Berapa lama lagi dok perkiraan jika saya tidak mau dioperasi?Apakah ada jalan lain selain donor ginjal ataupun cuci darah?" cecarku ke dokter Made spesialis penyakit dalam didepanku.
Daridulu aku tidak ingin meninggal dalam kesakitan ataupun meninggal di usia yang sangat tua renta.Aku benci menjadi sakit karena itu akan membuat Andria khawatir dan sedih.Aku benci melihatnya menangis, cukup om dan tantenya yang sering membuatnya menangis dulu.Aku tidak ingin menambahkan air mata lagi.
Pernah aku sakit diare hanya karena salah makan ,Andria langsung cuti, memeriksaku setiap sejam sekali hingga tidak tidur dua hari karena ingin memastikan aku sehat kembali.Itulah istriku.Seorang dokter yang sangat profesional saat bekerja dan tenang menghadapi penyakit pasien tetapi akan berubah menjadi sangat panik saat ada keluarga ataupun orang yang disayanginya sakit.
"Diabetes bapak memang sangat terkendali karena saya tau dokter Andria sangat ketat mengatur pola hidup bapak saat dirumah tapi bapak suka sembunyi-sembunyi merokok kan.Sakit jantung bapak harus dioperasi.Sementara prediksi saya minimal setahun lagi ginjal bapak harus menjalani cuci darah kalau bapak suka bandel saat tidak dibawah pengawasan dokter Andria.Jika bapak menolak semua itu perkiraan hanya 12bulan -15 bulan bapak bisa bertahan.Apakah bu dokter Andria istri bapak tidak pernah curiga selama ini kalau bapak suka bandel diluaran?" tanya dokter Made sambil menatapku sedikit kesal karena bagaimanapun dia rekan sejawat istriku
"Saya tidak pernah menampakkan kesakitan didepan istri saya pak dokter karena saya tahu biarpun dia dokter tapi saat ada anggota keluarga sendiri yang sakit dia tetap manusia biasa yang akan sedih, menangis, dan tidak akan bisa tidur memikirkan apakah dia yang salah tidak bisa menjaga orang yang disayanginya.
Aku ingat waktu ayahnya meninggal dunia butuh waktu 2tahun saya untuk meyakinkan kalau itu semua bukan salahnya.Saya tidak mau istri saya menangis.Saya benci melihat istri saya sedih dok.Jadi tolong rahasiakan ini dari dia.Itu hak saya sebagai pasien kan dok biarpun saya tahu kalian teman sejawat" kataku ke dokter Made yang menanganiku
"Seharusnya bapak memberi tahu dokter Andria tapi memang itu hak penuh pasien dan saya sebagai dokter bapak hanya bisa memberi saran ,membantu pengobatan dan mengawasi kesehatan bapak " dokter Made berucap sambil menghela napas panjang
"Iya dok saya akan pikirkan nanti bagaimana saya akan memberitahu dokter Andria disaat yang tepat.Terima kasih dok" ucapku akhirnya dan keluar dari ruang praktek dokter Made
Setelah itu aku menuju kafe langgananku memesan kopi hitam tanpa gula kesukaanku dan duduk di meja pojokan kafe untuk duduk dan berpikir tentang istriku tercinta.
Andria seorang dokter yang aku kenal secara tidak sengaja 15 tahun lalu saat itu aku masih berstatus karyawan freelancer bagian design grafis disebuah tabloid terkenal di zaman itu.Kantor tempatku bekerja mengambil kerjasama di rumah sakit di tempat Andria bekerja untuk pemeriksaan kesehatan tahunan staffnya.Dan saat itu dia menjadi dokter baru lulusan Jerman yang ditugaskan untuk memimpin beberapa rekan sejawatnya memeriksa kesehatan kami satu persatu
Wajah dingin dan angkuh membuat aku kesal awal melihatnya.Tapi ternyata setelah berkenalan lebih lanjut dengan dia berbeda dengan penilaian awalku.Memang Andria sangat tegas dan kaku sebagai dokter tapi dia teman yang menyenangkan dan humoris saat diajak mengobrol.Dia seorang wanita yang mempunyai wawasan luas dan nyambung diajak ngobrol apapun.Aku menyukai wanita seperti itu.
Aku bertekad harus bisa menjadikan dia pendamping hidupku.Dan aku mulai pedekate ke Andria.Akhirnya kami dekat lima bulan kemudian setelah pemeriksaan kesehatan itu.Awalnya aku dan Andria saling bertukar nomer handphone.
