Marissa menepati janjinya di satu akhir pekan — ia datang sendiri ke toko kain kecil di kota kecil itu, dengan satu tas dan tanpa satu pun rencana.
Rukmini menyambutnya seperti menyambut semua orang yang datang ke tokonya: dengan teh, dengan kursi, dan tanpa satu pun pertanyaan sebelum waktunya. Dan Marissa duduk di sana dua jam — dua jam yang kemudian selalu diceritakannya sebagai dua jam yang mengubah hidupnya — mendengarkan seorang ibu bercerita tentang bagaimana berdiri setelah tujuh tahun: bukan dengan menang, bukan dengan membalas, tapi dengan bangun setiap pagi dan membuka tokonya dengan benar.
Dua jam itu tidak pernah diisi dengan nasihat — karena Rukmini tidak pernah menasihati siapa pun. Ia hanya bekerja, dan bercerita, dan sekali-sekali bertanya hal-hal kecil kepada Marissa tentang hidupnya yang tidak pernah ditanyakan siapa pun kepadanya dalam lima tahun: apakah ia makan dengan benar, apakah ia tidur cukup, apakah ada satu orang pun di Jakarta yang menunggunya pulang. Dan di pertanyaan terakhir itu, Marissa menjawab dengan jujur untuk pertama kalinya sejak lama: 'Tidak ada.' Dan Rukmini hanya mengangguk dan menjawabnya seperti menjawab semua hal lain: 'Maka untuk sementara, kamu punya satu toko kain yang selalu terbuka untukmu. Kamu tidak pernah perlu sendirian lagi, Nak. Orang yang datang untuk belajar berdiri tidak pernah ditolak dari toko ini.'
'Aku datang untuk belajar bagaimana orang berdiri setelah semuanya,' kata Marissa. 'Dan aku tidak pernah menyangka jawabannya akan sesederhana ini.'
'Jawabannya memang sederhana, Nak,' jawab Rukmini, menyortir kain-kainnya sambil bicara. 'Orang yang jatuh tidak pernah berdiri dengan satu lompatan besar. Mereka berdiri dengan satu hari yang benar, lalu satu hari lagi, lalu satu hari lagi. Kamu tidak perlu menjadi orang baru besok pagi. Kamu hanya perlu menjadi orang yang benar hari ini — dan besok tinggal diulang.'
Marissa tidak pernah menuliskannya — tapi kalimat itu tidak pernah pergi darinya. *Kamu tidak perlu menjadi orang baru besok pagi. Kamu hanya perlu menjadi orang yang benar hari ini.*
Ia kembali ke Jakarta dengan satu keputusan yang tidak pernah dibicarakannya dengan siapa pun sebelum diumumkannya: ia menolak kursi di firma luar negeri itu, mendirikan praktiknya sendiri — kecil, miliknya, dengan satu aturan yang ditulisnya di dinding kantornya yang pertama: *'Tidak ada satu pun klien yang tidak bisa kubela dengan bersih. Tidak ada satu pun kemenangan yang membutuhkan satu halaman palsu.'* Dan di hari pembukaannya, dua orang datang dengan satu karangan bunga: Ario dan Ranti, dengan satu kartu yang ditulis Ranti: *'Untuk pengacara yang tidak pernah berdiri di sisi yang salah dua kali. Selamat datang di halaman berikutnya, Marissa. — Dua orang yang tidak pernah meragukanmu lagi.'*
Hari-hari pertama praktiknya berjalan dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya selama lima tahun di firma besar: pelan, kecil, dan benar. Klien pertamanya adalah seorang ibu pemilik warung yang digusur pengembang besar — kasus yang tidak akan pernah diambil firma besar, yang diambil Marissa dengan satu alasan yang tidak pernah ditulisnya di mana pun: karena ibu itu berdiri di kantornya dengan dua tangan menggenggam tasnya dan satu pertanyaan yang sama yang pernah diajukan Rukmini Madina tujuh tahun lalu: 'Masih adakah yang mau membela orang seperti saya?' Marissa memenangkannya dalam dua bulan — kemenangan pertamanya sebagai pemilik praktiknya sendiri, yang dirayakannya bukan dengan pesta, tapi dengan satu foto ibu itu berdiri di depan warungnya yang diselamatkan, dipasang di dinding kantornya di sebelah aturan pertamanya. Dan ia menamai praktiknya dengan satu kata yang tidak pernah dijelaskannya kepada siapa pun kecuali dua orang di satu toko kain: *Berdiri*. Karena itu satu-satunya hal yang pernah dipelajarinya dari orang yang benar — dan satu-satunya hal yang akan dijualnya seumur hidupnya.
'Aku tidak akan pernah bisa membalas ini,' kata Marissa, membaca kartunya di depan mereka.
'Kamu tidak perlu membalas apa pun,' jawab Ranti. 'Kamu sudah melunasinya di lorong-lorong yang tidak pernah kami lihat — di malam-malam ketika kamu memilih untuk tidak pernah menjadi pembawa lagi. Selamat datang di Jakarta, Marissa. Kali ini dengan benar.'
Dan mereka duduk di kantornya yang masih setengah kosong itu satu jam lebih lama — dua orang yang pernah berdiri di dua sisi cerita yang sama, dan satu lelaki yang pernah dicintai dua-duanya di dua masa yang berbeda, membicarakan hal-hal yang tidak pernah bisa dibicarakan orang yang masih menyimpan: tentang lima tahun, tentang harga-harga yang sudah dibayar semua orang, tentang bagaimana rasanya akhirnya berdiri di tempat yang benar. 'Kalian tahu apa yang tidak pernah kubayangkan?' kata Marissa di akhirnya. 'Bahwa dua orang yang paling kujaga jaraknya akan menjadi dua orang pertama yang berdiri di hari pembukaan praktikku. Hidup memang tidak pernah bisa ditulis sebelum dijalani.'
Dan malam itu, Marissa berdiri di kantornya yang kosong setelah mereka pergi, membaca ulang satu kartu itu — dan untuk pertama kalinya sejak kembali, ia tidak membaca ulang satu pun dari lima tahun yang lalu. Lima tahun itu sudah selesai ditulis. Dan halaman berikutnya — halaman berikutnya akhirnya miliknya.
Sebelum tidur, ia menulis satu pesan ke nomor yang tidak pernah disangkanya akan ditulisnya dengan ringan — nomor Ranti: *'Terima kasih untuk hari ini. Dan untuk tidak pernah membacaku sebagai tokoh jahat dalam cerita yang benar. Kursi di toko kain itu sudah kupesan untuk akhir pekan depan — dan untuk semua akhir pekan yang membutuhkannya. Selamat malam, dari satu orang yang akhirnya pulang ke dirinya sendiri.'* Dan jawabannya datang sebelum ia menaruh ponselnya: *'Selamat malam, Marissa. Pintunya tidak pernah dikunci — untuk kamu, tidak akan pernah.'*
Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke Jakarta, Marissa tidur malam itu tanpa memikirkan satu pun dari tahun-tahun yang lalu — hanya halaman-halaman yang masih akan datang, dari praktik yang tidak pernah akan memenangkan satu pun kasus dengan cara yang salah.