Laki-laki bernama Robi itu menatap Toni dengan cukup serius. Bahkan dalam hatinya berbisik jika dirinya sama sekali tak menyangka bisa bertemu kembali dengan laki-laki yang pernah membuat puncak kemarahannya menjadi nyata.
Pandangan itu masih saja tak lepas, bahkan di dalam hati Robi seolah menepis kenyataan bahwa sebenarnya dia tak pernah mau lagi bertemu dengan Toni. Sayangnya kini semesta berkata jika waktu kembali lagi mempertemukan mereka dengan keadaan yang juga miris karena sebuah kecelakaan itu.
“Keluar kamu, aku tidak ingin kehadiranmu mengganggu istirahatku,” kata Robi dengan tegasnya.
Toni masih saja diam dengan berdiri tegak di hadapan laki-laki yang sedang terbaring itu itu. Dia melihat dengan sedikit rasa ragu. Ingin meninggalkan, tapi di sisi lain Toni yang telah mengakib