Ario merencanakannya dua bulan — dengan satu konspirator tunggal yang tidak pernah bisa dipercaya dengan rahasia: Cica, yang menyimpan rahasia itu seperti menyimpan barang bukti, dengan satu kebocoran yang disengajakan untuk dirinya sendiri di setiap minggunya.
Dua bulan itu menghasilkan satu arsip tersendiri: dua belas panggilan telepon antara Ario dan Cica yang semuanya dibuka dengan kalimat yang sama ('kamu tidak boleh memberi tahu siapa pun'), satu kunjungan ke toko perhiasan yang dijalani seperti operasi rahasia — Cica datang dengan topi, Ario dengan masker, dan dua-duanya menemukan bahwa menyembunyikan sesuatu dari Ranti adalah hal tersulit yang pernah mereka lakukan bersama — dan satu malam di mana Cica hampir menghancurkan semuanya dengan menelepon Ranti dengan suara yang terlalu bersemangat untuk hari Selasa biasa. 'Aku tidak bisa dipercaya dengan kebahagiaan orang lain,' katanya pada Ario setelahnya. 'Itu satu-satunya kelemahanku. Seminggu lagi, Ario. Kalau kamu menunggu lebih lama dari itu, aku tidak menjamin apa-apa.'
Cincinnya dipilih dalam satu jam — karena Ario sudah tahu persis apa yang diinginkannya sejak lama: satu berlian kecil di lingkar emas polos, tanpa satu pun yang berlebih. 'Karena dia tidak pernah menyukai hal-hal yang berlebih,' katanya pada Cica. 'Dia menyukai hal-hal yang benar. Dan cincin ini cincin yang benar.'
'Ario. Aku tidak pernah bisa menjaga rahasia. Kamu memilih orang yang salah untuk konspirasi.'
'Aku memilihmu justru karena itu,' jawab Ario. 'Karena kamu tidak akan pernah bisa menahannya — dan karena tidak ada satu pun di dunia ini yang lebih mencintai perempuan itu selain aku, kecuali kamu. Aku butuh orang yang mencintainya untuk membantuku melakukannya dengan benar.'
Maka Sabtu itu, Ranti dibangunkan dengan satu pesan: *'Bersiap. Kita ke Andara. Dan kali ini bawa baju ganti.'*
Dua jam perjalanan itu berjalan dengan dua orang yang membicarakan segalanya kecuali yang satu itu — dan Ranti, yang membaca orang untuk hidupnya, membaca sesuatu yang berbeda di Ario sepanjang jalan: ia gugup. Ario Yudha, yang tidak pernah gugup di ruang sidang mana pun, gugup. Dan Ranti menyimpannya dalam hati seperti menyimpan sesuatu yang hangat, tanpa pernah menanyakannya.
Pantai Andara menyambut mereka seperti menyambut dua orang yang pulang — pasir putih yang sama, air jernih yang sama, dan ujung pantai yang sama tempat mereka pertama kali berpegangan tangan dan tidak pernah lagi melepaskannya.
Mereka makan siang dulu di restoran kecil yang sama seperti dua tahun lalu — duduk di meja yang sama, memesan makanan yang sama, dan tertawa mengingat dua orang yang duduk di sana dua tahun lalu dengan hati yang tidak pernah tahu apa yang menunggu mereka. 'Waktu itu kamu membelikanku topi,' kata Ranti, memandang laut dari jendelanya. 'Dan aku pulang dengan hati yang tidak pernah sama lagi. Aku tidak pernah memberitahumu ini, tapi malam itu aku berdiri di jendela apartemenku dan menulis satu hal di catatanku: hari ini aku bertemu seseorang yang membuatku tidak ingin hari ini berakhir. Dua tahun kemudian, tidak pernah ada satu hari pun yang kuinginkan berakhir.'
'Dan hari ini?' tanya Ario.
'Hari ini terutama,' jawab Ranti. 'Karena hari ini kita pulang ke tempat pertama — dan aku sudah tahu dari lama bahwa tempat-tempat pertama dalam hidup kita tidak pernah kehilangan harganya. Mereka hanya menunggu kita kembali dengan lebih banyak untuk dibawa pulang.'
Mereka berjalan ke ujung itu — dan di sana, di tempat yang sama, Ario berhenti.
'Ranti. Dua tahun lalu di tempat ini, aku memegang tanganmu untuk pertama kalinya dan tidak pernah bisa melepaskannya sejak itu. Semua yang kita lalui sejak hari itu — badai-badai, orang-orang yang menulis dari kejauhan, dua tahun penuh halaman-halaman — tidak pernah satu pun mengubah satu hal: bahwa aku tidak pernah ingin melepaskan tangan ini. Tidak di pantai ini, tidak di mana pun, tidak pernah.'
Dan ia berlutut — di pasir putih itu, di tempat pertama mereka — dengan satu kotak kecil yang dibawanya dalam saku jaketnya sejak pagi.
'Miranti Larasati. Aku tidak akan menjanjikan hidup tanpa badai — kita berdua tahu badai datang sesukanya. Tapi aku menjanjikan ini: setiap badai itu akan menemukan kita berdiri berdampingan, dengan dua aturan yang tidak pernah dilanggar, dengan satu kalimat yang tidak pernah berubah. Kamu tidak perlu menjadi siapa-siapa untukku — kamu sudah cukup sejak malam kamu berdiri di lorong lift itu dan menunduk karena gugup. Menikahlah denganku. Di tempat ini, di pantai ini, di tempat semuanya dimulai — mari kita mulai selamanya.'
Ranti menatapnya — dengan air mata yang sudah tidak bisa dihentikannya, dengan dua tahun yang berkelebat, dengan lelaki yang tidak pernah sekalipun memintanya menjadi orang lain.
'Ya,' katanya, tertawa dan menangis bersamaan. 'Ya, Ario Yudha. Di pantai ini, di tempat ini, di semua tempat yang akan datang — ya.'
Dan saat cincin itu melingkar di jarinya, di ujung Pantai Andara itu, satu kamera kecil yang disembunyikan Cica di balik batu-batu menangkap satu bingkai yang kemudian menjadi foto resmi pertunangan mereka: dua orang di ujung pantai, dengan langit sore, dengan satu pelukan yang tidak pernah direncanakan untuk difoto — dan justru karena itu, sempurna.
Perjalanan pulangnya berjalan dengan satu pemberhentian yang tidak pernah direncanakan: di satu kedai kecil di pinggir jalan, tempat mereka berhenti untuk teh dan duduk di bangku kayunya lebih lama dari yang diperlukan, karena tidak ada satu pun dari mereka yang ingin hari itu berakhir. 'Kamu tahu,' kata Ario di bangku itu, dengan cincin yang sudah melingkar di jari Ranti dan matahari yang sudah turun, 'bahwa aku tidak pernah merencanakan satu pun dari dua tahun ini? Aku tidak pernah merencanakan lift itu, tidak pernah merencanakan malam jalan kaki itu, tidak pernah merencanakan satu pun dari semua yang mengantar kita ke pasir ini. Aku hanya merencanakan satu hal: untuk tidak pernah berhenti memilihmu, setiap hari, sejak hari pertama. Dan lihat ke mana satu rencana itu membawa kita.'
'Ke ujung pantai,' jawab Ranti, menatap cincin di jarinya dengan senyum yang tidak pernah pergi. 'Dan ke semua tempat setelahnya.'