Mereka menemukannya dalam seminggu — bukan lewat jejak-jejak besar, tapi lewat satu hal kecil yang tidak pernah berubah: ibunya.
'Rukmini Madina tidak pernah berhenti berjualan kain,' kata Sapta, meletakkan satu foto di meja ruang kerja itu. 'Dua kota, tiga nama berbeda, tapi selalu kain — orang tidak pernah berhenti dari satu-satunya hal yang menghidupinya. Dia ada di satu kota kecil di selatan, dengan satu toko kain kecil, dengan nama baru yang tidak pernah diubahnya dua kali karena dua kali akan terlalu sulit diingat pelanggannya. Dan satu anak laki-laki yang bekerja dengannya — berumur dua puluhan, dengan mata ayahnya.'
'Bima,' kata Ario membaca catatan lama itu. 'Anak laki-lakinya bernama Bima waktu itu. Dua belas tahun saat kasusnya.'
'Sekarang dua puluh satu. Dan dari semua yang berhasil kukumpulkan dalam dua hari: dia tidak menunggu dengan dendam. Dia bekerja, menjaga ibunya, dan tidak pernah menyentuh satu pun yang berhubungan dengan masa lalu itu. Anak itu tidak kembali untuk membalas dendam, Pa Ario. Anak itu tidak pernah pergi untuk itu. Yang mengatakan dia 'kembali untuk menunggu' adalah Hartono — dan Hartono selalu menulis orang lain sesuai naskahnya.'
Mereka memutuskan dengan hati-hati: bukan Sapta yang pergi, bukan Ario yang pergi — tapi Ranti dan Ario bersama, karena ini bukan lagi penyelidikan. Ini satu keluarga yang sudah tujuh tahun menunggu satu pintu diketuk dengan benar.
Perjalanan itu ditempuh hari Sabtu, dengan mobil, ke kota kecil di selatan itu — dan mereka menemukan toko kain itu di satu jalan kecil, dengan Rukmini Madina yang berdiri di balik mejanya dan seorang pemuda yang sedang menurunkan gulungan-gulungan kain dari raknya.
Perjalanan itu sendiri dua jam yang dijalani dengan tidak banyak bicara — karena Ario menghabiskannya dengan satu beban yang tidak pernah dilepaskannya sejak tujuh tahun: bagaimana mengucapkan satu kalimat yang tidak pernah diucapkannya, kepada orang yang paling berhak mendengarnya, dengan cara yang benar. Ranti membiarkannya diam sampai setengah jalan — lalu berkata satu hal tanpa menoleh: 'Kamu tidak sedang menyusun kalimat untuk hakim, Ario. Kamu sedang mengetuk satu pintu yang sudah lama menunggu. Dan pintu yang sudah lama menunggu tidak pernah dinilai dari kalimatnya — hanya dari apakah kamu datang dengan benar. Kamu datang dengan benar. Itu sudah cukup sejak kamu memutuskan untuk datang.'
Rukmini membaca mereka sebelum satu kata pun diucapkan — orang yang sudah dua puluh tahun membaca pelanggan tidak pernah salah membaca dua orang yang datang dengan wajah seperti wajah mereka.
Tapi sebelum mempersilakan mereka duduk, Rukmini melakukan satu hal yang tidak pernah dilupakan Ario: ia menguji mereka. Dengan satu kalimat yang diucapkannya sambil tidak berhenti bekerja, dengan suara orang yang sudah lama belajar bahwa orang yang datang dari masa lalu tidak pernah datang tanpa harga: 'Kalau kalian datang untuk meminta maaf supaya hati kalian ringan, kalian bisa pulang sekarang. Kami tidak butuh permintaan maaf untuk meringankan beban orang lain. Kami sudah tujuh tahun belajar berdiri tanpa satu pun dari itu.'
'Kami datang bukan untuk meringankan beban kami, Bu Rukmini,' jawab Ario, tanpa bergerak dari ambang pintu. 'Kami datang untuk memberi tahu Ibu bahwa ada orang yang sedang menulis nama putra Ibu ke dalam satu kebohongan baru — dan kami tidak akan membiarkannya terjadi, dengan atau tanpa izin Ibu. Itu satu-satunya alasan kami datang. Sisanya terserah Ibu.'
Rukmini berhenti bekerja — untuk pertama kalinya — dan menatap lelaki di ambang pintunya lama sekali. Lalu ia mengambil dua kursi.
'Kalian bukan pembeli,' katanya pelan. 'Kalian dari masa lalu.'
'Ibu Rukmini,' kata Ario, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ia mengucapkannya langsung. 'Saya Ario Yudha. Saya pengacara yang memenangkan sengketa itu untuk pihak seberang. Dan saya datang bukan untuk membela diri — saya datang karena ada satu orang yang sedang menulis ulang cerita itu dengan nama putra Ibu di dalamnya, dan kami datang untuk menceritakan kebenarannya duluan, sebelum kebohongannya sampai ke sini.'
Rukmini menatapnya lama — lalu menatap anaknya, yang sudah berhenti bekerja dan berdiri di samping rak-rak kain dengan wajah yang membaca semuanya. Dan kemudian ia melakukan satu hal yang tidak disangka siapa pun: ia mengambil dua kursi, meletakkannya di depan mejanya, dan berkata:
'Duduk. Dan mulai dari awal. Tujuh tahun saya menunggu satu orang dari cerita itu datang dengan benar — dan saya tidak akan membuang satu menit pun dari orang pertama yang akhirnya datang.'
Mereka bercerita dua jam penuh di toko kain kecil itu — tentang saksi yang ditekan, tentang Grup Lestari, tentang map biru yang disimpan Ario bertahun-tahun, dan tentang Hartono Subrata yang kini sedang menulis babak barunya dengan nama putra mereka di dalamnya.
Dan Bima Madina — pemuda dua puluh satu tahun dengan mata ayahnya — mendengarkan semuanya tanpa satu kali memotong, dan di akhirnya berkata satu kalimat yang membuat Ario dan Ranti saling menatap:
'Ayahku tidak pernah membenci kalian. Tidak pernah satu kali pun. Dia menulis di surat-surat terakhirnya — yang masih disimpan ibuku — bahwa hukum itu hanya alat, dan alat tidak pernah salah; yang salah selalu tangan yang memegangnya. Kalau ada satu orang yang harus kami lawan, bukan pengacara yang menang — tapi tangan yang memegang alatnya dengan kotor. Ayahku sudah tahu, tujuh tahun lalu. Kami sudah tahu. Kami hanya tidak pernah tahu cara membuktikannya.'
Rukmini mengangguk pelan di sampingnya. 'Dan sekarang orang yang memegangnya dengan kotor itu menulis lagi,' katanya. 'Kali ini dengan nama anakku. Maka jawabanku untuk kalian berdua sederhana, Nak Ario, Nak Ranti: kami akan berdiri bersama kalian. Bukan untuk membalas dendam — dendam tidak pernah menghidupkan satu pun dari yang sudah pergi. Tapi untuk menyelesaikan satu hal yang tujuh tahun menggantung: kebenaran. Untuk Hamid. Untuk dua anak yang kehilangan ayahnya. Dan untuk pengacara yang tujuh tahun menyimpan map biru tanpa pernah berhenti mencari kami.'