Konferensi pers itu digelar Rabu pagi — dan menjadi konferensi pers yang kemudian dibicarakan bertahun-tahun, bukan karena bantahannya, tapi karena bentuknya yang tidak pernah ada sebelumnya.
Ario berdiri di podium itu bukan untuk membantah. Ia berdiri untuk membuka — semuanya, dari halaman pertama sampai halaman yang tidak pernah dibacakan siapa pun.
'Kemarin satu artikel diterbitkan tentang satu kasus bernama Madina. Artikel itu benar tentang satu hal: kasus itu ada, keluarga itu dihancurkan, dan saya adalah pengacara yang memenangkan sengketanya untuk pihak seberang. Tidak ada satu pun dari itu yang akan saya bantah hari ini — karena tidak ada satu pun dari itu yang perlu dibantah. Yang akan saya ceritakan hari ini adalah bagian yang tidak pernah ditulis: apa yang terjadi setelahnya.'
Ia menceritakan semuanya — dengan dokumen yang bisa diperiksa semua orang: penemuan enam bulan setelahnya, konfrontasinya dengan kliennya, keluarnya firma dari mandat Grup Lestari, dan dua tahun pencarian yang tidak pernah diumumkannya kepada siapa pun. 'Selama tujuh tahun saya menyimpan satu map biru — ganti rugi, permintaan maaf, dan satu surat yang tidak pernah sampai. Saya tidak menceritakannya untuk membela diri hari ini. Saya menceritakannya karena kemarin, untuk pertama kalinya, satu keluarga yang saya cari selama tujuh tahun akhirnya ditemukan — dan mereka memilih untuk berdiri di sini bersama saya, dengan cerita mereka sendiri.'
Ruangan itu penuh dengan wartawan yang sudah membaca artikel serangan itu — dan satu dari mereka berdiri dengan satu pertanyaan yang sudah ditunggu semua orang: 'Pak Ario. Memo yang dicetak kemarin — bagaimana publik bisa yakin itu palsu?' Dan Ario menjawabnya dengan satu jawaban yang kemudian dikutip di semua berita sore: 'Karena memo itu meniru bentuk firma kami dengan sempurna — terlalu sempurna. Orang yang memalsukan satu halaman selalu menulisnya lebih rapi dari yang pernah kami tulis. Dan satu hal lagi: semua dokumen yang saya bacakan hari ini bisa diperiksa keasliannya oleh siapa pun, kapan pun. Memo kemarin tidak akan pernah bisa diperiksa — karena orang yang menulisnya tidak pernah bermaksud untuk itu. Itu perbedaan antara satu halaman yang benar dan satu halaman yang ditulis untuk dibaca: yang benar tidak pernah takut diperiksa.'
Dan Rukmini Madina naik ke podium itu — dengan Bima di sampingnya — dan berkata dengan suara yang tidak pernah gemetar:
'Saya Rukmini Madina. Tujuh tahun lalu keluarga saya kehilangan semuanya — dan satu tahun kemudian saya kehilangan suami saya. Selama tujuh tahun saya membaca semua yang ditulis tentang kami, dan tidak pernah satu pun yang menulis bagian yang benar: bahwa yang menghancurkan kami bukan pengacara yang memenangkan kasusnya, melainkan orang-orang yang memainkan buktinya. Minggu lalu, dua orang datang ke toko kain saya dan menceritakan kebenarannya — dan satu nama yang sudah tujuh tahun kami tunggu untuk didengar akhirnya diucapkan: Hartono Subrata. Orang yang menekan saksi kami. Orang yang menghilangkan bukti kami. Dan orang yang kemarin menulis satu memo palsu untuk membuat kalian percaya bahwa orang yang salah yang menghancurkan kami.'
Ia menatap kamera-kamera itu langsung.
'Keluarga saya tidak pernah membutuhkan satu pun dari kalian untuk percaya kami. Tapi hari ini kami berdiri di sini karena satu alasan: karena tidak boleh ada lagi keluarga yang dihancurkan oleh orang yang menulis dari kejauhan dengan nama orang lain. Itu sebabnya kami datang. Dan itu sebabnya kami berdiri di samping orang ini—' ia menunjuk Ario, '—karena selama tujuh tahun, satu-satunya orang yang tidak pernah berhenti mencari kami adalah orang yang kemarin kalian baca sebagai penjahatnya. Kebenaran tidak pernah membutuhkan pembela. Kebenaran hanya membutuhkan orang yang berdiri cukup lama untuk mengucapkannya.'
Artikel serangan itu tidak pernah bertahan melewati siang.
Dan satu jam setelah konferensi itu berakhir, satu hal yang tidak direncanakan siapa pun terjadi: dua klien yang membekukan pekerjaan pagi harinya menelepon kembali — bukan untuk mencairkannya, tapi untuk mengaktifkannya penuh, dengan satu alasan yang sama yang diucapkan dua-duanya: 'Kami tidak membaca konferensi itu sebagai bantahan. Kami membacanya sebagai satu-satunya alasan untuk mempercayai firma ini lebih dari sebelumnya. Klien tidak pernah mencari pengacara yang tidak pernah salah, Pa Bagas. Klien mencari pengacara yang tidak pernah berbohong.' Dua jurnalis senior menulis analisis balasan sebelum sore — dan satu halaman yang ditulis Ranti sendiri untuk For Her, dengan namanya sendiri di bawahnya, menjadi bacaan yang paling dibagikan malam itu: satu surat terbuka berjudul sederhana, **'Tentang Memo yang Dipalsukan dan Keluarga yang Akhirnya Berdiri'** — dengan satu kalimat penutupnya yang dicetak ulang di mana-mana: *'Mereka menyerang dengan satu halaman palsu. Kami menjawab dengan tujuh tahun yang benar. Dua tulisan itu tidak pernah seimbang — dan tidak akan pernah seimbang.'*
Perjalanan pulang dari konferensi pers itu berjalan dengan satu mobil yang penuh dengan kelegaan yang tidak diucapkan: Rukmini dan Bima di kursi belakang, Ranti dan Ario di depan, dan tidak ada satu pun yang bicara sampai Rukmini berkata pelan dari belakang: 'Tujuh tahun saya membayangkan hari ini, dan tidak pernah satu kali pun kubayangkan akan terasa seperti ini. Kukira akan terasa seperti menang. Ternyata terasa seperti lega — seperti akhirnya bisa bernapas setelah tujuh tahun.' Dan Bima, di sebelahnya, menambahkan dengan suara pemuda yang lebih tua dari umurnya: 'Ayahku tidak pernah menyaksikan ini. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, aku merasa dia tidak perlu menyaksikannya — karena hari ini ditulis dengan benar, dan ayahku selalu bilang: yang ditulis dengan benar tidak pernah hilang.'
Dan malam itu, surat-surat pembaca mulai mengalir ke kantor For Her — dari orang-orang yang tidak pernah dikenal mereka: dari pengacara-pengacara muda yang menulis bahwa hari itu mereka mengingat kembali untuk apa mereka masuk ke profesi ini, dari keluarga-keluarga yang pernah kalah dengan cara yang sama, dan dari satu surat yang dibaca Rukmini tiga kali di kamar tamu rumah Ario: dari seorang ibu di kota lain, yang kehilangan pabrik suaminya dengan cara yang sama dua tahun lalu, dan menulis satu kalimat: *'Keluarga kalian berdiri hari ini — dan kami yang menontonnya akhirnya percaya bahwa kami juga bisa berdiri.'*