Tak mau menunda lag. Rasa cinta yang meluap-luap seolah tak bisa lagi dipendam. Berdua menikmati jamuan sarapan. Sekar tampak lebih sering menundukkan kepalanya ketimbang menatap Teguh yang sedang duduk tepat di hadapannya itu.
Piring yang berada di depan Sekar sudah kosong, semua makanan yang diambilnya di benda berwarna putih itu tampak sudah habis. Sekar pun dengan cepat akan membawa piring itu masuk ke dapur.
“Permisi, Mas.”
“Tunggu sebentar, Sekar.”
“Nanti saya akan ambil piringnya Mas Teguh jika makanannya sudah habis.”
“Tidak perlu, Seka, tolong duduklah dulu.”
Sekar seperti terlihat sedikit kebingungan dengan apa yang dikatakan laki-laki itu kepadanya. Bahkan Sekar merasakan keanehan pada tatapan yang ditujukan Teguh kepadanya.
Suasana tampak terjeda sedikit dengan keheninga