Kabar pertunangan itu meledak di semua lingkaran mereka dalam satu malam — dan tidak ada satu pun yang meledak lebih besar dari Cica, yang menelepon Ranti sebelum mereka sampai ke Jakarta: 'AKU TAHU! AKU YANG MENGATUR KAMERANYA! DAN TIDAK ADA SATU PUN YANG KUKATAKAN PADANYA DUA BULAN INI! Aku layak mendapat piala untuk dua bulan itu! Miranti Larasati, kamu resmi akan menikah!'
'Dia yang mengatur kameranya?'
'Dia yang mengatur kameranya, dan aku yang menyembunyikannya, dan kami berdua tidak pernah berhenti membicarakanmu dua bulan ini. Selamat, Ti. Kamu menemukan lelaki yang tidak pernah memintamu menjadi orang lain — dan itu adalah satu-satunya hal yang pernah kudoakan untukmu.'
Wira mendengarnya dari Ranti langsung, Senin pagi — dan berdiri dari kursinya, memeluknya seperti seorang kakak, dan berkata satu hal yang tidak pernah dilupakannya: 'Dua tahun lalu kamu duduk di pantry dengan patah hati atas lelaki dingin di lift. Sekarang kamu akan menikahinya. Aku sudah membaca banyak cerita, Ranti — tapi cerita kalian adalah satu-satunya yang tidak pernah membuatku berhenti di tengah. Selamat. Dan sampaikan pada Ario: dia boleh memanggilku kakak iparnya mulai sekarang. Itu bukan tawaran. Itu status resmi.'
Linda mengumumkannya ke seluruh kantor tanpa izin siapa pun. Irna menangis di pantry. Dan Mirna — Mirna membaca kabar itu di layar komputernya, diam sebentar, dan kemudian melakukan satu hal yang tidak pernah disangka Ranti: ia menghampiri meja Ranti dan mengucapkannya langsung. 'Selamat, Ranti. Sungguh-sungguh. Kamu layak mendapatkannya — dan aku mengucapkannya dengan benar, untuk pertama kalinya, tanpa satu pun hal di belakangnya.'
Siang itu juga, satu makan siang dadakan terjadi di Proper Lunch — Cica, Linda, Wira, dan Ranti, dengan satu meja yang tidak pernah berhenti berisik sejak mereka duduk. Linda membacakan ulang pesan-pesan pertunangan itu dengan suara keras sampai diminta pelan oleh pelayan dua kali. Cica menceritakan dua bulan konspirasinya dengan detail yang makin lama makin tidak akurat. Dan Wira menutupnya dengan satu tos yang tidak pernah dilupakan Ranti: 'Untuk adikku yang tidak pernah berhenti menunggu dengan benar. Kamu tidak pernah menurunkan standarmu satu pun — dan lihat apa yang datang kepadamu: lelaki yang tidak pernah memintamu menurunkannya. Untuk kalian berdua. Dan untuk semua dari kita yang menontonnya dari pinggir dan tidak pernah berhenti percaya.'
'Tunggu.' Ranti menatapnya. 'Mirna, apa yang berubah?'
'Semuanya,' jawab Mirna, dan untuk pertama kalinya tidak ada satu pun topeng di wajahnya. 'Dua bulan ini aku menonton kalian berdua dari dekat — dua orang yang berdiri di tengah badai tanpa pernah saling meninggalkan. Dan aku belajar satu hal yang tidak pernah kupelajari dari siapa pun: bahwa mendapatkan seseorang tidak pernah bisa dimulai dengan mengharapkan orang lain kehilangannya. Kamu tidak pernah mengambil apa-apa dariku, Ranti. Aku tidak pernah memiliki apa-apa untuk diambil. Selamat — dan kali ini, maksudkanlah.'
Dan Ranti menatapnya — dan tersenyum, dan menjawabnya dengan satu tangan yang diulurkan: 'Terima kasih, Mirna. Itu ucapan terbaik yang pernah kuterima darimu — karena itu satu-satunya yang benar.'
Senin berikutnya, kabar itu resmi menjadi milik satu kantor: Pa Ridwan mengumumkannya di rapat mingguan tanpa izin Ranti — dengan satu pidato dua menit yang berakhir dengan kalimat yang membuat satu ruangan bertepuk tangan: 'Majalah ini sudah meliput banyak pernikahan. Tapi tidak pernah satu pun yang menunggu pengantinnya selama yang ini. Selamat, Bu Ranti — dan sampaikan pada pengacaramu: kami semua sudah membaca tentangnya, dan dia tidak pernah mengecewakan satu pun dari kami.' Dan Irna — stafnya yang tidak pernah banyak bicara — menitipkan satu kotak kecil di mejanya sore itu dengan satu kartu: 'Untuk Ibu, yang tidak pernah berubah di semua jabatan. Dari kami yang tidak pernah berhenti bangga.'
Malam itu, di beranda rumah Ario, mereka memberitahu dua keluarga: keluarga Ario yang datang dengan air mata seorang ibu yang sudah lama menunggu kabar ini, dan orang tua Ranti yang datang dari kota asal mereka dengan satu syarat dari ayahnya yang tidak bisa ditawar: 'Bapak hanya punya satu pertanyaan untuk lelaki ini: apakah dia pernah membuatmu menangis?' 'Pernah, Yah. Sekali — karena cemburu yang salah. Dan dia tidak pernah mengulanginya.' 'Kalau begitu dia lulus. Lelaki yang tidak pernah membuatmu menangis tidak ada. Yang ada adalah lelaki yang tidak pernah mengulanginya.'
Makan malam keluarga itu berjalan sampai larut — dan dua ibu menemukan satu sama lain seperti dua orang yang sudah lama menunggu untuk bertemu: ibu Ario, yang tidak pernah berhenti berdoa untuk anaknya yang terlalu lama sendiri, dan ibu Ranti, yang tidak pernah berhenti berdoa untuk anaknya yang terlalu lama menunggu. Mereka duduk di sudut beranda dengan dua cangkir teh dan membicarakan dua anak itu seperti dua orang yang sudah mengenal bertahun-tahun. 'Kamu tahu,' kata ibu Ario, 'aku tidak pernah melihatnya tersenyum seperti ini. Bahkan saat ia kecil. Terima kasih sudah membesarkan perempuan yang mengembalikan senyum anakku.' 'Dan terima kasih sudah membesarkan lelaki yang tidak pernah menuntut anakku menjadi orang lain,' jawab ibu Ranti. 'Itu satu-satunya hal yang pernah kuminta untuknya — dan satu-satunya hal yang tidak pernah kuduga akan kuterima.'
Di tengah malam itu, ayah Ranti berdiri dengan Ario di satu sudut, dua lelaki dengan dua gelas, dan satu pembicaraan yang tidak pernah didengar siapa pun. 'Dengarkan Bapak baik-baik, Nak. Perempuan itu menghabiskan lima tahun menunggu seseorang yang tidak pernah memintanya menjadi orang lain. Kamu tidak perlu menjadi sempurna untuknya — kamu hanya perlu tetap menjadi orang yang tidak pernah memintanya menjadi orang lain. Itu satu-satunya syarat dari ayahnya. Dan itu tidak bisa ditawar.'
'Itu satu-satunya syarat yang tidak pernah perlu ditawar, Pak,' jawab Ario. 'Karena itu satu-satunya cara yang pernah kutahu untuk mencintainya.'