Dua tahun pernikahan itu datang dan pergi seperti dua tahun yang tidak pernah dihitung — karena mereka tidak pernah dihitung.
Dua tahun itu membawa satu tradisi yang tidak pernah mereka rencanakan tapi tidak pernah mereka lewatkan: setiap Sabtu pagi terakhir tiap bulan, mereka mengunjungi satu tempat baru berdua — satu pasar lama, satu kedai yang tidak pernah mereka datangi, satu jalan yang tidak pernah mereka lalui. 'Karena rumah yang tidak pernah bertambah akan menjadi rumah yang tidak pernah berubah,' kata Ario di Sabtu pertamanya, 'dan aku tidak pernah ingin rumah yang tidak pernah berubah.' Dua puluh empat Sabtu, dua puluh empat tempat — dan di setiap Sabtunya, satu benda kecil dibawa pulang untuk kotak mereka: satu tiket, satu cangkir, satu batu dari satu pantai. Kotak itu tidak pernah berhenti bertambah — dan di ulang tahun kedua pernikahan mereka, mereka membukanya berdua dan membaca setiap bendanya satu per satu, seperti membaca ulang dua tahun yang tidak pernah disia-siakan satu Sabtu pun.
Kolom 'Halaman Berikutnya' menjadi salah satu yang paling dibaca di majalah itu — dan surat-suratnya tidak pernah berhenti. Firma itu berjalan dengan dua klien besar baru dan satu reputasi yang tidak pernah dibeli. Dan rumah dengan taman itu penuh dengan bunyi-bunyi yang tidak pernah ada sebelumnya: bunyi Ario membaca berkas di ruang kerjanya, bunyi Ranti menulis di mejanya yang menghadap taman, dan bunyi dua orang yang berdebat tentang hal-hal kecil di dapur yang tidak pernah dingin.
Di tahun itu juga, kolom itu membawa satu hal yang tidak pernah dibayangkan Ranti: satu pembaca menulis dari satu kota jauh tentang bagaimana kolom itu menghentikannya dari satu keputusan yang tidak akan pernah bisa ditariknya — dan surat itu dibaca Pa Ridwan di rapat mingguan dengan satu kalimat yang tidak pernah dilupakan Ranti: 'Kolom ini tidak pernah menjadi kolom, Ranti. Kolom ini menjadi alasan orang-orang memilih untuk tidak pergi dari halaman mereka sendiri. Itu bukan jurnalisme. Itu lebih dari itu — dan majalah ini tidak pernah lebih bangga dengan satu halaman pun.'
Satu Sabtu dari dua puluh empat Sabtu itu tidak pernah dilupakan mereka berdua: Sabtu di satu pasar tua di pinggir kota, tempat mereka menemukan satu kedai kecil yang menjual sarapan yang tidak pernah berubah menunya selama empat puluh tahun. Pemiliknya — sepasang suami istri yang sudah sama-sama tua — menyajikan mereka dengan cara yang tidak pernah berubah juga, dan saat Ranti menanyakan rahasianya, lelaki tua itu menjawab tanpa berhenti bekerja: 'Kami tidak pernah menambah menu, Nak. Kami hanya tidak pernah berhenti menyempurnakannya. Empat puluh tahun, dua orang, satu kedai, dan tidak pernah satu pagi pun kami tidak ingin datang ke sini bersama. Itu saja rahasianya.' Dua orang yang menikah dua tahun menyantap sarapan itu dalam diam yang panjang — dan tidak pernah satu pun dari mereka yang perlu mengucapkan apa yang dipikirkan dua-duanya: bahwa mereka sedang menatap dua orang yang mereka inginkan menjadi, empat puluh tahun dari sekarang, di kedai yang tidak pernah berubah menunya.
Dan malam ulang tahun kedua pernikahan mereka dihabiskan dengan cara yang tidak pernah dibagikan ke siapa pun: dua orang di lantai ruang tengah, dengan kotak yang terbuka di antara mereka, membaca dua puluh empat benda dari dua puluh empat Sabtu satu per satu sampai larut — dan menertawakan separuhnya, dan menangisi dua-tiganya, dan tidak pernah satu kali pun memikirkan waktu. 'Dua tahun,' kata Ranti di akhirnya, dengan satu batu dari satu pantai di tangannya. 'Dua tahun yang tidak pernah disia-siakan satu Sabtu pun. Aku tidak pernah tahu dua tahun bisa sepanjang ini kalau tidak pernah ada yang kosong di dalamnya.'
'Dan dua tahun berikutnya tidak akan pernah ada yang kosong di dalamnya,' jawab Ario, menutup kotak itu untuk dua puluh empat Sabtu berikutnya. 'Itu satu-satunya janji yang tidak pernah perlu diperbarui — karena tidak pernah satu kali pun dilanggar.'
Dan di satu pagi Selasa yang biasa — Selasa yang tidak pernah direncanakan untuk menjadi istimewa — Ranti berdiri di depan cermin kamar mandi dengan satu kotak kecil di tangannya dan satu senyum yang tidak bisa dihapusnya.
Dua garis. Jelas. Tidak pernah bisa dibantah.
Ia menunggu sampai malam — dengan tradisi yang mereka bangun sendiri sejak pertunangan: hal-hal besar tidak pernah disampaikan di pagi hari, selalu di meja makan, selalu setelah makan malam, selalu dengan satu hal kecil yang menjadi tandanya. Malam itu, di meja makan mereka, Ranti menyajikan satu cangkir kopi hitam untuk Ario — kopi yang tidak pernah diminumnya tanpa satu hal kecil di sisinya — dengan satu cangkir teh untuk dirinya sendiri, dan satu cangkir ketiga yang lebih kecil, berisi susu, diletakkannya di tengah meja tanpa satu pun penjelasan.
Ario menatapnya. Menatap dua cangkir mereka. Menatap cangkir ketiga yang kecil di tengahnya.
'Ranti.'
'Ada satu anggota baru di meja ini,' kata Ranti, dengan suara yang tidak pernah lebih tenang. 'Mulai delapan bulan dari sekarang. Dan cangkirnya sudah kusiapkan — kecil, karena dia masih kecil, tapi resmi, karena dia sudah resmi.'
Dan Ario — lelaki yang tidak pernah gugup di ruang sidang mana pun, yang menghadapi badai-badai tanpa satu kali pun tangannya gemetar — berdiri dari kursinya dengan dua tangan yang memegang meja dan satu wajah yang tidak pernah bisa menjaga dirinya di hadapan perempuan ini.
'Dua garis?' tanyanya, dengan suara yang sudah pecah sebelum jawabannya datang.
'Dua garis,' jawab Ranti. 'Dua-duanya jelas. Kamu akan jadi ayah, Ario Yudha. Dan meja ini tidak akan pernah sama lagi — untuk selamanya.'
Ia berdiri, dan Ario memeluknya — di tengah dapur itu, dengan dua cangkir yang dingin dan satu cangkir kecil yang menunggu di tengah meja — dan untuk waktu yang lama tidak ada satu pun kata yang diperlukan di antara dua orang yang sudah menunggu dua garis itu lebih lama dari yang pernah diakui keduanya.