“Halo pak Dimas,” kata Rendi mengawali pembicaraan lewat panggilan udara itu.
“Ren, kemana saja kamu, aku meneleponmu dari tadi, kamu tidak mengangkatnya.”
“Iya Pak, Maaf. Tadi saya di jalan menuju ke rumah sakit, Pak.”
“Apa? katakan! Untuk apa kamu pergi ke rumah sakit.”
Rendi yang mendengarkan suara Dimas itu pun seperti mengetahui jika laki-laki itu sedang dalam kondisi khawatir. Rendi menarik napas panjang, sebelum dirinya benar-benar mengatakan apa yang sebenarnya teah dilalui oleh Hanum, sang istri.
“Ren, ada apa? kenapa kamu lama sekali menjawab pertanyaanku.”
“Maafkan Rendi, Pak.”
“Sudah, jangan bertele-tele lagi, istriku baik-baik saja, kan?”
“Bu Hanum, Bu Hanum ...”
Rendi tak mudah untuk menjelaskan apa yang kini membuat kecemasannya semakin berlanjut itu. Dia begitu tak