[Lima tahun lalu, kediaman keluarga Mikaela]
Setelah pesta ulang tahunnya yang ketujuh belas, Tuan Vasiliev dan putranya, Nikolai jadi sering datang.
Aruna diberi kursus bahasa asing hanya agar ia bisa memahami apa yang Nikolai katakan—mengingat pemuda berusia 19 tahun itu sering sekali mengajak Aruna bicara. Sebelum Aruna fasih bahasa itu, mereka diberikan seorang penerjemah yang merupakan orang luar juga.
Penerjemah itu seperti robot, hanya mengulang hal yang Aruna dan Nikolai katakan.
Karena sering bertemu, Aruna yakin akan satu hal. Alasan Nikolai datang hanya untuk bertemu Aruna.
Gadis berambut merah itu senang sebenarnya, mengingat rupa Nikolai yang jauh lebih menawan dari semua laki-laki yang Aruna kenal membuatnya betah bicara lama-lama.
Namun ada sesuatu yang amis.
Setiap kali mereka bicara berdua—tentu ada penerjemah juga disana—Nikolai selalu berbuat hal yang aneh.
Awalnya dia hanya memegang tangan Aruna, berlanjut pada rangkulan bahu, hingga suatu hari ketika Aruna sedang tidak fokus, dia mencuri ciuman pertama Aruna.
Plak!
Aruna yang kaget saat itu hanya bisa memukul pipi Nikolai sekuat yang ia bisa—ia tidak sadar kalau hal itu membuat ujung bibir Nikolai berdarah. Namun bukannya marah, pemuda yang berusia dua tahun lebih tua darinya itu tertawa.
Aruna hanya melihatnya dengan horor. Kenapa?
Dengan seringai yang masih ada di wajah, Nikolai mengusap darah yang mengalir di dagunya—kemudian mengusap cairan kental itu ke pipi Aruna.
“Этот цвет крови идеально подходит к вашим волосам.”
Penerjemah yang hanya diam melihat itu semua langsung berbicara. “Warna darah ini cocok sekali dengan rambutmu.”
Ia tidak tahu harus menangis atau berteriak mendengar itu.
***
[Masa sekarang]
Aruna tidak tahu harus kemana lagi mencari uang.
Ia yang sedang berdiri memakai kostum Doraemon terlihat menghitung uang yang didapatnya dalam diam. Tidak cukup.
Kalau Aruna mau membayar lagi hutangnya di hari Senin nanti uang segini mana cukup.
Gadis itu melihat ramainya kota dari balik topengnya. Kota ini lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki, namun setidaknya disini ada pekerjaan kecil-kecilan yang dapat Aruna lakukan.
Ia pernah mencoba untuk kabur dari para rentenir ke kota ini dulu.
Yang tidak ia ketahui, markas para rentenir itu berada di bawah tanah kota—memanjang hingga dusun kumuh yang Aruna tinggali namun entah lebarnya sampai mana.
Aruna mengangkat tangan, menggerakkan jari jemarinya yang hilang satu.
Karena mencoba kabur itu mereka memotong jari kelingking Aruna sebagai hukuman.
Ia masih ingat rasa sakitnya.
Namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan kepedihan yang ia rasa ketika orang tuanya tiada. Ketika mereka dibunuh dengan kejam di depan mata Aruna.
Andai saja kala itu dia tidak mengenal keluarga Vasiliev, andai saja—
Eh?
Di kaleng yang Aruna pakai untuk meminta sumbangan, ada orang yang menyimpan setumpuk uang disana. Dan lagi bukan rupiah, tapi dolar!
“Em, sir?” ucap Aruna pada pria di depannya. “It’s too much.”
Pria itu tinggi, dengan rambut sekelam malam namun mata sebiru samudera. Dia tidak memiliki ekspresi dan hanya menunduk—menatap Aruna yang masih memakai kostum kucing biru.
Aruna terpana.
Pria ini benar-benar rupawan. Bulu matanya lentik, namun netranya terlihat sendu. Hidung, rahang dan bibirnya sempurna—seakan dipahat untuk menjadi mahakarya.
Bahkan dia lebih tampan dari si terkutuk Nikolai.
Pria itu tidak mengatakan apapun dan menarik kepala Doraemon yang dipakai Aruna, memperlihatkan gadis yang lusuh dengan rambut merah panjang yang tentu saja, berantakan.
Dengan gerakan lembut, seakan sedang mengusap bunga yang rapuh, pria itu merapikan rambut Aruna.
“Aku sedang membutuhkan pasangan,” ucapnya dengan suara berat. Hal itu agak mengagetkannya, ia kira pria ini tidak bisa bahasa lokal. “Kamu mau jadi istriku?”
Aruna mengerjap.
Eh?
“Eh?” ucapnya tidak percaya. “Maaf?”
Pria itu memainkan rambut Aruna. “Aku ingin menikah, jadi butuh istri.”
Terus kenapa malah Aruna?
“Anu, saya ini cuma pemulung setengah pengemis,” ucap Aruna pelan. “Bukannya akan lebih baik kalau calon istri Anda seseorang yang lebih berada? Yang setara dengan Anda, misalnya?”
Pria itu tidak menjawab dan masih memainkan rambut Aruna—menyelipkan beberapa helai ke belakang telinganya. “Aku tahu,” ucapnya pelan.
Terus?
Dia kembali bicara. “Aku suka rambutmu.”
“—Warna darah ini cocok sekali dengan rambutmu.”
Deg!
Aruna langsung mundur—netranya yang berwarna kelabu menatap waspada pada pria di depannya.
