Serangan itu datang Selasa pagi — seperti yang sudah mereka perkirakan, dengan cara yang sudah mereka perkirakan, di minggu yang sudah mereka perkirakan.
Satu artikel panjang di satu portal berita besar: **'Pengacara Ternama dan Keluarga yang Dihancurkannya: Kisah Kasus Madina yang Tidak Pernah Diceritakan'** — sembilan ribu kata, dengan memo palsu itu tercetak di tengahnya, dengan nama Ario Yudha di kalimat-kalimatnya, dan dengan satu susunan yang ditulis oleh tangan yang sudah tujuh tahun menulisnya: tidak ada satu pun tuduhan langsung, hanya pertanyaan-pertanyaan yang digantung, dan publik selalu mengisi sendiri pertanyaan yang digantung.
Dalam dua jam, nama Ario Yudha ada di mana-mana.
Di For Her, pagi itu turun seperti pagi-pagi badai yang sudah pernah dijalani majalah itu: Cica berdiri di samping meja Ranti sejak berita itu naik, membaca komentar-komentar dengan rahang yang makin mengeras, dan Linda menarik kursi dan duduk tanpa diminta dengan satu kalimat: 'Aku sudah membaca dua paragraf dan sudah tahu ini pesanan. Pertanyaannya cuma satu: kita membalasnya kapan?' Irna menaruh satu cangkir teh di meja Ranti tanpa diminta, dan Wira turun dari lantai sembilan dengan satu map kosong yang isinya tidak pernah penting: 'Aku tidak datang dengan dokumen. Aku datang dengan satu hal: aku mengenalmu sejak SMA, dan tidak ada satu pun di artikel itu yang kubaca dua kali. Kapan pun kalian siap menjawab, saya satu orang lagi yang berdiri di barisan kalian — resmi, tercatat, dan tidak bisa ditolak.'
'Ario, semua klien menelepon,' kata Bagas di ruang rapat firma itu, dengan wajah partner yang sudah membaca badai seperti ini sebelumnya. 'Tiga sudah bertanya langsung, dua sudah membekukan pekerjaan sementara, dan sisanya menunggu jawaban kita. Kita punya satu hari, mungkin dua, sebelum jawaban yang benar tidak lagi cukup.'
'Kalau begitu kita tidak menunggu satu hari,' kata Ario. 'Kita menjawabnya sore ini juga. Kumpulkan timnya. Dan Bagas — terima kasih sudah tidak bertanya apakah memo itu benar.'
'Aku tidak perlu bertanya,' jawab Bagas. 'Aku sudah mengenalmu sejak firma ini satu ruangan berdua. Orang yang menulis memo seperti itu tidak pernah menulis satu halaman pun dengan caramu. Sekarang pergi — dan akhiri ini dengan cara yang benar, seperti selalu.'
Di kantor For Her, badai yang sama datang dari arah yang berbeda: nama Ranti terseret di paragraf-paragraf akhir artikel itu — 'pacar sang pengacara, eksekutif di majalah ternama' — dan Pa Ridwan memanggilnya bukan untuk menanyakannya, tapi untuk menawarkan satu hal yang tidak pernah dilupakan Ranti: 'Kamu mau izin atau mau berdiri, Ranti? Karena majalah ini berdiri bersama karyawannya, dan aku sudah membaca artikel itu dengan mata yang sudah empat puluh tahun membaca: itu bukan jurnalisme. Itu eksekusi. Dan kita tidak pernah membiarkan satu pun dari kita dieksekusi tanpa menjawab.'
'Aku berdiri, Pak,' jawab Ranti. 'Dan jawabannya sudah disiapkan — lebih dulu dari serangannya.'
Sore itu, di ruang rapat firma Yudha & Bagas, draf jawaban itu ditulis dengan dua tangan yang tidak pernah gemetar: Ario menulis bagian-bagian hukumnya, dan Ranti menulis bagian-bagian ceritanya. Mereka menulisnya berdampingan di satu meja, dengan Sapta yang memeriksa setiap fakta dua kali, dan dengan Bagas yang membacanya di akhir dan berkata satu hal yang tidak pernah dilupakannya: 'Aku sudah membaca ribuan bantahan dalam hidupku. Ini bukan bantahan. Ini satu-satunya dokumen yang tidak pernah butuh dibantah — karena tidak ada satu pun di dalamnya yang tidak bisa diperiksa. Besok pagi, kita tidak sedang membela diri. Besok pagi, kita sedang membuka jendela — dan membiarkan semua orang melihat ke dalam.'
Malam itu, di ruang kerja Ario, semua orang berkumpul: Ranti, Sapta, Bagas, Marissa, dan — lewat sambungan video dari kota kecilnya — Rukmini dan Bima Madina. Dan rencana yang sudah disusun berminggu-minggu itu akhirnya dijalankan: bukan bantahan, bukan pembelaan — satu cerita utuh, yang diucapkan duluan, oleh orang-orang yang paling berhak mengucapkannya.
Rapat itu berjalan sampai lewat tengah malam — dan satu momen di dalamnya tidak pernah dilupakan satu pun yang hadir: saat Rukmini, dari layar video itu, membacakan draf bagiannya dan berhenti di tengahnya, menatap kamera itu, dan berkata: 'Kalian semua sudah menulis untuk kami bermalam-malam. Besok biarkan kami yang berdiri dengan kalian di hadapan semua orang. Kami tidak pernah diizinkan berdiri di hadapan siapa pun selama tujuh tahun. Besok, izinkan kami berdiri — bukan untuk kami, tapi untuk semua keluarga yang tidak pernah sampai ke podium mana pun.' Tidak ada satu pun di ruangan itu yang menjawab dengan kata-kata. Ario hanya mengangguk, dan menuliskannya di jadwal besok pagi dengan tangan yang tidak pernah lebih pasti.
'Besok pagi,' kata Ario, menatap mereka semua. 'Kita tidak menunggu satu malam pun. Kebenaran tidak pernah diberi waktu untuk membusuk — dan Hartono Subrata tidak akan pernah diberi satu malam pun untuk menikmati serangannya.'
Malam itu, setelah semua orang pulang, Ario dan Ranti tidak langsung tidur — mereka berdiri di beranda dengan dua gelas terakhir, memandang kota yang besok pagi akan membaca semuanya. 'Kamu gugup?' tanya Ario. 'Tidak,' jawab Ranti. 'Aku sudah melewati malam terburuk dalam hidupku sendirian di satu apartemen. Besok aku berdiri dengan semua orang yang kucintai di sebelahku. Dua hal itu tidak pernah bisa dibandingkan — dan tidak akan pernah.' Ia menatapnya. 'Dan satu hal lagi yang kupikirkan sepanjang malam ini: besok, saat kamu berdiri di podium itu, jangan pernah lupa satu hal. Kamu tidak sedang membela namamu. Kamu sedang mengembalikan satu nama — kepada satu keluarga yang menunggu tujuh tahun untuk mendengarnya dibaca dengan benar. Kalau kamu ingat itu, kamu tidak akan pernah gugup.'
Ario menatapnya lama. 'Itu sebabnya kamu yang akan berdiri di sampingku besok. Bukan di belakangku. Di sampingku — seperti selalu, seperti yang akan selalu.'
'Sampai besok,' kata Ranti, mengangkat gelasnya.
'Aku tunggu,' jawab Ario — dan untuk pertama kalinya, kalimat itu diucapkannya untuk satu hari yang lebih besar dari semua hari yang pernah diucapkannya.