untuk satu kursi di luar negeri yang bahkan tidak kududuki sampai sekarang. Jadi jangan ceramahiku tentang menemukan seseorang, Ario. Kamu sedang bicara dengan orang yang paling tahu harganya.'
Ario menatapnya sebentar — dan untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang lama di antara mereka: bukan cinta, sudah lama bukan cinta, tapi pengakuan dua orang yang pernah berarti satu sama lain di satu masa yang sudah selesai. 'Kalau begitu jangan sia-siakan lima tahun itu untuk sesuatu yang tidak akan pernah kembali, Marissa. Itu nasihat dari orang yang pernah mengenalmu dengan baik — bukan dari pengacara yang sedang bernegosiasi denganmu.'
Dan Marissa tidak menjawabnya — karena untuk pertama kalinya sejak kembali, ia tidak punya jawaban yang sudah disiapkannya.
Dan Marissa, tentu saja, sudah membaca batas-batas itu sebelum ditulis — karena ia mengenal Ario lebih lama dari siapa pun. Maka ia bergerak bukan ke arah yang dijaganya, tapi ke arah yang tidak pernah dijaga siapa pun: ke orang-orang di sekeliling mereka.
Dimulai dengan Mirna.
Pertemuan mereka 'kebetulan' — di satu acara jejaring industri tempat Mirna hadir untuk For Her dan Marissa hadir untuk firma barunya. Dua perempuan itu menemukan satu sama lain dalam waktu lima menit, seperti dua orang yang membaca peta yang sama: Mirna yang sudah lama menyimpan rasa tidak sukanya pada Ranti — rasa tidak suka seorang yang melihat perempuan lain mendapatkan lelaki yang diinginkan semua orang — dan Marissa yang sudah mengetahui nama Mirna dari penelusurannya sejak minggu pertama.
'Kamu di For Her? Dengan Miranti Larasati?' Marissa menanyakannya dengan nada yang tepat — tidak terlalu tertarik, tidak terlalu acuh. 'Aku kenal dia. Pacar baru Ario Yudha. Manis sekali mereka, bukan?'
'Manis,' jawab Mirna, dengan nada yang mengatakan sebaliknya.
Marissa tersenyum — dan tidak mengejar lebih jauh malam itu. Orang sepertinya tidak pernah mengejar di malam pertama. Ia hanya menanam satu nama dan satu nomor — dan menunggu, seperti selalu, seperti orang yang sudah belajar bahwa kebencian orang lain adalah alat paling murah yang bisa dibeli, selama kamu tahu di mana menemukannya.
Minggu berikutnya, mereka bertemu lagi — kali ini tidak kebetulan, kali ini atas undangan Marissa untuk 'minum kopi sebagai dua orang yang bekerja di lingkaran yang sama'. Dan Marissa menjalankannya dengan kesabaran seorang penenun: tidak pernah membicarakan Ario, tidak pernah membicarakan Ranti, hanya mendengarkan Mirna — ambisinya, frustasinya, dan satu hal yang tersimpan di bawah semuanya: rasa tidak sukanya yang sudah lama pada perempuan yang mendapatkan semua yang tidak pernah didapatkannya. Marissa tidak menyiramnya. Ia hanya menjaganya tetap hangat — seperti orang menyimpan barang yang tahu akan dibutuhkannya nanti. Dan di akhir pertemuan kedua mereka, Marissa mengucapkan satu kalimat yang akan terus bergaung di kepala Mirna: 'Kamu tahu, Mirna, orang-orang seperti kita selalu dinilai dari luar — dan tidak pernah ada yang bertanya bagaimana rasanya dari dalam. Kalau suatu hari kamu butuh seseorang yang benar-benar mendengarkan, kamu tahu nomorku.' Alat yang berguna tidak pernah dibentuk dengan paksaan. Alat yang berguna dibentuk dengan perhatian — dan Marissa tidak pernah pelit memberikannya kepada orang yang kelaparannya sudah lama tidak diberi makan.
***
Sapta menemukan jejak pertamanya di minggu itu juga: mobil yang dua malam terparkir di dekat apartemen Ranti terekam kamera toko di seberangnya — buram, tapi cukup untuk membaca dua huruf pertama pelatnya. Dan pelat itu, setelah ditelusuri lewat jalur-jalur yang hanya dikenal Sapta, berujung ke satu perusahaan rental kecil — dan satu nama penyewa yang tidak pernah ada.
'Tapi dia melakukan satu kesalahan,' lapor Sapta ke Ario. 'Dia membayar rentalnya dengan kartu — bukan tunai. Kartu prabayar, tapi kartu. Dan kartu prabayar selalu diisi dari satu rekening. Kita tidak tahu siapa dia, Pa Ario. Tapi kita tahu dia punya uang, punya waktu, dan punya kesabaran — dan sekarang kita tahu dia membayar dengan kartu. Setiap jejak mempersempit papannya. Dia masih jauh. Tapi dia tidak lagi tidak terlihat.'