Tahun pertama pernikahan mereka di rumah dengan taman itu berjalan dengan ritme yang tidak pernah perlu dipaksakan: pagi-pagi dengan dua kopi yang diseduh bergantian (dan satu kompetisi tidak resmi tentang siapa yang menyeduh lebih baik, yang tidak pernah selesai dengan pemenang), hari-hari dengan dua pekerjaan yang tidak pernah berbenturan, dan malam-malam dengan satu aturan yang tidak pernah dilanggar: tidak ada satu pun yang disimpan sendiri.
Rumah itu sendiri mereka bangun pelan-pelan — tidak pernah sekaligus, tidak pernah dengan terburu-buru. Setiap akhir pekan satu sudut baru: rak buku yang dipasang Ario sendiri dengan bantuan Wira yang datang dengan perkakas dan tidak pernah pulang sebelum makan malam, taman kecil yang ditanami Ranti dengan dua tangannya sendiri di pagi-pagi Minggu, dan satu dinding di ruang tengah yang dipenuhi foto-foto Malika dari dua tahun mereka — dari lift pertama sampai pantai itu, dari lorong-lorong sampai lorong loker itu, satu perjalanan penuh yang tidak pernah berhenti bertambah. 'Rumah ini tidak akan pernah selesai,' kata Ario di satu sore pemasangan rak. 'Dan itu satu-satunya cara rumah tidak pernah berhenti menjadi rumah: dengan tidak pernah selesai.'
Ada satu pertengkaran pertama mereka — pertengkaran yang kemudian selalu diceritakan sebagai 'perangkaus kaki' — tentang satu hal yang tidak pernah penting: Ario yang meninggalkan kaus kakinya di sofa, dan Ranti yang lelah dari minggu yang berat, dan dua orang yang menaikkan suara mereka untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Pertengkaran itu berakhir dalam satu jam — dengan dua orang yang duduk di dua ujung sofa yang sama, dan dengan Ranti yang berkata pertama: 'Kita tidak pernah berjanji untuk tidak pernah bertengkar. Kita berjanji untuk tidak pernah menyimpannya sendiri. Jadi mari kita bicarakan kaus kaki itu dengan benar — karena aku tidak akan membiarkan satu kaus kaki menjadi hal pertama yang tidak pernah kita bicarakan dengan benar.'
Dan mereka membicarakannya — kaus kaki itu, minggu yang berat itu, dan dua orang yang sama-sama lelah yang tidak pernah boleh dijadikan sasaran satu sama lain — dan menutupnya dengan satu aturan baru yang ditulis di papan kapur dapur mereka: *'Yang lelah tidak pernah menjadi sasaran. Yang lelah menjadi yang dirawat. Itu tidak bisa ditawar.'*
Malam itu tidak berakhir di dua ujung sofa — ia berakhir di tengahnya, dengan dua orang yang sudah selesai dan satu pengakuan yang keluar dari Ario sebelum tidur: 'Aku takut tadi. Bukan takut pada pertengkarannya — takut bahwa untuk pertama kalinya, aku menaikkan suaraku di rumah ini. Rumah ini tidak pernah mendengarnya, dan aku tidak pernah mau rumah ini mendengarnya.' Dan Ranti menjawabnya dengan cara yang tidak pernah bisa ditulis orang lain: 'Rumah ini tidak pernah takut pada suara yang dikeraskan sesekali, Ario. Rumah ini hanya takut pada suara yang tidak pernah dikeraskan — pada hal-hal yang disimpan sendiri. Kita tidak pernah melakukan itu. Dan karena itu, rumah ini tidak pernah takut pada kita.'
'Aku tidak pernah menyangka,' kata Ario malam itu, 'bahwa pertengkaran pertama kita akan berakhir dengan aturan yang lebih baik dari sebelumnya. Kamu memang tidak pernah bisa dimenangkan dalam argumen, Miranti Larasati.'
'Aku tidak pernah bertengkar untuk menang,' jawab Ranti. 'Aku bertengkar untuk selesai. Itu dua hal yang berbeda — dan aku tidak pernah mencampurnya. Dan kamu juga tidak pernah mencampurnya — itu sebabnya kita tidak pernah benar-benar bertengkar. Kita hanya berdebat dengan dua orang yang tidak pernah lupa sedang berada di sisi yang sama.'
Minggu berikutnya, kaus kaki itu tidak pernah lagi ditemukan di sofa — dan dua minggu kemudian, Ranti menemukan satu keranjang kecil baru di sudut ruang tengah dengan satu kartu dari Ario: 'Untuk kaus kaki. Supaya tidak pernah ada lagi perang yang tidak perlu. Dan supaya kamu tahu: aku mendengarkan, bahkan untuk hal-hal yang tidak pernah penting. Karena tidak pernah ada satu hal pun dari mulutmu yang tidak penting.' Ranti membacanya di tengah ruang tengah yang sepi, dan menyimpannya ke kotak mereka — dengan satu baris tulisan tangannya sendiri di belakangnya: *'Perangkaus kaki. Kami menang. Bersama.'*
Tahun itu juga membawa satu perkembangan yang tidak pernah dibayangkan siapa pun: Ranti menemukan bahwa surat terbukanya tidak pernah berhenti bekerja. Surat-surat dari pembaca masih mengalir — dan satu ide yang tidak pernah meninggalkannya mulai berdiri: satu kolom tetap di For Her, mingguan, tentang orang-orang yang berdiri kembali setelah halaman-halaman terberat mereka. 'Kolom tentang halaman berikutnya,' katanya pada Pa Ridwan. 'Setiap minggu, satu orang, satu cerita tentang berdiri kembali. Karena tidak pernah ada cukup banyak cerita tentang itu — dan aku tidak pernah berhenti membutuhkannya.'
Edisi pertamanya berjalan dengan satu keputusan yang tidak pernah ditawarnya: Rukmini Madina harus menjadi orang pertamanya. Ia menulisnya dari dua hari di toko kain itu — dengan izin yang tidak pernah diberikan tanpa dibaca dulu, dengan foto-foto Malika yang tidak pernah memotret tanpa menunggu, dan dengan satu jam terakhir di mana Rukmini membacanya di depannya sebelum diterbitkan. 'Tulis dengan benar,' kata Rukmini padanya saat itu. 'Dan jangan pernah menulis kami sebagai orang yang kuat. Kami tidak pernah kuat. Kami hanya tidak pernah berhenti — dan itu dua hal yang berbeda, Nak. Orang yang kuat tidak pernah jatuh. Orang yang tidak pernah berhenti jatuh setiap hari — dan bangun setiap pagi. Tulis yang itu.'
Kolom itu diberi nama **'Halaman Berikutnya'** — dan edisi pertamanya menulis tentang Rukmini Madina, dengan izinnya, dengan foto toko kainnya oleh Malika, dan dengan satu kalimat pembuka yang tidak pernah diubahnya: *'Ada orang-orang yang tidak pernah runtuh karena tidak pernah berdiri — dan ada orang-orang yang berdiri kembali dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari luar. Kolom ini untuk mereka. Setiap minggu. Tidak pernah berhenti.'*