Singkat cerita kami sangat cocok dan klik hingga tak lama kemudian kami jadian.Setelahnya setahun kemudian aku melamarnya karena tidak mau melihat dia sendirian tidak ada yang menjaga setelah ditinggal ayahnya 6 bulan setelah kami jadian.Lamaranku diterima oleh ibunya dan kami melangsungkan pernikahan secara sederhana karena Andria bilang masih dalam kondisi berduka.Pernikahan yang hanya dihadiri oleh keluarga besar kami dan tetangga dekat disekitar rumah Andria.
Pernikahan kami sangat bahagia tanpa riak yang berarti biarpun kami terkadang juga bertengkar layaknya suami istri karena cemburu ataupun perbedaan pendapat.Tapi tidak pernah lebih dari sehari.Salah satu dari kami pasti akan meminta maaf jika merasa bersalah.
Kami memang belum diberi rejeki untuk mempunyai anak.Tapi hal itu bukan karena salah satu dari kami bermasalah tapi memang sepertinya Tuhan belum mempercayakan buah hati untukku dan Andria.Semua itu tidak pernah mengurangi kebahagiaan dalam rumah tangga kami.Aku dan Andria punya pendapat yang sama kalau masih banyak anak-anak di panti asuhan yang juga butuh kasih sayang dan perhatiaan lebih.
Tapi saat ini yang jadi pikiran adalah bagaimana seandainya aku pergi menghadap Sang Pencipta.Siapa yang akan menjaga istriku yang sudah yatim piatu dan dia adalah anak tunggal.Siapa yang akan menjaga dia dari mulut jahat keluarganya, siapa yang menghibur di saat dia sedih, siapa yang akan menjaganya dari orang yang akan berbuat jahat kepadanya karena sekuat apapun dia tetaplah wanita biasa yang butuh dilindungi, siapa yang akan merawatnya kala dia sakit dan banyak pertanyaan yang muncul di benakku.
Tak terasa hati ini sakit, hati ini pedih dan aku bertekad harus menemukan dan mempersiapkan seorang pria penggantiku secepatnya sebelum penyakit ini makin parah.Aku harus segera menentukan pilihan biarpun nantinya aku tahu Andria pasti akan marah dan menolaknya.Akupun tidak akan mau berbagi istri jika kondisiku baik-baik saja.Aku juga punya rasa cemburu yang tinggi.Aku selalu menjaga istriku supaya tidak dilirik lawan jenis tapi saat ini khawatirku lebih besar memikirkan masa depan istriku.
Andria terlahir dari keluarga kaya raya yang diawal pernikahan kami bahkan untuk mencuci piringpun tak pernah dilakukan.Semua perkerjaan rumah dia tak bisa karena tak pernah boleh dilakukan oleh ayahnya.'ANAK BERLIAN' semata wayang itu sebutan ibunya untuk Andria.Tapi ayahnya mendidik sangat disiplin untuk hal-hal lain.Ayahnya lebih mengutamakan pendidikan.Selain sekolah tiap hari kegiatan Andria adalah ikut klub berenang, kursus komputer, kursus bahasa, dan berbagai kursus lainnya.Itulah sebabnya dia mahir 5 bahasa selain bahasa Indonesia tentunya.
Semua hal-hal rumah tangga diawal pernikahan selalu aku yang melakukan biarpun kami mempunyai 2 orang ART , 1 sopir dan 2 petugas keamanan.Tapi seiring berjalan waktu Andria belajar menjadi istri yang baik.Mau masuk ke dapur dan belajar masak.Dia berusaha menjadi istri yang baik untukku.Itulah yang membuatku makin mencintai dan mencemaskan masa depannya tanpaku.
Tugasku sekarang memanfaatkan waktu sebaik-baiknya mempersiapkan suami kedua sebagai penggantiku untuk Andria.
Aku yakin abang Hadi akan menjadi kandidat yang paling tepat untuk menjaga Andria kedepannya tapi bagaimana aku mendekatkan mereka ataupun bagaimana caraku agar istriku bisa jatuh cinta pada abang.
Apakah harus kupaksa?Jelas tidak mungkin.Akan aneh rasanya aku memaksa istriku untuk menerima pria lain
Ah pusing aku memikirkan semua ini.Harus dengan rencana matang dan waktu yang pas untuk melakukan ini semua.