“Maafkan Sekar, sepertinya hari juga Sekar akan pergi dari rumah ini.”
Kata-kata itu membuat bude sedikit menelan luka. Hal itu sama sekali tak diinginkan oleh wanita yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.
“Kenapa kamu mau pergi? Hanya karena aku memiliki rasa cinta padamu, aku bukan laki-laki yang mau memaksa seorang wanita untuk menerima cintaku.”
Sekar hanya diam dengan apa yang didengarnya. Bibirnya begitu kelu untuk mengatakan apa yang sebenarnya dirasakan. Sekar sama sekali tak berani menatap wajah Teguh. Dia terus saja melihat ke lantai.
“Kamu tidak perlu pergi dari sini, anakmu butuh tempat tinggal. Jangan memikirkan keegoisanmu, dan jika karena aku kamu akan mengorbankan hidup anakmu, aku yang akan angkat kaki dari rumah ini.”
Teguh dengan kata-kata tegasnya, menggeleg