Jus melon telah berada di dalam genggaman Lastri. Dia melangkah dengan wajah yang datar. Langkah kaki Lastri terhenti di balik pintu, dia melihat kemesraan yang terhadirkan di pelupuk matanya.
Hanum begitu sangat menikmati kebersamaan bersama dengan suaminya. Dan seketika itu, hati Lastri seperti dalam genderang perang. Rasa cemburu itu membuncah dalam geletar hatinya. Sayup-sayup bisikan dalam bingkisan kemarahan itu pun tak bisa dibendung lagi.
Ingin sekali Lastri membanting minuman yang tergenggam di tangannya. Tapi dia mencoba untuk tidak melakukan hal itu. Lastri harus bisa sedikit menahan emosinya. Dia butuh sekali gaji untuk membiayai pengobatan rumah sakit ayahnya.
Dia melangkah dengan perasaan yang tak menentu. Berharap dia bisa menghadapi cemburunya agar tetap bekerja dengan b