Mereka tidak pernah berbulan madu jauh — satu minggu di satu villa kecil dua jam dari pantai itu, karena dua-duanya sepakat bahwa setelah dua tahun yang tidak pernah tenang, kemewahan terbesar adalah satu minggu tanpa satu pun jadwal.
Villa itu kecil dan menghadap kebun yang tidak pernah dirawat terlalu rapi — dan dua hari pertamanya dihabiskan mereka dengan satu kegiatan yang tidak pernah mereka akui akan menjadi kegiatan favorit: tidak melakukan apa-apa. Ario membaca dua buku penuh di berandanya, sesuatu yang tidak pernah dilakukannya sejak firma itu berdiri. Ranti menulis di catatannya — bukan untuk kolom, bukan untuk siapa pun, hanya untuk kotak mereka — dan menemukan bahwa menulis tanpa tenggat adalah kemewahan yang tidak pernah dikenalnya. Dan di malam-malamnya, mereka memasak bersama di dapur kecil villa itu dengan bahan-bahan dari pasar desa di sebelahnya, dengan satu pertandingan tidak resmi tentang siapa yang membuat sarapan terbaik yang tidak pernah selesai karena dua-duanya menolak menjadi juri.
Minggu itu berjalan dengan hal-hal yang tidak pernah ditulis di rencana mana pun: pagi-pagi dengan sarapan yang dimasak Ario dengan tingkat perhatian yang biasa diberikannya pada berkas-berkas besar, siang-siang dengan buku-buku yang dibaca berdampingan tanpa satu pun yang wajib selesai, dan sore-sore dengan jalan-jalan kecil yang tidak pernah punya tujuan. Ada satu sore ketika mereka menemukan satu kedai kecil di ujung desa itu dan duduk di sana sampai malam tanpa sadar, dan satu pagi ketika mereka tidak keluar sama sekali karena hujan turun dan tidak ada satu pun alasan untuk tidak pernah keluar.
Dan di malam terakhir minggu itu, mereka duduk di beranda villa itu dengan dua gelas teh — dan membicarakan hal yang sama yang selalu mereka bicarakan tanpa pernah bosan: tentang semua yang sudah berlalu.
Ada satu sore di minggu itu yang kemudian selalu mereka sebut 'sore tanpa nama' — sore ketika mereka berjalan ke satu titik di kebun villa itu dan menemukan dua kursi tua yang menghadap matahari terbenam, dan duduk di sana tanpa satu pun rencana sampai langit gelap. Tidak ada foto dari sore itu — Malika tidak ada, ponsel-ponsel tertinggal di dalam. Hanya dua orang, dua kursi, dan satu matahari terbenam yang tidak pernah dibagikan ke siapa pun. 'Beberapa hal tidak pernah perlu difoto untuk tidak pernah dilupakan,' kata Ranti malam itu. 'Sore ini tidak akan pernah ada di album mana pun. Dan itu yang membuatnya tidak akan pernah hilang.'
Ada satu pembicaraan di malam terakhir itu yang tidak pernah hilang dari dua-duanya: tentang rumah. Mereka membicarakannya dengan peta kecil yang dibuka di meja beranda — dan memutuskan dua hal yang tidak pernah berubah sejak malam itu: rumah mereka tidak akan pernah menjadi rumah yang menunggu salah satu dari mereka pulang, dan tidak akan pernah ada satu sudut pun di dalamnya yang tidak bisa diisi oleh dua-duanya. 'Aku tidak mau rumah yang besar dengan kamar-kamar yang tidak pernah dipakai,' kata Ranti. 'Aku mau rumah yang setiap sudutnya pernah melihat kita berdua. Itu satu-satunya ukuran yang penting: bukan luasnya — tapi tidak pernah ada satu sudut pun yang sepi.'
'Kalau begitu kita cari rumah yang tidak pernah besar,' jawab Ario, menggenggam tangannya di atas peta kecil itu. 'Rumah yang tidak pernah bisa membuat kita berada di dua ujungnya. Rumah yang terlalu kecil untuk lari dan cukup besar untuk tinggal. Itu satu-satunya rumah yang kumau.'
'Kamu pernah membayangkan tidak,' kata Ranti, 'kalau malam itu aku tidak pernah mengejar lift itu? Kalau aku menunggu lift berikutnya saja?'
'Aku membayangkannya hampir setiap malam di tahun pertama,' jawab Ario. 'Dan aku selalu sampai pada kesimpulan yang sama: aku tidak akan pernah menemukanmu dengan cara lain, karena tidak ada cara lain yang akan membuatku membuka mulutku. Kamu satu-satunya hal yang pernah membuatku berbicara tanpa direncanakan, Ranti. Sejak detik pertama. Dan dua tahun kemudian, kamu satu-satunya hal yang membuatku tidak pernah perlu merencanakan apa pun untuk menjadi bahagia.'
'Kalau begitu kita sepakat,' jawab Ranti, bersandar ke bahunya. 'Lift itu bukan kecelakaan. Lift itu jawaban — untuk dua orang yang sudah terlalu lama menunggu di dua sisi kota yang sama, di dua lift yang sama. Dan tidak satu pun dari kita akan pernah lagi menunggu lift berikutnya. Tidak akan pernah.'
Mereka pulang ke Jakarta di akhir minggu itu — ke rumah baru yang sudah dipilih mereka berdua berbulan-bulan sebelumnya: rumah dengan taman kecil dan dapur yang besar, di jalan yang tenang, yang dipilih dengan satu kriteria yang tidak pernah berubah: bukan yang paling besar, tapi yang paling terasa seperti rumah. Dan malam pertama mereka di dalamnya, dengan kardus-kardus yang belum dibuka dan dua gelas kopi di lantai ruang tengah yang kosong, mereka bersulang untuk semuanya: untuk pantai itu, untuk dua tahun itu, untuk rumah ini — dan untuk semua halaman yang masih akan ditulis di dalamnya.
Perburuan rumah itu sendiri sudah menjadi cerita yang tidak pernah membosankan untuk diceritakan: tujuh rumah dilihat dalam empat akhir pekan, dengan dua kriteria yang tidak pernah goyah ('dapur yang tidak pernah kecil, dan tidak pernah ada sudut yang tidak bisa diisi dua-duanya'). Rumah kelima hampir dipilih — sampai Ranti berdiri di taman belakangnya dan berkata: 'Rumah ini tidak pernah akan mendengar kita tertawa. Terlalu sempurna untuk itu.' Rumah keenam ditolak Ario dalam tiga menit ('tangga ini tidak akan pernah ramah untuk orang tua kita'). Dan rumah ketujuh — yang mereka masuki di Sabtu sore dengan langit yang sudah jingga — tidak pernah butuh dibahas: mereka berdiri di taman kecilnya, berpandangan, dan tahu. 'Rumah ini,' kata Ranti. 'Rumah ini tidak pernah menunggu orang lain. Dia menunggu kita.'