Ada sesuatu di pria itu yang membuat Aruna menurunkan kewaspadaan, namun ia tidak tahu apa.
Jika Aruna menerima tawaran menjadi istri atau apapun itu pasti tubuhnya akan digunakan sesuka hati bukan? Bisa saja orang di depannya ini lebih buruk dari Nikolai, Aruna tidak boleh percaya begitu saja.
“Aku menolak,” ucap Aruna pedas. Matanya menatap waspada pada setiap gerakan yang pria itu lakukan.
Namun bukannya marah ataupun mulai mengumpati Aruna dengan bahasa kasar, pria itu terlihat sayu—seakan penolakan yang Aruna ucap membuatnya terluka.
“Oke,” ucapnya pelan. “Tapi bisa tolong dengar penjelasanku dulu? Aku memilihmu sebagai istri bukan karena hal yang sederhana.”
Aruna memicingkan mata, “Apa maksudmu?”
“Kita tidak bisa membicarakan ini sambil berdiri,” dia merapikan jaket yang dipakainya. “Aku lihat ada tempat makan disana. Kamu lapar ‘kan?”
“Enggak.” balas Aruna pedas. Namun sedetik setelahnya, perutnya berbunyi.
Kruyukk~
Wajah gadis itu memerah hingga hampir sama seperti rambutnya. Padahal ia sudah makan setengah roti tadi—bukan, kemarin malam!
Pria di depannya tersenyum, ia mengambil kaleng yang berisikan tumpukan dollar dan beberapa uang receh. “Kalau kamu enggak mau ditraktir, kamu bisa beli pakai uang kamu sendiri.”
Uang yang diberi olehmu maksudnya?
Aruna melihat uang itu dan pria di depannya secara bergantian. Setelah beberapa saat, ia menghela nafas.
“Oke.” Aruna mengambil kalengnya dengan cepat. “Tapi uang ini tidak dihitung sebagai hutang ‘kan ya? Kalau dihitung sebagai hutang aku tidak mau.”
Aruna sudah muak dengan rentenir.
“Tidak, tentu saja.” pria itu mengangkat kedua tangan. “Semua uang itu, semua benda yang ada di dalam jaketku, bahkan tubuh ini—segalanya hanyalah milikmu.”
Ucapannya terdengar manis, tapi Aruna yang tahu terlalu banyak rasa pahit sama sekali tidak goyah. “Itu gombalan?”
“Fakta.” pria itu berucap dengan percaya diri.
Namun Aruna hanya memutar mata.
Gadis itu membiarkan pria asing di depannya berjalan lebih dulu ke arah tempat makan yang ia maksud. Tempatnya kecil—terbilang sederhana, tapi Aruna dapat mencium wangi beras yang baru matang disana.
Ah, kapan terakhir kali Aruna makan nasi?
Namun bukannya masuk, pria itu malah tetap berdiri.
“Anu,” dia menunjuk ke arah pintu resto. “Perlu reservasi dulu atau langsung masuk?”
Aruna menghela nafas dan menggeleng, dasar orang kaya.
Aruna pernah kaya juga sih, tapi tidak sebegininya.
Ia masuk lebih dulu, memesan makanan dan duduk di salah satu meja disana. Pria asing di belakangnya hanya mengikuti, bahkan ketika Aruna memesan sesuatu yang simpel—nasi hangat dengan kuah sayur—dia juga memesan hal yang sama.
Penurut sekali.
Gadis berambut merah itu sedang sibuk melepas kostum Doraemon ketika pria di depannya hanya diam—menatap tajam pada tangan Aruna.
“Kelingkingmu… kemana?” tanyanya pelan.
Aruna menjawab enteng. “Dipotong. Cuma satu kelingking itu terbilang beruntung, kebanyakan orang yang kukenal bahkan harus mengorbankan ginjal atau salah satu mata mereka.”
Pria itu tidak membalas apapun—namun wajahnya menjadi gelap.
Wuah, dia marah.
Pantas sih, orang kaya sepertinya pasti tidak mau punya istri cacat.
Tidak mau membuat kemarahan pria itu semakin menjadi, Aruna menunggu pesanan dalam diam hingga makanannya datang.
Wangi kuah dan nasi putih yang harum itu membuat Aruna menelan ludah.
Namun karena tidak mau terlihat kelaparan, Aruna memakan makanan itu dengan perlahan—meresapi setiap rasa dan sayur yang dipotong terlalu tipis itu di setiap suapannya.
Lagipula, makan terlalu banyak sekaligus ketika perut kosong hanya akan membuatnya muntah.
Aruna tidak suka menyia-nyiakan makanan.
“Nah.” pria itu memberikan Aruna beberapa sayuran dari mangkuknya. “Untukmu.”
Aruna kira dia memberikan semua itu karena tidak mau makan makanan rakyat biasa—tapi kelihatannya Aruna salah.
Pria itu tidak suka sayuran. Sama sekali.
Dia akan menyingkirkan semua benda hijau di mangkuknya dan memberikannya pada Aruna. Membuatnya hanya makan kuah nasi.
Dia itu anak kecil atau apa?
Tapi diberi makanan gratis, Aruna senang-senang saja.
“Sudah.” Aruna mengusap mulutnya menggunakan tangan. Setelah sekian lama, perutnya kenyang. “Sekarang beri tahu kenapa kamu tiba-tiba memilihku sebagai calon istri.”
Pria itu menyimpan alat makannya di samping mangkuk kosong, kemudian sebelum menjawab—sebuah senyuman terpampang di wajah tampannya.