Namanya datang dalam dua hari, seperti yang dijanjikan Sapta — dan datang dari arah yang tidak pernah diperkirakan siapa pun: dari arsip vendor firma Yudha & Bagas sendiri.
'Hartono Subrata,' kata Sapta, menuliskannya di papan itu dengan huruf yang lebih besar dari semua nama yang pernah tertulis di sana. 'Tujuh tahun lalu, firma kalian menyewa satu konsultan luar untuk satu sengketa besar — konsultan 'manajemen bukti', bahasa resminya. Orang yang mengatur arsip, mengatur dokumen, mengatur semua yang masuk dan keluar dari satu kasus. Hartono Subrata. Kontraknya tiga bulan. Dan kasus yang diaturnya adalah kasus Madina.'
Ruangan itu hening.
Sapta membacakan penelusurannya dengan cara orang yang tidak pernah berdebar: pelan, berurutan, dengan setiap halaman yang diletakkannya di meja satu per satu seperti bukti di depan hakim. Vendor itu dicatat atas nama perusahaan konsultan satu orang, dibayar dari satu rekening yang masih aktif sampai sekarang, dan rekening itu — setelah dua hari kerja Sapta — terhubung ke satu alamat di Jakarta utara. 'Ingat laporan minggu lalu: pengisi kartu yang tidak pernah meninggalkan wilayah yang sama? Jakarta utara. Orang yang sama. Hartono Subrata tidak pernah pergi ke mana-mana, Pa Ario. Dia menetap di kota ini sejak tujuh tahun lalu — dan dari alamat itu, selama dua tahun terakhir, semua pembayaran untuk semua ini berjalan: rental mobil, kartu-kartu prabayar, dan satu honor bulanan untuk satu kurir yang tidak pernah tahu untuk siapa dia bekerja.'
'Dan Danuarta Sutedja sendiri?' tanya Ario.
'Hilang. Tapi tidak pernah sepenuhnya — yayasan lamanya masih berjalan, dengan satu pengurus yang masih menerima arahan dari satu alamat pos. Dan dari semua yang kubaca dalam dua hari ini, satu hal yang kutaruh dengan pasti: Danuarta dan Hartono tidak pernah menjadi dua orang yang bekerja sama dengan setara. Hartono tidak pernah menjadi partner siapa pun. Hartono selalu menjadi orang yang berdiri di belakang — dan menunggu. Orang seperti itu tidak memiliki kesetiaan, Pa Ario. Orang seperti itu hanya memiliki kerugian yang belum dibalas.'
'Dia pernah bekerja untuk firma kami,' kata Ario pelan. 'Itu jawaban untuk memo palsu itu. Dia tidak menirunya dari luar — dia menulisnya dari dalam. Dia mengenal kop kami, format kami, gaya kami, karena tiga bulan penuh dialah yang mengaturnya.'
'Dan itu bukan satu-satunya jawaban yang dibawanya,' lanjut Sapta. 'Hartono Subrata tidak pernah bekerja untuk Grup Lestari secara resmi — tapi dia bekerja untuk pemiliknya secara tidak resmi, sebelum dan sesudah kontrak firma kalian. Dia orang yang mengatur lenyapnya bukti-bukti Madina, mundurnya saksi-saksi itu, dan penyelesaian yang menghancurkan mereka. Lalu lima tahun lalu, di kasus Danuarta Sutedja, dia muncul lagi — kali ini di sisi yang kalian lawan, di balik nama-nama yang tidak pernah kelihatan. Dan saat Danuarta jatuh, Hartono kehilangan satu-satunya mesin uang besarnya. Kerajaan yang dibangunnya dari balik layar orang lain runtuh dalam satu vonis — vonis yang kamu menangkan, Pa Ario.'
'Jadi dia bukan dari keluarga Madina,' kata Ranti.
'Dia algojo keluarga Madina — dan orang yang kalah perang di kasus Danuarta. Dua dendam, satu orang: kepada Ario yang menemukan permainannya di kasus pertama, dan kepada Ario yang menghancurkan mesinnya di kasus kedua.' Sapta menatap mereka berdua. 'Dan sekarang dia kembali dengan satu senjata yang paling berbahaya dari semua: kebenaran yang diputar. Dia akan mengangkat kasus Madina ke publik — dengan memo palsu, dengan cerita yang disusun dari sudut yang mematikan, dengan satu nama Ario Yudha di tengahnya. Karena satu-satunya cara menghancurkan pengacara yang tidak pernah salah adalah dengan membuat dunia percaya bahwa kemenangan pertamanya dibangun di atas satu keluarga yang dihancurkannya dengan tangannya sendiri.'
'Dan anak Madina yang katanya sudah kembali?' tanya Ario.
'Itu yang paling harus kita cari sebelum dia,' kata Sapta. 'Kalau anak itu benar-benar ada dan benar-benar kembali, Hartono akan memakainya sebagai wajah dari serangannya — anak yang yatim, berdiri di depan kamera, menuduh pengacara yang menghancurkan ayahnya. Tidak ada satu pun yang lebih kuat dari itu di mata publik. Kita harus menemukan anak itu duluan — dan menceritakan kebenaran kepadanya sebelum Hartono menceritakan kebohongannya.'
Ranti menatap papan itu — satu nama yang akhirnya berdiri dengan wajah yang jelas — dan berkata pelan: 'Tujuh tahun dia menulis cerita tentang kalian dari kejauhan. Sekarang kita yang menulis cerita tentangnya — dengan semua halaman yang benar, untuk pertama kalinya, dan dengan namanya sendiri di sampulnya.'
'Dengan satu aturan yang tidak pernah berubah,' tambah Ario. 'Tidak ada satu pun halaman yang tidak bisa kami buktikan. Karena Hartono Subrata tidak akan pernah dijatuhkan dengan memo palsu seperti yang ditulisnya. Dia akan dijatuhkan dengan kebenaran — kebenaran utuh, yang tidak pernah bisa diputar balik.'
Dan sebelum mereka bubar malam itu, Ranti menuliskan satu kalimat di bagian bawah papan itu — kalimat yang kemudian tidak pernah dihapusnya sampai semuanya selesai: *'Dia menulis dengan kebohongan karena kebohongan adalah satu-satunya bahan yang dimilikinya. Kita menulis dengan kebenaran karena kebenaran adalah satu-satunya bahan yang kita miliki. Dan dua tulisan itu tidak akan pernah seimbang — karena satu bisa dipalsukan, dan satu tidak pernah bisa.'*
Sapta membacanya, dan mengangguk sekali — anggukan seorang yang sudah puluhan tahun membaca dua jenis tulisan itu. 'Itu yang akan kupasang di kantor saya setelah semua ini selesai,' katanya. 'Kalau Bu Ranti mengizinkan. Dengan nama penulisnya, tentu saja.'
'Dengan satu syarat,' jawab Ranti. 'Ketika semua ini selesai, kamu datang makan malam ke rumah kami. Bukan sebagai penyelidik — sebagai tamu. Itu satu-satunya syarat yang tidak bisa ditawar.'
'Itu syarat yang akan kutandatangani dengan senang hati,' jawab Sapta — dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, mereka melihatnya tersenyum lebar.